Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 74


__ADS_3

"Eh Mas, kamu sudah pulang?" sambut Miranda saat melihat Rayen berdiri bersisian dengan Megi.


"Ma-ma-maaf, Pa." ucap Megi terbata, dengan cepat ia berjongkok. Memungut pecahan beling dari piring yang ia jatuhkan tadi.


"Sudahlah Megi, biarkan itu di urus oleh Mbok Siti. Ayo duduk dan makan bersama." ucap Rayen menenangkan.


Sementara Megi hanya menundukan kepalanya, antara malu dan juga takut. Perkataan nya di dengar oleh Rayen.


"Ayo Megi, duduk disini, di sebelah Papa." Rayen menarik kursi di sebelahnya untuk mempersilahkan Megi.


Namun Megi hanya tertunduk lesu dan tak bergeming.


"Ayo Megi, gak apa-apa." Miranda meraih kedua bahu Megi dan mendudukannya di sebelah Rayen.


"Papa, Megi minta maaf, Megi, Megi..." Megi mengaitkan kedua jemari tangannya, gugup saat berada berdampingan dengan Rayen.


"Kenapa kamu takut sama Papa Megi? Papa yang menjaga kamu saat kamu tertidur tiga bulan."


"Apa?" Megi mendongakan seketika kepalanya dan melihat Rayen disebelahnya.


"Bisa ambilin nasi buat Papa?" Rayen menyodorkan sebuah piring, bibirnya tersenyum sendu.


"Ah." dengan cepat Megi meraih piring yang di sodorkan Rayen.


Dengan sedikit tergesa, Megi mengambil beberapa lauk dan memenuhi piring Rayen dengan cepat. Meletakan di depan Rayen secepat kilat.


"Silahkan, Pa." ucap Megi setelah meletakan piringnya di depan Rayen.


Sementara Rayen dan Miranda saling melemparkan senyum. Lucu melihat tingkah Megi yang salah tingkah.


"Megi." panggil Rayen lembut.


"Iya." jawab Megi spontan.


"Tenanglah, Papa tidak memakan manusia."


"Hah?" tanya Megi sedikit terkejut.


Miranda tertawa kecil mendengar ucapan Rayen.


"Ayo makan, Papa tidak makan manusia. Jadi jangan takut."


"Oh, iya, Pa." Megi membalikan piringnya. Dengan sedikit bergetar tangannya meraih sendok nasi, memyendoki lauk dengan sedikit tercecer.


"Hey, Megi tenang lah." ucap Rayen kembali.


"Megi, Megi, Megi..." ucap Megi terbata.


"Iya, Megi kenapa?" putus Rayen seketika.


"Wah ada apa ini? kenapa bini Sean di siksa, Ma, Pa?" ucap Sean yang baru masuk kedalam ruang makan.


"Kak Sean, kok bisa ada disini?" tanya Megi, bingung.


"Ini rumah gue, kenapa gue gak boleh ada disini?"


"Sean ayo duduk disini!" Miranda menarik salah satu kursi di sebelahnya.


"Banyak banget masak nya Ma? mau ngundang orang se RT?" tanya Sean saat melihat hidangan dengan berbagai jenis di depannya.


"Iya Mama sama Megi asyik masak, sampai lupa diri deh."


"Ma tolong ambilin buat Sean, ya." Sean menyodorkan piringnya ke hadapan Miranda.


"Kak biar aku aja ya." pinta Megi spontan.


"Gak usah biar Mama aja." tolak Sean langsung.


"Bukannya kakak lagi ngurusin pembangunan di barat kota? kenapa bisa ada disini?" tanya Megi kembali, mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari Rayen di sebelahnya.


"Lu nanya seakan-akan gak tahu gue aja Meg." jawab Sean datar.

__ADS_1


"Ehm."


"Gue nelpon elu berkali-kali, tapi elu gak angkat." sambung Sean datar.


"Oh iya, ponsel aku di tas kak. Tapi tas aku dimana ya?" Megi memutar bola matanya, mencoba mengingat kembali.


"Dimana?" sambung Rayen tegas.


Seketika nyali Megi untuk berbicara menciut. Bagaikan sayur tersiram air panas.


