Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
119


__ADS_3

Shenina berjalan sempoyongan, menyusuri trotoar jalan. Pikirannya melayang entah terbang kemana.


Mengetahui bahwa Evgen pergi tanpa memberi tahunya, rasanya pedih sekali.


Shenina melemparkan bokong di atas kursi halte. Memandang kosong ke depan untuk beberapa waktu.


Membiarkan bis yang menjemputnya pergi begitu saja. Ia mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi nomor Evgen yang sudah tidak lagi aktif pastinya.


Saat ini ia merasa hampa, ada sesuatu yang terasa pergi dari dalam hatinya. Kehilangan Evgen, membuat dunianya menjadi kosong seketika.


Entah karena terbiasa atau memang sudah terlanjur cinta. Tanpa ia sadari, bahwa selama ini hatinya sering kali merindukan lelaki itu, menginginkan lelaki itu hadir dalam setiap detik waktu kehidupannya.


Shenina membuang pandamgannya, menatap langit siang hari yang begitu cerah.


"Evgen kenapa elu gak bilang kalau mau pergi?" tanya Shenina sendiri.


"Kalau elu bilang, gue gak akan menyakiti elu sedalam ini. Maaf, maaf Evgen. Tapi, mungkinkah suatu saat nanti kita bertemu kembali?"


Shenina menghela napasnya, mengingat beberapa penggalan kisah indah yang pernah terukir dalam hidupnya.


Walaupun ia dan Evgen tidak terlalu lama bersama. Namun setiap harinya Evgen sering sekali membuat kenangan baru dalam hidupnya.


Kadang jika mengingat kisah lama, akan sangat terasa lucu. Bahkan pertama kali ia dan Evgen bertemu dalam kesalahpahaman yang tidak pernah berujung.


Mereka terus terjebak salahpaham yang tidak pernah terselesaikan. Memupuk perasaan benci dan menimbulkan pertengkaran yang sering sekali terjadi.


Entah sejak kapan, saat perasaan cinta itu mulai hadir. Mungkin perlahan, karena mereka yang sering bersama. Atau memang semenjak dari awal yang mereka tidak sadari mulai tumbuh dan berkembang sempurna.


Entahlah, apapun itu. Bagaimanapun saat ini. Semua sudah terjadi, ia sudah melewatkan kesempatan yang mungkin hanya akan sekali.


***


Evgen membuka kacamata hitam yang ia gunakan. Menatap ke langit siang jantung kota London itu.


Menghembuskan kabut dari dalam embusan napasnya.


"Tuan Muda, ayo kita pulang," ajak Yohan lembut.


Evgen meraih bahu Yohan dan merangkulnya dengan erat.


"Paman, ini London, bukan lagi Indonesia. Bisa gak Paman panggil aku Evgen saja? Aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku ini anak Sean Rayen Putra," ucap Evgen ketus.


"Memang kenapa, Tuan Muda?"


"Sudahlah, Paman ikuti saja keinginanku. Oke."


"Tapi Tuan Muda--"


"Hais sudahlah. Aku mau ke Jubille garden. Paman pulang saja lebih dulu. Aku akan kembali sebelum malam," ucap Evgen yang berlalu pergi meninggalkan bandara.


Yohan hanya bisa menghela napasnya, memperhatikan jiplakan Papanya itu memerintah ia seenak hatinya saja.


Evgen memasukan kedua tangannya ke saku jaket tebal miliknya. Berjalan menyusuri trotoar jalanan raya, melihat pemandangan sekitar.


Evgen menghentikan langkahnya di sisi luar Jubille garden. Memperhatikan bianglala raksasa yang sangat ingin dilihat oleh gadis pujaannya itu.


"Apa bagusnya London Eye ini? Sampai Shenina sangat ingin melihatnya dari dekat."


Sebuah deringan ponsel menganggu ketenganan Evgen. Ia mengeluarkan ponselnya dan menerima panggilan itu.


Terlihat wajah Rezi dari dalam ponselnya.


