Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 36


__ADS_3

Sean kembali melemparkan paper bag itu kedada Megi. Ia membalikan badannya dengan cepat dan duduk di atas ranjang.


Kini rasa kantuknya sudah hilang secepat kilat.


"Udah pakai aja apa yang ada, ribet banget sih." ucapnya sambil beranjak duduk di bibir kasur.


Megi berjalan dengan mendacak pingang, ia mendekat ke Sean, namun tangan Sean terjulur panjang menyetop pergerakan Megi.


"Stop ... Stop disana." ucap Sean spontan.


"Nanti kalau handuk lu melorot, menodai mata suci gue." ucap Sean ketus.


Bagaimana juga ia masih lelaki normal, ia juga tak bisa melihat badan Megi terlalu lama. Kasian adek bayi miliknya, bisa terbangun dan tak tertidur lagi.


Dengan cepat Megi menarik selimut di atas kasur, ia membungkus badannya dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


"Sejauh mana kakak lihat badan mulus aku?"


"Cih... Mulus. Body mobil kali, mulus." timpal Sean ketus. Mencoba menghilangi grogi dalam dirinya, jujur saja ia tergoda oleh tubuh mungil Megi.


"Elu itu yang udah mengotori pandangan gue! ngapain berdiri cuma pakai handuk aja?"


"Aku kan baru siap mandi kak, lihat baju malah gitu bentuknya, ogah aku pake ah." pembelaan Megi.


"Kalok lu pake gitu pun gak akan ada yang tergoda, Meg. Secara body rata gitu." cerca Sean.


Mulut Megi menganga lebar, tak terima badan sexynya di bilang rata. Ia berjalan mendekat ke bibir ranjang. Duduk menyempiti Sean.


"Sembarangan kakak bilang body aku rata, belum lihat aja yang sesungguhnya." Megi meyenggol badan Sean.


"Gak usah genit." ucap Sean spontan. Jantungnya hampir lompat keluar saat di senggol oleh Megi.


"Lu buka lemari baju gue, dan carik kaus yang muat ukuran badan kuaci milik lu itu!" perintah Sean kasar.


Megi menghentakan kedua kakinya di lantai, bibirnya memonyong seketika. Ia dengan cepat berjalan membuka lemari Sean.


Memilah baju kaus milik Sean yang bisa ia gunakan.


Semenatara Sean hanya memandangnya dari kasur, perlahan selimut yang Megi gunakan untuk menutupi tubuhnya mulai melorot kebawah. Menyisakan handuk kecil yang tadi ia gunakan.


Melihat si gadis kecil itu, kembali sifat usil Sean hadir menyapa. Ia berjalan mendekat kearah Megi dan melingkari perut Megi dengan kedua tanganya.


"Bukannya elu bilang mau layani gue dengan cara yang gue suka ya?" bisik Sean di telingan Megi.


Sontak Megi memukul keras tangan Sean yang melingkari perutnya. Ia membalikan badannya dan menatap Sean tajam.


"Gak usah macem-macem sama aku kak, aku bisa buat kakak di penjara 12 tahun karena pemerkosaan anak di bawah umur."


"Benarkah?" Sean meletakan kedua tangannya di atas kedua bahu Megi. Matanya mengerling nakal, membuat Megi merinding sekujur tubuh. Dengan cepat Megi menghempaskan kedua tangan Sean.


Sial, handuk yang ia gunakan melorot karena pergerakan spontan Megi. Membuat tubuh Megi terlihat jelas tanpa sehelai benang pun.


Sean dan Megi saling menatap, sejenak. Lalu dengan cepat Megi berjongkok dan mengambil handuknya. Sean membalikan badannya dan menggaruk tengkuk lehernya.


Sial, Sean membuat masalah untuk dirinya sendiri.


"Kakak sengaja banget kan?" ucap Megi kesal.


"Lagian lu kan udah jadi bini, gue. Masalah banget gue lihat dikit." ucap Sean membela, ia menghempaskan badannya ke kasur.


Ia tidur tengkurap dan membenamkan wajahnya. Tak mungkin ia bisa kembali tidur dengan keadaan seperti ini. Megi sudah membangunkan macan Asia yang lain dari dalam diri Sean.


