
"Hah? Apa?" tanya Shenina ketus.
"Wah, memang sudah gak waras elu. Seumur-umur, baru kali ini gue jumpa lelaki seperti elu. Aneh tahu gak."
"Gue kan sudah bilang kalau gue gak mau terima penolakan. Jadi elu gak boleh nolak," ucap Evgen sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mau terima ataupun nolak, itu urusan gue. Itu hak gue dong. Lu gak ada hak buat paksa gue," jawab Shenina tak senang.
"Gue juga punya hak buat jadi pacar elu, Shenina."
"Kalau gue gak mau bagaimana?" tanya Shenina geram.
Brakk
Evgen menggebrak meja kaca di depannya dan bangkit dengan tiba-tiba.
"Heh Shenina, elu itu harusnya bersyukur diajak pacaran sama lelaki seperti gue. Ke ujung dunia pun kalau elu cari lelaki seperti gue gak akan ada."
Shenina ikut menggeberak meja di depannya dan berdiri tepat di depan Evgen. Menantang emosi lelaki angkuh itu.
"Heh, Evgen. Seumur hidup gue gak ketemu lelaki seperti elu juga itu lebih bagus. Hidup gue akan aman, tentram dan gak banyak keributan seperti sekarang ini," balas Shenina jutek.
"Memang apa sih yang kurang dari gue? Sampai elu segitunya benci sama gue?"
"Lu nanya kekurangan elu apa?" tanya Shenina ketus.
Shenina menepuk jidat Evgen dengan kuat.
"Sadar! Kekurangan elu itu banyak, buuuuaaanyak banget, nget, nget." Shenina menatap lekat ke wajah tampan Evgen.
Namun tidak seperti biasa, Evgen malah terlihat cuek-cuek saja. Tidak marah ataupun ingin melawannya.
"Misalnya?" tanya Evgen santai.
"Lu itu angkuh, sombong, kasar, keras, egois, barbar, selalu ketus, gak tahu sopan-santun. Terus--" Shenina memutar bola matanya, memikirkan hal yang ingin ia jabarkan di depan lelaki sombong itu.
Evgen tersenyum lembut dan mendekatkan bibirnya ke telinga Shenina.
"Tapi gue tampan gak?" bisik Evgen lembut.
"Hem, memang sih elu itu tampan banget, tapi kalau--" Seketika Shenina melirik ke arah Evgen.
Tanpa sadar ia mengakui kalau Evgen memang sangat tampan.
Sedang, Evgen terus tersenyum dengan lebar, memainkan kedua alis matanya, menggoda gadis manis di depannya itu.
"Kalau apa?" tanya Evgen menggoda.
"Ah, enggak tahu. Elu sengaja kan godain gue? Dasar lelaki gak waras, lelaki gak tahu malu!" teriak Shenina menahan malu.
Wajahnya terus memerah, menahan malu karena keceplosan berbicara.
"Walau begitu, tapi gue tampan kan?" goda Evgen sambil memainkan kedua alis matanya.
Semakin membuat wajah wanita mungil itu memerah karena menahan rasa malunya.
Shenina menendang bahu Evgen dan berjalan menuju lift. Kabur dari rasa malunya yang terus membuat wajahnya terhias rona merah di kedua pipinya.
"Hei Shenina, elu mau kemana?" tanya Evgen saat melihat punggung badan Shenina memasuki lift.
"Gue mau balik kerja di bawah. Elu sudah siap belajarkan? Pulang sana!" Shenina langsung menekan tombol lift, meninggalkan si lelaki angkuh itu di atas rooftop.
Sementara Evgen terus tersenyum lebar, puas sekali rasanya saat melihat Shenina tersipu seperti itu.
__ADS_1
***
"Masuk!" perintah Sean saat mendengar ketukan dari balik pintu ruangannya.
Kepala Evgen menyembul dari balik pintu, menyeringai lebar sambil berjalan mendekati meja Papanya.
