Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 77


__ADS_3

Dengan secepat kilat Megi berlari menghampiri Sean. Bibir Sean melengkung selebarnya, kali ini cara dia membuat Megi pulang luar biasa bereaksi.


Dengan mengambil nafas yang terengah-engah, Megi menghampiri Sean yang masih santai menumpuhkan tangannya di atas pagar.


"Ih, kakak gak waras ya? jerit-jerit gitu?" tanya Megi sambil mencubit pinggang Sean.


"Yang buat gue gak waras itu siapa?" tanya Sean datar.


"Ih kakak, malu. Di lihatin semua orang."


"Tumben elu ada rasa malu? biasa juga malu-maluin." jawab Sean datar.


"Ih dasar, Sean gak waras!" teriak Megi.


"Apa? lu bilangin gue apa?" tanya Sean menghadap kearah Megi.


"Sean gak waras! kenapa? memang Sean udah gak waras!" jawab Megi dengan mengejek.


"Udah berani lu ya, sini!" Sean meraih lengan Megi, namun lebih cepat Megi berlari masuk kedalam rumah.


"Dasar Sean gak waras!" teriak Megi sambil berlari.


Dengan cepat, tangan Sean menarik pinggang Megi yang ingin masuk ke kamar. Menggelitik sisi pinggang Megi dengan membabi buta.


"Coba kalau berani, bilang apa tadi?" tantang Sean dengan menggelitiki Megi.


"Auh, ha ha ha." Megi tak bisa lagi berkata, gelitikan tangan Sean membuat ia tak berhenti tertawa.


"Ayo bilang lagi kalau elu berani!" tantang Sean semakin menggelitiki dengan cepat.


"Ah, ha ha ha. Ampun Sean." Megi menginjak kaki Sean dan langsung berlari menjauh, namun tangan Sean lebih cepat meraih lengan tangan Megi.


"Jangan harap bisa kabur dari gue!" ucap Sean dengan senyum sinisnya, Sean berjalan mendekat, Megi memundurkan langakahnya saat badan Sean terus mendekatinya.


Sampai kaki Megi menyentuh sisi sofa, ia sudah tak bisa mundur lagi, namun Sean masih tetap mendekat. Sean mendorong tubuh Megi lembut, jatuh diatas sofa.


"Ayo coba katakan lagi." tantang Sean dengan meraih kedua ujung bahu Megi.


"Sean si singa Afrika. Ha ha ha." ucap Megi menggoda.


"Belum jera juga ya." Sean kembali menggelitiki sisi pinggang Megi.


Megi tertawa dengan sekerasnya, sampai sudut matanya mengeluarkan bening cairan. Megi memegangi perutnya yang sudah tak bisa berhenti tertawa.


"Kakak, ampun. Maafkan aku." ucap Megi menyerah. Ia mengambil nafasnya yang terngah-engah karena tertawa.


"Gak bisa minta ampun begitu saja, ayo ucapkan yang benar." ucap Sean yang saat ini sedang berada diatas Megi, menumpuhkan satu lututnya diatas sofa, sementara satu kakinya masih menginjak lantai keramik villa.


"Maaf." ucap Megi sambil menghentikan tawanya.


"Bukan maaf begitu, bilang maaf suamiku yang pintarnya kelewatan, maaf suamiku yang gantengnya berlebihan." ucap Sean dengan memainkan kedua alisnya.


"Apa?!" tanya Megi sedikit berteriak. "Aku gak akan ucapin kalimat alay seperti itu, Kak."


"Yaudah, kalau gitu terima hukuman lagi." kembali tangan Sean menggelitiki pinggang Megi.


Megi menjerit dan kembali tertawa, ia tak bisa melawan karena saat ia Sean sedang berada diatasnya.


"Kak hentikan, aku bisa mati kehabisan nafas!" ucap Megi menahan geli.


Seketika Sean menghentikan gerakan tangannya. Membiarkan Megi mengambil nafasnya yang engos-engosan karena geli.


"Kalau gitu, hukumannya yang lain." ucap Sean mencengkram kedua ujung bahu Megi, lembut.


"Apa?" tanya Megi sambil mengambil nafasnya yang masih terengah-engah.


"Cium gue!" ucap Sean angkuh.


Megi menggulum senyumnya dan menggelengkan kepalanya.


"No." ucap Megi menggeleng.


"Gak mau juga tetap gue cium."