"Hey Boy. Menurut perhitungan Kakak, seharusnya kamu sudah sampai di apartemenmu saat ini," ucap Rezi langsung saat wajah Evgen tampil di layar laptopnya.


"Terkadang kepintaran Kakak itu sungguh merepotkan," jawab Evgen malas.


"Apa kamu bilang? Kamu berani bilang begitu saat kamu sudah jauh ya, Evgen," balas Rezi kesal.


"Hem, aku baru turun dari pesawat. Jangan katakan kalian sudah rindu padaku. Oh ... ayolah. Aku sudah dewasa," ucap Evgen ketus.

__ADS_1


"Baiklah, lelaki dewasa. Di mana kamu saat ini?" tanya Rezi kembali.


Evgen mengubah posisi kameranya. Memperlihatkan pemandangan yang terbentang di hadapannya.


"Baru turun dari pesawat, tapi kamu sudah keluyuran gak jelas. Pantas saja Mama khawatir sekali sama kamu."


"Ini bukan pertama kalinya aku ke London, Kak. Walaupun hanya liburan, tapi aku masih hafal jalanan di sini."


"Baiklah, Kakak menyerah. Kamu harus bisa menjaga diri mulai saat ini. Jangan terlalu banyak keluyuran, pastikan suhu badanmu tetap menghangat selama musim dingin."


"Aku mendengarkan," jawab Evgen malas.


"Baiklah kalau begitu, Kakak tutup dulu teleponnya, oke."


"Hem, jaga Mama di sana, Kak."


"Pasti." Rezi langsung memutuskan sambungannya.


Evgen tersenyum dan mengadahkan tangannya, menangkap butiran salju yang mulai turun menghiasi kota London saat ini.


Evgen memasukan kedua tangannya ke saku jaket. Menghela napas dengan sedikit kabut dari dalam bibirnya.


Seorang gadis berjalan dengan memperhatikan kamera di dalam ponselnya. Merekam buliran salju yang mulai turun menyapa.


Tanpa sengaja, ponselnya menangkap wajah lelaki yang tidak asing lagi dalam ingatannya.


Ia menurunkan ponselnya dan datang mendekat. Melihat dengan jelas wajah lelaki itu, antara benar atau tidak.


"Kak Evgen," panggilnya lembut.


Evgen memalingkan wajahnya, menatap gadis berambut ikal dan berwarna pirang itu dengan lekat.


"Krystal, kenapa elu ada di sini?" tanya Evgen datar.


Penampilan gadis itu benar-benar berubah. Dengan cat warna rambutnya itu, ia semakin terlihat layaknya gadis Eropa.


"Hem, aku pikir bukan Kakak, teryata beneran Kakak ya," ucap Krystal lembut.


"Gak nyangka saja, bisa jumpa Kakak di sini. Seperti mimpi."


Evgen hanya memanyunkan bibirnya dan mengangguk pasrah. Kembali melihat ke arah bianglala raksasa yang ada di hadapannya.


"Kakak mau naik itu? Ayo coba naik bareng aku," ajak Krystal lembut.


"Lupakan, gue baru saja mendarat. Kesini hanya ingin menghirup udara segar, gak tahu salju sudah turun lebih dahulu," jawab Evgen dingin.


"Elu gak pulang?" tanya Evgen kembali.


Krystal menggelengkan kepalanya dan kembali mengambil ponselnya. Melanjutkan rekaman yang sempat terjeda karena melihat Evgen ada di sini.


"Jangan merekam lagi, ayo ikut gue nimum kopi." Evgen merangkul bahu Krystal dan menggeretnya, berjalan memasuki kedai kopi di sudut jalan.


Evgen memainkan tiga jarinya di atas meja, memperhatikan butiran salju yang semakin lebat turun dari langit jantung kota itu.


"Kak Evgen ngapain ke sini?" tanya Krystal sembari merekam jalanan.


"Lu sendiri ngapain?"


"Aku?" Krystal melirik ke arah Evgen dan tersenyum lembut. Membuat kedua lesung di pipinya terlihat.


"Liburan," jawab Krystal kembali asyik merekam jalan.


