Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 121


__ADS_3

"Kak Mika." panggil Megi yang baru datang dari pintu belakang rumahnya.


"Hem." jawab Mika cuek.


"Apa yang terjadi dengan wajah kak Sean semalam?" tanya Megi langsung.


"Menurut kamu apa?" tanya Mika kembali.


"Apa kakak yang buat wajah suami aku begitu?" tanya Megi ketus.


"Apa suamimu gak bilang apa-apa?"


"Kak Mika! aku bertanya sama kakak, kenapa di putar-putar begini?" ucap Megi sedikit kesal.


"Iya, kakak yang buat." jawab Mika mengalah.


"Kenapa kakak bisa bertengkar dengan Kak Sean?"


"Kami ini laki-laki Megi, sekali-kali kami buang energi, itu biasa." jawab Mika tanpa rasa bersalah.


"Apa kalian begitu banyak waktu senggang? apa kalian begitu banyak energi tambahan? apa butuh aku untuk membuang energi kalian?" tanya Megi semakin geram.


"Ada apa sih, Dek? ini masih pagi sekali, kamu kesini mau ribut sama kakak?" tanya Mika lembut.


"Kak Mika jelasin sama aku, kenapa kakak pukul suami aku?" tanya Megi geram.


Mika menghela nafasnya dan melihat Megi yang berdiri di depannya. Mika bangkit dan mendudukan Megi di sofa rumahnya.


"Kakak minta maaf, oke." ucap Mika lembut.


"Kasih tahu aku alasan kenapa kakak lakuin itu sama suami aku?" tanya Megi dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Itu ..." Mika menggaruk kepalanya dan memalingkan wajahnya, mencari cara agar Megi tak lagi bertanya.


"Meg, bolehkah Kakak bertanya sesuatu padamu?" ucap Mika mengalihkan pembicaraan.


"Apa?" tanya Megi ketus.


"Apa ada sesuatu dari kisah masa lalu Sean yang kakak gak tahu?"


"Bukannya kakak lebih kenal kak Sean lebih lama dari aku ya? kenapa kakak tanya aku?"


"Kakak memang lebih lama kenal sama Sean, tapi banyak hal yang masih Sean sembunyikan dari kakak." terang Mika lembut.


"Kenapa kakak bertanya?"


"Karena kakak butuh jawaban."


"Kenapa kakak gak tanya langsung sama kak Sean?"


"Sean gak mau kasih tahu sama kakak yang sebenarnya."


"Aku juga gak tahu, masa lalu kak Sean yang kakak maksud itu yang mana?" jawab Megi dengan menyilangkan kedua tangannya dan membuang pandangannya ke sisi samping.


Mika menghela nafasnya dan duduk di samping Megi. Menatap Megi yang masih merajuk dengannya.


"Baiklah, kakak duluan yang mulai." ucap Mika mengalah.


"Semalam kakak, sama Sean bertengkar karena bahas masalah, Mirza."


Seketika Megi melepaskan lipatan tangannya dan memalingkan wajahnya saat mendengar ucapan Mika.


"Kak, kakak masih gak bisa maafin kak Mirza?" tanya Megi melunak.


"Bukan itu masalahnya Megi, kakak ingin tahu, saat kakak bilang, kakak merasa terkhianati oleh saudara kandung kakak sendiri, ekspresi Sean langsung berubah sedih." ucap Mika lembut.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Sean dan keluarganya yang kakak sama sekali gak tahu?" tanya Mika menyelidik.


"Ah ... Itu ... " Megi mengelus perutnya yang semakin membesar. Gantian ia yang mencoba meloloskan diri dari pertanyaan Mika.


"Aku gak tahu." jawab Megi menyeringai kuda.


"Bohong!" tuding Mika dengan tatapan tajam.


"Ah ... Kak Irena belum turun ya? aku siapin sarapan buat kakak ya." Megi bangkit dengan cepat dari sofa.


Mika menarik pergelangan tangan Megi, menatap Megi dengan tajam.