Sean mencium batang hidung Megi, dan dengan cepat ia mengangkat tubuh Megi untuk duduk dengan benar.


"Mau jalan?" tanya Sean kembali waras.


Megi memandang wajah Sean dengan jarak yang semakin dekat.


"Kakak udah kembali waras?" tanya Megi dengan menatap wajah Sean lekat.

__ADS_1


Mendengar ucapan Megi, Sean mencepit batang leher Megi dan menjitak pucuk kepala Megi.


"Lu masih berani bilangi gue gila?" kembali Sean menjitak pucuk kepala Megi.


"Yah, habisnya gak ada badai gak ada petir, kakak bilang cinta, aku aja yang dengar gak percaya." ucap Megi pasrah.


Sean melepaskan kitingan tangannya, ia melihat Megi yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Gue suruh lu pulang, gak mau pulang sih, ya pakai cara itu biar lu pulang."


"Oh jadi kakak bilang cinta supaya aku samperin kakak? sedikit kecewa deh." ucap Megi menggoda.


"Aku pikir kakak udah gak waras karena kerja dua hari ini." sambung Megi dengan merapikan helaian rambutnya yang berantakan.


Sean mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Megi. Sean meraih sebelah pipi Megi.


"Yang buat gue gak waras itu bukan pekerjaannya, Megi." jawab Sean dengan memandang binar bening mata Megi.


"Tapi, elu." sambung Sean lembut.


Megi mengedipkan matanya dengan cepat, senyumnya melengkung selebar mungkin. Perlahan rona wajahnya berubah kemerahan.


"Kakak cium aku!" Megi meraih bahu Sean dan menempel dengan mesra.


"Gak sudi." jawab Sean menjauhkan kepala Megi dari wajahnya.


"Mau jalan gak ini?"


"Mau." jawab Megi spontan.


"Yaudah jalan, jangan sibuk merona gak jelas!" Sean bangkit dan keluar dengan cepat. Sementara Megi masih senyum-senyum sendiri, mengingat kembali kejadian hari ini.


"Megi, ayo!" teriak Sean lantang dari luar villa.


Sean memacukan motornya ke sebuah pusat perbelanjaan tradisional. Padat pembeli dan penjual di pinggir jalan. Bukan tanpa maksud, Sean melakukan jalan-jalan sekalian mengurus pekerjaan.


Mata Megi langsung berbinar saat pertama kali menginjakan kaki disini. Banyak gerobak penjual makanan dan juga pakaian, ada juga aksesories dan perlekapan lainnya. Semuanya ada disini.


Sean tahu, Megi bukan gadis biasa. dia gadis aneh dengan kebiasaan unik. Kalau biasa cewek-cewek ogah untuk di ajak kesini, kalau Megi malah lebih senang di ajak ketempat yang seperti ini.


"Mau masuk?" tanya Sean spontan.


Megi asyik dengan segala yang tersedia disana. Beberapa kali ia masuk kedalam kerumunan orang untuk melihat benda yang menarik perhatiannya.


Tak sabar lagi menunggu Megi yang bolak balik berhenti, Sean menarik badan Megi untuk mejelajahi tempat kuliner.


"Kakak, mau es krim." Megi menunjuk gerobak es krim saat pertama kali masuk ke kawasan jajanan.


"Yaudah beli sana." perintah Sean datar.


Sementara menunggu Megi selesai, Sean menatap kesekeliling. Walaupun disini ramai, tak ada yang bisa lepas dari tatapan tajam mata Sean.


"Nih buat kakak." Megi menyodorkan cone es krim ke hadapan Sean.


"Gue gak mau, gue gak suka makanan manis." jawab Sean datar.


"Aku tahu kenapa kakak gak suka makanan manis." ucap Megi menggoda.


"Kenapa?" tanya Sean menaiki sebelah alis matanya.


"Karena semua yang manis udah ada di aku." Megi menemplok mesra di badan Sean.


Sementara Sean hanya melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah.


"Dasar." ucap Sean sambil mengelus pucuk kepala Megi. "Sudah ayo lanjut."


"Kakak beneran gak mau?" tanya Megi kembali mengulurkan cone es krim ke hadapan Sean.


"Enggak." jawab Sean datar.


"Ayo dicoba dulu."


"Enggak, Megi." tolak Sean malas.


"Ih cobain dulu." bujuk Megi setengah ngambek.


Sean menghela nafasnya, ia menundukan wajahnya dan mendekat ke cone es krim yang di sodorkan Megi.


