Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
106


__ADS_3

Soraya mencubit lengan tangan Chen sekuat tenaganya. Chen mengernyitkan dahinya, menahan sakit dari tarikan tangan lentik gadis cantik itu.


"Chen, kamu kenapa?" tanya wanita itu, saat melihat ekspresi Chen yang berbeda.


"En-enggak apa-apa, Ma," jawab Chen menahan sakit.


"Soraya," panggil wanita itu lembut.


"Hah?" Seketika Soraya melepaskan tarikan tangannya dan duduk dengan tenang.


"Bagaimana menurut kamu? Kalian sudah tidak bisa pacaran lagi, kapan kamu bisa nerima kedatangan kami?" tanya wanita itu lembut.


"Itu ... itu--" Kini berganti Soraya yang menyipitkan matanya saat jemari tangannya diremat kuat oleh Chen.


"Ehm, Ma. Soraya kurang sehat, dia sudah tidak makan dari kemarin. Boleh Mama bantu aku belikan makanan buat dia?"


"Eh, gak usah Chen. Gue bisa beli sendiri," ucap Soraya langsung bangkit dari duduknya.


Chen menarik jemari tangan Soraya, mendudukan kembali di sisinya.


Wanita itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Baiklah, Mama akan belikan beberapa makanan di cafetaria rumah sakit. Setelah itu, kita bahas masalah kalian berdua."


"Beneran gak usah Tante. Aya bisa beli sendiri," tahan Aya cepat.


"Gak apa-apa, Soraya. Lagian wajah kamu terlihat sangat pucat, Tante jalan dulu, ya. Titip Chen sebentar," pamit wanita itu, lembut.


Setelah punggung badan wanita itu menghilang dari balik pintu. Soraya menghempaskan jemarinya yang di genggam oleh Chen. Menatap wajah Chen dengan sengit.


"Kenapa elu buat salahpaham ini jadi panjang?" tanya Soraya tak suka.


"Kenapa? Elu gak bersedia menikahi gue?"


"Chen, elu pikir menikah itu permainan apa?"


"Yang bilang gue main-main siapa?" tanya Chen kembali.


Chen mengambil kedua jemari Soraya dan menggenggamnya dengan erat.


"Aya, walaupun semua ini berawal dari kesalahpahaman, tapi gue gak main-main ingin menikahi elu. Gue beneran serius, ingin melamar elu. Elu bersedia?" tanya Chen serius.


Soraya menundukan pandangannya, melihat kedua jemari tangannya yang digenggam erat oleh lelaki muda itu.


"Chen, sadar gak sih? Umur elu dan gue, itu lebih mudaan elu. Apa elu gak akan menyesal nantinya, karena menikah di usia muda? Bagaimana jika kehidupan elu akan terkekang setelah menikahi gue?" tanya Aya lembut.

__ADS_1


Chen tersenyum lembut dan merapikan helaian rambut Soraya.


"Ay, bahkan walaupun gue saat ini berumur 16 ataupun 17 tahun, gue gak akan pernah ragu untuk mengambil keputusan ini," jelas Chen lembut.


"Cinta bukan persoalan umur Soraya, tapi cinta persoalan hati. Hati gue, sudah terpaut akan semua tentang diri elu, jadi gue gak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi hanya untuk pacaran dengan elu," sambung Chen lembut.


Soraya memanyunkan bibirnya dan menghempaskan tangan Chen.


"Halah, lelaki. Sebelum dapat omongannya manis, sampai buat diabet karena manisnya. Kalau sudah menikah, yang sibuk sama temanlah, yang sibuk sama gawainya, sibuk sama dunianya sendiri."


Chen menumpuhkan ujung siku tangannya di atas paha. Meletakan dagunya diatas kepalan tangan, menatap wajah Soraya dengan lekat.


"Gimana kalau dalam dunia gue, semua isinya tentang elu? Berarti gue akan terus sibuk sama elu, dong," jawab Chen lembut.


"Alah, gombal." Soraya menolak dada Chen, lembut.


Chen menarik tangan Soraya dan meletakannya di atas kepalanya.


"Sumpah Soraya, seumur hidup ini hanya elulah yang akan gue cintai," ucap Chen serius.


Soraya mengambil tangannya dan memutar badannya, duduk membelakangi Chen. Berusaha menghindari tatapan mata Chen, yang begitu jernih.


"Tapi kita kan masih kuliah, Chen. Elu juga tingkatannya di bawah gue. Kalau kita menikah, gimana elu akan menafkahi gue?"


"Sumpah Aya, gue gak pernah khawatir tentang itu."


"Kenapa? Oh iya, gue lupa. Elu kan anak tunggal, jadi gak perlu kerja juga uang keluarga elu banyak," jawab Soraya malas.


