
Sean membuka kedua daun pintu belakang rumah besarnya. Rezi langsung berlari dan menaiki anak tangga rumahnya.
"Rezi jangan lari-lari." ucap Sean sedikit berteriak.
"Mama sama Papa duduk dulu aku buatin minum ya." pinta Megi lembut.
"Gak usah Megi, nanti Mama bisa buat sendiri. Sebaiknya kamu istirahat wajahmu terlihat sangat lelah." Miranda meraih pipi Megi dan tersenyum.
Tak lama Rezi kembali turun dengan ransel mungil di punggung belakangnya.
"Anak Papa mau kemana?" tanya Sean meraih ransel Rezi, mengangkat badan Rezi.
"Kakak kalau tali ranselnya putus gimana? terkadang mainnya bahayain ih." ucap Megi yang tak senang, saat melihat Sean mengangkat tubuh Rezi dengan menarik ransel yang Rezi kenakan di punggung belakangnya.
"Sean itu kan memang sudah gila." timpal Rayen datar.
"Aku mau ikut Opa." jawab Rezi dengan mengangkat kedua tangannya, minta di ambil oleh Miranda.
"Aku gila kan karena Papa, kalau Papa gak mau aku gila. Kerja dengan benar." ucap Sean geram.
"Sudahlah, Kak. Aku lelah, bisakah jangan bertengkar terus?" ucap Megi sambil memegang sudut dahinya.
Megi menarik salah satu kursi di meja makan dan menuangkan segelas air. Acara pengajian dan pemberian nama untuk anak Mika, menguras tenaganya.
"Kamu naik saja, Megi. Istirahat yang cukup ya." Miranda mendekati Megi dan mengelus punggung Megi lembut.
"Kalau begitu, aku naik duluan ya Ma, Pa. Gak apa-apa kan?" pamit Megi lembut.
"Naiklah, istirahat yang cukup putri kecilku." Rayen menarik kepala Megi dan mencium kepala Megi lembut.
"Hey Tua bangka, jangan sembarang cium-cium wanita aku." ucap Sean kesal.
Megi hanya menggelengkan kepalanya dan mencium Rezi di dalam gendongan Sean.
"Putra Mama jangan nakal ya di rumah Opa. Jangan banyak main juga." Megi langsung menaiki anak tangga setelah mencium punggung tangan Miranda.
"Eh ... Tunggu dulu, Sayang. Apa kamu izini Rezi buat kerumah Papa?" tanya Sean lembut.
"Iya." jawab Megi lembut.
"Enggak! aku gak setuju." sanggah Sean ketus.
"Saat Megi sudah setuju, itu sudah cukup. Kamu bukanlah apa-apa." Rayen merebut Rezi dari dalam pelukan Sean.
"Aih, ish. Papa." Sean kehilangan kata-katanya. Sementara Rayen langsung pergi setelah Rezi berada di dalam pelukannya.
"Ah ... Terserahlah." Sean mengacak rambutnya karena kesal.
Miranda hanya tersenyum melihat anak sulungnya yang tengah kesal karena ulah Papanya sendiri.
Miranda berjalan mendekati Sean dan mengelus pundak Sean dengan lembut.
"Sudahlah, Nak. Rezi juga senang-senang saja sama kami. Kamu dan Megi itu masih muda, kalian lebih baik banyak menghabiskan waktu berdua. Manjakan Megi, berikan seluruh perhatian kamu ke dia. Mama dan Papa sudah tua, jadi kami akan suntuk jika hanya berdua." jelas Miranda lembut.
Sean menghela nafasnya dan meraih tangan Miranda yang mengelus lembut pundaknya.
"Mama." panggil Sean lembut.
"Iya, Putraku." jawab Miranda sendu.
__ADS_1
"Apa beberapa tahun ini Mama bahagia?"
Miranda tersenyum dan memeluk badan besar putra sulungnya itu.
"Kebahagiaan Mama terasa sangat lengkap saat kamu membawa Megi kembali kesini."
"Apa karena Megi putri kecil Mama?"
"Bukan." jawab Miranda mendongakan kepalanya.
"Jadi?"
"Karena Megi sumber kebahagiaan kamu saat ini." jawab Miranda lembut.
"Mama bahagia saat kamu dan Papa kamu berdamai. Tapi kebahagiaan itu banyak sekali mendapati cobaan selama bertahun-tahun. Apalagi saat Mama lihat kamu pisah dari Megi, kamu seperti bukan anak Mama lagi, Sean.
"Maksud Mama?" tanya Sean menaiki sebelah alis matanya.
"Kamu jadi lelaki yang sangat dingin, bukan lagi membeku dan mengeras, bahkan lebih dari itu. Memang kamu lebih tenang dari sebelumnya, tapi sorot matamu lebih kejam dari sebelumnya. Kamu menjadi sangat ganas dan tak terkendalikan, Sean."
"Masa sih?" Sean melepaskan senyumnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Tak percaya pada pernyatan Mamanya.
"Bahkan saat status kamu menikah, tapi kamu tak pernah benar-benar menikahi siapapun. Mana ada suami istri yang bertemu seminggu sekali, saat sarapan pagi."
"Ha ha ha ha." Sean melepaskan tawanya dan menggelengkan kepalanya. Buruk sekali pernikahan antara ia dan Sezi dulu.
"Tapi sekarang, bahkan sorot matamu sangat lembut Sean. Perlakuanmu juga hangat. Mama sangat bahagia." sambung Miranda sambil merapikan kembali helaian rambut Sean yang berantakan.
"Aku hampir putus asa, saat lihat Mama selalu nangis dan mengurung diri di kamar. Aku pikir Mama tak akan pernah kembali ceria seperti ini." Sean menghela nafasnya dan meraih jemari Miranda.