"Sabar ya Stephan, ini cobaan." ucap Sean lirih.

__ADS_1


"Apa? kakak ngomong sesuatu?" tanya Megi.


"Enggak, gue mau tidur." Sanggah Sean garang.


"Jangan banguni gue lagi. Kayak elu yang udah banguni Stephan." sambungnya ketus.


"Apa?" tanya Megi sambil berjalan mendekati ranjang Sean.


"Siapa Stephan kak?" tanya Megi sambil membuang bokongnya di sebelah Sean.


Sean mendorong badan Megi menjauh darinya, Megi ini benar-benar polos atau sok polos sih?


"Udah jauh-jauh sana, jangan ganggu gue tidur!" perintah Sean kasar.


"Iya loh, iya." jawab Megi mengalah.


Sean menghela nafasnya, dengan susah payah ia menelan kembali salivanya.


'Main-main elu sama gue Megi, sekali lagi elu dekati gue. Gue suruh Stephan gigit elu!'


celoteh Sean dalam hati.


Sinar mentari mulai menampilkan cahayanya, menembus epidermis wajah tampan milik Tuan Muda bengis itu. Mulai terlihat pergerakan bola mata Sean karena silau sinar mentari.


Sean menyapu wajahnya, ia meraih ponselnya dari atas nakas. Melihat jam pada layar ponselnya sudah hampir jam 9 pagi. Sean duduk di atas ranjangnya dan memegang dahinya.


Kepalanya masih pusing akibat kejadian semalam, mau tak mau dia harus tidur dengan posisi membenamkan wajahnya di bantal. Dari pada nanti akan terjadi hal yang di inginkan, lebih baik ia sembunyi.


Sean melirik kasur di sampingnya, sudah tak berpenghuni dan rapi. Dengan malas ia berjalan ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air.


Sean menuruni anak tangga rumah Rayen dengan bersiul. Terdengar suara cekikian dua orang wanita dari arah dapur. Suara siapa lagi, kalau bukan suara ibu dan anak yang terpisah selama delapan belas tahun itu.


Sean mendekat kearah dapur, terlihat Miranda dan Megi sedang asyik menghibah seseorang. Siapa lagi, selain menghibahkan putra tertampan keluarga Rayen.


Mata Sean tertuju pada baju kaus yang di gunakan Megi. Dari sekian banyak baju kaus di lemari Sean, kenapa Megi memilih baju itu?


Baju dengan liris hitam dan abu-abu berlengan panjang, pemberian Hana sekitar tujuh tahun lalu. Megi menggulung lengan panjangnya, kerah bahu yang agak lebar, ia miringkan, sehingga memperlihatkan kulit putih bahu di sebelah kirinya.


Megi menggunakan belt untuk membentuk pinggangnya yang ramping, badan Sean yang hampir dua kali lipat lebih besar dari Megi. Jelas baju kaus Sean akan sangat besar dan panjang. Namun Megi mampu membuatnya tampak modis.


Megi mencepol rambut panjangnya, memperlihatkan lehernya yang agak jenjang. Poni miring yang biasa menutupi dahinya, kini ia jepit ke belakang. Sehingga Sean mampu melihat wajah gadis itu tanpa terganggu oleh rambut.


Sean memijit dahinya lembut, kejadian semalam masih terbayang di pelupuk matanya. Melihat kulit di bahu Megi saja membuat ia tergoda.


'Sial, sejak kapan baju kaus bisa jadi semodis itu?' tanya Sean dalam hati. Ia berjalan mendekat dan menggeserkan kursi di meja makan. Sesaat dua wanita itu melihat ke sumber suara dan kembali berbisik, lalu cekikikan kembali.


Sean hanya menggelengkan kepalanya takjub. Megi bisa dengan cepat seakrab itu dengan Miranda, padahal dulu, Hana yang sudah delapan tahun melakukan pendekatan dengan Miranda saja tak bisa sedekat itu.


"Ma, kenapa gak beli-in baju baru buat Megi sih?" protes Sean saat melihat kehadirannya tak di pedulikan.


"Memang kenapa harus beli baju lagi?" tanya Miranda yang tak sadar dengan baju yang Megi gunakan.


