Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
95


__ADS_3

Rena tergagap saat ingin menjawab pertanyaan Evgen. Ia bingung harus berkata apa, tak pernah terpikirkan jika pernyataan seperti ini akan keluar dari bibir keponakannya.


Evgen menaikan sebelah alis matanya, menangkap gelagat Rena yang sedikit bingung mendapati pertanyaannya.


"Itu mana mungkin! Kamu bisa lihat surat nikah Papa kamu, mereka menikah jauh sebelum Rezi lahir, kok," jawab Rena mengelak.


"Oh." Evgen kembali duduk di atas sofa dan membuka jaketnya.


Rena ikut duduk menyempiti Evgen, mengelus kepala Evgen dengan sedikit manja.


"Eh ... Evgen, Tante dengar Mama kamu hamil lagi ya?" tanya Rena mengalihkan perhatian Evgen.


"Iya, dasar Mama, sudah tua juga pakai hamil segala!" jawab Evgen ketus.


Plaak


Rena memukul tengkuk leher Evgen dengan kuat.


"Heh, sopan sedikit kalau bicara. Bagaimana juga dia Mama kamu, yang melahirkan kamu tahu!"


"Aku tahu, tapi aku malu Tante. Aku sudah mau kuliah, kenapa pakai acara nambah adik segala?"


"Heh, Mama kamu itu masih muda. Sama Tante saja jauh lebih muda Mama kamu. Memang kenapa kalau dia mau nambah anak? Lagian Papa kamu juga gak akan kekurangan kekayaan saat nambah anak," jawab Rena panjang.


"Memanga gak bakalan kekurangan uang. Tapi malu dong, sudah mau punya cucu malah hamil lagi," balas Evgen malas.


"Eh ... kamu sudah mau nikah? Kan masih sekolah."


"Sembarangan!" balas Evgen cepat.


"Walaupun aku ganteng begini, tapi gak mau nikah buru-buru. Itu kak Rezi yang mau nikah," jawab Evgen.


"Eh," ucap Rena gak percaya.


Sesaat Miranda dan Rayen yang ingin masuk kedalam rumah menghentikan langkahnya, mereka menatap kearah Rezi yang berada diantara mereka berdua.


Rezi tersenyum kaku dan mengusap wajahnya dengan kasar.


'Mati aku,' lirih Rezi dalam hati.


***


"Rezi, kenapa Opa gak tahu kalau kamu mau nikah? Papa kamu juga gak ada bahas apapun saat bertemu Opa semalam?" tanya Rayen sambil menyuapi makan siangnya.


"Kak Rezi mau nikah?" tanya tiga wanita itu serentak.


"He he, siapa bilang? Hanya pacaran saja," jawab Rezi kaku.


"Wah ... kok Siera gak pernah tahu ya kalau kak Rezi punya pacar. Kapan nih kak Rezi mau kenali? Siera penasaran seperti apa wanitanya," ucap Siera lembut.


"Sama Sofie juga, mumpung Sofie di sini kita ketemu sama pacar kak Rezi dong. Sofie penasaran banget gimana wanita yang bisa narik perhatian kak Rezi," pinta Sofie manja.


"Yang pasti wanitanya cantik banget. Elu kalau lihat, wih bakalan ngiri karena kalah telak sama cewek kak Rezi," ucap Evgen memanasi.

__ADS_1


"Masa sih? Tante jadi penasaran bagaimana wanita yang diakui Evgen cantik. Soalnya lelaki ini kan selalu ketus sama perempuan, bahkan suka adu jotos sama perempuan," ledek Rena ke Evgen.


"Biasa saja sih Tante. Hanya Evgen yang terlalu berlebihan, padahal cewek aku juga gak secantik Shenina."


"Uhuuuuk." Evgen menyambar gelas air dengan cepat saat Rezi mengucapkan nama Shenina.


"Kak Rezi apaan sih? Kenapa bawa-bawa Shenina segala?" tanya Evgen tak terima.


Sementara Rezi hanya tersenyum dengan lembut. Ia berusaha mengalihkan perhatian orang lebih ke permasalahan Evgen.


"Shenina itu siapa?" tanya Rayen dingin.


"Itu calon istri Evgen Opa," balas Rezi lembut.


"Eh tunggu dulu, siapa yang bilang dia calon istri aku? Aku masih SMA dan aku mau kuliah. Sembarangan saja," ucap Evgen tak terima.


"Wah, Evgen. Elu beneran pacaran sama Shenina. Jadi gosip yang tersebar di sekolah itu benar?" tanya Siena menggoda.


"Gosip apa lagi? jangan kebanyakan bergosip kalian!"


"Evgen, hati-hati bermain sama hati wanita. Jangan sampai kamu menjadi seperti Papamu. Hancur selama bertahun-tahun hanya karena seorang wanita."


"Papa, jangan bahas masalalu lagi," ucap Rena menengahi.


"Papa lagi, disamain sama Papa lagi. Kenapa harus disamakan terus sih?" tanya Evgen tak suka.


"Kenapa kalau disamakan sama Papa? Kan memang sikap kamu mirip banget sama Sean, Evgen sayang," ucap Miranda lembut.


"Terus kalau aku mirip Papa, kak Rezi yang lembut itu mirip siapa?" tanya Evgen ketus.


Miranda dan Rayen saling berpandangan. Sementara Rena terus menatap wajah Rezi dengan binar sendu.


