
"Kita lihat saja nanti." ucap Megi sambil menggoreskan ujung pisaunya ke kulit pipinya yang mulus.
Dengan cepat tangan Sean memukul genggaman tangan Megi yang memegang pisau. Membuat pisau yang di pegang Megi terhempas jauh.
Sean mendongakan kepala Megi dan mencium tempat luka goresan pisau di pipi Megi. Setelah darahnya berhenti, Sean menempelkan dahinya ke dahi Sean.
"Apa kamu gila, Megi?" tanya Sean lembut.
"Apa tidak bisa kamu menghargai apa yang kamu miliki?" Sean meraih kedua ujung bahu Megi.
"Apa kamu gila?!" Sean menggoyangkan badan Megi.
"Bagaimana bisa kamu melukai dirimu sendiri?" tanya Sean ketus.
"Apa kakak gila?" tanya Megi kembali.
"Kakak gak biarkan aku menyakiti diri aku sendiri, tapi kakak terus menyakiti aku." sambung Megi ketus
"Apa kakak sadar, perkataan kakak menyakiti aku, sakit sekali, Kak." Megi menundukan kepalanya dan mulai menjatuhkan buliran air matanya.
Sejenak Sean terdiam, ia melamunkan kejadian yang baru saja terjadi. Sean menundukan pandangannya dan menarik tubuh Megi mendekat. Memeluknya dengan sangat erat.
"Ampuni aku, Megi. Ampuni semua kesalahan aku padamu, hari ini." Sean mengelus lembut rambut Megi.
Ia menyesali, kenapa ia sampai begitu keras. Kenapa ia begitu bodoh, ia tak mampu mengendalikan perasaannya dan kembali menyakiti hati Megi.
Saat ini Megi sedang hamil anaknya, apa yang bisa di lakukan oleh Megi. Karena rasa cemburunya yang berlebihan, tanpa sadar ia sudah sangat melukai perasaan Megi.
Sampai Megi bisa melakukan tindakan se ekstrim itu hanya untuk meyakini sifat keras dan pecemburunya.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf." ucap Sean lirih.
Sementara Megi masih terus menangis semakin dalam. Ia tak menyangka bahwa Sean mampu mengucapkan semua perkataan pahit itu untuknya. Hanya karena rasa cemburunya.
Sean bukanlah orang yang bisa di yakini oleh perkataan. Jika Megi tidak berani melakukan tindakan yang ekstrim, mungkin kedepannya kejadian seperti ini akan terulang kembali.
Megi tahu, Sean tak akan pernah membiarkan ia terluka. Karena itu ia berani untuk membuat goresan kecil di wajahnya, agar Sean tak lagi meragukan perasaan Megi selama ini.
Megi mendorong badan Sean menjauh. Memukul dada bidang Sean berkali-kali.
"Jangan sentuh aku." ucap Megi ketus.
"Megi, maafin aku." Sean berusaha untuk meraih kedua pipi Megi, dengan cepat Megi menghempaskan tangan Sean.
"Aku bilang, jangan sentuh aku!" teriak Megi kesal.
Dengan cepat Megi mengambil kembali pisau di lantai. Secepat yang ia bisa, Sean merebut pisau buah itu.
"Lepas!" ucap Megi saat Sean memegang pergelangan tangannya.
"Enggak." ucap Sean tegas.
"Aku bilang, lepas kak."
"Jangan gila, Megi." teriak Sean, keras.
"Kalau kakak saja bisa gila, kenapa aku gak bisa gila?" tanya Megi ketus.
Mendengar ucapan Megi, Sean melepaskan pegangan tangannya. Menatap wajah Megi dengan sinis.
Megi tersenyum dan kembali mendekatkan pisau itu ke wajahnya. Sean kembali menahan pergerakan Megi, menggenggam mata pisau itu dengan telapak tangan besarnya.
Mata Sean menatap Megi dengan sangat lekat, kedua bola matanya memerah dan berlapiskan kaca bening.
Perlahan aliran darah dari genggaman tangan Sean mulai mengalir, dengan cepat Megi melepaskan pisau itu.