"Syukurlah, saat ini Mama terlihat sangat bahagia. Aku harap Mama benaran bahagia." Sean mencium tangan Miranda dengan lembut.
"Putra pertama Mama, sejak kapan dia peduli sekali dengan wanita tua ini?" ucap Miranda dengan mengelus lembut punggung badan Sean.
"Dari dulu, yang aku pedulikan hanyalah Mama. Bahkan sampai sekarang, Mama masih jadi prioritas buat aku. Setelah itu baru Megi dan Rezi." jawab Sean lembut.
"Hem, bagaimana jika Megi cemburu?" Miranda meleraikan pelukannya.
"Biarkan saja, dia gak boleh cemburu pada wanita yang telah melahirkan suaminya yang tampan ini. Jika dia cemburu, dia harus bisa buat Putranya seperti aku." jawab Sean sambil memainkan kedua alis matanya.
Tiinnnn...
Suara klakson mobil Rayen mengejutkan Sean dan Miranda yang masih larut dalam perbincangan mereka.
"Haish ... Dasar si tua bangka ini." decak Sean kesal.
"Sudahlah, Mama pulang dulu ya, Sayang." Sean memeluk badan Miranda kembali dan mencium dahi Miranda lembut.
"Hey." Miranda memukul dada Sean dengan lembut. "Aku ini Mamamu, bukan istrimu."
Miranda menarik kepala Sean dan mencium dahi Sean lembut.
"Begini baru benar." ucap Miranda sambil tersenyum.
Tiinnn ...
Kembali Rayen mengklakson Miranda yang masih berada di dalam.
"Iya, iya. Sebentar Mas." dengan cepat Miranda berjalan keluar dari pintu depan.
__ADS_1
"Hey anak muda, apa kamu mau menahan wanitaku di rumahmu, karena aku membawa anakmu?" tanya Rayen ketus saat Sean berjalan keluar dari pintu.
"Tak ada yang menahan wanitamu disini, tua bangka." timpal Sean ketus.
"Lalu? apa yang kalian kerjakan berdua? kenapa lama sekali bicara di dalam?"
"Dia Mamaku, memangnya kenapa? lagi pula, siapa yang bisa menahan pesona ketampanan Sean Putra?" Sean membetulkan kera bajunya dan memainkan kedua alis matanya.
"Kamu, ayo sini!" perintah Rayen kesal.
"Sudahlah, ribut saja. Mama pulang ya, Sean." pamit Miranda lembut.
"Hati-hati ya, Ma."
"Iya, Sayang."
Setelah melihat mobil Rayen keluar dari perkarangan rumahnya, Sean berlari menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.
Melihat Megi yang tertidur masih dengan kerudung putihnya. Sean tersenyum dan mendekati Megi perlahan. Melepaskan jarum yang masih menempel di beberapa bagian kepala Megi. Takut jika jarum pentul itu melukai kulit kepala istrinya itu.
Merasakan pergerakan lembut tangan Sean, Megi mengerjapkan matanya, dahinya mengernyit, melihat Sean yang ada di depannya.
"Kakak?" Megi mengucek salah satu matanya, melihat Sean yang terduduk di sampingnya.
"Kenapa Kakak lihati aku begitu?" tanya Megi saat melihat wajah Sean yang tersenyum dengan sangat lembut.
"Kakak lagi mau ya? beri aku waktu dua jam untuk tidur. Nanti kakak banguni aku setelah dua jam, saat ini aku lelah sekali kak." Megi memiringkan badannya, tertidur kembali.
Sean melepaskan senyumnya saat mendengar celoteh Megi. Ia tak ada berniat seperti itu, apa Megi masih bermimpi?
Sean menaiki selimut Megi dan turun dari ranjang.
"Baiklah, tidur saja sampai pagi." ucap Sean lembut.
Dengan cepat Sean memasuki kamar mandi, membasuh keringat di badannya karena lelah seharian menyiapkan acara ini.
Setelah selesai, Sean duduk di sofa kamarnya. Menghidupkan laptopnya, kembali fokus pada pekerjaannya yang ia tinggal seharian ini.
Tanpa sengaja, Sean malah melihat Megi yang saat ini masih tertidur pulas, menghadap kearahnya.
Sean kembali menutup laptopnya, berjalan mendekati Megi. Berjongkok di depan Megi, menatap wajah polos Megi yang sedang terlelap dalam.
"Kenapa, Meg? dari dulu wanita yang selalu ingin aku sentuh itu hanya kamu?" Sean menarik dagu Megi, membuka bibir Megi yang sedang tertutup dengan rapat.
"Bahkan saat aku geli di sentuh oleh wanita di dalam bar malam itu. Aku memiliki hasrat yang kuat ingin sekali menyentuhmu."
Sean menghela nafasnya dan mengelus pipi Megi dengan lembut.
"Jika bukan karena air matamu malam itu, mungkin saat ini anak kita sudah tiga atau empat ya." Sean mendekatkan wajahnya perlahan, mencium bibir Megi dengan lembut.
"Menahan diri darimu itu sangat sulit, Megi. Saat menjadi suami dulu, aku paling tidak tahan jika bersentuhan denganmu, takut jika hilang kendali."
"Sama seperti malam ini, bahkan melihat kamu tidur saja bisa menaiki segala hasratku." Sean menghela nafasnya dan mengacak rambutnya.
Berjalan dengan cepat keluar dari rumah, sebelum ia menganggu lelapnya Megi.
Sean membuka pintu belakang rumahnya, tanpa sengaja Mika juga baru keluar dari pintu belakang rumahnya.
Sesaat Sean dan Mika saling berpandangan. Tak lama Sean tersenyum dengan sinis, memandang Mika dengan senyum penuh makna.
__ADS_1