Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
42


__ADS_3

Chen membalikan badan Neha dan meraih kedua pipi Neha.


"Neha, dengarkan aku. Aku ini lelaki, aku juga pernah suka dengan wanita. Apa yang dirasakan pak Rezi saat ini, mungkin bisa membuat dia gila. Dia, benar-benar mencintaimu, jangan halangi dirimu, Neha. Aku mohon, mengertilah."


Neha melepaskan pegangan tangan Chen dan duduk diatas sofa rumahnya. Neha menulis dengan cepat diatas lembaran kosong bukunya.


(Bukan aku yang tidak mau mengerti. Tapi keadaan ini yang gak mungkin. Chen, mungkin dia bisa menerima, tapi bagaimana keluarganya? menyakitinya sekarang akan lebih baik, dari pada aku melepaskannya saat semua sudah sangat terlanjur).


Chen tersenyum saat membaca tulisan Neha, Chen menghela nafasnya dan ikut duduk disebelah Neha.


"Neha kamu tidak mengerti, ada sebuah kekuatan yang tidak akan pernah berhenti. Kalau kamu pernah tahu apa itu cinta, maka kamu akan tahu bagaimana kekuatannya bisa menakhlukan apapun yang tidak mungkin."


Chen mengambil tangan Neha dan mengenggamnya dengan erat.


"Neha, Ayahmu tidak lagi disini. Siapa yang akan menjagamu dan membahagiakanmu?" Tanya Chen lembut.


"Tidak ada, tidak ada yang akan menjagamu jika kamu berkeras diri. Tidak ada yang membahagiakanmu, jika kamu tidak berusaha untuk dirimu sendiri. Neha, hidup ini tentang perjuangan, jika saat ini kamu tidak mau berjuang untuk Pak Rezi, suatu saat nanti kamu juga akan berjuang untuk cinta yang lain."


Neha menundukan pandangannya, benarkah seperti itu? tapi selama ini ia berpikir bahwa sendiri juga tidak terlalu buruk.


"Neha, kamu tidak akan pernah tahu akhir dari semua ini, kalau kamu tidak berani memulainya. Jangan pernah takut untuk memulai sesuatu, karena dalam hidup ini, kita harus ada awal, baru akan ada akhir. Jalani semampumu, jika kamu lelah biarkan dia melakukannya untukmu, ya,"


Chen tersenyum dan mengelus pucuk kepala Neha. Chen mengambil ranselnya dan keluar dari rumah Neha.


Memberikan ruang untuk Neha berpikir sendiri.


***


Braaaak


Rezi membanting sebuah map didepan Chen. Matanya memandang Chen dengan sangat tajam.


"Apa ini?" Tanya Rezi ketus.


"Laporan akhir tugas saya, Pak," jawab Chen menunduk.


"Seperti ini? seperti ini laporan akhir?" Tanya Rezi tajam.

__ADS_1


Rezi menggelengkan kepalanya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Kalau hanya seperti ini, lebih baik kamu les lagi dirumah. Jadi anak SMA saja lagi!" bentak Rezi keras.


Seisi ruangan hanya terdiam melihat amarah Rezi. Rezi adalah asisten dosen yang dikenal lembut dan baik sekali.


Tapi kenapa hari ini Rezi menjadi sangat killer seperti ini. Ia bahkan tidak segan membantak mahasiswa didepan kelas.


"Apa karena saya asisten dosen? jadi kalian bisa membuat laporan asal-asalan seperti ini?" Tanya Rezi ketus.


"Jangan lupa, nilai akhir kalian berada ditangan saya!" Rezi mengambil laptopnya dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangan.


Chen menghela nafasnya saat melihat Rezi seperti itu. Rezi, lelaki yaang terkenal baik dan tenang itu bisa berubah drastis hanya karena Neha, gadis tanpa suara itu.


Rezi menutup daun pintu rumahnya dengan sedikit membanting. Seketika Evgen dan Megi yang sedang bertengkar berdua, terdiam.


"Rezi, sudah pulang?" Tanya Megi lembut.


"Iya, Ma,"


"Makan yuk, Mama sudah siapkan," ajak Megi lembut.


Rezi langsung berlari menaiki anak tangga, ia memasuki kamarnya dan membanting pintunya sedikit keras.


"Rezi kenapa ya?" Tanya Megi bingung.


"Sudahlah, Ma. Semenjak kak Rezi jadi mahasiswa S2 kan, dia sering begitu, kelelahan mungkin," ucap Evgen lembut.


Megi hanya bisa menghela nafasnya, mungkin benar. Mungkin juga salah, walaupun bukan Ibu kandungnya, tapi hati Megi tahu, kalau saat ini ada sesuatu yang sedang menganggu putra nya itu.


Rezi menghempaskan buku Neha ke dinding. Sepanjang hari, ia terus terbayang oleh perlakuan Neha itu.


Selama ini, setengah mati ia berusaha mendekati Neha. Apapun itu, ia lakukan hanya untuk bisa mendekati Neha


Namun dengan mudahnya, Neha memeluk Chen didepan matanya.


Entah apa yang membuat Chen begitu sangat berarti bagi Neha.

__ADS_1


Rezi mengepalkan kedua jemari tangannya, ia meremat kepalan tangan itu dengan kuat.


"Neha, kenapa? kenapa bukan aku yang kamu pilih?" Ucap Rezi putus asa.


***


Rezi membanting hasil kerjaan tugas Chen kembali. Ia menyilangkan kedua tangannya didada.


"Saya bingung, saya yang gagal atau memang kamu yang tidak mengerti, bahkan laporan ini lebih kacau dari sebelumnya," ucap Rezi ketus.


"Maaf, Pak," ucap Chen menundukan kepalanya.


"Saya gak butuh kata maaf, ingat. Ini kelas jaringan, kalian kalau tidak bisa menguasai materi, bisa pindah kelas saja!" Rezi keluar dengan berjalan cepat.


Sudah seminggu berlalu, namun perasaan hati Rezi belum membaik sama sekali.


Ia melampiaskan kekesalannya pada Chen.


Chen menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Niat dia membantu Neha hanya berujung pada kesulitan kuliahnya.


Jika tahu, orang yang di maksud oleh Neha itu adalah asisten dosen dikelasnya. Maka Chen akan menolaknya mentah-mentah.


Bukannya malah lebih tenang, hidup Chen kini lebih horor dari sebelumnya.


Chen memainkan kunci mobilnya sambil berjalan keparkiran mobil. Tak sengaja ia bertemu dengan Rezi.


Chen memutar badannya dan memilih jalan yang lain. Menghindari Rezi agar tidak bertemu dengannya.


Tanpa sengaja, Chen menabrak tubuh Soaraya. Soraya mundur beberapa langkah, untung saja buku ditangannya tidak jatuh berserakan.


"Maaf, ya." Ucap Chen lembut.


"Iya, gak apa-apa," jawab Soraya lembut.


Soraya langsung berlari kearah Rezi yang sudah menunggunya. Melihat Soraya yang begitu dekat berbicara dengan Rezi, membuat Chen merasa panas.


Baru saja Rezi marah padanya karena ia adalah pacar Neha. Namun kenapa saat ini Rezi bisa bicara dengan tersenyum dan bercanda dengan wanita lain?

__ADS_1


Sebenarnya apa maksud sikap Rezi padanya. Ia mengejar Neha segitu kerasnya, namun di kampus ia bisa begitu akrab dengan wanita lain.


"Neha, sepertinya kamu memilih langkah yang tepat, kalau begitu aku akan menudukungmu," ucap Chen geram


__ADS_2