"Kakak, kakak hentikan!" ucap Megi cemas.
__ADS_1
Dengan cepat Sean melemparkan pisau itu keluar dari pagar balkon, sesaat setelah Megi melepaskan pegangan tangannya pada gagang pisau itu.
Menarik Megi dan memeluknya kembali.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Megi sambil melihat telapak tangan Sean yang mulai banyak mengeluarkan darah.
"Ya Tuhan." Megi berlari kedalam dan membawa keluar sekotak obat.
Cepat ia menyiram tangan Sean dengan alkohol. Megi mengelap dengan lembut darah yang terus keluar dari telapak tangan Sean yang terkoyak karena mengenggam mata pisau.
Kedua tangannya mulai bergetar, air matanya terus menetes saat ia membalutkan perban ke telapak tangan Sean untuk menghentikan pendarahannya.
Melihat Megi yang begitu ketakutan, Sean melepaskan senyumnya dan meraih dagu Megi. Mendongakan kepala Megi.
"Kenapa menangis?" tanya Sean lembut.
"Kenapa kakak lakukan ini?" tanya Megi kembali meneteskan buliran air dari matanya.
"Dari pada pisau itu melukaimu, lebih baik dia melukai aku." jawab Sean lembut.
"Apa kakak bodoh?" tanya Megi kesal.
"Aku akan menjadi bodoh jika itu menyangkut dirimu, Sayang."
Megi tersenyum dan juga menangis bersamaan. Tangannya masih memegang telapak tangan Sean, walaupun ia sudah memperbannya, namun darahnya masih keluar.
"Kak, ayo kerumah sakit." ucap Megi sendu.
"Untuk apa?" tanya Sean lembut.
"Darahnya belum berhenti, aku takut ini akan infeksi."
"Aku akan baik-baik saja. Ini akan berhenti setelah beberapa jam."
"Beberapa jam?" tanya Megi sedikit terkejut.
"Ini tidak sakit, Megi. Sama sekali tak ada rasanya."
"Bagaimana mungkin tidak ada rasanya, tangan kakak terus berdarah."
"Tidak sesakit saat aku melihat air matamu. Biar saja, aku bisa menahan apapun itu. Tapi aku tidak bisa menahan sesalku, jika melihat air matamu kembali mengalir karena aku." goda Sean lembut.
Megi memanyunkan bibirnya dan memukul lengan tangan Sean. Sudah begini pun masih bisa saja menggombal.
Sean tersenyum dan mengelus pipi Megi. Mengelus goresan sepanjang 2 centi meter di pipi mulus Megi.
"Lihat pipimu juga terluka, apa ini tidak sakit?" tanya Sean lembut.
"Ini hanya goresan kecil, kak. Tapi telapak tangan kakak terkoyak." ucap Megi cemas.
"Hanya kulit yang terkoyak, apa itu sebanding dengan koyaknya hatimu karena lidah aku?" tanya Sean lembut.
"Aish, kakak. Aku serius." ucap Megi lembut.
Sean tersenyum dan menarik kepala Megi, menjatuhkan kepala Megi di dada bidangnya. Sean menghela nafasnya lega.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." ucap Sean lembut.
Megi mengambil telapak tangan Sean dan membuka perbannya yang sudah berlumuran darah.
Kembali air mata Megi menetes saat melihat aliran darah segar Sean yang terus keluar membasahi luka tangannya.
Megi mendongakan kepalanya, memandang wajah Sean yang saat ini sedang menatapnya sendu.
Megi mengangkat tangan Sean dan meletakannya di pipi yang ia goreskan pisau tadi. Merasakan aliran darah yang melintasi pipinya.
"Apa yang kamu lakukan Megi? lihat kulit putihmu jadi jorok, terkena darahku." Sean mengambil kapas di kotak obat dan ingin menghapus pipi putih Megi.
__ADS_1
Dengan cepat Megi memalingkan wajahnya, menghindari tangan Sean.
"Lihat, sekarang darah kakak dan darah aku sudah menyatukan. Aku harap ini terakhir kalinya kakak meragukan perasaan aku." ucap Megi lembut, ia kembali membungkus perban baru ke telapak tangan Sean.
