
"Kok bodoh sih?" tanya seorang lelaki dengan sebuah nampan di tangannya.
Megi membuang pandangannya ke lelaki asing di depan mejanya.
Megi menghela nafasnya, ia menyuapi kentang goreng ke dalam mulut Aya.
"Kosong kan? boleh gabung?" tanya lelaki asing itu ke Megi.
"Ah, aku lagi nunggu orang." jawab Megi datar.
"Masa sih? perasaan dari tadi cuma berdua sama adiknya." jawab lelaki itu dengan tersenyum ramah.
Megi memutar bola matanya dan kembali menghela nafasnya.
"Hai, aku Yudha. Kamu siapa?" sapa lelaki itu dengan mengulurkan tangannya.
Setelah beberapa waktu Megi tak membalas uluran tangannya, lelaki itu mengambil kembali tangannya dan mengangguk pasrah.
Membuang bokongnya di kursi tepat di belakang Megi.
Sean yang baru masuk kedalam cafe langsung memadam saat melihat istrinya berbicara dengan lelaki muda.
Dengan cepat Sean datang mendekat dan duduk di depan Megi. Matanya tajam menatap lelaki yang sedang duduk di belakang Megi, memandang Megi dengan senyum manisnya.
"Lama ya Sayang? maaf ya, parkirnya agak susah." ucap Sean dengan mengeraskan suaranya, agar terdengar oleh lelaki yang duduk di belakang Megi.
Sean menekuk wajahnya, ia menghembuskan nafasnya kasar. Selera makannya menghilang sesaat setelah masuk kedalam cafe.
Kejadian tadi terus terbayang dan terus membuat emosi Sean terbakar. Sean memandang wajah Megi yang berada di hadapannya, wajah Megi masih tak berubah dari lima tahun yang lalu.
Malah di mata Sean Megi semakin terlihat cantik karena auranya yang bersinar lebih terang. Jelas saja Megi masih bisa di taksir walaupun sudah memiliki suami sekalipun.
Menyadari pandangan mata Sean. Megi mengalihkan perhatiannya.
"Kakak gak makan?" tanya Megi lembut.
"Enggak!" jawab Sean ketus.
"Suasana cafenya buat selera makan aku hilang." sambungnya ketus.
Pandangan mata Sean terus tertuju pada lelaki yang duduk di belakang Megi saat ini. Ia kesal setengah mati melihat lelaki muda dengan balutan kaus putih yang mencoba menggoda istrinya.
"Aya berikan ponselnya sama Om. Habiskan makanannya cepat, Tante mual banget." perintah Megi.
Aya memberikan ponselnya ke Sean, kembali memakan pesanan makananya tadi. Megi memandang wajah Sean yang terus memadam merah, matanya tajam melihat kearah belakangnya.
Karena rasa penasarannya, Megi memutar kepalanya. Mencoba melihat sesuatu yang membuat pandangan suaminya menjadi mengerihkan.
"Megi, lihat kesini." perintah Sean ketus saat Megi memutar kepalanya kebelakang.
"Ada apa sih kak?" tanya Megi bingung.
"Aya sudah siap makan kan? ayo kita pulang." perintah Sean datar.
Tanpa menunggu lagi Sean berjalan menuju kasir, Megi menyiapkan Soraya sebelum keluar dari Meja.
__ADS_1
"Megi." panggil lelaki di belakang Megi tadi.
Megi memalingkan pandangannya, melihat lelaki dengan balutan kaus putih yang berbicara dengannya tadi.
"Dari mana tahu nama aku?" tanya Megi ketus.
"Aku rasa pacarmu terlalu keras menyebut namamu."
Megi tersenyum sinis dan menarik Aya untuk keluar dari meja cafe. Berjalan menjauh dan keluar dari pintu cafe.
Sepanjang perjalan pulang Sean hanya berdiam. Wajahnya memerah padam, menahan amarah yang tak bisa ia lampiaskan.
Megi membuka daun pintu rumah Mika, Soraya langsung aktif berlari menaiki anak tangga.
"Soraya jangan lari-lari, langsung cuci tangan dan tidur." Megi mengikuti langkah kaki Soraya.
Dengan cepat tangan Sean menarik pergelangan tangan Megi. Menyudutkan badan Megi ke sisi dinding rumah. Mengurung Megi dengan kedua tangannya yang ia tumpuhkan di sisi tembok.
"Ada apa Kak?" tanya Megi bingung.
"Aku mau begini, kenapa? gak suka?" tanya Sean ketus.
"Kakak kenapa?" Megi meraih dahi Sean dan mengelusnya lembut. Namun Sean berusaha menghindari sentuhan tangan Megi.
"Ada apa Sayang? kenapa suami aku marah?" tanya Megi mengalungkan tangannya di bahu Sean.
"Siapa dia?" tanya Sean ketus.
"Dia?" Megi menaiki sebelah alis matanya, mengingat siapa yang di maksud Sean.
Megi melepaskan senyum dan mengelus dahi Sean. Merapikan helaian rambut Sean yang terjatuh menutupi sebelah mata Sean.
