
Rezi membuka pintu rumah Sean dengan merangkul bahu besar milik adiknya itu.
Seorang wanita menunggu di ujung tangga dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menekuk wajahnya saat melihat dua anaknya itu pulang.
"Dari mana?" tanya Megi ketus.
"Itu, Ma--"
"Gak lihat ini jam berapa?" tanya Megi kembali sambil melirik kearah jam besar di dinding rumahnya.
Rezi dan Evgen ikut melirik kearah jam dinding itu. Sudah setengah tiga pagi, pantas saja Megi mengamuk seperti ini.
"Sudah merasa gede? Sudah merasa dewasa? Pergi gak pamit, pulang dinihari pagi?"
Rezi dan Evgen hanya menundukan pandangannya, menerima semua amarah wanita yang ada di ujung tangga itu.
"Rezi, Evgen. Jangan bilang sama Mama kalian habis dari club malam," ucap Megi ketus.
"Sumpah Ma, aku gak ada ke club malam," jawab Evgen langsung
"Jadi kemana? Kalian pikir Mama percaya kalau kalian cuma makan dan minun biasa di restoran? Atau jangan-jangan--" Megi berjalan mendekati kedua putranya itu dengan mata yang menyipit garang.
"Kalian main perempuan ya?" tanya Megi ketus.
"Allahuakbar Mama! Aku dan Evgen gak senakal itu juga," jawab Rezi sedikit menekan.
Megi menarik kerah baju Evgen, memeriksa bagian leher Evgen yang masih mulus tanpa bercak merah.
"Megi, apa sih ini? Sudah hampir pagi, kenapa gak biarin mereka istirahat dulu?" tanya Sean dari lantai atas.
"Kakak kok belain mereka sih? Memang Kakak gak khawatir?"
"Khawatir ya pasti khawatir, tapi ini sudah hampir pagi. Kamu bisa tamya mereka besok pagi, kenapa harus ribut sepagi ini?"
"Besok pagi belum tentu mereka masih di rumah," jawab Megi memanyunkan bibirnya.
"Haish, memang mereka mau kemana? Ayolah Megi, aku lelah dan butuh istirahat, aku baru tidur lima menit, kamu sudah ribut saja." Sean mengacak rambutnya dan kembali masuk kedalam kamarnya.
Sedang, Megi menatap dua wajah lelaki di hadapannya itu. Dengan sedikit menahan marah, Megi menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya.
Rezi dan Evgen saling melirik sekilas, lalu mereka kembali tertawa secara bersamaan.
__ADS_1
Entah kapan terkahir kali mereka di marahi berdua seperti ini. Namun hari ini ia sadar betul, bahwa hubungan ini hangat bukan karena mereka sedarah atau bukan.
Namun karena mereka saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain.
***
Evgen dan Rezi saling menunduk, tak berani menatap wajah kedua orang tuanya yang saat ini sedang duduk berseberangan meja dengannya.
"Rezi, Evgen, semalam Opa kesini. Dia bilang rindu sama kalian berdua. Kalian ini, sementang sudah punya pacar sendiri lupa sama yang tua," ucap Sean dingin.
"Aku gak lupa kok, Pa. Hanya saja, kemarin terlalu sibuk sama kuliah," jawab Rezi lembut.
"Papa kan tahu aku harus belajar untuk masuk universitas luar. Jadi ya harus banyak belajar."
"Alasan!" tegas Sean.
Rezi dan Evgen kembali terdiam, mereka hanya saling pandang satu sama lain.
"Hari ini kunjungi rumah Opa, ajak Niki dan si kembar juga. Jangan sibuk sama pacar sendiri saja kalian berdua," jelas Sean.
"Baik, Pa."
...
"Siera, Siena, aku kangen banget sama kalian," ucap gadis itu lembut.
"Oh ... pantes saja Papa bilang bawa kembar, rupanya ada Sofie di sini," ucap Evgen cuek.
"Evgen, kamu apa kabar?" tanyanya manis.
"Eh ... basa-basi deh. Males gue." Evgen langsung berjalan mendekati kedua orang tua yang sedang santai di kursi taman.