Sean hanya menggulum senyum, melihat Megi yang kembali menundukan pandangannya.


"Kamu racuni apa sih otak Megi, Sean? sampai dia bisa setakut ini sama Papa?" tanya Rayen saat melihat Megi yang kembali terdiam, saat ia membuka suara.


"Aku juga gak tahu, Pa. Aku pikir udah tidak ada lagi yang bisa buat dia takut di dunia ini. Secara sama aku aja dia selalu bantah." jawab Sean menggoda Megi.


"Aku, aku bukannya takut. Tapi..."


"Tapi apa?" putus Rayen menggoda Megi.


Kembali Megi terdiam dan menunduk. Sementara tiga manusia9 yang melihat ekspresi Megi hanya bisa tertawa.


Bagaimana juga Megi masih gadis kecil yang polos. Tingkahnya masih seperti anak remaja lainnya, mudah untuk di goda dan di takut-takuti.


"Hem, andaikan ada Rena di tengah-tengah kita. Pasti suasana disini akan lebih ramai." ucap Miranda lembut.


Seketika ucapan Miranda menghentikan pergerakan tangan Sean dan Rayen. Dua lelaki ini saling melemparkan pandangannya.


Sean menghela nafasnya dan meneguk air di sebelah piringnya. Sesaat rona wajah Miranda berganti sendu.


"Siapa bilang sepi, disini ramai kok. Mama tenang saja." Sean bangkit dari kursinya dan berjalan kedapur.


Beberapa waktu berselang Sean kembali dengan seluruh personil pembantu rumah tangga di rumah Rayen.


"Ayo, silahkan duduk dan makan bareng aku."


"Tapi, Mas..." ucap mbok Siti kaget.


Walaupun ada rasa sungkan, namun tak mungkin perintah Sean di lawan. Sean bisa mengamuk dan suasana makin kacau.


Sementara Rayen hanya bisa tersenyum dan menggeleng pasrah. Kadang tingkah putra pertamanya itu memang suka di luar dugaan.


"Sekarang rame kan, Ma? kayak suasana hari raya, bener gak?" Sean kembali duduk di kursinya dan menyuapi makanan kedalam mulut Miranda.


Miranda hanya mengangguk dan kembali tersenyum. Menghadapi tingkah Sean yang terkadang di luar dugaan.


'Maafin aku, Ma. Tapi Rena sudah melampaui batasnya.' lirih Sean dalam hati.


Sean kembali menyuapi makanannya dan memandang Megi yang saat ini duduk di hadapannya. Menyuapi makanan dengan tangan yang sedikit bergetar karena takut akan lelaki di sebelahnya itu.


'Andai korbannya bukan Megi, aku tak akan membuat mata Mama kembali berair. Megi adalah segala batasan aku, Ma. Apapun itu, Megi adalah sesuatu yang bisa membuatku bertindak di luar kendali.' kembali Sean berucap dalam hati. Matanya terus menatap Megi dengan lekat.


'Gadis kecil itu seorang penyihir'.


****


Sean membuka buku di ruang kerja Rayen. Selesai makan siang, Sean dan Rayen masuk kedalam ruangan kerja di salah satu kamar rumah besar ini.


Sean menutup bukunya dan mendekat kearah Rayen, menumpuhkan sebelah tangannya di atas meja, dan menatap layar datar di hadapannya itu bersama dengan Rayen.


"Papa salah langkah, ini bisa buat perusahaan utama di akuisisi, Pa." ucap Sean sesaat setelah melihat isi laptop Rayen.


Rayen menghela nafasnya dan memegang sudut dahinya yang sedikit cenutan karena stres yang ia hadapi selama beberapa hari belakangan ini.


"Apa yang harus kita lakukan, Sean?"


"Pemecahan saham!" jawab Sean tegas.


"Apa?" tanya Rayen terkejut. "Langkah itu terlalu berbahaya."


"Pa, percaya sama aku. Kali ini aku bisa atasi segalanya, Papa hanya perlu membagi beberapa client untuk di pindahkan ke pembangunan barat kota. Beberapa client juga harus di pindah ke selatan kota, Pa. Papa tetap fokus pada perusahaan utama, biar sisanya aku yang urus." ucap Sean tegas.

