
Rezi menyirami bibit bunga itu dengan sedikit tersenyum. Mengingat hubungan ia yang terus membaik dengan Neha, benar-benar membuat ia lega.
Rezi menghela nafasnya dan bangkit perlahan. Berjalan kesisi pagar balkon dan merenggangkan badannya.
Akhirnya, rasa ia pada Neha akan berujung juga.
Rezi kembali melihat ke bibit kecil bunga itu, ia belum tahu bibit apa yang Neha berikan padanya. Namun sesuai panduan, ia menyiramkan air setiap pagi dan sore.
Seharusnya bibit itu akan tumbuh dan besar dalam beberapa hari kedepan.
"Kak," panggil Evgen lembut.
Kepala Evgen menyembul dari balik pintu kaca balkon.
"Cih ... Gak siang, gak pagi, gak sore, gak malam. Kakak lihatin aja terus itu bibit, sekalian ukur pakai mili meter, setiap Kakak lihat nambah berapa mili?" Ucap Evgen kesal.
Rezi tersenyum dan menyentuh ujung bibit itu. Ia benar-benar mengukur bibit itu.
Melihat ulah Rezi, semakin membuat Evgen kesal.
"Ih Kakak!" Evgen menarik tangan Rezi dengan kesal.
"Kenapa Kakak jadi bodoh begini sih?" Tanya Evgen kesal.
Rezi hanya melepaskan tawanya dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu kesini? jangan dekati bibit Kakak lagi ya," ancam Rezi ketus.
Rezi merentangkan tangannya, menghadang badan Evgen yang berdiri didepannya.
"Gak akan aku dekati, kenapa takut sekali?"
"Jadi kamu mau apa kesini?" Tanya Rezi kembali.
"Kakak di panggil Papa," jawab Evgen lembut.
"Oh," ucap Rezi lembut.
Rezi dan Evgen saling berpandangan, tidak ada satu diantara mereka yang mau pergi duluan.
"Jadi tunggu apa lagi?" Tanya Evgen ketus.
"Kamu duluan keluar!" Perintah Rezi.
"Kenapa Kakak ngusir?"
"Nanti kamu sakiti bibit Kakak lagi,"
"Ya Tuhan, Kakak. Hanya bibit saja, masih banyak dijual. Kenapa sekarang Kakak lebih sayang sama bibit dari pada aku?" Ucap Evgen kesal.
Ia memandang bibit Rezi sekali lagi, tak lama ia membalikan badannya dan berjalan keluar. Ia benar-benar kesal melihat tingkah Rezi belakangan ini.
Setelah Evgen keluar, Rezi ikut keluar dan mengunci pintunya. Walaupun tidak ada niat jahat, namun Evgen itu usil sekali.
Dari pada bibitnya terancam, lebih baik antisipasi sebelum terjadi. Evgen berjalan dengan menghentakan kakinya, kesal oleh antisipasi Rezi yang tak berasalan, menurut dia.
Evgen duduk disebelah Niki dan mencepit batang leher Niki. Ia benar-benar kesal oleh perlakuan Rezi.
"Kakak, aku gak bisa nafas," ucap Niki terbata.
Megi menjitak kepala Evgen dengan kuat, seketika Evgen merintih kesakitan dan melepaskan cepitannya.
__ADS_1
"Mau buat mati adik kamu?" omel Megi ketus.
"Maaf, Ma," jawab Evgen bersalah.
"Kalau sampai Niki kenapa-kenapa. Mama suruh kamu yang lahirin dia," ancam Megi ketus.
"Iya, maaf."
"Niki sini, ayo kita naik," ajak Megi lembut.
Niki berlari menyusuli Megi, ia menjulurkan lidahnya mengejek Evgen. Semakin jengkel saja Evgen, tidak Rezi, Shenina dan juga semuanya. Selalu saja cuek bebek terhadapnya.
"Rezi, Papa mau kasih lihat kamu ini," Sean menggeser laptopnya kehadapan Rezi.
Rezi meraih laptop Sean dan memeriksanya. Ia mengetik beberapa kali dan menunggu proses dari jaringannya.
"Bagaimana kuliah kamu, Rezi?" Tanya Sean basa basi.
"Baik, Pa."
"Papa lihat akhir-akhir ini kamu sibuk sekali."
"Iya, aku kan sekarang asisten dosen dan juga mahasiswa. Jadi kegiatannya juga lebih ekstra," jawab Rezi tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Masih bekerja dan belajar, belum juga bertanggung jawab untuk memberi nafkah, sudah gak punya waktu buat keluarga," ledek Sean dengan sedikit tersenyum.
Seketika gerakan tangan Rezi terhenti, ia melihat kearah Sean yang sedang tersenyum tipis padanya.
"Papa apaan sih?" Ucap Rezi tersipu malu.
"Memang Papa bilang apa? sampai kamu memerah begitu?" Tanya Sean menggoda.
"Cantik gak?" Tanya Sean kembali.
"Ck ... Apasih? Papa gak usah yang enggak-enggak deh," jawab Rezi salah tingkah.
"Sepertinya dari gelagat kamu, dia istimewa ya?"