Chen tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Memutar badan Soraya agar bisa berhadapan dengannya.


"Bukan Aya, gue juga gak mau hidupi elu hanya bergantung dari harta orang tua gue."


"Terus, kenapa elu sama sekali nggak khawatir?" tanya Aya ketus.


"Karena janji Allah itu pasti," jawab Chen tegas.


Seketika mata Aya menatap wajah Chen, lelaki itu tersenyum lembut. Tak ada sedikitpun keraguan yang terpancar dari wajahnya.


"Bukankah Dia, sudah berjanji. Akan membukakan pintu rezeki dari arah mana saja, saat seorang lelaki menjadi imam dan pemimpin rumah tangga? Jadi kenapa gue harus khawatir? Kenapa gue harus ragu?"


Soraya tersenyum lembut dan menundukan pandangannya. Jawaban Chen benar-benar membuat ia terdiam.


"Kenapa elu bisa ngomong seyakin itu sih, Chen?" tanya Soraya malu.


"Gue yakin saja elu masih ngeraguin gue, gimana lagi kalau gue ragu-ragu?"

__ADS_1


"Gue gak percaya saja, elu mau nikahi gue hanya karena alasan cinta. Gimana kalau cinta elu itu gak bertahan lama?"


"Ay, menikah itu juga ibadah. Kita ini dua orang dewasa yang dibalut oleh perasaan sayang dan cinta. Sampai kapan kita bisa bertahan dalam hubungan ini, Soraya?" tanya Chen lembut.


"Gue merasa gue mampu, gue sanggup untuk menanggung tanggung jawab ini. Ada jalan yang lebih baik, ada pahala yang bisa diraih. Jadi, kenapa harus berlama-lama menghabiskan waktu untuk berada dalam hal yang kurang baik?"


Soraya tersenyum malu, ia mengenggam kedua jemarinya. Kali ini jawaban Chen benar-benar di luar dugaannya.


Chen, ternyata memiliki sifat dan sikap yang lebih dewasa dari umurnya saat ini.


"Lu curang, Chen. Sengaja kan bilang begitu biar gue gak punya alasan buat nolak elu?"


"Gue gak maksa elu, Soraya. Gue juga tahu, walaupun umur elu lebih tua dari gue, tapi elu juga masih mahasiswi muda. Jadi gue gak mau ngekang elu dalam sebuah ikatan yang namanya pernikahan. Kalau elu belum siap, maka gue akan siap menunggu elu sampai kapanpun," ucap Chen tersenyum lembut.


"Lu gimana sih? Tadi maksa banget sampai bohong segala sama Mama elu. Sekarang bilang gak mau ngekang gue dalam ikatan pernikahan, sebenarnya maunya yang mana?"


"Elu mau yang mana?"


"Kok malah nanya gue?" tanya Soraya ketus.


"Aya, pernikahan itu ikatan yang indah. Itu ikatan suci yang terucap di hadapan Allah. Gue gak mau kalau maksa elu yang belum siap, dan pada akhirnya elu menyesal karena lebih dulu terikat janji sama gue. Kalau elu siap, gue akan siap. Kalau elu gak siap, Insha Allah menunggu elu gue juga siap," jawab Chen meyakini.


Soraya kembali tersenyum, menundukan pandangannya, perlahan wajahnya mulai mengeluarkan rona merah. Tersipu malu oleh jawaban Chen yang kembali membuat hatinya luluhn


Kali ini, ia benar-benar merasakan, bahwa ada lelaki yang benar tulus jatuh cinta padanya.


"Jadi bagaimana?" tanya Chen kembali.


"Gue, bilang sama Papa dulu ya."


"Bilang apa?"


"Bilang kalau elu mau datang ke rumah gue, akhir minggu ini gimana?"


Chen menaikan sebelah alis matanya saat mendengar waktu yang ditetapkan oleh Soraya.


"Lu juga ngebet banget ya pingin nikah? Gue terkejut elu netapin akhir minggu untuk acara lamaran kita," ucap Chen meledek.


"Ih ... Chen, sebenarnya ini serius enggak sih? Gue malu kalau elu main-main terus," balas Aya, tersipu malu.


"Gue gak pernah seserius ini dalam hidup gue, Aya. Kali ini, gue beneran serius, dan gue gak pernah main-main sama elu."


Soraya tersenyum simpul, melirik ke wajah manis lelaki yang ada di hadapannya dengan sedikit malu.


'Chen, jika setelah menikah sikap elu gak akan pernah berubah. Mungkin seumur hidup ini, keputusan gue untuk menikahi elu, adalah keputusan yang paling indah,' gumam Aya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2