Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 60


__ADS_3

Kenapa pilu sekali hatinya, kenapa sakit sekali, bahkan hanya memikirkan untuk kehilangan Megi saja membuat dadanya begitu sesak.


Sebuah tangan menarik badan besar Sean berdiri. Ia membenamkan wajah Sean di pundaknya.


"Menangislah, Nak jika kamu sedih. Bersandarlah jika kamu lelah. Ada Papa disini, Papa akan terus merangkulmu, Putraku."


Sean memeluk badan Rayen, dia membenamkan wajahnya di bahu Rayen.


"Kenapa dadaku begitu sesak, Pa. Kenapa nafasku begitu berat, perih sekali hati Sean, Pa."


"Itu semua karena separuh jiwamu sedang terbaring disana, Nak."


Rayen meleraikan pelukan Sean, ia mendudukan Sean di kursi penunggu itu. Memberikan sebotol air.


"Kamu tahu kenapa Megi tak ada perubahan, Nak?" tanya Rayen lembut.


Sean hanya menatap Rayen dengan mata berembunnya. Ia menggeleng pasrah.


"Karena separuh jiwa Megi telah mati, saat ini."


"Maksud Papa?" tanya Sean ketus


"Kamu hidup namun seperti Mati, Sean. Kamu hidup tapi tak makan dan juga tidak tidur. Kamu selalu ada disini tapi jiwamu melayang."


Sean mengernyitkan dahinya. Sean menghela nafas beratnya dan menyisir rambut gondrongnya kebelakang.


"Separuh jiwa Megi adalah kamu, Sean. Jika kamu ingin Megi membaik, perbaiki hidupmu. Jangan hanya bertahan dalam masalahmu, tapi kuatkan kakimu untuk melangkah jauh kedepan."


"Aku tak mengerti, Pa."


"Bernafaslah untuk nafas Megi. Hiduplah untuk hidup Megi. Kamu harus bangkit dari kelemahan ini demi membangkitkan semangat hidup Megi, Nak."


Sean melepaskan kernyitan dahinya, ia mulai mencerna maksud perkataan Rayen.


"Percuma kamu ada di sampingnya tapi kamu pun sama kakunya seperti dia. Megi butuh energi positif untuk membangunkannya dari lelap panjangnya, dan energi itu hanya akan dia dapatkan dari kamu, orang yang sangat ia cintai." ucap Rayen tegas.


"Papa kamu benar sayang, kamu harus tetap semangat, kembali menjalani hidup kamu, demi mengembalikan hidup Megi." ucap Miranda sambil merapikan rambut gondrong Sean


Sean memikirkan perkataan Rayen dan Miranda. Ia mulai merapikan penampilannya, ia kembali pada hidupnya, mulai kembali pada kenyataan dan memulai kisah baru hidupnya.


Walau Sean belum ikut berkecimpung kembali ke dalam urusan bisnis, namun kini dia lebih semangat menjalani hidup. Satu yang terlihat jelas, Sean mulai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Sean menjalani lima waktunya dengan tepat waktu, dia selalu berdzikir panjang dan berdoa lebih lama untuk kesadaran Megi.


Perlahan, satu bulan Megi tidur lelap, ia mulai di pindahkan ke kamar inap biasa. Sean bisa menjaganya di dalam ruangan yang sama dengan Megi. Tak perlu di sterilisasi dulu, Sean pun mulai bisa menyentuh kulitnya.


Walau masih terpisah jarak kaca, antara ruang tunggu dan tempat tidur Megi. Namun Sean senang, karena saat ini sistem imun Megi mulai menguat. Megi mulai bisa di jenguk oleh beberapa orang, walau waktu masih di batasi.


Bersamaan dengan Rena yang dibawa kembali kerumah sakit oleh Mirza. Rena tertunduk saat di dudukan di depan Sean. Ia tak bisa lagi kabur karena Mirza selalu mengawasinya ketat.


