Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 29


__ADS_3

"Megi, lu gak dengar gue ngomong apa tadi?" ucap Sean melemah.


"Memang kakak bilang apa tadi?" tanya Megi bersandiwara. Ia masih berkutat pada kertas gambarnya.


"Gue suruh lu kerja, kenapa lu malah kabur? Hah...?"


"Kakak gak waras ya? Masak iya aku kerja pake baju begini sih?"


"Memang kenapa? Gue aja kerja pake baju begini." ucap Sean santai.


"Kakak kan Bos nya, jadi ya mau pake baju gimana aja terserah kakak, kan?"


"Bukannya elu bakalan jadi nyonya Bos ya?" ucap Sean menggoda.


Megi meletakan pensil desainnya dan menatap ke arah Sean. Senyum menyungging di bibirnya. Salah tingkah mendengar ucapan Sean.


"Oh... Iya ya kak." Megi melanjutkan desainnya.


"Jadi tunggu apa lagi?"


"Emang mau ngapain kak?"


"Elu kan gue suruh kerja, kok masih santai disini?" Tanya Sean kesal.


"Kan aku bakalan jadi nyonya Sean, kenapa harus capek-capek kerja. Tingal minta duit aja sama kakak." Ucap Megi yang masih santai berkutat dengan pensil dan desainnya.


"Oh ... Jadi sekarang lu jadi cewek matre juga?"


"Bukan matre kak, kan kakak nanti wajib nafkahi uang buat aku. Ya kan... Ya kan... Unch... Unch..." Megi memonyongkan bibirnya.


Sean hanya bisa menghela nafas berat, Megi ini memang bocah. Selalu saja membuat gaya baru yang aneh-aneh.


"Memangnya mau bagaimana nanti elu ngelayani gue? Sampek gue harus nafkahi elu! Hemm...?" Sean menaiki sebelah alisnya, menggoda Megi.


Megi memutar bola matanya, ia menempelkan pensil di sudut bibirnya lalu memukul-mukul pensil itu pelan. Perlahan wajahnya merona merah.


"Memang kakak mau aku layani seperti apa? Hem ... Hem ...?" Megi memainkan kedua alisnya.


Membuat Sean mati gaya mengahadapinya, ia berniat untuk membungkam mulut Megi. Tapi malah ia yang di buat bungkam oleh perkataan Megi.


"Udah ya, gue gak akan kasih elu duit sepeserpun kalok lu gak mau kerja! Pergi kerja... SEKARANG...!" Sean memerintah kasar.


"Ssttt... Ssttt... Bisa gak kalok ngomong itu gak usah banyak nge gas? Sellow aja kali kak. Lagi enggak balapan motor, gak perlu nge gas." Megi membanting pensil desainnya kuat di atas meja.


Sean sedikit tercekat melihatnya, di tambah suara pintu yang di banting kasar oleh Megi. Sean sedikit terlompat dan memegang dadanya, ia merasa terkejut dengan ulah Megi, tanpa ia sadari bahwa ia lebih kasar di bandingkan Megi.


Sean melihat kertas desainnya Megi, alisnya sedikit terangkat saat melihatnya. Ia menggulung karton itu dan memasukan ke dalam tabung.


Di pakainya dengan menyelempangkan di punggung belakangnya.


"Meg, gue tunggu di bawah." Teriaknya sambil berlalu ke bawah.


Megi sedikit berlari menuruni lift, bisa mengamuk Sean kalau kelamaan menunggu. Ia berlari saat melihat motor Sean berada di depan pintu.


"Lama banget?" ucap Sean ketus.


"Nih, elu aja yang pakai." Sean melempar helm ke arah Megi.


Dengan cepat Megi menangkap helm full face yang Sean berikan.


"Kakak gak pake helm?"


"Buat lu aja, biar otak lu gak berangin. Jadi lu gak suka kabur-kaburan."


"Bilangin aku, padahal otak kakak yang lebih parah." Ucap Megi lirih sambil menaiki boncengan motor.


"Apa?" Sean sedikit berteriak.


"Apa? Kakak denger apa memang?"