"Lu ngapain sih? Merekam hal yang gak jelas?" tanya Evgen ketus.


"Aku mau kirim video sama teman-teman aku di sana, Kak."


"Mau pamer, elu liburan ke Eropa gitu."


Krystal menggelengkan kepalanya dan kembali sibuk pada ponselnya.

__ADS_1


"Eh, Kakak belum bilang sama aku, kenapa Kakak bisa ada di sini?"


"Gue mau kuliah," jawab Evgen malas.


"Di mana?"


"UCL," balas Evgen cepat.


"Eh." Krystal mematikan rekamannya dan memasukan ponselnya ke dalam tasnya.


"Tapi UCL masih libur musim dingin. Belum buka pendaftaran, Kakak terlalu cepat."


"Gue tahu, gue sengaja datang lebih cepat untuk belajar di sini."


"Oh begitu," jawab Krystal menganggukan kepalanya.


"Lu berapa lama liburan di sini?" tanya Evgen ketus.


"Selamanya."


"Hah apa?" tanya Evgen tak percaya.


Krystal tersenyum lembut dan menyeruput kopi pesanannya. Kembali melirik kearah luar cafe yang, menikmati sentuhan dingin dari butiran putih yang jatuh memenuhi jalanan.


"Kak, sebelum jalanan tertutup salju. Ayo kita pulang," ajak Krystal lembut.


"Tunggu dulu!" tahan Evgen cepat.


"Lu bilang mau liburan selamanya di sini. Maksudnya? Elu mau ngikuti gue?" tanya Evgen ketus.


Krystal tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku memang suka sama Kakak, tapi aku gak sekurang kerjaan itu juga harus ngikuti Kakak."


"Jadi maksud elu ngomong begitu apa?" tanya Evgen kembali.


"Maksud aku bilang begitu, karena saat ini keluarga aku sudah pindah ke London semua. Dan aku, bukan lagi warga negara Indonesia," jawab Krystal sendu.


"Hah? Kenapa bisa?"


"Bisa dong. Sudah ya, aku duluan." Krystal merapikan tasnya dan mulai bangkit dari kursinya.


Evgen meraih lergelangan tangan Krystal, menahan gadis itu agar tetap tinggal.


"Katakan dulu, kenapa elu bisa menjadi warga negara sini?"


Krystal tersenyum dan melepaskan pegangan tangan Evgen. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan lelaki itu.


Kembali Evgen menarik pergelangan tangan Krystal. Menahan langkah gadis itu agar tidak pergi.


"Katakan dulu, atau gue gak akan melepaskan elu," ancam Evgen lembut.


"Kenapa tiba-tiba Kakak jadi begitu peduli padaku? Bukankah dulu Kakak sangat sengit terhadapku?" tanya Krystal sendu.


"Itu karena ...." Evgen menundukan pandangan matanya.


Mengingat bagaimana sengitnya ia berbicara dengan Krystal dulu. Padahal gadis ini bukan gadis yang buruk, namun karena hatinya yang tidak ingin menyakiti Shenina, ia mengacuhkan gadis ini begitu saja.


"Kak," panggil Krystal.


Evgen menatap wajah Krystal, ia tersenyum lembut dan mendudukan kembali gadis itu di sampingnya.


"Ceritakan sama gue, kenapa elu bisa pindah ke sini?"


"Sebelum aku bercerita, Kakak jawab dulu pertanyaan aku."


"Pertanyaan yang mana?" tanya Evgen kembali.


"Kenapa Kakak tiba-tiba peduli terhadap aku?" tanya Krystal lembut.

__ADS_1


"Itu karena--" Evgen menggantungkan kalimatnya dan melirik ke arah Krystal.


'Gue sekarang tahu rasanya, diperlakukan buruk oleh orang yang kita cintai ternyata sangat menyakitkan. Mungkin ini karma gue ke elu, Krystal. Jika Tuhan mempertemukan kita kembali, agar gue bisa memperbaikinya, maka kelak gue akan memperlakukan elu lebih baik lagi,' sambung Evgen dalam hati.


__ADS_2