Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 128


__ADS_3

"Kalau gitu, bisakah elu yang gantikan hukuman adik lu di penjara yang belum selesai? bisakah?" tantang Mika lembut.


"Baiklah." jawab Sean langsung.


Seperti tak memikirkan, Sean langsung meng-iyakan tantangan Mika begitu cepat.


Megi memalingkan kepalanya ke belakang. Melihat Sean yang sedang memeluknya dari belakang.


"Apa?" ucap Megi terkejut.


Megi langsung meleraikan pegangan tangan Sean pada bahunya.


"Apanya yang baiklah? kakak mau masuk penjara?" tanya Megi, meradang.


"Lu bisa ke kantor polisi dan buka kembali kasusnya, bawa surat penangkapan buat gue. Gue akan tunggu disini." ucap Sean datar.


Seperti tak melihat ada Megi di antara mereka berdua. Mika dan Sean hanya saling berpandangan.


"Apanya? mau buka kasus apa lagi? apa kakak udah mulai gak waras?" tanya Megi mencengkram kera kemeja Sean dengan kuat.


Mika masih berdiam, tak percaya Sean dengan begitu cepat menyetujui tantangan yang ia berikan. Padahal Mika hanya mengancam, namun tak menyangka bahwa Sean akan menanggapinya dengan sangat serius.


"Apa lu gak mau buka kasusnya? kalau begitu biar gue yang buka kasusnya."


Megi langsung memeluk badan Sean, memecahkan kembali tangisannya.


"Apa kakak kehilangan kewarasan? kalau kakak di penjara, bagaimana nasib aku dan anak-anak kita?" tanya Megi parau.


"Aku ini laki-laki, Megi. Aku harus berani bertanggung jawab. Jangan takut, aku akan baik-baik saja. Kamu mau nunggu aku bebas kan?" tanya Sean lembut.


"Jangan bodoh, aku gak akan mau nunggu." ancam Megi ketus. Air matanya kembali berderai dengan sangat deras.


Sean tersenyum dan meraih pucuk kepala Megi. Mencium pucuk kepala Megi dengan lembut.


"Sabar ya, kita pasti lewati ini dengan baik. Aku janji, setelah ini gak akan buat masalah lagi yang mengancam kamu." bujuk Sean lembut.


"Baiklah, karena elu setuju dan yakin ingin hidup di penjara. Gue akan buka kasusnya dan bawa surat penangkapan elu secepatnya." ucap Mika sambil berjalan keluar dari rumah Sean.


"Baiklah." jawab Sean lembut.


"Kak Mika tunggu, aku belum siap bicara!" teriak Megi lantang, Sean mengencangkan pelukannya. Tak membiarkan Megi untuk mengejar langkah kakaknya itu.


"Kak, kenapa kakak menyetujuinya?" tanya Megi gak senang.


"Yang penting aku gak kehilangan kamu, itu sudah cukup."  jawab Sean lembut.


"Jangan bodoh!" Megi menolak badan Sean dengan keras. Menampar sebelah pipi Sean karena geram.


"Apa kakak sudah gila? mau meninggalkan aku begitu saja?" tanya Megi berteriak dengan sangat lantang.


"Tenang dan dengarkan aku, Megi." bujuk Sean lembut.


"Enggak, aku gak sudi buat dengarin kakak!" Megi menutupi kedua telinganya dan berjalan mundur perlahan.

__ADS_1


Sean mendekati Megi dan memeluk badan Megi erat. Mencium pucuk kepala Megi, sebenarnya ia tak rela, namun jika ini harus terjadi, ia bisa apa.


"Tenang, Sayangku. Tenang ya." ucap Sean menenangkan Megi.


Megi memecahkan tangisannya, kenapa semua harus jadi serumit ini. Kenapa semua harus terjadi di luar kendali ia dan juga Sean.


Sean menghela nafasnya, membiarkan Megi untuk kembali tenang dalam pelukan hangatnya. Setelah beberapa lama, Sean meleraikan pelukannya dan menghapus buliran di pipi Megi


"Ayo katanya kamu makan sop buah. Biar aku buatkan sebelum masuk penjara." Sean menarik tangan Megi untuk kembali duduk di sofa.


Sementara Sean sibuk mengupas kulit buah, Megi menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Sean. Membiarkan buliran demi buliran air mata jatuh menghiasi matanya kembali.


"Kak, nanti siapa yang nemeni aku lahiran?" tanya Megi parau.


"Sama Mama ya. Gak apa-apakan?" tanya Sean lembut.


"Nanti kalau Rezi tanya kakak kemana? aku harus jawab apa?"


"Bilang saja kebenarannya, jangan tutupi apapun lagi setelah ini." ucap Sean lembut.


Megi bangun dan meraih kedua pipi Sean, menatap wajah Sean yang begitu tenang dan datar.


"Kenapa kakak gak panik sedikitpun saat mau di masukin kak Mika kepenjara?" tanya Megi membara


Mika menghentikan langkahnya saat mendengar suara Megi. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk kerumah Sean.


Mika menjatuhkan bokongnya di kursi teras rumah Sean. Bersebelahan dinding kaca rumah Sean yang tertutup gorden putih.


"Jangan salahkan Mika setelah ini, Sayang. Mika hanya menyanyangimu dan aku melakukan tanggung jawabku, ya." ucap Sean lembut.


"Mika menjagamu dengan nyawanya, seandainya itu terjadi pada Rena, mungkin aku sudah membuat pembunuhnya mati."


"Tapi perusahaan kakak bagaimana?" tanya Megi bingung.


Sean menghela nafasnya dan menjatuhkan pisau buahnya. Mengelap tangannya dengan tisu.