__ADS_1


"Kamu yakin Sean?" tanya Rayen sekali lagi.


"Hanya ada dua kemungkinan, Pa." jawab Sean menatap kosong kedepan.


"Jika kita hancur, maka hancur bersamaan. Jika kita melambung, maka kita injak dia sampai tak bisa bangkit." sambungnya angkuh.


"Tapi Sean, Papa khawatir akan..."


"Papa tak perlu khawatir soal apapun, lakukan saja apa yang aku bilang, sisanya aku yang bereskan." Sean berjalan keluar dan membuka daun pintu.


Sementara Rayen hanya bisa menghela nafasnya berat. Bukan ia tak percaya, namun Sean lebih berani dalam bersikap. Bagaimana ia bisa tak khawatir, jika perusahaan yang ia bangun selama ini sedang dalam ambang kehancuran.


Sean membuka pintu kamarnya, matanya melirik kesetiap sudut ruangan. Tak ada istri kecilnya di sudut manapun.


Sean merebahkan badannya, melipat satu tangannya untuk di jadikan bantal. Bersiul dengan santai, sambil menggoyangkan salah satu kakinya di atas tempat tidur.


Bergaya sesantai mungkin, namun pikirannya berperang sekeras mungkin. Tak lama Megi keluar dari dalam kamar mandi.


Senyumnya merekah selebar mungkin, saat ia melihat suaminya sudah terbaring santai diatas tempat tidur.


"Kak, kakak lagi ada waktu luang ya? kok bisa santai banget?" tanya Megi sambil memijit-mijit lengan tanga Sean.


Mata Sean masih menatap langit-langit kamar dengan lekat. Sebenarnya apa yang di katakan Megi ia dengar, namun ia tak ingin menjawab.


Saat tangan kecil Megi memijit telapak tangan Sean yang terbuka. Sean menutup telapak tangannya, mengenggam jemari Megi erat.


"Eh..." ucap Megi terkejut.


"Megi," panggil Sean lembut. Ia langsung duduk diatas kasurnya.


"Hem."


"Ambil ransel gue, dan siapin beberapa baju gih. Gue mau nginep satu minggu di barat kota." perintah Sean langsung.


"Oh." tanpa banyak bertanya Megi bangkit dan memasukan beberapa pasang baju yang tersisa di lemari Sean.


Saat Megi ingin memasukan baju kaus yang pernah di pakai Megi dulu. Sean menghentikan tangan Megi dengan cepat.


"Baju yang ini gak usah lu masukin. Buang saja!" perintah Sean datar.


"Loh kenapa? kakak gak mau pakai lagi, setelah aku pakai?" tanya Megi sedikit cemberut.


"Bukan." jawab Sean datar.


"Terus?"


"Baju itu kan sudah gak bagus. Buang sajalah!" perintahnya ketus.


"Yasudah, kakak pasti gak mau pakai kan, padahal baju ini bagus. Buat aku aja ya." pinta Megi.


"Jangan!" ucap Sean spontan.


"Kenapa?"


"Lu bisa beli baju yang lebih bagus di mall. Kenapa harus pakai baju cowok?" tanya Sean ketus.


"Ini kan baju kakak, aku suka. Boleh ya." bujuk Megi manja.


"Gue bilang buang, ya buang aja!" perintah Sean menggelegar.


"Ih tapi aku suka." ucap Megi ngeyel.


Sean mengacak-acak rambutnya dan menghela nafasnya. Ia kembali membuang bokongnya di bibir ranjang.


"Yaudah lu bawa pulang sana, lu keloni di rumah!" ucap Sean ketus.


"Bener ya." Megi tersenyum dan mengenggam baju itu. Bagaimana juga, bau Sean masih tertinggal di baju itu.


Melihat ekspresi Megi yang seperti itu, Sean malah berniat untuk menggoda Megi. Seperti apa reaksinya saat tahu baju itu pemberian dari rival cintanya.


"Baju itu..." ucap Sean sambil melirik kearah Megi."Pemberian Hana." sambungnya lirih.

__ADS_1


"Apa?" seketika Megi mencampakan baju itu ke lantai. Badannya bergidik geli, menyesal sudah pernah memakai baju pemberian Hana di kulit mulusnya.


__ADS_2