Rezi melepaskan tawanya dan menggelengkan kepala.
"Gak perlu malu, kita kan dua lelaki dewasa. Ayolah, Nak. Terbuka saja, kamu bisa cerita apapun sama Papa,"
Rezi melirik kearah Sean, ia malu untuk mengungkapkan. Tapi sepertinya ini momen yang bagus untuk memperkenalkan.
Rezi memutar bola matanya, ia tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Mengingat wajah Neha semakin membuat gila.
Sean mengernyitkan dahinya, ia bingung melihat ekspresi wajah Rezi, sepertinya kali ini Rezi benar-benar jatuh cinta. Sean tersenyum tipis dan menghela nafasnya. Tak terasa, waktu sudah membawa anak kesayangannya ini kedalam pelukan cinta.
Evgen melirik kearah Rezi, ia penasaran setengah mati. Sebenarnya wanita itu siapa? mungkinkah Shenina. Kenapa hanya memikirkannya saja, sampai bisa membuat Rezi begitu bahagia?
"Rezi, Papa bertanya. Kenapa kamu hanya senyam-senyum begitu?" Tanya Sean meledek.
Rezi mengacak rambutnya dan kembali terfokus pada layar datarnya.
"Gak apa-apa, Pa," jawab Rezi malu.
"Seperti apa sih wanita yang bisa buat kamu begini? Papa jadi penasaran?" Sean menaikan sebelah alis matanya.
"Papa apaan sih? dia hanya gadis biasa Pa. Bukan dari keluarga kaya. Sederhana, namun indah," jawab Rezi malu-malu.
Evgen langsung melirik kearah Rezi, maksud dari perkataan Rezi, sederhana namun indah itu, seperti Shenina.
__ADS_1
"Papa jadi semakin penasaran, kapan kamu akan bawa pulang?" Tanya Sean kembali.
Rezi menggaruk tengkuk lehernya dan mengerdikan bahunya. Ia belum sanggup memikirkan bagaimana reaksi Sean dan Megi jika mengetahui keadaan Neha yang sebenarnya.
"Tapi dia gak sesempurna itu juga, Pa. Ada sesuatu yang membuat dia terus berusaha menjauh dariku," jawab Rezi sendu.
"Terus, kamu mau menyerah begitu saja?"
Rezi menggelengkan kepalanya, ia menghela nafasnya dan menyandarkan badannya disenderan sofa.
"Bahkan ini belum ada apa-apanya, Pa. Menyerah?" Rezi tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Gak ada kata menyerah dalam kamus kita, iyakan?"
"Benar," jawab Sean lembut.
Sementara Evgen hanya bisa memutar bola matanya, ia benar-benar hanya buangan kulit kacang yang tidak terlihat.
Evgen membuka toples camilan dan memakannya dengan kesal. Sekarang Sean malah ikut-ikutan mencuekinya, jangankan bertanya, menganggap ia ada saja, tidak.
"Sebentar lagi ada karnaval ulang tahu kota, kamu ikut serta?" Tanya Sean lembut.
"Iya, aku diminta jadi pengawas barisan," jawab Rezi lembut.
"Hah, hanya pengawas barisan? kenapa gak ikut jadi peserta?"
"Gak minat, Pa. Aku senang kok jadi pengawas barisan, yang penting bisa ikut dalam acara," jawab Rezi datar.
"Jangan terlalu puas dengan apa yang diberikan Rezi. Sekali-sekali kamu harus bisa meminta bahkan mengubah. Yang penting, kamu tahu batasan itu dimana," jelas Sean lembut.
"Hem, aku tahu Pa."
Sean menepuk bahu Rezi dan kembali tersenyum. Pandangan matanya teralih pada copy-an dirinya yang duduk tepat bersebelahan oleh Rezi.
"Kamu, Boy. Hey ... Boy," panggil Sean lembut.
Evgen melirik kearah Sean dengan mulut yang terisi penuh dengan camilan.
"Kenapa?" Tanya Evgen ketus.
"Sekolah kamu bagaimana?" Tanya Sean datar.
"Bagaimana? ya begitu," jawab Evgen malas.
"Terus keluar tiap malam itu, kamu ngapain?"
"Main," jawab Evgen dingin.
"Main saja kerjaanmu, sudah kelas tiga. Jangan lupa nilaimu itu harus bagus untuk bisa kuliah di luar," ucap Sean sedikit menekan.
"Iya," jawab Evgen malas. Ia memasukan camilan kedalam mulutnya, memenuhi mulutnya agar ada alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Sean lagi.
Melihat tingkah putranya itu, Sean hanya tersenyum tipis. Ia jadi berniat untuk mengerjai bocah tengil itu.
"Lalu, kencan kamu bagaimana?" tanya Sean lembut.
"Pruuuuft." Evgen menyemburkan isi mulutnya.
Ia melirik kearah Sean dan Rezi secara bergantian. Sementara Rezi hanya memandang Evgen dengan ekspresi yang kebingungan.
'Kalau sampai Kak Rezi tahu, wanita itu Shenina, bagaimana?' lirih Evgen dalam hati.
__ADS_1