"Itu kan kaus Sean, gimana nanti kalau ada yang lihat Megi gitu?"


"Ah masak ia sih?" tanya Miranda yang tak percaya, ia mengangkat kedua tangan Megi tinggi-tinggi.


"Iya, kok Mama gak sadar ya? tapi bagus kok."


"Bagus apanya? tangannya di gulung-gulung gitu, risih Sean lihatnya."


"Yaudah, nanti Mama ambilin baju Rena ya."


"Ah ... Jangan-jangan, baju Rena kurang bahan gitu, udah biar Sean pesen aja." Sean mengeluarkan gawainya dan mulai memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Kak, mau sarapan enggak?" tanya Megi lembut.


"Enggak, gue sarapan angin." jawab Sean ketus.


"Oh, yaudah." ucap Megi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya sarapan lah, lu pikir gue gak laper?" jawab Sean ketus.


"Yaudah tinggal bilang aku sarapan Sayang. Apa susahnya sih? gak enak ya kalok ngomong gak nge gas? pake geber-geber lagi." omel Megi kesal.


"Lu tinggal bawa sarapannya aja kok harus ngomel dulu sih?" sambung Sean kesal.


"Lagian pagi-pagi udah ada aja tenaga buat nge gas."


Megi membawa sepiring nasi goreng dan memberikan kehadapan Sean. Dengan memainkan gawainya Sean melahap makanan yang ada di depannya. Sesekali Sean menyipitkan matanya, lalu tersenyum.


Penasaran dengan apa yang di mainkan Sean, Megi mengintip sekilas. Sean men-chat beberapa orang dalam satu grup Wa.


"Sean kamu tinggal disini saja, kenapa?" ucap Miranda membuyarkan ke asyikannya.


"Gak bisa Ma, gak betah."


"Biar Mama ada teman nya, Nak. Mama kesepian selama ini." pintanya melas.


"Kalau Megi mau, dia aja yang tinggal  disini, Sean gak mau tinggal disini."


"Mana mungkin Megi mau tinggal, kalau gak ada kamu."


"Udah lah, Ma. Jangan hilangin nafsu makan, Sean."


Miranda hanya menghela nafas berat. Tak ada kata yang bisa di ucapkannya lagi. Sean keras pada keinginannya, tak mungkin ia melawannya.


"Mama kalau bosen main aja ke apartemen kami." Sambung Sean yang masih berkutat pada gawainya.


"Iya, Nak." jawab Miranda pasrah.


"Rena mana?" Sean tersadar ada satu wanita lagi yang belum terlihat.


"Masih di kamarnya."


"Kak..." Rena datang dari arah belakang dan memeluk punggung Sean. Manja untuk meluluhkan hati Sean.


"Bujuk Mama dong kak, jangan antar aku tempat Eyang." minta Rena manis.


Sementara Sean masih asyik memakan sarapannya. Ia mengambil gelas air untuk mendorong sisa makanan yang tersangkut di tenggorokannya.


"Janji sama gue, itu terakhir kali gue lihat elu di club malam."


"Iya, gue janji kak."


"Satu lagi, putus hubungan dengan Mirza." ucap Sean tegas.


Rena sontak langsung melepaskan pelukannya. Ia melemparkan pandangannya kearah Megi. Sementara Megi memandang Sean heran.


Megi tak tahu menahu soal hubungan Rena dan Mirza. Ia hanya melihat Rena sekali saat Sean menyeretnya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kak? karena kakak udah nikahi Megi jadi aku gak boleh lagi sama Mirza?"


"Iya, jelaskan sekarang hubungan elu sama Mirza udah menjadi ipar. Alasan lain, gue gak suka lelaki itu, kalau elu mau nikah, biar gue carik in calon yang baik."


"Apaan sih kak? Elu gak adil tau gak?" Rena menghentakan kakinya kesal.


Ia tak terima akan perlakuan Sean, gara-gara gadis kecil itu, Rena harus berpisah dengan lelaki yang selama setahun ini ia cintai. Perlahan benih kebencian mulai hadir di dalam hati Rena.

__ADS_1


__ADS_2