"Kenapa? Kamu sudah selesai belajarnya?" tanya Sean datar.
"Sudah, Pa," jawab Evgen lembut.
"Lalu?"
"Itu, Pa. Aku mau minta sesuatu sama Papa boleh?"
"Memang ada permintaan kamu yang tidak Papa turuti?" tanya Sean dingin.
"Itu, suatu saat nanti aku akan gantikan Papa buat ngurus semua usaha ini kan, Pa. Jadi setelah aku pikir-pikir, mungkin sudah saatnya aku belajar dari sekarang tentang bisnis," jelas Evgen panjang lebar.
Sean menyipitkan matanya, melihat Evgen dengan sedikit heran.
"Tumben kamu bisa berpikir dewasa? Kemarin disuruh bantuin Papa malah main game seharian? Ada apa?" tanya Sean terus terang.
"Aku berpikir, kalau seandainya nanti kuliah di luar, akan lebih baik kalau aku punya pengalaman di dunia bisnis. Jadi lebih mudah buat masuk kesana juga, Pa."
"Yasudah, besok kamu magang di sini. Papa akan minta om Bima buat ajarin kamu, soal--"
"Eh ... gak usah, Pa?" putus Evgen langsung.
"Gak usah ngerepoti om Bima lagi, lagian aku juga ingin mulainya dari bawah. Aku ingin belajar kerja keras dan memulai semuanya dari nol."
"Terus?" tanya Sean malas.
"Aku, bisa masuk sebagai Waiters di restoran, Pa," ucap Evgen terus terang.
Sean tersenyum sinis dan menghela napasnya. Ia bangkit dan mengacak rambut hitam milik putranya itu.
"Trik apa? Aku gak gunakan trik apapun kok," balas Evgen cepat.
"Kamu pikir Papa ini bodoh ya? Evgen, jangan kamu pikir Papa gak tahu, kalau kamu mau jadi Waiters hanya untuk mendekati gadis kecil itu, kan?" tanya Sean sambil menyikut dada Evgen, lembut. Memainkan kedua alis matanya, kembali menggoda Jagoan kecilnya itu.
"Em, itu, em--"
Sean berjalan ke arah sofa ruangannya, duduk santai sambil menyandarkan satu tangannya. Sean menepuk sisi kosong sofa di sebelahnya. Meminta anak kesayangannya itu duduk di sampingnya.
Evgen menghela napasnya, mengikuti keinginan si lelaki dewasa itu.
"Hei, kalau kamu mau mendekati wanita, sini biar Papa kasih tahu caranya," bisik Sean lembut di telinga Evgen.
"Cara apa?"
"Cara mendapatkan hati dan cintanya. Bagaimana, mau, tidak?" tanya Sean, memainkan kedua alis matanya.
Evgen mengangguk dengan pasrah, walaupun malu mengakuinya, namun memang itulah tujuan dia.
"Kalau kamu suka sama gadis, jangan terlalu terang-terangan mengejar dia. Kalau kamu terlihat jelas tertarik sama dia, maka dia akan kabur darimu," ucap Sean lembut.
"Eh, masa sih, Pa?"
"Iya, benar. Wanita itu makhluk yang rumit. Saat kamu kejar, dia akan jual mahal. Tapi kalau kamu diamkan, dia akan cari perhatian," jelas Sean kembali.
Evgen memutar bola matanya, mencerna ucapan lelaki yang berada di sebelahnya itu.
"Dulu, kamu pikir siapa yang lebih dulu jatuh cinta sama Papa? Mama kamu yang ngajakin Papa pacaran lebih dulu."
__ADS_1
"Ah ... mana mungkin! Buktinya sekarang, Papa bagaikan singa kesiram air panas di hadapan Mama," balas Evgen cepat.
Sean berdecak kesal dan menumbuk lembut dada putranya itu.