"Setelah berita ini tersebar, harga pasar saham pasti akan anjlok, perusahaan pasti akan banyak mengalami kerugian."


Sean menggeser duduknya dan mengeluarkan dompetnya. Meletakan beberapa kartu ATM miliknya di atas meja.


"Bilang sama Papa, kalau dia gak sanggup pertahani perusahaan maka jual saja saham yang tersisa. Disini ada cukup uang untuk membayar gaji karyawan, sisanya kamu pakai untuk menyambung hidup dulu ya." terang Sean lembut.


"Kamu hidup sederhana dulu gak apa-apa kan? setelah keluar, aku janji akan cari kerja yang lebih baik biar kamu bisa kembali nyaman, Sayang."


"Kakak." Megi menjatuhkan kembali buliran air matanya, tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Sean, walaupun dalam keadaan terdesak sekalipun, masih bisa memikirkan rencana untuk masa depan keluarganya.


"Kamu jaga anak kita baik-baik, sering kunjungi aku ke lapas ya. Biar aku bisa bicara sama anak kita."


"Kakak kok ngomong gitu sih? aku pasti setia nunggu kakak. Dan pasti akan kunjungi kakak setiap kunjungan."


Sean tersenyum dan kembali mengupas buah diatas meja. Megi memukul tangan Sean yang sedang memegang buah dengan keras.


"Hentikan! jangan pura-pura untuk tenang." teriak Megi keras.

__ADS_1


"Sini peluk aku, kalau kakak juga sedang kalut."


Sean menjatuhkan pisau buah di tangannya. Menarik badan Megi, membenamkan batang hidung mancungnya di atas bahu Megi.


"Jangan takut, Sayang. Aku akan berusaha untuk mengembalikan kehidupan yang nyaman padamu setelah keluar dari penjara, aku janji."


"Aku gak takut hidup susah, aku gak takut kehilangan semua harta ini. Asalkan kakak ada di samping aku terus." ucap Megi semakin menangis tergugu.


Sean memejamkan kelopak matanya, menghela nafasnya yang terasa sesak di dadanya. Tak lama Sean meleraikan pelukannya dan mengelus wajah Megi.


"Rumah ini dan apartemen bisa kamu jual untuk tambahan, beli rumah yang lebih sederhana ya. Sayang, kalau uang aku cukup, kamu jangan kerja ya."


"Kakak kenapa masih pikiri itu sih? gimana nanti kakak di penjara?"


"Percaya, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan hidupmu baik-baik juga setelah aku pergi." ucap Sean lembut.


Megi kembali memeluk badan Sean, menangis sampai membuat badannya bergetar.


"Dasar lelaki bodoh, kenapa aku bisa menikahi lelaki bodoh sepertimu? apa tak ada sedikitpun kepintaran yang tertinggal di otak kakak itu?" tanya Megi memecahkan tangisannya.


Bahkan sampai akhir yang di khawatirkan oleh Sean hanyalah Megi. Ia tak peduli pada kenyataan yang akan ia jalani, perhatiannya masih terfokus pada Megi.


"Apa kakak sama sekali gak peduli sama usaha yang selama ini sudah kakak bangun? apa kakak sama sekali gak peduli kalau nama kakak nanti akan tercoreng?"


"Asalkan kamu tetap disisiku Megi. Asalkan kamu tetap percaya sama aku, bahkan walaupun seluruh dunia benci sama aku, aku gak peduli."


"Bagaimana jika kakak lepaskan saja aku, biar kakak gak kehilangan apapun yang sudah kakak raih saat ini."


"Jangan Megi, aku mohon jangan menyerah ya. Jangan lepasin genggaman tangan aku, Sayang."


"Kenapa? kenapa kakak mau korbani ini semua?"


"Karena, jika gak ada kamu. Jangankan ini semua, bahkan hidupku pun tak berarti apa-apa."


"Jangan bicara lagi, aku gak mau dengar ucapan kakak lagi. Gak mau, gak mau." Megi menguatkan pelukannya dan semakin menangisi keperihan hatinya.


Mika bangkit dari kursinya dan berjalan masuk. Melihat Sean dan Megi yang masih berpelukan. Menyadari ada langkah kaki yang datang, Sean meleraikan pelukannya.


"Surat perintah penangkapan elu." Mika menyerahkan sebuah amplop ke hadapan Sean.


Sean tersenyum dan mengambil amplop itu. Ia kembali memandang Megi yang masih memeluk lengan tangannya dengan erat.


Perlahan Sean meleraikan pelukan Megi, mencium dahi Megi dengan lembut.


"Dengarkan aku," ucap Sean memegang kedua belah pipi Megi.


"Masuk ke kamar kamu, jangan keluar dari pintu balkon dan melihat aku dari balkon. Aku melarang kamu untuk melihat aku pergi. Bisakan nurut perkataan aku kali ini?" titah Sean lembut.


Megi kembali menjatuhkan buliran air matanya. Memandang wajah Sean yang begitu tenang, seakan mereka saat ini masih baik-baik saja.


Megi menghempaskan kedua tangan Sean yang memegang pipinya. Berjalan meninggalkan Sean dan Mika di ruang bawah. Menaiki anak tangga rumahnya dengan sedikit berlari.


Saat mendengar suara daun pintu kamar tertutup dengan keras. Sean mengalihkan perhatiannya pada Mika yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ayo." Sean bangkit dan langsung berjalan keluar.


Sementara Mika masih berdiri terpaku, tak percaya bahwa Sean masih serius dengan ucapannya dan bisa setenang itu menghadapinya.


__ADS_2