
"Bos, kenapa Bos ada disini?" Farrel berjalan mendekat dengan sebuah payung di tangannya.
Sean masih menatap ke aspal itu lekat. Di peluknya badan tegap Farrel yang lebih kecil darinya.
"Kenapa gue takut sekali Farrel? Kenapa gue kalut sekali?" ucap Sean sambil membenamkan wajahnya di bahu Farrel.
"Bos, tidak ada gunanya, Bos begini. Sebaiknya, Bos berdoa. Minta kepada sang pemilik hidup, untuk memberikan hidup Nona Kecil kembali."
Sean meleraikan pelukannya, di tatap wajah Farrel lekat. Farrel hanya mengangguk pasrah. Farrel membantu Sean berdiri dan memasuki jok belakang mobilnya.
Sean meletakan kepalanya di atas senderan bangku mobil. Matanya terus menatap kosong keatas. Sean seperti seorang mayat hidup saat ini. Farrel menghentikan mobilnya di depan apartemen.
Namun Sean masih terdiam ditempat.
"Bos, ayo bersihkan diri Bos dulu." ucap Farrel lembut. Namun Sean masih tak bergeming, dia seperti tak lagi bernyawa.
"Bos, Nona Kecil itu gadis yang kuat. Nona Kecil pasti kuat, Bos." sambung Farrel lembut.
"Megi masih membutuhkan banyak darah, Farrel. Kemana gue harus membeli darah AB negatif itu?" ucap Sean sambil menyapu kasar wajahnya.
"Bos, ayo bersihkan diri Bos dulu. Setelah ini saya akan membawa Bos ketempat darah langkah itu berasal."
"Kemana?" tanya Sean semangat.
"Ayo, kita bersihin diri Bos dulu." Farrel membuka pintu mobilnya dan menggandeng Sean masuk kedalam apartemennya.
Berkali-kali Sean menyabuni badannya, namun kenapa aroma anyir dari darah Megi masih sangat tercium di hidungnya. Sean keluar dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Farrel, jemur saja baju itu. Jangan di cuci." ucap Sean saat melihat Farrel mulai mengepakan baju basahnya.
"Kenapa Bos? Saya rencana mau buang baju ini."
"Itu adalah tempat dimana Megi terbaring terakhir kali. Jika Megi tak ingin kembali, maka biarkan gue menyimpan sisa kenangan terkahir yang dia beri." ucap Sean pesimis.
Sejenak Farrel terdiam. Ia memandang baju dan celana Sean yang basah bercampur darah, walaupun di tengah derasnya air hujan, namun darah yang telah menyatu dengan serat kain itu tak mudah menghilang.
Sesuai permintaan Sean, Farrel menjemur pakaian itu di balkon apartemen Sean. Sean kembali berpakaian dengan fashion biasanya. Farrel mengajak Sean ke mesjid di area apartemen mereka.
Langkah Sean terhenti saat menginjak anak tangga pertama.
"Ayo, masuk Bos. Dialah sang maha pemilik darah langkah itu." Farrel menunjuk kali grafi bertuliskan kalimat Allah di dinding masjid.
"Enggak Farrel, gue gak pantes berada di tempat ini." Sean membalikan badannya.
__ADS_1
Namun dengan cepat tangan Farrel menahan badan besar Sean.
"Bos, percaya sama saya Bos. Bahkan saat seorang manusia itu berlumur dosa, tempat yang paling dekat dengan orang itu adalah tanah."
Sean memalingkan pandangannya ke Farrel.
"Bos tau? di tanahlah tempat seorang hamba dekat dengan penciptanya. Karena kita bersujud diatas tanah, Bos."
Sesaat pikiran Sean kembali ke masa saat ia dan Megi saling berbicara mengenai masa lalunya.
[Tak ada yang salah kak, semua berjalan atas kehendak-Nya. Semua berjalan pada garisnya. Saat aku terpuruk dan terjatuh sangat dalam, aku hanya tahu satu hal kak. Saat aku lemas terduduk dan tidak mampu bangkit lagi, aku masih punya tempat untuk bersujud.]
Kalimat itu kembali terngiang di telinga Sean. Perlahan nafasnya mulai tersengal karena rasa sedih yang mulai menyelimuti hatinya.
Sean memeluk badan besar milik Farrel, perkataan Megi dan Farrel hampir sama. Sean menatap kembali kaligrafi itu, haruskah ia bersujud?
Setelah noda hitam yang ia ukir sendiri dalam catatan kehidupannya.
Farrel kembali menepuk bahu Sean. Sean menolehkan pandangannya. Langkahnya pasti menuju tempat air wudhu. Sean membasuh wajah kusamnya dengan air wudhu.
Perlahan ia mendirikan sholat yang selama ini ia tinggalkan. Setelah bertahun lamanya, Sean kembali berdoa, menadahkan tangannya untuk memohon dan meminta pertolongan.
Sean membaca dzikir setelah sholat, perlahan hatinya kembali tenang saat berada di tempat itu. Setelah dirasakan cukup, Sean bangkit dan berniat kembali ke rumah sakit.