Sean hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar stres di buat gadis kecil ini. Selalu melawannya dan menentang perintahnya.


Sean meng gas spontan motornya, membuat Megi sedikit terkejut dan hampir terjatuh kebelakang. Megi memukul keras bahu Sean.


"Bilang aja kalok kakak minta aku peluk." Ucap Megi jutek.


"Apa? Sorry ya, gue gak suka di sentuh."


Megi melingkari tangannya di pinggang Sean. Memeluk erat dari belakang. Sean mengendurkan gas nya dan melaju dengan santai.


"Heh... Kan udah gue bilang, gue gak suka di sentuh. Kenapa sekarang malah main peluk-peluk?"


"Kan kakak yang mintak di sentuh tadi."


"Gue bilang gue gak mau di sentuh!" Ucap Sean berteriak.

__ADS_1


Namun seperti tak mengindahkan perkataan Sean, Megi malah menempelkan kepalanya di pundak Sean. Sean hanya bisa menghela nafas beratnya, tak bisa di lawan. Megi bukan lawan yang bisa ia imbangi, terlalu degil untuk ukuran gadis seumuran dia.


Sean memarkirkan motornya asal di halaman hotelnya. Ia selalu seenaknya sendiri. Megi berjalan mengikutinya, ia membelok untuk masuk ke sebalik konter Resepsionis, namun dengan cepat Sean menarik tangannya.


Tanpa banyak bertanya Megi hanya mengikuti langkahnya. Ini hotel pertama kali ia dan Sean bertemu, di hotel ini kenangan itu tercipta. Sean menyeretnya dan memperlakukannya dengan kasar.


Megi menatap Sean yang saat ini berdiri di sampingnya, Megi meraih jemari Sean dan menggenggamnya erat. Sean menatap Megi tajam menggunakan sudut matanya.


Megi hanya membuang pandangannya dan bersiul. Kali ini bukan Sean yang menariknya dengan paksa, tapi ia yang menyentuh Sean paksa.


Pintu lift terbuka di lantai delapan belas. Sean dengan cepat berjalan menuju ruang kerjanya. Ia meletakan tabung karton Megi di atas meja.


"Gue mau lu buat gambar ini jadi 3D."  ucap Sean spontan.


Megi membuka tabung itu dan sedikit terkejut melihat gambar ia bisa di pegang oleh Sean.


"Kak ini...?"


"Iya, itu desain elu. Gue mau lu desain buat lantai satu hotel ini."


"Tapi, aku kan bukan desainer profesional kak. Aku lulus kuliah aja belum."


"Kenapa? Lu gak sanggup? Buat gitu aja lu gak bisa, gimana mau jadi bini gue?"


"Loh... Kok jadi bawa-bawa masalah jadi bini sih kak? Apa hubungannya coba? Dasar somplak." gerutu Megi kesal.


Sean meletakan bokongnya di atas Meja kerja. Ia melipat kedua tangannya di dada. Sementara Megi duduk di sofa tepat di hadapannya.


"Kalau lu mau jadi pendamping gue, lu harus multi talent, bukan cuma ngurus gue di rumah, tapi juga ikut bantu gue di dunia bisnis."


"Terus bagaimana dengan dunia preman kakak? Aku juga harus ikut berkecimpung?"


"Megi, gue serius." Ucap Sean ketus.


"Aku juga serius." Megi mulai menghidupkan laptop yang ada di hadapannya.


"Terus, kalau aku mampu desain lantai 1, kakak bakalan kasih aku apa?" Tanyanya yang mulai berkutat di depan laptop.


"Elu mau minta berapa? Tapi dengan syarat desain lu harus menarik."


"Aku gak bakalan minta uang kak, itu terlalu murah."


"Jadi minta apa? Hati gue? Minta jadi pacar lagi?" Tanya Sean ketus.


"Yaudah, lu siapin itu segera, jangan banyak ngomong." Sean berlalu ke balik meja kerjanya.


Mulai berkutat pada komputer kerjanya dan mempelajari beberapa dokumen yang ada di hadapannya. Sesekali ia menyisir rambutnya kebelakang.