Tanpa sengaja tangan Megi bergoyang dan es krim yang di pegang Megi mengenai wajah Sean.


"Megi!" panggil Sean sedikit berteriak.

__ADS_1


"Maaf, kak. Aku gak sengaja." ucap Megi dengan menyengir kuda.


"Hapus ini, nanti lengket!"


Dengan cepat tangan Megi mencari tisu di dalam tasnya. Sean menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Saat Megi ingin meraih wajah Sean, Sean mendongakan kepalanya, menjauh dari jangkauan tangan Megi.


"Ih kakak, nunduk sedikit. Aku gak nyampe."


"Kotorin bisa, bersihin gak bisa. Usaha lah." jawab Sean datar.


Megi menjijitkan kakinya, menjulurkan tangannya setinggi yang ia bisa. Namun selama Sean masih mendongakan wajahnya, usahanya tak akan pernah berhasil.


"Ih kakak jangan dongak, aku makin gak bisa."


"Harus bisa lah, elu kan pintar."


"Nunduk sedikit apa susahnya?"


"Makanya jadi orang jangan pendek banget, dasar kuaci kecil."goda Sean sambil mengelus pucuk kepala Megi.


Megi melompat, tangannya melingkari pundak Sean agar kepala Sean menunduk. Dengan cepat sebelah tangannya menghapus sisa es krim yang menempel di pipi Sean.


"Oke, sudah." ucap Megi sambil melepaskan lingkaran sebelah tangannya di bahu Sean.


"Dasar rubah kecil yang licik." Sean menarik ujung hidung Megi.


"Kalau aku gak licik, aku gak akan bisa nakhlukin singa Afrika yang bengis kayak, kakak."


"Apa?! lu bilang apa? coba ulangi lagi?" Sean menggelitik kedua sisi pingang Megi kembali, dengan sedikit menahan geli, Megi mencoba untuk melepaskan tangan Sean.


Di tengah candaan mereka, mata Megi terpaut oleh seorang lelaki yang lewat di hadapannya. Seketika tawanya memudar dari bibir Megi.


Dengan cepat Megi melepaskan tangan Sean dan berlari menjauh.


"Kak Mirza, tunggu!" teriak Megi mengejar lelaki itu.


Mendengar Megi meneriaki nama Mirza, dengan cepat Sean megejar langkah kaki Megi.


Setelah berlari sedikit jauh, Megi membungkukan badannya. Matanya mencari kesekeliling, mencoba menemukan lelaki yang di kejarnya tadi.


"Megi ada apa?" tanya Sean yang baru datang menyusul langkah Megi.


"Aku lihat kak Mirza disini, kak." jawab Megi dengan menarik nafasnya yang sedikit terengah.


"Apa?" Sean menatap kesekitar, mencoba mencari orang yang di bilang Megi tadi.


"Tapi gue gak lihat Mirza ada disini, mungkin elu salah lihat."


"Gak mungkin aku salah lihat, Kak." jawab Megi ngeyel.


Sean tersenyum dan mendekat ke Megi, mendekap Megi dengan satu tanganya. Sementara satu tangannya yang lain merapikan helaian rambut Megi yang berantakan.


"Mungkin elu salah lihat karena elu kangen sama dia, Megi."


"Apa iya, kak?" tanya Megi mendongakan kepalanya.


"Iya," jawab Sean sambil tersenyum sendu.


"Ehm, mungkin."


"Sudah, jangan di pikiri lagi." jawab Sean menenangkan.


"Kak, boleh gak suruh mas Farrel buat cari kak Mirza."


"Iya, boleh. Nanti elu minta dia cariin kakak elu ya."


Megi tersenyum dan membalas pelukan Sean. Setelah beberapa lama, Sean meleraikan pelukan Megi.


"Megi, boleh gak lu belik in gue itu? gue pingin makan itu." Sean menunjuk sebuah gerobak makanan khas timur tengah.


"Kebab?" tanya Megi saat melihat gerobak yang di maksud Sean.


"Iya. Mau?"


"Ehm."


Megi mengangguk dan berjalan menjauh, mendekati gerobak kebab yang saat ini sedang ramai antrian.


Sesaat senyum Sean memudar dari wajah tampannya. Saat melihat Megi sudah masuk dalam antrian panjang gerobak kebab itu, Sean menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Mirza, keluar! gue tahu elu ada disini!" Perintah Sean tegas.

__ADS_1


__ADS_2