"Mirip Oma dong, Rezi yang lembut dan juga baik hati. Gak banyak bertingkah dan selalu penuh kasih sayang, persis Oma. Iya kan Tante Rena?" jawab Miranda lembut.


Rezi tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Diikuti oleh Rena dan juga Rayen.


'Sebenarnya mereka tahu gak sih siapa kak Rezi itu? Kenapa? Kenapa mereka bisa serapat ini menutupi kebenaran?' tanya Evgen dalam hati.


Jika melihat ekspresi keluarganya, sepertinya mereka semua tahu siapa Rezi yang sebenarnya. Hanya saja, mereka terus menyembunyikan siapa Rezi yang sebenarnya.


'Mau sampai kapan Oma, Tante? Kalian berusaha sembunyikan kak Rezi dari kenyataan ini? Aku sudah tahu, cepat atau lambat kalian memang harus mengakuinya di hadapanku,' gumam Evgen kembali.


...


Evgen menjatuhkan kepalanya keatas sandaran kursi cafe. Pikirannya terus bertanya-tanya, siapa Rezi sebenarnya. Siapa orang tuanya, atau ia hanya salah satu anak dari panti asuhan?


Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benaknya saat ini. Walaupun ia bisa menerima keadaan Rezi yang sebenarnya. Namun banyak hal yang masih ingin ia ketahui tentang Kakaknya itu.


"We ... Bro. Sepet amat tu muka? Amat aja mukanya gak sepet kayak elu?" ledek Putra senang.


Evgen melirik sekilas kearah Putra. Ia membenarkan posisi duduknya dan mengambil katalog menu yang ada di depannya.


Ia keluar dari rumah Rayen dan memilih pergi ke cafe bareng sepupunya itu.

__ADS_1


"Put, lu pernah gak mikir kalau seandainya Soraya itu bukan Kakak kandung elu. Lu penasaran gak dia anak siapa?" tanya Evgen langsung.


"Memang siapa yang percaya Soraya bukan Kakak gue? Secara mukanya saja mirip banget sama Papa gue," jawab Putra polos.


"Ehm," balas Evgen sambil menganguk pasrah.


"Lagian, ngapain juga elu nanyain soal ini? Apa karena elu curiga sama Kakak elu lagi?"


Evgen menghela napasnya dan menutup katalog menu di tangannya.


"Ngapain gue harus curiga sama Kak Rezi? Gue cuma kepikiran soal anak panti asuhan tempat gue dan Shenina berkunjung kemarin," jawab evgen berusaha tenang.


"Elu sama Shenina ke panti asuhan? Kencan kalian unik juga ya."


"Siapa yang kencan? Lagian gue sama dia sudah putus," ucap Evgen ketus.


"Elu, sama Shenina putus? Yakin? Gue sih gak percaya, secara cuma Shenina gadis yang tahan sama elu. Ya walaupun hubungan kalian bermula dari benci jadi rindu," ledek Putra dengan tersenyum lembut.


"Sembarangan, siapa yang bilang begitu? Lagian gue juga gak benci sama Shenina. Kadang wanita itu hanya terlalu kasar saja," jawab Evgen lembut.


"Kasar, tapi elu suka kan?" goda Putra kembali.


Evgen tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok gadis yang sedang ia ceritakan itu.


Dengan balutan seragam pelayan cafe tersebut. Mengantarkan katalog menu ke meja pasangan muda-mudi.


Terlihat tangan lelaki penghuni meja tersebut sedikit menyentuh kulit kuning langsat milik Shenina.


"Wah ... baru dibicarain sudah nongol saja tu Shenina. Memang kalau jodoh emang gak bisa jauh-jauh."


"Bicara apaan sih? Biar saja dia kerja, jangan ganggu dia," ucap Evgen cuek.


Evgen kembali mengambil menu di atas mejanya. Namun matanya kembali melirik karah gadis mungil itu.


Memperhatikan gerakan gadis itu yang sedang mengantarkan minuman. Tanpa sengaja tangan lelaki itu menyenggol gelas yang baru di bawakan oleh Shenina.


Mengotori seragam bagian perut Shenina, tangan lelaki itu meraih tisu dan mengelap perut ramping milik gadis mungil itu. Sebuah tangan menahan pergerakan lelaki itu.


Byuuur


Segelas jus tersiram ke wajah manis gadis mungil itu.


"Dasar Waiters gak tahu diri, elu pikir gue gak tahu ya kalau elu dari tadi memang sudah kecaperan sama cowok gue?" teriak wanita itu lantang.


"Maaf Mbak, tapi saya gak ada sok cari perhatian sama pacar Mbak," jawab Shenina lembut.


"Halah ... gak usah ngeles deh elu. Kalau elu gak kecaperan sama cowok gue, terus apa namanya? Ganjen?"


"Saya gak ada maksud begitu, pacar Mbak saja yang--"


"Heh, elu pikir pacar gue sudi buat nyentuh elu? Siapa elu? Sadar dirilah, hanya pelayan saja bertingkah."


"Terus pacar elu itu siapa? Ganteng enggak, tajir juga enggak, beraninya godain pacar orang? Apa elu pikir pacar elu itu selevel sama gue?" tanya Evgen ketus.

__ADS_1


Evgen merangkul bahu Shenina dengan lembut. Memakaikan jaket keatas bahu Shenina.


"Hanya seekor kutu beras, kenapa sombong sekali?" tanya Evgen angkuh.


__ADS_2