"Oma, Opa," sapanya sambil mencium tangan kedua orang tua tersebut.
"Wah, kalian ini. Kalau gak disuruh datang lupa sama Kakek tua disini ya? Nakal kamu ya," ucap Rayen sambil menarik telinga Evgen.
Seketika Evgen menyeringai, menahan sakit tarikan tangan keriput Opanya itu.
"Ih, lepas Opa!" teriak Evgen kesal.
"Kamu ini, semakin besar semakin mirip Papa kamu. Nakal, kasar, dan tidak bersahabat sama keluarga sendiri. Bagus-bagus Sofie menanyakan kabarmu, begitu jawaban kamu? Siapa yang ajarin?" Pukul Rayen pada bokong Evgen.
__ADS_1
"Aiya, Opa pikir aku bocah apa? Masih saja pukul-pukul bokong aku. Males ah sama Opa, aku masuk saja," ucap Evgen meninggalkan kedua orang itu.
Rayen dan Miranda hanya bisa tersenyum melihat gaya Evgen yang memang menjiplak Papanya tersebut.
Sementara, Rezi ikut tersenyum lembut sambil memandang kedua wajah keriput Oma dan Opanya itu.
"Hei ... ini cucu kesayangan Opa apa kabarnya? Lupa sama Opa saat sudah bertemu sama virus ya?" sapa Rayen lembut.
Evgen mengalihkan pandangan matanya saat mendengar penuturan Rayen.
Ia melihat Rezi yang bisa duduk diantara Rayen dan Miranda, tersenyum lembut dengan bermanja ria pada orang tua tersebut.
Evgen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Huh ... konyol. Siapa yang akan percaya kalau kak Rezi hanyalah anak angkat. Bahkan malaikat saja bisa membedakan antara aku dan kak Rezi. Oma dan Opa, bahkan lebih sayang sama dia," lirih Evgen sendiri
Evgen membuka jaketnya, ia melempar badannya di atas sofa rumah Rayen. Mengimpit sebuah puzzle besar milik gadis kecil yang sedang bermain di bawah sofa.
"Ih ... kak Evgen ini punyaku jangan ditimpahi," rengek gadis kecil itu manja.
"Lagian ngapain main di sini? Main di kamar kek, ganggu aja!" ucap Evgen jutek.
"Evgen, di rumah Tante ada kamar kosong kok, kamu mau ikut Tante?"
Seketika Evgen langsung bangkit, ia mencampak puzzle yang sedang ia timpahi tadi.
"Eh ... tante Rena, kok ada di dini?" tanya Evgen kaku.
"Kenapa? Kamu gak suka Tante di sini?" tanya Rena datar.
"Eh ... mana mungkin! Aku pikir hanya Sofie yang di sini, ternyata ada Tante juga," ucap Evgen sambil menyeringai pasrah.
"Kamu ini, kenapa kasar sekali sama anak kecil. Padahal dulu Papa kamu sangat Sayang sama Tante." Rena menyentuh ujung kepala Evgen dan mengacak rambutnya, geram.
"Papa lagi, samain aku sama Papa lagi. Kenapa selalu samain aku sama Papa coba?" tanya Evgen tak senang.
"Ya karena kamu memang anak Papa kamu, jadi mau samain sama siapa lagi kalau bukan Papa kamu?"
"Anak Papa bukan cuma aku, ada kak Rezi. Kenapa kalian gak pernah samakan kak Rezi dengan Papa?"
Seketika Rena terdiam, ia memutar bola matanya mencari jawaban dengan cepat.
__ADS_1
"Ya itu, karena, hem. Rezi anak yang baik, enggak nakal seperti kamu!" jawab Rena ketus.
"Oh ... jadi hanya karena aku nakal, makanya disamain sama Papa. Terus kalau aku baik juga akan disamakan sama Papa. Kenapa selama seumur hidup aku, gak pernah dengar kalian semua samakan kak Rezi dengan Papa, apa mungkin kak Rezi bukan anak Papa?" tanya Evgen ketus.