"Aku gak tahu, dan aku gak mau tahu." jawab Megi dengan tersenyum.
"Yang benar gak tahu?" tanya Sean sinis.
"Kakak cemburu?" tanya Megi kembali.
"Kenapa? aku punya hak kan untuk cemburu?" tanya Sean sengit.
Megi tersenyum dan meraih kedua pipi Sean, menyentuh ujung hidung Sean dengan ujung hidungnya.
"Sekarang aku ini milik kakak. Gak akan ada yang berani rebut aku dari Sean Rayen Putra."
"Buktinya yang tadi berani."
"Berani bukan berarti aku mau, kan kak."
"Kenapa? kamu masih muda, dia juga masih muda. Lebih muda dari aku." jawab Sean sengit.
"Kakak, dengar aku." Megi meraih kedua pipi Sean, menatap mata Sean dengan sangat lekat.
"Setelah apa yang kita lewati, sakit, pahit yang aku rasakan. Bukan hal yang mudah untuk bisa berada di sisi kakak. Apa kakak pikir aku akan semudah itu untuk kembali mengucapkan kata pisah?"
Sean melepaskan tumpuhan tangannya, ia meraih bahu Megi dan memeluk Megi erat. Mencium bahu Megi dengan kuat.
__ADS_1
"Aku cuma takut kalau harus kehilang kamu lagi Megi. Aku rela kehilangan apapun, asalkan kamu tetap menjadi milik aku."
Megi melepaskan senyumnya, ia membalas pelukan Sean sejenak. Lalu menarik bahu Sean.
"Kak, gak ada satu alasan pun yang bisa buat aku meninggalkan kakak. Tapi aku punya seribu bahkan seratus ribu alasan untuk tetap bertahan disisi kakak." ucap Megi sendu.
"Satu alasan terbesarnya adalah, karena aku sangat mencintai kakak."
Sean tersenyum dan meraih pipi Megi, mencium bibir Megi, seakan-akan takut akan kembali kehilangan Megi kembali.
Megi meleraikan ciuman Sean, kembali tersenyum dan menatap wajah Sean.
"Karena lelaki itu kakak." Megi melingkari tanganya di badan Sean.
"Aku bisa percaya, bahwa cinta itu ada."
Sean menarik badan Megi dan memeluknya erat. Membenamkan wajahnya di bahu Megi.
"Berjanjilah untuk bertahan di sisi aku sesulit apapun kedepannya." ucap Sean mengeratkan pelukannya.
"Saat ini aku mengakuinya, bahwa yang aku miliki hanya cintamu, Megi. Kehilanganmu, sama seperti aku kehilangan segalanya. Jangan pergi lagi dari sisi aku, jangan lepaskan dekapan tanganku, sesesak apapun nafas yang kamu hirup saat berada di dalamnya."
Megi melepaskan pelukan Sean yang terasa semakin menguat.
"Tapi kalau kakak peluk aku sekuat ini, bukan cuma aku, tapi anak kita juga akan kesusahan untuk bernafas."
Sean tersenyum dan memeluk badan Megi kembali. Beberapa kali Sean mencium pucuk kepala Megi.
"Aku mohon bertahanlah di sisiku Megi. Jangan lepaskan pegangan tanganku lagi, jangan. Bersabarlah menghadapi aku."
"Kakak, aku gak pernah melepaskan apapun lagi dalam hidup aku. Apalagi itu kakak." jawab Megi sendu.
"Karena aku pernah melepaskan sekali, dan aku kehilangan segalanya. Aku berjanji, untuk mengenggam apapun yang aku miliki saat ini."
Sean meleraikan pelukannya, meraih wajah Megi dan merapikan helaian rambut Megi.
"Percaya sama aku Kak. Jika lima tahun saja aku mampu bertahan walau tanpa kakak, apalagi sekarang, saat kakak ada di sisi aku."
"Maaf Megi, maaf aku pernah meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu, dari dulu. Aku tidak pernah melepaskanmu dalam hatiku."
"Cinta yang kakak berikan itu mampu membuat aku mengenal banyak hal. Aku bisa menangis, tertawa, kita selalu bertengkar tapi kita selalu saling menyanyangi. Aku bisa menangis saat tertawa, dan aku bisa tertawa saat berderai air mata."
"Maaf Megi."
"Jangan minta maaf Kak. Karena saat ini aku percaya, cinta itu nyata setelah penderitaan yang kita lewati bersama."
Sean kembali tersenyum dan menarik pinggang Megi mendekat. Meraih dagu Megi dan mendongakannya.
"Aku suka istri bocah aku yang polos dan tidak pernah dewasa. Jangan menjadi dewasa, Megi."
"Kenapa?" tanya Megi bingung.
"Karena kalau kamu menjadi dewasa seperti sekarang. Aku akan terus jatuh cinta semakin dalam. Aku semakin tak mau melepaskan."
"Kalau gitu jangan pernah lepaskan lagi kak. Jangan!"
__ADS_1
"Gak akan, gak akan pernah. Walaupun kamu menyesal bersamaku, aku tak akan pernah melepaskanmu."