
Rezi melirik kearah Neha, ia memperhatikan Neha yang sedang asyik melahap makanannya.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha memalingkan matanya, mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Sebentar lagi ada karnaval untuk memperingati ulang tahun kota. Kampus aku berpatisipasi untuk ikut serta, kamu mau ikut aku ramaikan acara karnavalnya?"
Neha menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia kembali memakan isi dalam piringnya.
"Ayolah, hanya jalan bersama aku mengelilingi kota. Kamu hanya perlu berada disampingku saja," bujuk Rezi lembut.
Neha kembali menggelengkan kepalanya, ia memainkan jemarinya dengan gerakan yang cepat.
Rezi mengernyitkan dahinya, jujur saja. Ia masih belum terlalu paham dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh Neha.
Neha menghela nafasnya dan memainkan gawainya. Kadang ia juga merasa bosan, walaupun Rezi ada didepannya, tetapi mereka harus berbicara seperti ini.
(Jangan perlihatkan aku didepan umum, Rezi. Aku tidak ingin mempermalukanmu). Pesan yang Neha kirim kedalam ponsel Rezi.
Rezi tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Ia paling tidak suka jika Neha sudah berpikir seperti ini.
"Ayolah Neha, kamu itu bukan sesuatu yang harus disimpan. Kamu itu bukan barang rusak, kamu itu seseorang yang penting buat aku," bujuk Rezi kembali.
Dengan sedikit malas, Rezi membuka pesan yang dikirim oleh Neha.
(Tidak! apa kata temanmu saat melihat aku yang seperti ini?)
"Aku gak peduli apa kata mereka, aku gak peduli apa kata dunia. Memang apa yang salah darimu? apa yang kurang darimu?" Tanya Rezi kesal.
Neha menghela nafasnya dan memutar bola matanya. Susah sekali kalau sudah beradu pendapat dengan Rezi.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha hanya melirik dengan tajam kearah Rezi. Meminta Rezi untuk menghentikan pertikaian ini, lewat tatapan matanya.
"Apa karena kamu gak bisa bicara? kamu gak mau tampil didepan semua orang?" Tanya Rezi ketus.
Neha menganggukan kepalanya, ia kembali memakan makanannya dengan santai.
"Ini lagi, alasan ini lagi. Aku benar-benar tidak suka dengan alasan ini," ucap Rezi malas.
Neha hanya mengerdikan bahunya, cuek terhadap kemarahan Rezi.
Rezi berdecak kesal, ia membanting sendoknya dan membuang pandangannya kesal kesisi kosong.
Beberapa saat Rezi terdiam, ia menghela nafas dengan memburu kencang. Rezi memalingkan matanya, menatap Neha yang masih asyik memakan makanannya.
__ADS_1
Rezi bangkit dari kursinya dan berlutut didepan Neha.
"Neha, sudah kubilangkan. Aku gak peduli bagaimana keadaanmu."
Rezi mengambil jemari Neha yang sedang memegang sendok dan mengenggamnya dengan erat.
"Neha, kamu gak perlu merasa seperti ini terus. Saat aku memilihmu, aku selalu ingin menunjukanmu pada dunia. Mengatakan bahwa kamu adalah milikku," ucap Rezi lembut.
Neha memandang Rezi dengan lekat, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Disatu sisi ia senang, tapi disisi lain ini juga sulit baginya.
Bagaimana mungkin ia dan Rezi berbicara hanya lewat pesan? padahal mereka sedang bertatap muka, seperti sekarang.
"Neha, dengarkan aku," tekan Rezi lembut.
"Bukan keinginanmu untuk menjadi seperti ini. Bukan keinginanku juga menjadi seperti ini. Tapi kalau mencintaimu dan juga memilihmu, itu murni adalah keinginanku, Neha. Aku, tidak pernah menyesali apapun pilihanku."
Neha tersenyum simpul dan menundukan pandangannya, wajahnya mulai merona saat di goda oleh Rezi.
Rezi meraih sebelah pipi Neha dan mengelusnya lembut. Rezi bangkit dan mengelus pucuk kepala Neha.
"Sampai detik ini, aku bersyukur sekali. Yang aku cintai itu adalah kamu," ucap Rezi lembut.
Neha mendongakan kepalanya, ia menggerakan tangannya dengan bantuan gerakan dari mulutnya.
Rezi hanya tersenyum dan menarik bahu Neha agar menempel pada perutnya.
"Kalau kamu tanya kenapa? aku tidak tahu alasannya," jawab Rezi lembut.
Neha melingkari pinggang Rezi dan kembali mendongakan kepalanya, melihat wajah manis Rezi dengan tersenyum lembut.
