Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
70


__ADS_3

Evgen menumpuhkan dagunya di atas kepalan tangannya. Beberapa kali ia menghela nafas, bibirnya mengerucut panjang. Bosan menunggu Shenina yang sibuk mondar-mandir mengantarkan pesanan.


Evgen mengetukan tiga jarinya diatas meja. Memperhatikan Shenina yang berjalan seperti setrikaan di depannya.


"Kak, aku mau es-nya dua ya!" teriak dua orang wanita yang sedang duduk santai di kursi taman.


"Iya, sebentar ya," balas Shenina dengan tersenyum sumringah.


"Kak, di sini juga!"


"Iya, sebentar."


Tangan Shenina membuat es dengan cepat, senyum di bibirnya terus melengkung dengan lebar, walaupun saat ini ia sudah mulai kelelahan.


Evgen bangkit dari duduknya dan menghadang langkah Shenina. Memandang wajah wanita itu dengan sengit.


"Ada apa? elu haus juga? sabar ya, gue antar ini dulu," ucap Shenina melanjutkan langkahnya.


Evgen kembali menghentikan langkah Shenina. Ia menarik es kelapa dari kedua tangan Shenina.


"Eh, Evgen. Itu pesanan orang," ucap Shenina menghentikan.


"Gue tahu, yang duduk di sana kan?" tanya Evgen lembut.


"Iya," jawab Shenina pasrah.


"Biar gue yang antar, elu siapkan saja lagi buat yang di belakang."


"Tapi, Evgen ...,"


Belum sempat Shenina berkata, Evgen sudah lebih dulu meninggalkan ia. Berjalan mendekati kedua pelanggan yang duduk di kursi taman.


"Ini es-nya, Mbak." Evgen menyodorkan kedua es di tangannya.


Kedua wanita yang sedang duduk di kursi taman tercengang. Menatap wajah tampan Evgen dari jarak yang sangat dekat.


"Hey ... Mbak. Ini mau diambil gak?" tanya Evgen ketus.


"Eh ... iya, Mas. Kami ambil ya," jawab kedua wanita itu tersadar.


Evgen langsung berbalik saat es di tangannya diambil. Ia berjalan kembali ke gerobak es itu.


Membantu Shenina mengantarkan pesanan ke beberapa pelanggan yang sedang bersantai di taman.


"Kak, aku satu ya!" teriak suara cempreng anak remaja.


Evgen kembali mengantarkan es itu ke tempat si pemesan. Remaja muda itu mengernyitkan dahinya saat melihat Evgen yang mengantarkan pesanan.


"Kakak, kamu Kakak kan?" tanya gadis itu senang.


"Kakak siapa?" tanya Evgen ketus.


"Kakak yang hari itu jumpa di taman hiburan," jawab gadis itu gembira.


"Taman hiburan kapan? gak tahu ah." Evgen langsung berjalan menjauh setelah gadis kecil itu mengambil pesanannya.


"Eh ... tunggu dulu!" tahan gadis itu dengan meraih lengan tangan Evgen.


"Apa lagi? kan es-nya sudah gue antar ke elu," ucap Evgen ketus.


"Kakak gak kenal aku lagi?"

__ADS_1


"Enggak!" jawab Evgen cepat.


"Yasudah gak apa-apa. Kalau begitu kenalan lagi." Gadis itu mengelap tangannya ke baju dan mengulurkan kehadapan Evgen.


"Nama aku, Krystal."


"Mau Krystal, mau batu es. Terserah elu lah ya, sorry gue sibuk!" tolak Evgen langsung.


"Eh ... tunggu dulu, Kak. Kakak kok angkuh banget sih? sombong banget, padahal selama ini aku selalu dikejar-kejar sama lelaki."


"Terus? apa urusannya sama gue? lu pikir gue peduli?" Evgen menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali ke gerobak es Shenina.


Krystal berlari mengajar langkah Evgen. Ia merentangkan tangannya, menghadang Evgen.


"Ep ... aku gak mau dikacangin. Kakak sudah buat aku malu, jadi Kakak harus tanggung jawab," ucap Krystal dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Tanggung jawab? memang gue ngapain elu?" tanya Evgen ketus.


"Karena Kakak nolak aku, dan aku gak suka ditolak. Beri tahu aku nama Kakak, dan juga nomor ponsel Kakak. Baru aku akan pergi dari hadapan Kakak," ancam Krystal.


Evgen menyungging sebelah bibirnya dan kembali menggelengkan kepala. Ia berbalik, berjalan meninggalkan Krystal lagi.


"Eh ... tunggu!" Krystal menarik pergelangan tangan Evgen.


Dengan kasar Evgen menghempaskan pegangan tangan Krystal.


