
Waktu terus beralu, dua bulan sudah beralalu dengan sangat cepat. Namun tak ada perubahan dari keadaan Megi. Tiga bulan Megi koma, namun sampai saat ini sedikit pergerakannya pun tak ada.
Sean mulai kehilangan kepercayaannya, dia begitu pesimis untuk kesadaran Megi. Terlalu banyak hal-hal yang tak bisa ia lupakan. Awal pertemuan ia dan Megi adalah suatu kesalahan. Namun karena pertemuan itu, Sean kembali menemukan sinar di hidupnya.
Sean memandang gelang bintang yang Megi gunakan sebelum ia tertabrak. Gelang ini masih begitu bersinar, namun kenapa cahayanya menghilang?
Sean meletakan kembali gelang itu diatas meja kaca diapartemennya. Sean tak memilih bergabung dengan Rayen. Banyak kenangan manis yang Megi sisakan di apartemen ini.
Sean menggunakan ponsel Megi untuk menghidupkan kembali semangatnya. Foto terakhir yang di ambil Sean di danau dijadikan wallpaper pada laptopnya.
Megi, nama itu telah memenuhi ruang di hati Sean. Wajah gadis itu memenuhi pikiran Sean. Sean selalu memikirkan gadis itu setiap detik.
Walaupun mimpi buruk tentang kejadian itu masih sering terlihat jelas di pelupuk mata Sean. Sean berusaha untuk selalu kuat.
Sean kembali aktif di dunia bisnis, walaupun saat ini kantornya berpindah sementara ke rumah sakit. Tepatnya di bangsal tempat Megi tertidur panjang selama tiga bulan ini.
Sean mengganti bajunya, mata Sean terpaut dengan bunny head yang Megi beli di pasar malam saat itu. Sean kembali tersenyum manis, ia memasukan bunny head kedalam ranselnya dan kembali melajukan motornya menuju rumah sakit.
Sean membuka pintu kamar Megi dan meletakan Ransel besarnya di lantai dekat sofa.
"Za, udah lama lu disini?" ucap Sean sambil berjalan mendekati Mirza.
Entah sejak kapan mereka kembali akur, entah sejak kapan dendam diantara mereka telah memudar. Yang pasti, semenjak bungkamnya mulut Megi. Tertutupnya mata Megi, semua keadaan membaik.
Jika di bilang ada hikmah di balik musibah, Sean merasakan hikmah itu begitu nyata dimatanya. Ia tak pernah berpikir akan bisa berdamai dengan rival-rival sengitnya.
"Gue balik, deh." ucap Mirza sambil beranjak dari kursinya.
"Hati-hati, Bro." ucap Sean sambil membuka laptopnya.
Sean mencoba fokus pada perusahaan yang mulai oleng karena di tinggali olehnya selama ini.
Sean merenggangkan badannya, seperti apapun ia berusaha fokus, pikirannya masih terus terfokus oleh perempuan yang sedang tertidur selama hampir tiga bulan di hadapannya.
Sean menghela nafas panjang, ia mengeluarkan bunny head dari dalam ranselnya. Sean memakainya dan duduk di sisi Megi.
"Meg, inget bunny head ini?" Sean menarik kaki bunny head itu untuk memainkan kupingnya.
"Lihat, gue pakai ini." Sean menarik-narik kakinya kembali.
"Lu kok gak sopan sih, Meg? gak mau lihat gue main bunny, padahal kemarin elu yang beli ini buat gue."
Sean membuka bunny headnya, meletakannya lemas diatas nakas. Sean menghela nafasnya berat, ia mengusap wajahnya kasar.
Tak ada perubahan apapun dari keadaan Megi. Sean hanya memandang Megi yang saat ini tertidur pulas.
"Meg, lu gak kangen sama gue?" ucap Sean lirih.
"Gue aja kangen banget sama lu. Bangun dong. Gak lelah apa tidur aja?" Sean menggengam jemari Megi.
__ADS_1
Entah mau sampai kapan Megi tertidur panjang seperti ini. Kekuatannya telah terserap habis, segala perhatian dan waktunya tercurah pada Megi. Namun belum ada sedikitpun perubahan dari keadaan Megi.
Sean kembali duduk di sofanya, membuka ponsel Megi dan melihat foto-foto Megi. Sekarang Megi hanya tertidur tanpa mau bangun, ini sudah tiga bulan. Mau sampai kapan ia begini?
Suara daun pintu di ketuk dari luar.
"Masuk." ucap Sean tegas.
Farrel masuk dengan tumpukan dokumen ditangannya. Sean menghela nafas panjang melihat itu. Ia tersenyum pahit melihat tumpukan itu.
"Keadan Nona Kecil belum ada perkembangan, Bos?"
Sean hanya menggeleng pasrah, tangan Sean kembali sibuk membuka satu persatu map dokumen itu.
"Mungkin saat ini arwah Nona Kecil lagi tersesat, Bos."
Sean menaiki sebelah alisnya, ada-ada saja argumen Farrel ini. Bagaimana arwah bisa tersesat. Sean hanya menggeleng dan tersenyum pahit.