"Maaf, aku telah menyakitimu. Maaf, Megi."
"Aku gak mau kata maaf, kakak. Tapi berjanjilah untuk percaya sama aku, Kak." ucap Megi melihat ke arah Sean.
Sean tersenyum dan menarik pinggang Megi mendekat kebadannya.
"Apapun yang kamu inginkan, Sayang. Tapi rasa sayangku padamu, membuat aku terlalu buta, untuk membedakan rasa. Aku selalu cemburu saat ada orang yang mendekatimu."
"Aku gak bisa menjamin orang lain agar tidak mendekati aku kak. Tapi aku bisa pastikan, bahwa aku tak akan pernah mendekati lelaki lain. Aku akan janjikan, bahwa aku hanya akan menjadi milik kakak."
"Aku tahu itu, tapi aku gak bisa membendung rasa cemburuku." jawab Sean sendu.
"Kak." Megi mengambil kedua belah pipi Sean, memandang mata Sean dengan lekat.
"Jika aku saja tidak pernah ragu terluka demi kakak. Apakah aku bisa melukai kakak?"
Sean menggelengkan kepalanya, ia meraih pucuk kepala Megi dan mencium lembut dahi Megi.
"Sudahlah, ayo kita tidur." ajak Sean lembut.
Sean bangkit dan berjalan memasuki kamar tidurnya. Mengangkat selimutnya dan tidur memeluk badan mungil Rezi.
Megi menghela nafasnya dan membersihkan wajahnya yang masih kotor karena darah Sean. Saat keluar dari kamar mandi, Megi melihat Sean yang sudah tertidur dengan lelap.
Perlahan Megi mendekat dan tidur menyempiti Sean. Memeluk badan Sean dengan erat.
"Sayang, ini terlalu erat." ucap Sean mengubah posisi tidurnya.
"Kakak belum tidur?" ucap Megi mengangkat kepalanya.
Sean menggeser tubuh Rezi sedikit ke pinggir, ia merentangkan tangannya dan memindahkan kepala Megi keatas lengan tangannya.
"Belum, bagaimana aku bisa tidur jika tidak ada belahan jiwaku di samping aku?"
Megi tersenyum dan memeluk dada Sean kembali.
"Kakak jangan terlalu banyak berfikir, apa yang kita lalui hari ini adalah sebuah penguat untuk hubungan kita."
Sean menghela nafasnya dan mengelus pucuk kepala Megi.
"Kadang aku berpikir Megi, setelah apa yang aku lakukan, kenapa kamu tak pernah berniat untuk cari yang lebih baik dari aku?" ucap Sean sambil menatap kosong kedepan.
"Karena orang lain tak akan ada yang mencintai aku segila kakak mencintai aku." jawab Megi tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Bagaimana jika ada? dan jauh lebih gila dari pada aku?"
"Berarti dia tidak benar-benar mencintai aku. Dia hanya terobsesi sama aku."
Megi mendongakan kepalanya, melihat wajah Sean yang masih menatap kosong kedepan.
"Sampai kapan kak? mau terus ragu sama aku?" tanya Megi menghela nafasnya.
"Aku sudah menyerahkan seluruhnya sama kakak. Jangankan untuk orang lain, bahkan untuk diri aku sendiri saja, aku tak memiliki apapun lagi." sambung Megi kembali.
"Aku tidak ragu, Sayang. Aku hanya berpikir, aku yang terlalu rapuh, jika itu menyangkut tentang dirimu."
Megi tersenyum dan meraih sebelah pipi Sean. Memainkan ujung hidungnya ke ujung hidung Sean.
"Saat ini tak ada lagi tentang aku, ataupun tentang dirimu. Karena mulai saat, ini apapun yang terjadi di masa lalu ataupun masa datang, itu hanya akan menjadi tentang kita, Sayang."
"Kita?" tanya Sean menaiki sebelah alis matanya.
"Iya, kita. Aku, kamu dan anak-anak kita."
__ADS_1