"Heh, anak kecil. Siapa elu berani sentuh gue?" tanya Evgen mulai kesal.


"Aku Krystal, aku anak dari pengusaha taman hiburan dan juga model remaja."


"Terus, lu pikir gue peduli?" tanya Evgen ketus.


Evgen membersihkan pergelangan tangannya dan berjalan menjauh dari Krystal si remaja cantik itu.


Krystal menyilangkan kedua tangannya di dada, ia mengambil nafas yang memburu kencang. Dua kali ia dikacangin oleh seorang lelaki, dan orang itu adalah Evgen.


Krystal mengepalkan jemari tangannya, ia ingin sekali marah. Namun tak ada apapun yang bisa ia marahi.


"Aku kesal!" teriak Krystal geram.


"Lihat saja Kak, kelak jika kita bertemu lagi. Akan ku buat Kakak bertekuk lutut padaku."


***


Shenina membereskan barang dagangannya, ia menghitung uang hasil jualannya dengan bibir yang tersenyum lebar.


Di hari pertamanya ia bekerja, ia sudah mendapatkan penghasilan yang lumayan banyak.


"Ayo pulang!" ajak Shenina lembut.


"Oke, gue beresin dulu meja dan kursinya ya." Evgen bangkit dan membereskan beberapa kursi plastik untuk jualan Shenina.


Sementara Shenina hanya tersenyum sambil melihat Evgen bekerja.


"Lu tadi naik apa?" tanya Shenina saat Evgen selesai membereskan meja.


"Naik Bis," jawab Evgen lembut.


"Motor elu, kemana?"


"Di rumah, kalau gue gak sekolah Papa gak izini bawa," jelas Evgen lembut.

__ADS_1


"Ehm, keluarga kalian itu unik ya, Evgen."


"Maksudnya?"


"Walaupun elu itu angkuh, sombong dan juga manja. Tapi kalau Papa elu bilang gak boleh, elu gak berani. Padahal biasanya keluarga kaya itu akan manjain anak mereka, memberikan fasilitas mewah."


"Memang menurut elu fasilitas gue gak mewah?" tanya Evgen ketus.


"Bukan, maksud gue bukan itu."


"Jadi?" tanya Evgen bingung.


"Kalau gue lihat di film-film, biasanya anak orang kaya selalu naik kendaraan mewah. Seperti mobil mewah, ataupun motor mahal."


"Ehm, Papa gue itu orang yang keras. Kalau dia bilang enggak, maka gak ada yang berani bantah. Papa gue itu ditakuti semua orang," ucap Evgen pasrah.


"Kelihatan sih, Papa elu berwibawa dan juga tegas banget."


Evgen melirik kearah Shenina. Ia meraih jemari tangan Shenina dan mengenggemnya erat. Berjalan bersama di bawah sinar matahari senja yang mulai menyapa.


Evgen tersenyum lembut, ia berjalan sambil memperhatikan bayangan panjang dirinya dan juga Shenina.


"Shen," panggil Evgen lembut.


"Hem."


"Lihat itu," tunjuk Evgen dengan dagunya.


Shenina mengalihkan pandangan matanya, melihat bayangan dirinya dan juga Evgen yang memanjang kedepan.


Shenina menghela nafas dan menghentikan langkahnya. Ia memandang ke langit sore yang mulai menampilkan warna jingga di sudut sana.


"Evgen, langit cantik ya," ucap Shenina lembut.


"Iya, cantik," jawab Evgen tanpa menghentikan langkahnya.


Ia terus berjalan meninggalkan Shenina yang masih berdiam memandangi langit sore ini.


"Lu gak merasa kalau langit sore ini kelihatan berbeda?" tanya Shenina dengan memperhatikan punggung badan Evgen yang terus berjalan menjauh.


Evgen menghentikan langkahnya dan berbalik tiba-tiba. Ia tersenyum dengan lembut saat mata mereka saling bertemu.


"Lu tahu kenapa langit hari ini berbeda?" tanya Evgen lembut.


"Kenapa?"


"Karena hari ini matahari bersinar sangat cerah."


Shenina menganggukan kepalanya dan kembali memandang ke langit.


"Benar sih, hari ini cuaca sangat panas," jawab Shenina.


"Cuaca hari ini seperti memberikan harapan buat gue," ucap Evgen kembali.


"Harapan? harapan apa?"


"Mulai dari sekarang, gue berharap, agar terus bisa berada di sisi elu."


Shenina menundukan pandangannya, wajahnya merona merah karena tersipu malu oleh ucapan Evgen.


"Di bawah langit senja sore ini, gue berharap tuk terus bisa bersama dengan elu, Shenina."

__ADS_1


__ADS_2