"Sean, pulang dan istirahatlah. Biar Papa yang nungguin Megi disini." ucap Rayen mendekat.
"Saat ini gue gak percaya sama siapapun. Termasuk anda." ucap Sean mengeras.
"Sean, bagaimana juga Papa adalah, Papa kamu. Gak mungkin Papa sanggup melukai menantu Papa. Papa memang buruk, tapi Papa gak seburuk itu, Sean."
"Cukup, jangan ajak gue bertengkar di saat seperti ini." ucap Sean ketus.
"Sean, tolong Nak. Jangan buat keadaan ini memburuk lagi, Sayang. Fokus pada masalah Megi." ucap Miranda meleraikan.
Sean hanya menatap Megi lekat, dari kaca itu ia berusaha menyentuh Megi yang sedang terbaring. Berjam-jam mereka menunggu, entah menunggu apa?
Sama sekali tak ada yang bisa memberikan jawaban.
"Sean, bukannya Megi masih punya seorang kakak ya? Kenapa gak coba cari saja. Mana tahu darah mereka sama." ucap Rayen antusias.
"Hehm ... Mirza. Kemantian Megi adalah impiannya." ucap Sean dengan senyum sinisnya.
"Coba saja dulu, Nak. Mana tahu Mirza itu adalah jalan keluar dari ini semua." ucap Miranda lembut.
__ADS_1
"Mirza itu bukan kakak yang baik, Ma. Aku lebih memilih darah orang lain yang mengalir di bandingkan harus mengemis darahnya."
"Sean, seburuknya seorang kakak pasti masih tetap ada rasa sayang yang tertinggal di hatinya. Seperti kamu yang menyanyangi Rena." ucap Rayen membujuk.
"Darah Megi itu langkah, Sean. Kita butuh segera, cobalah pikirin solusi yang tercepat." ucap Miranda lembut.
"Saat ini kamu harus bisa membedakan, Sean, mana yang lebih Megi butuhkan, jangan hanya bertahan pada egomu." ucap Rayen tegas.
Sean hanya menghela nafasnya, matanya masih menatap Megi dengan lekat. Apapun itu, asalkan Megi bisa selamat, Sean akan mengalah pada apapun.
"Farrel, coba cari kakaknya Megi." perintah Rayen.
"Baik, Tuan Besar." Farrel langsung berlalu meninggalkan rumah sakit.
Memang tak ada pilihan lain, semoga Mirza tak seburuk yang di pikirannya. Semoga Mirza masih memiliki hati jika memang ia jalan terakhirnya.
Matahari mulai menampilkan wajahnya, namun mereka bertiga masih saling duduk tanpa berbicara. Suara decitan langkah kaki terdengar.
Mirza mencengkram kerah baju Sean, saat pertama kali ia melihat Sean, menarik Sean dan menempelkan badan Sean di dinding.
"Elu mau ngebunuh adik gue?" ucap Mirza lantang.
Sean menghempaskan tangan Mirza keras.
"Gak usah sok jadi kakak yang baik, Mirza. Bukannya kematian Megi adalah impian elu." Sean membalikan keadaan. Ia yang saat ini menempelkan badan Mirza ke dinding. Mencengkram kerah baju Mirza.
"Gue memang buruk, Sean. Tapi gue juga gak seburuk itu, yang ingin menguburkan jasad adiknya sendiri." Mirza menumbuk pipi Sean dengan kuat.
Seketika adu jotos terjadi diantara keduanya. Rayen meleraikan perkelahian itu. Gretakan rahang antara keduanya terdengar.
"Sudah, Cukup! ini bukan saatnya saling menyalahkan, kita disini untuk saling menguatkan, sadar Sean. Sadar Mirza." Rayen menepuk lembut Pipi keduanya.
Mirza berjalan mendekat ke kaca ruangan Megi. Matanya berembun saat melihat adik semata wayangnya terbaring dengan selang yang banyak di tubuhnya. Mulutnya di masukan selang, sungguh tak tega.
Mirza memegang kaca itu dengan kedua tangannya. Telapak tangannya di letakan diatas bentangan kaca itu. Ingin meraih tubuh sang adik yang selama ini berusaha ia hancurkan.
"Gue memang berusaha untuk ngehancurin hidup adik gue, Sean. Tapi gue gak pernah berniat bunuh adik gue, kayak elu!" kembali Mirza menghantam wajah Sean.
Kembali baku hantam terjadi diantara mereka. Emosi keduanya masih dalam keadaan tak stabil. Sesaat Sean kalap, ia menghantam tubuh Mirza sampai jatuh gelempang di lantai kilat koridor rumah sakit.
Tak puas melihat Mirza jatuh, Sean mencengkram kerah baju Mirza dan menariknya, mendorong badan Mirza ke sisi dinding.
"Lu gak sadar, karena siapa Megi begini? Kalau bukan karena elu yang bolak balik ngejual Megi, Mika gak akan berusaha untuk pindah, Mika gak akan berlayar. Kalau Mika gak berlayar, Megi gak akan tinggal sama gue. Karena elu gue bertemu dengan Megi. Sadarrrr ...!" teriak Sean lantang.
__ADS_1