"Bos jemput aja arwah Nona Kecil, biar pulang, Bos?"
"Farrel, sorry ya." ucap Sean pahit.
"Sorry kenapa, Bos?" tanya Farrel bingung.
"Gara-gara gue sibuk sama Megi jadinya elu banyak pikiran." ucap Sean datar.
"Maksudnya, Bos?" tanya Farrel yang semakin bingung.
"Saya serius, Bos. Arwah kita bisa juga tersesat, Bos. Nona Kecil mungkin sudah tersesat cukup jauh, jadi susah cari jalan pulang. Makanya, Bos jemput saja."
"Farrel gue udah cukup stres, jangan ngomong yang aneh-aneh." ucap Sean sambil memijit sudut dahinya.
"Bos, saya kasih tahu. Bos harus jemput Nona Kecil segera, biar Nona Kecil bisa segera bangun, Bos."
Sean menutup dokumennya dengan kasar. Farrel ini mau ngomong apa sebenarnya. Terlalu berbelit-belit, ia lupa kalau Sean tak suka terlalu bertele-tele.
"Maksudnya gimana sih Farrel? jemput gimana? kemana gue mau jemput?"
"Jemput Nona Megi dengan Sholat malam, Bos. Maaf ni ya Bos, sebaiknya Bos sering bacain alquran buat Nona Kecil. Jadi disananya Nona Kecil ada jalan untuk kembali."
Sean terdiam mendengar ucapan Megi, kenapa selama ini dia tidak memikirkan jalan ini. Dia sudah menjalani lima waktunya, tapi ia lupa menjalani sunnahnya.
"Makasih ya, Farrel. Buat sarannya."
Sean kembali memeriksa dokumennya, ia memandang Farrel dengan lekat. Farrel yang menyadari itu merasa risih, ia mulai menggeser posisi duduknya terus menerus.
"Ada apa sih, Bos? kok gitu banget lihatin saya?" tanya Farrel takut.
"Farrel lu ambil cuti gih, ambil bonus lu, dan pergi jalan-jalan." ucap Sean datar.
__ADS_1
Mendengar itu Farrel langsung bangun, peluh keringat membanjiri dahinya.
"Bos, maafkan saya. Jangan masukan omongan saya dalam hati, Bos."
Mendengar ucapan Farrel Sean menaiki sebelah alis matanya. Menatap Farrel yang sudah banjir keringat.
"Kenapa lu keringetan? lu kecapekan?" tanya Sean bingung.
"Bos maaf kalau perkataan saya menyinggung, Bos. Tapi jangan suruh saya cuti, Bos."
"Elu ini aneh ya Farrel, disuruh cuti, liburan kok gak mau? memang gak stres jalani pekerjaan ini?" ucap Sean datar.
"Bos, maafkan saya. Tolong jangan pecat saya, Bos." ucap Farrel dengan menunduk.
"Pecat? siapa yang mau pecat elu?" tanya Sean bingung.
"Itu Bos bilang saya cuti, biasa kan kalau Bos udah ngomong begitu, Bos mau pecat saya." ucap Farrel gagap.
Sean tersenyum dan menutup dokumennya, ia bangkit dan berjalan mendekat kearah Farrel.
"Cuti, Farrel. Liburan. Lu udah kerja ekstra selama ini, sekarang ambil waktu senggang buat jalan-jalan bareng keluarga atau tunangan elu." ucap Sean datar.
"Maksud, Bos cuti beneran?"
"Iya, Farrel, jadi cuti apa?"
"Nanti habis cuti masuk kerja lagi kan, Bos?"
Sean hanya menatap tajam kearah Farrel, kenapa sekarang Farrel menjadi berbelit-belit seperti ini.
Farrel hanya tersenyum kuda saat melihat ekspresi Sean yang kembali menggarang. Tanpa banyak bertanya lagi Farrel berjalan menuju pintu keluar.
"Kalau gitu, makasih ya, Bos. Saya pamit." ucap Farrel sambil berlalu keluar pintu
Sean hanya mengangguk pasrah, Sean menarik kursi dan duduk di sisi Megi. Tak lama, kembali Farrel membuka pintu kamar.
"Maaf, Bos. Saya cuti berapa lama?"
"Terserah elu!" ucap Sean ketus.
"Bos, ini beneran cuti? bukan di pecat?" kembali Farrel bertanya.
Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal, apa selama ini dia terlalu kejam. Sampai asistennya disuruh cuti saja susah banget.
"Kapan elu siap masuk kerja, lu kerja lagi, terserah elu berapa lama. Jelas?" tanya Sean kesal.
"Jelas, Bos. Kalau gitu kapan pun Bos perlu saya, telepon saya ya, Bos. Ponsel saya akan aktif selalu."
"Hem." jawab Sean cuek.
__ADS_1
Sean hanya menggelang pasrah dan menghela nafas berat. Melihat wajah Megi saat ini semakin menambah beban luka dihatinya. Kapan gadis ini akan kembali bangun.