"Ini sudah satu bulan semenjak kejadian itu, Megi masih koma Rena. Bagaimana kamu akan menebus kesalahanmu?" tanya Sean spontan.

__ADS_1


"Kak, itu, aku minta maaf." ucap Rena sambil menunduk.


"Apa kata Maaf kamu saat ini mampu menyadarkan Megi kembali?" ucap Sean lembut namun masih terdengar amarahnya.


Rena hanya menggeleng pasrah.


"Kalau gitu tebus kesalahanmu." ucap Sean sambil menatap Rena tajam.


"Gue harus gimana, kak?" tanya Rena melas.


"Pertanggung jawabkan perbuatan lu."


"Kak, gak bisa kah elu maafin gue?" tanya Rena sambil menangis.


"Kenapa gak ucapin maaf pada hawa nafsu elu yang dulu ingin menghabisi nyawa Megi?"


"Kak gue cuma cemburu sama, Megi. Kakak sangat perhatian sama dia, Mirza juga sangat peduli sama Megi."


"Gak ada yang perlu elu cemburuin, Ren. Elu adik gue, selamanya rasa sayang gue gak akan pernah terbagi buat elu." ucap Sean kesal.


"Buka mata lu, Ren. Buka sedikit mata elu untuk melihat kasih sayang gue ke elu. Gue gak pernah pura-pura sayang sama elu." sambung Sean kesal.


"Jadi kalau elu sayang sama gue, kenapa elu berusaha pisahin gue sama Mirza. Gue beneran sayang Mirza, kak. Gue juga pingin nikah sama orang yang gue sayangi." ucap Rena membela.


"Karena Sean kenal sama gue jauh lebih dalam dari pada elu kenal gue, Ren." ucap Mirza memotong.


"Maksud lu, Za?" Rena mengernyitkan dahinya bingung.


"Gue gak ngerti maksud elu, Za. Kalian sekongkol kan menjebak gue?"


"Enggak, Ren. Sean tahu gue gak cukup baik buat elu." ucap Mirza bersalah.


"Ya tapikan elu dan Sean sudah berdamai, Za. Apalagi alasan Sean gak setuju sama elu?"


"Rena, jangan berbelit, gue mau lu dewasa, dan seseorang yang dewasa harus berani bertanggung jawab atas kesalahannya." ucap Sean memutus percakapan Mirza.


"Lu gak kasian sama gue kak? tega lu masukin gue dalam penjara?"


"Kalau lu aja tega buat Megi tertidur seperti itu, kenapa gue gak tega?" ucap ketus.


Miranda mengelus pundak Sean agar dia bisa menahan emosinya.


"Rena, kamu sudah besar, Nak. Tingkah kamu, ulah kamu itu sudah diluar batas." ucap Rayen lembut.


"Tapi, Pa ini semua karena salah Megi, dia yang sudah merengut kebahagiaan aku. Jika dia tidak menikahi kakak, aku dan Mirza masih bisa menikah sekarang."


"Rena, itu gak akan pernah terjadi." ucap Sean sambil berdiri. Matanya tajam memandang Rena.


"Kenapa? kenapa kalau elu bilang gak boleh gue harus nurut? gue punya cinta gue sendiri, tolong ngerti in gue, kak." ucap Rena ngeyel.


"Gue udah cukup sabar ya, Rena. Jangan sampai kesabaran gue habis."

__ADS_1


"Kenapa? kenapa lu begitu egois dengan keinginan elu, kak?" teriak Rena lantang.


"Karena Sean tahu, gue gak pernah tulus sayang sama elu, Ren." sambung Mirza.


"Apa? Enggak, lu bohongkan Za?"


"Gue gak bohong, Ren. Jujur dulu gue cuma manfaati elu, karena elu kaya. Setelah tau lu adik Sean. Gue mau manfaati elu buat balas dendam ke Sean. Tapi gue gak nyangka, lu buat adek gue dalam keadaan begini."


