Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
137


__ADS_3

Evgen memandangi gedung sekolah tempat ia menghabiskan masa putih abu-abu selama tiga tahun itu dengan lekat.


Memandangi gedung itu dengan lapisan kaca bening yang melapisi kedua bola matanya. Walaupun sekolah itu banyak mengalami perubahan, namun sekolah itu masih menyimpan banyak kenangan.


Walaupun Evgen tidak bisa lagi menemui gadis yang ia cari. Setidaknya ia bisa menemui banyak kenangan Shenina yang tertinggal di sini.


Evgen menghela napasnya, berusaha menahan sesak yang kembali bersarang di dalam dadanya, kapanpun itu, saat kenangan itu mulai bermain di kepalanya. Segalanya terasa begitu menyakitkan. Bahkan bernapas saja ia merasa kesulitan.


Alasan yang membuat ia tidak ingin kembali, dan alasan yang membuat ia ingin menetap di Sevilla adalah sama.


Terlalu banyak kenangan yang terukir dalam dua kota ini. Evgen ingin meninggalkan semuanya itu sendiri, ia ingin bebas dari semua rasa bersalah itu.


Walaupun ia menyadari, saat ia melangkah pergi dari kota ini. Ia kehilangan segalanya dan tak memiliki apapun lagi untuk ia simpan dalam hati.


Evgen berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya. Namun baru dua langkah ia berjalan, seorang siswa lelaki melompat di depannya.


Keluar melalui tembok sekolah itu. Evgen kembali tersenyum, mengingat bahwa ia pernah tertangkap basah oleh gadis itu saat ingin bolos sekolah dulu.


Pertengkaran demi pertengkaran terjadi di antara mereka. Hubungan mereka terbangun dari kesalahapahaman yang tak berujung. Namun pada akhirnya juga menjadi takdir yang tidak bertepi.


Saling mencintai, namun entah kenapa mereka tidak bisa saling memiliki.


Evgen memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Ia menghidupkan earphonenya saat masuk sebuah panggilan ke dalam ponselnya.


"Hallo, elu di mana? Siera terus nanyain elu ini," ucap Putra di seberang sana.


"Gue lagi di jalan, sebentar lagi gue sampai. Ini lagi jalan menuju halte bis," jawab Evgen malas.


"Heh, di rumah elu berjejer mobil. Terserah elu mau pakai yang mana. Kenapa malah naik bis segala?" tanya Putra ketus.


"Gue biasa tinggal di London. Dan gue gak terbiasa naik mobil kemana-mana," jawab Evgen lembut.


"Okelah, Mister London. Cepat datang atau si kembar akan mengamuk di sini."


"Iya, gue akan kesana," balas Evgen kembali.


"Cepat, gue sudah gak sanggup jaga mereka berdua. Lama banget kalau sudah belanja."


Evgen hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Evgen menaiki bis yang tidak lagi asing buatnya. Selama tiga tahun di SMA entah berapa banyak kenangan yang terjadi di dalam bis ini.


Sepanjang perjalan, Evgen hanya memperhatikan ke luar jendela. Melihat jalanan yang biasa sering ia lewati saat jalan bersama Shenina.


Tak peduli selama apa ia pergi, sebanyak apa perubahan yang terjadi. Ingatan itu masih terus bermain di memori Evgen.


Seakan semua kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Betapa ia rindu akan semua hal itu.


Evgen menghapus sudut matanya yang sempat berair. Ia mengusap rambutnya ke belakang dan memakai topi untuk menutupi wajahnya.

__ADS_1


Berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari dunia luar. Menyambunyikan diri dari luka yang terus berlubang dalam hatinya.


Evgen memasuki mall yang ada di kota itu, kembali ia teringat pada gadis itu. Terlau banyak tempat yang terus membuat ia mengulang kembali kenangan manis itu


Namun semakin manis kenangan yang pernah terjadi, maka semakin perih pula luka yang kembali berdarah.


Evgen mengeluarkan ponselnya dan menelpon Putra. Setelah beberapa detik, panggilan itu tersambung.


"Put, gue gak bisa masuk ke sana. Gue nunggu di cafe bawah saja ya."


"Kenapa gak masuk? Ya kali gue nemeni si kembar cuma sendiri?" tanya Putra ketus.


"Tiba-tiba gue sakit kepala, gue tunggu di bawah saja ya. Gak apa, kan?" tanya Evgen lembut.


"Kan elu yang bawa si kembar ke mall dan janji mau belanjain mereka. Kenapa sekarang malah elu yang gak datang?" tanya Putra kembali.


"Lu bisa pakai kartu ATM gue, gue gak bisa masuk. Gue butuh istirahat di bawah."


"Yasudah," jawab Putra mengalah.


Evgen berjalan memasuki cafe yang berada di bawah mall tersebut. Matanya masih terfokus oleh jalanan luar.