"Karena yang aku cintai itu kamu, jadi mau bagaimanapun rupa dan kekuranganmu. Aku akan selalu datang kesisimu," ucap Rezi dengan mentoel ujung hidung mancung Neha.
Rezi kembali berjongkok didepan Neha dan mengenggam jemari Neha.
"Jadi, mau ikut aku ke acara karnaval?"
Neha menggelengkan kepalanya, Rezi menghela nafas dan menggaruk kulit kepalanya, kesal sendiri.
Neha melepaskan senyumnya dan meraih dagu Rezi, menatap wajah Rezi dengan bening binar matanya.
Neha menganggukan kepalamya dan meraih ponselnya, ia memperlihatkan layar ponselnya ke Rezi saat selesai mengetik.
(Aku bawa Ruby juga, boleh?)
Rezi tersenyum simpul dan mengelus pucuk kepala Neha.
"Boleh, asalakan kamu senang. Apapun boleh," jawab Rezi lembut.
__ADS_1
***
Berjam-jam Rezi terfokus oleh layar datarnya. Sudah saat nya ia benar-benar fokus pada projectnya.
Sebentar lagi semester akan selesai, jika projectnya tidak selesai. Maka nilai mata kuliah dia juga akan terancam.
Neha memandangi bintang-bintang dilangit hitam malam. Sekalian menemani Rezi mengerjakan project.
Beberapa kali Neha menguap, ia mulai lelah duduk selama berjam-jam diatas jembatan.
Neha menjatuhkan kepalanya diatas bahu Rezi. Matanya mulai berair karena mengantuk. Neha menghela nafasnya dan mencari posisi nyaman dibahu Rezi.
"Bosen ya? maaf ya, kamu jadi harus nemeni aku," ucap Rezi tanpa mengalihkan pandangan matanya.
Neha melihat kedalam laptop Rezi, matanya tambah lelah saat melihat barcode yang tertera didalam laptop Rezi.
Ia sama sekali tidak mengerti apa yang di kerjakan Rezi. Ia bahkan tidak mengerti satupun huruf yang sedang dibuat oleh Rezi.
Namun Rezi seperti terbiasa, ia bisa mengerjakan itu semua dengan sangat cepat.
Rezi memang bukan lelaki biasa, ia semakin merasa tak cocok bersanding dengan Rezi. Dengan semua keterbatasannya, kenapa Rezi malah memilih dia?
Neha memalingkan pandangannya, ia melihat wajah serius Rezi dengan sangat lekat.
Sementara Rezi masih terus fokus pada layar datarnya. Beberapa kali matanya mengerjap, lelah dan juga mulai berair.
Rezi melirik kearah Neha, tanpa sengaja mata mereka saling bertautan. Sesaat Rezi dan Neha hanya diam dan saling berpandangan.
Memandang jernih bola mata Neha dari jarak yang sangat dekat, membuat jantung Rezi berdebar dengan sangat cepat.
Dari awal, mata inilah yang membawa Rezi kedalam pelukan Neha. Indah bola mata Neha lah yang membuat Rezi tidak bisa lupa pada wanita cantik ini, diawal pertemuan mereka.
Rezi tersenyum dan mengelus pipi Neha lembut.
"Kenapa? mau aku cium lagi?" Goda Rezi lembut.
Neha langsung mengangkat kepalanya dari bahu Rezi dan menundukan kepalanya. Wajahnya jadi memerah saat mengingat Rezi pernah menciumnya.
Rezi tersenyum simpul dan menarik kepala Neha. Memeluknya dengan erat, beberapa kali Rezi mendaratkan ciuman diatas pucuk kepala Neha.
"Maaf ya untuk yang waktu itu, aku janji gak akan melakukannya lagi tanpa seizinnmu," ucap Rezi lembut.
"Saat itu, aku hanya terlalu kalut. Aku sangat takut, Neha. Takut jika kehilangan dirimu, aku takut tidak bisa melihatmu lagi. Aku nekat melakukan itu untuk mengikatmu dalam hatiku, tapi aku salah. Karena itu kamu malah lepas dari genggamanku."
Rezi menghela nafasnya dan melepaskan pelukannya, Rezi meraih kedua pipi Neha dan membelai rambut Neha lembut.
"Dulu, aku sangat terobsesi padamu. Aku buta, aku bodoh dan aku tidak bisa merasakan. Karena itu aku benar-benar minta maaf padamu, kamu boleh menghukum aku bagaimanapun kamu mau. Tapi kamu gak boleh meninggalkan aku lagi. Gak boleh."
__ADS_1
Rezi kembali menarik badan Neha dan memeluknya dengan erat.
"Karena bisa memilikimu itu tidaklah mudah. Maka sekali kamu datang kesisiku, kamu menyesalpun akan percuma. Karena dalam mimpi sekalipun, kamu tidak akan pernah kulepaskan lagi."