Sean memang seperti preman, tapi saat wajahnya fokus begitu terlihat begitu tampan. Kembali jantung Megi berdetak kencang melihat Sean yang duduk dihadapannya.


Walaupun amburadul berpakaiannya, tapi Sean tak pernah memakai aksesoris seperti preman sungguhan. Tak ada memakai tindik, anting ataupun kalung, ia hanya menggunakan gelang dan jam di kedua tangannya.


Tapi kalau kelakuannya, bahkan preman pun tak seberingas ia. Ia seperti singa yang kelaparan, bukan tak takut, tapi Megi lebih percaya bahwa Sean hanya bersikap mengerikan saat tertentu saja.


Megi merenggangkan badannya dan memegang tengkuk bahunya. Pergerakan Megi di sadari oleh Sean. Ia melihat Megi dengan mata tajamnya itu.


"Udah selesai?" Tanyanya langsung.


"Belom lah ... Kakak pikir aku desainer profesional apa?"


"Gak perlu nge gas juga kali."


Sean melihat jam di tangannya, sudah hampir tengah hari siang. Sean pun ikut meregangkan seluruh ototnya.


"Mau nyantai di cafe bawah dulu?" tanya Sean lembut.


"Tumben kakak waras? biasanya cuma bisa nyuruh orang doang."


"Yaudah kalok gak mau." Sean melengos pergi.


Megi mengekorinya dari belakang. Mereka memilih tempat duduk paling pojok. Saat waiters datang dan memberikan menu, mereka berdua saling berebut.


Saat bersama Megi, Sean melupakan dirinya sendiri. Dia mulai terikut oleh tingkah Megi yang seperti anak-anak. Sikap egois dan tak mau mengalah di antara mereka berdua, membuat mereka sering beradu argumen.


"Mbak, aku mau nasi, ikan bakar, kerapu asam pedas, capcai dan pasta." ucap Megi pada waiters di hadapannya.


"Heh, elu gak makan setahun apa?" tanya Sean saat mendengar pesanan Megi.


"Dih... Suka-suka aku dong. Lagian aku butuh asupan gizi buat cari inspirasi kak."


"Kebanyakan nge halu sih lu." ucap Sean kesal.


"Aku kan nge halu buat kakak juga, ini perjuangan aku buat jadi istri kakak."


Dengan cepat Sean membungkam mulut Megi. Ia mengkode witers itu untuk segera pergi. Tanpa banyak bertanya waiters itu berlalu pergi, Megi mengigit tangan Sean dan membuat Sean menjerit kesakitan.

__ADS_1


Ia mengkibas-kibaskan tangannya.


"Kelaperan elu ya? Tangan gue juga elu makan."


"Ngapain kakak bekap mulut aku? Malu?"


"Gak usah bocor bisa? Di sini banyak mata-mata Rayen! Mau lu gak jadi nikah?" ucap Sean ketus.


Megi hanya menggelengkan kepalanya, bibirnya mengerucut. Sean membakar sebatang rokok dan menghisapnya santai. Ia menaiki satu kakinya keatas dengkulnya dan menggoyangkan santai.


Menatap keluar kaca besar di sampingnya, matanya membelalak lebar, saat matanya nya menangkap sosok wanita yang ia rindui selama ini. Ia menginjak rokok yang beberapa kali baru ia hisap.


Bersamaan dengan pesanan makanan mereka datang. Tanpa perintah Megi langsung melahap makanan yang ada di hadapannya. Sementara Sean lebih memilih minum saja. Selera makannya memburuk saat ia melihat sosok gadis cantik tadi.


"Kakak gak makan?" Tanya Megi saat ia melihat Sean yang diam di sebelahnya.


"Lihat lu makan aja gue dah kenyang, tau."


"Bagus dong, kalau gitu nanti aku gak perlu masak. Kakak cukup lihatin aku aja udah kenyang. Kakak emang romantis banget dahh." Megi berbicara dengan mulutnya yang terus di sumpal makanan.


"Apa? Lu gak salah bilangi gue romantis?"


Megi hanya menggeleng dan menyeringai seperti kuda. Kedua pipinya menggembung karena terus di isi makanan.


"Gak waras emang pikiran elu."