Plaakk... Rena menampar keras pipi Mirza. Sean beranjak pergi, membelakangi Rena dan menatap Megi di balik kaca.


"Pa, Sean mohon. Bawa Rena pergi dan jangan muncul lagi di hadapan Sean." ucap Sean sambil memasuki pintu menuju kasur Megi.


Sean menarik kursi dan duduk di sisi Megi. Sean menatap Megi dengan senyum pahitnya. Sean mengambil jemari Megi yang pucat memutih. Di cium lembut punggung tangan Megi.


Kembali Sean menjatuhkan cairan beningnya, tak peduli jika harus dikatakan cengeng. Mirza menyusul Sean dan meraih pundak Sean.


"Bagaimana jika Megi tetap seperti ini sampai Mika kembali, Za? apa yang akan dia lakukan sama gue?" ucap Sean serak.


"Lu gak sendiri, Sean. Gue akan ikut bertanggung jawab atas kesalahan ini." ucap Mirza menyesal.


Kini ia benar-benar menyesal, menyesal atas segala perbuatan buruk yang pernah ia lakukan. Seburuk apapun dia sebagai kakak. Tapi melihat adiknya tertidur selama ini sangat membuatnya pilu.


Mirza mencium dahi Megi lembut, hal yang tak pernah ia lakukan selama delapan belas tahun ini. Semoga ini bukan ciuman pertama dan terakhir yang bisa ia berikan untuk Megi.


"Gue balik, dulu ya. Kabari gue kalau ada perkembangan." Mirza berlalu pergi.


Sean hanya mengangguk pasrah. Sean kembali memegang jemari Megi. Di letakan jemari Megi di Pipi mulusnya.


"Meg, saat ini dunia kita sudah berdamai, Sayang. Mirza dan Rayen sudah berdamai dengan kita. Ini kan yang elu inginkan? Buka mata lu, Meg. Lihat perubahan ini!"


Sean kembali mencium jemari tangan Megi. Sean mengelus pucuk kepala Megi, ia mencium dahi Megi. Kembali pipi Sean di hiasi beningan air mata.


"Gue rindu celoteh elu, Meg. Gue rindu sifat pembakang elu, gue rindu sifat konyol lu."


Seakan kembali pada masa lalu, Sean mengenang saat-saat mengesankan yang ia habiskan bersama Megi. Banyak hal-hal yang pertama kali ia lakukan saat bersama dengan Megi.


"Kenapa bibir elu selalu bungkam, Meg. Gue rindu senyum elu, kemana lesung yang ada di kedua sudut bibir elu? kenapa lama sekali, gue gak melihatnya." ucap Sean sambil menetukan jarinya ke sudut bibir Megi, bibir Sean tersenyum pahit.


Sean kembali mengingat setiap tawa yang terukir di bibir Megi. Megi yang selalu tahan dengan ucapan kasarnya. Kemana perginya si gadis kecil yang kuat itu, kenapa saat ini hanya terbaring lemah tak bersuara.


"Meg, gue pingin dengar suara merdu yang serak milik elu itu, gue rindu permainan piano miliklu, gue rindu celoteh bijak lu di siaran radio."


Sean menahan nafas sesaknya, kini rasa sesak ini telah bersarang di dada. Nafasnya kembali tersengal, kapan sesak ini akan pergi dari dadanya.


"Lu pingin gue cium elu di puncak bianglala kan? elu pingin ngajak gue naik sampan di sungai Shanghai kan? gue akan bawa elu kesana, Meg. Gue akan bawa elu."


Sean melepaskan jemari Megi. Di elus pipi pucat Megi.


"Gue akan turuti semua keinginan elu. Tapi sekarang gue mohon buka mata lu, Megi." ucap Sean sendu.


"Bangun, Meg. Gue mohon bangun. Gue rindu."

__ADS_1


__ADS_2