Entah berapa lama ia sanggup bertahan, namun saat ini rasanya terlalu menyakitkan.


Ia bahkan sudah tak sanggup lagi walau hanya mengenang segalanya.


Evgen menangkupkan tangannya di depan bibir, sekeras apapun ia menahananya, namun air mata itu tetap melintasi pipinya.


"Maaf untuk janji gak tidak pernah tertepati. Maaf untuk waktu yang terbuang sia-sia karena terlalu lama menanti," lirih Evgen pahit.


Evgen mengusap wajahnya dengan kasar dan bangkit dari kursi cafe itu. Bahkan walau hanya menunggu saja, ia tidak sanggup bertahan di antara rindu yang terbalut kenangan.


Evgen memakai topi jaketnya, semakin meyembunyikan wajahnya. Memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket.


Evgen mempercepat langkahnya saat rinai hujan mulai turun menyapa bumi.


Sebuah bis berhenti di depan halte. Seorang gadis turun dari bis itu, dengan sedikit menyingkap gamis panjangnya.


Salah satu tali sepatunya terlepas dan terpijak oleh kakinya sendiri. Seketika tubuh mungil itu hampir jatuh.


Sebuah tangan menangkap badan gadis itu. Menahan tubuhnya untuk tidak tersungkur ke tanah.


"Hati-hati," ucap lelaki itu lembut.


Gadis itu membenarkan letak hijabnya dan tersenyum lembut.


"Terima kasih," jawab gadis itu tersenyum lembut.


"Tali sepatumu terlepas, perhatikan lain kali. Jangan sampai wajah cantikmu itu hilang karena hanya tersangkut tali sepatu," ucap lelaki itu memasuki pintu bis.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum, berjongkok untuk mengaitkan kembali tali sepatunya.


Gadis itu menghela napasnya, dan bangkit perlahan. Ia mengadahkan tangannya saat rinai hujan mulai menyapa dirinya.


"Hujan," ucapnya riang.


Gadis itu tersenyum lebar dan memalingkan wajahnya. Tanpa sengaja matanya memandang lelaki yang berdiri terpaut lima meter di sampingnya.


Untuk sesaat mata mereka saling bertemu dan bertautan. Terdiam di antara jarak yang memisahkan.


Perlahan senyum gadis itu memudar, saat ia memgenali wajah lelaki dengan topi hitam menutupi kepalanya.


Gadis itu mengambil napasnya yang memburu kencang. Perlahan genangan air mata mulai membanjiri matanya.


Satu air mata melintasi pipinya saat ia berkedip. Gadis itu melepaskan tawanya, memperlihatkan jejeran giginya yang tersusun dengan rapi.


"Akhirnya elu kembali," ucap gadis itu meluruhkan air matanya.


Evgen merentangkan kedua tangannya selebar mungkin.


Shenina kembali melepaskan tawanya, mengingit bibir bawahnya. Memandangi tubuh tegap lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Gue kembali, Shenina. Tidakkah elu rindu sama gue?" tanya Evgen lembut.


Shenina memecahkan tangisnya, tangannya menghapus buliran yang sempat luruh dari matanya.


Berlari memeluk badan tegap lelaki yang sangat ia rindui itu. Tangis di antara keduanya saling pecah. Untuk sesaat mereka berdua saling masuk pada perasaannya masing-masing.


"Kenapa baru kembali? Kemana saja? Kenapa elu baru kembali sekarang, Evgen?" tanya Shenina terisak.


"Maaf, Maafin gue Shenina. Maaf karena gue gak menepati janji gue sama elu."


"Kenapa lama sekali? Kenapa elu baru kembali setelah selama ini?" Shenina membenamkan wajahnya di dada bidang Evgen.


Melepaskan segala beban yang berusaha ia tahan selama ini.


"Gue menunggu elu, lu tahu gak? Berapa banyak air mata yang tumpah karena elu gak kembali. Sekarang elu kembali juga hanya berdiri di tempat. Sebenarnya elu sayang gue apa enggak?" tanya Shenina tergugu.


Badannya kecilnya semakin bergetar, karena tangisan yang ia tumpahkan semakin dalam.


Melepaskan segala rindu yang selama ini ia tahan.


"Maaf, Shenina. Maaf, gue hanya bisa bilang maaf. Maaf, atas segalanya yang membuat elu harus melewati semua cobaan ini sendiri. Maafkan gue, Sayangku."


"Gue mencintai elu, Evgen. Gue mohon tetaplah di sini, jangan tinggalkan gue sendiri lagi," pinta Shenina terisak dalam.


Evgen menggelengkan kepalanya, menguatkan dekapan tangannya pada gadis yang telah terbalut baju gamis dan hijab itu.


"Gue tidak akan pergi kemanapun tanpa elu lagi. Mulai sekarang, gue hanya akan berjalan saat elu berada di samping gue, Shenina."

__ADS_1


__ADS_2