"Hei itu dulu, lain saat Mama kamu sudah mengorbankan banyak hal untuk Papa, seperti sekarang ini," jawab Sean kesal.
"Oh." Evgen menggaruk tengkuk lehernya.
Mungkin apa yang dikatan Sean ada benarnya.
"Jadi aku harus bagaimana, Pa?"
"Stay cool, Boy. Jadilah lelaki yang tenang di depan dia. Perlihatkan sisi kekerenan kamu. Jangn terlalu terlihat jika kamu tertarik sama dia, kalau dia cari perhatian sama kamu, tetap cool dan tenang. Buat dia semakin penasaran oleh sisi lembutmu, hem." Sean tersenyum simpul dan memainkan kedua alis matanya.
"Tapi bukannya wanita itu tidak suka lelaki dingin ya, Pa? Gadis itu gak suka lelaki kasar," jawab Evgen ketus.
"Siapa bilang? Lelaki, sedikit kasar itu tidak apa-apa, yang penting jangan main tangan. Dan jika kamu mau dia tertarik sama kamu, tetap cool. Jangan biarkan dia tahu kalau kamu tertarik sekali dengan dia. Harus punya harga diri dan jual mahal sedikit, gengsi, Boy."
Evgen melirik kearah Sean, menatap Sean dengan binar mata penuh keraguan. Sean menganggukan kepalanya, mencoba meyakinkan si lelaki kecil itu.
"Baiklah kalau begitu, aku ke bawah dulu ya, Pa," ucap Evgen semangat.
Evgen berjalan cepat, ke arah pintu. Semangat untuk mempratikan apa yang diucapkan oleh Papanya itu.
Evgen menuruni lift hotel mewah itu, memasuki restoran mewah hotel bintang lima milik Papanya.
Tak sengaja Shenina menendang badan besar Evgen yang berdiri di tengah restoran.
"Heh elu--" Evgen menahan gejolak amarah dalam dirinya.
'Stay cool, Evgen,' gumamnya dalam hati.
"Sorry, elu sih berhenti di tengah jalan," ucap Shenina lembut.
Evgen mengerdikan bahunya, memakai kacamata hitam miliknya dan meletakan kedua tangannya di saku jeans.
"It's okey. Gak masalah," jawab Evgen dingin.
Mendengar ucapan Evgen, Shenina mengalihkan pandangannya kearah lelaki angkuh itu. Demi apa? Evgen bisa setenang ini saat menghadapinya.
"Evgen, elu baik-baik saja?" tanya Shenina bingung.
"Seperti yang elu lihat, gue masih baik-baik saja," jawab Evgen dingin.
Shenina, menaiki sebelah alis matanya. Masih tak percaya lelaki itu bisa berubah secepat yang ia mau.
"Besok jam berapa elu mau belajar lagi?"
Evgen membuka kacamatanya, melirik ke arah gadis mungil itu.
"Besok gue hubungi, ya. Sorry gue duluan, sibuk." Evgen berjalan keluar dari restoran dengan gaya angkuhnya.
'Sumpah gaya elu, keren banget, Evgen,' puji Evgen sendiri, dalam hati.
Ia senang karena berhasil mengikuti trik yang diajarkan oleh Papa kerennya itu.
Sementara Shenina masih terdiam, terpaku. Bingung dan juga heran atas perubahan sikap Evgen.
"Anak itu salah makan ya? Atau saraf otaknya ada yang geser? Aneh banget tingkahnya," ucap Shenina bingung.
Sedang, Sean sudah tertawa terpingkal di ujung restoran. Tak tahan melihat ulah putranya yang begitu polos mengikuti semua ucapannya.
Sean menghapus sudut matanya yang berair karena tertawa terbahak. Perutnya sampai sakit karena menahan gejolak tawanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ternyata anak itu masih polos dan bisa dibodohi," ucap Sean kembali tertawa.
"Megi, putramu itu, tak ubah dirimu dahulu. Polos dan sangat mudah dibodohi."