"Kalau aku waras gak mungkin aku mau nikahi kakak." ucap Megi santai.


"Apa?"


Di tengah perbedabatan mereka seorang gadis datang mendekat ke arah mereka. Dengan berpakaian modis dan lapisan riasan yang natural. Ia sudah cantik alami, wajahnya ayu dan sangat lembut.


"Jadi maksud elu yang mau nikah sama gue orang gila gitu?" Tanya Sean kesal.


"Aku gak ada bilang loh, kakak sendiri yang bilang." ucap Megi santai.


Sean hanya mengenggam kedua tangannya di depan wajah Megi. Ia geram melihat tingkah Megi yang cuek. Mulutnya tak berhenti mengunyah tapi juga tak berhenti berbicara.


Seakan tak peduli dengan keadaan, mereka berdua terlalu asyik berdebat.  Sesekali suara Sean mengeras, membuat beberapa pasang mata tertuju pada tingkah mereka berdua.


"Sean." Panggil seorang wanita lembut.


Sean membuang pandangan kearah suara itu berasal, di lihatnya gadis cantik yang kini berdiri di depan meja mereka. Sean hanya membuang pandangannya keluar jendela, tak sudi menatap wajah wanita itu.


"Sean, boleh gue bicara sama elu?"


Seperti tak mendengar, Sean hanya memandang keluar jendela. Sementara Megi berusaha mengingat suara lembut yang dimiliki wanita itu. Ia seperti tak asing dengan suaranya.


"Sean." panggilnya lagi.


Bosan menunggu jawaban Sean, ia memutuskan untuk duduk tepat di hadapan Sean. Sean seperti memandang marah pada gadis itu dan membuang pandangan kearah Megi.


Di lihat gadis di sebelahnya itu masih sibuk melahap makanannya. Seperti tak peduli ada kehadiran wanita di depan mereka.


"Sean, kasih kesempatan buat gue jelasin."


Wanita itu mencoba untuk menyentuh tangan milik Sean yang berada di atas meja.


Sean menarik cepat tangannya sesaat setelah kulit mereka bersentuhan.


"Gue gak suka di sentuh, kalok mau ngomong ya ngomong aja, cepet." ucap Sean ketus.


"Sean, bisa kita berbicara berdua."


Sean melihat Megi yang di sebelahnya, ia masih fokus pada makanan yang ia lahap. Seperti tak peduli ada gadis yang sedang mencoba mendekati calon suaminya. Melihat itu membuat Sean kesal, ia sedikit menggebrak meja di depannya, bukannya membuat Megi sadar malah membuat wanita di hadapannya mengeluarkan bening air matanya.


Melihat gadis manis itu menangis semakin membuat Sean meradang. Ia tak suka air mata jatuh dari mata gadis itu.


"Gak usah nangis, air mata elu udah gak ngaruh lagi buat gue, Hana."


Mendengar nama itu tersebut, membuat tangan Megi terhenti untuk menyuapi makanannya. Ia ingat sekarang, wanita ini pernah berada dalam suara siaran ia dulu. Jadi lelaki yang di maksud wanita itu adalah Sean.


Megi melemparkan pandangan pada Sean dan Hana bergantian. Wajah Hana yang cantik dan lembut tak mungkin cocok dengan Sean yang begitu kasar dan dingin.


"Sean, gue hanya ingin menjelaskan keadaannya saja. Beri aku waktu berdua untuk menjelaskan semua." Hana berbicara dengan air mata yang terus mengalir.


"Udah gue bilang kalau ngomong ya ngomong aja, gak usah minta yang aneh-aneh. Elu itu udah gak penting buat gue."


Megi seperti tersenyum dalam hati mendengar ucapan Sean. Lelaki itu memang tak pernah luluh dengan apapun, hatinya dingin dan tak pernah peka. Megi kembali makan dengan santai.


Hana menghapus buliran air matanya dengan kedua tangannya. Wajahnya begitu lembut, ucapannya begitu halus, kenapa Sean masih memperlakukan ia dengan kasar.


"Sean, aku merindukanmu." Ucap Hana lembut.


"Uhuuuk..." Megi tersedak makanannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2