"Dek, ada apa? sesulit itukah cerita sama kakak?" ucap Mika kembali.


"Kak, itu masa lalu kak Sean. Kakak gak tahu juga gak apa-apa kan?"


"Dek, kakak butuh penjelasan. Bukan basa basi seperti ini."

__ADS_1


Megi menelan salivanya dengan sedikit berat, jika Mika tahu Rena adalah dalang di balik kecelakaan lima tahun lalu. Apa yang akan Mika lakukan dengan keluarga kecil ia saat ini.


"Kak, bisakah jangan tanya masalah ini? aku bingung harus jelasin bagaimana."


"Kamu hanya perlu menceritakan, tak perlu di jelaskan."


Megi memejamkan matanya dan kembali duduk diatas sofa. Menghela nafasnya dengan sedikit berat.


"Kakak kenal kak Hana?" tanya Megi lembut.


"Hem, iya."


"Kak Hana, sempat mau nikah sama Kak Sean. Tapi seminggu lagi pernikahan mereka. Kak Hana ketahuan selingkuh dengan Papa Rayen."


"Apa?" teriak Mika keras.


Ia tak percaya, ternyata maksud dari tatapan Sean semalam. Dan juga luka yang pernah membuat sahabat karibnya itu hancur adalah ini.


Pantas saja, hidup Sean pontang panting tak karuan. Orang yang paling ia percayai dan cintai itu, yang membuat Sean merasakan penderitaan paling pahit dari apapun.


"Dasar anak bodoh, kenapa gak pernah cerita sama gue?" decak Mika geram.


"Anak itu sebenarnya mau apa? walaupun terlambat, gue harus nonjok dia, biar dia inget gue siapa." ucap Mika geram.


"Kakak, jangan sentuh lagi kulit suami aku." ancam Megi keras.


"Ini urusan laki-laki, Dek. Dimana suamimu itu?"


"Di atas kasurnya lah, dimana lagi?" jawab Megi datar.


Dengan cepat Mika berjalan keluar dari rumahnya.


"Eh ... Kakak tunggu." kejar Megi.


Dengan cepat langkah Mika menaiki anak tangga rumah Megi.


"Kakak, jangan sakiti lagi kak Sean." tarik Megi saat Mika berjalan menaiki anak tangga rumahnya.


"Dek, percaya sama kakak. Kakak dan Sean gak akan saling menyakiti walaupun kami melukai satu sama lain. Kami hanya mengeluarkan apapun tanpa harus di tahan."


"Tapi gak gitu caranya, kakak gak bisa gunakan cara kekerasan."


"Sudah, kakak gak punya waktu untuk menjelaskan sama kamu." Mika kembali melanjutkan langkahnya dan membuka daun pintu kamar Sean.


Mika langsung menaiki kasur Sean saat melihat Sean sedang tertidur dengan sangat pulas di kasur empuknya.


"Sean bangun!" Mika menggoncangkan badan Sean dengan kuat.


"Mika, ini masih pagi, ada apa dengan elu?"


"Kak Mika lepasin kak Sean!" perintah Megi galak.


"Wah ... Ada Megi disini, elu masih berani nyiksa gue ya. Gak takut dia murka?"


"Lu gak takut kalau gue yang murka?"


"Ya Tuhan, kenapa Engkau mengirimkan iblis untuk menjadi tetangga rumah gue?"


"Banyak bacot lu ya." Mika menggepalkan tangannya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Megi memukul badan Mika yang ingin menumbuk Sean dengan guling di atas kasurnya.


"Kakak hentikan!" teriak Megi keras.


Sean memeluk badan Mika dan membalikan badannya, menaruh Mika di bawah dekapannya.


"Sayang, tutup mata. Kami akan melakukan adegan dewasa." ucap Sean sedikit bercanda.


"Astaga ... Gak waras kalian berdua." Megi dengan cepat membalikan badannya dan pergi meninggalkan kamarnya.


Mika mendorong badan Sean dengan keras. Mengubah posisinya untuk duduk di bibir ranjang.


"Kenapa lu gak cerita, Sob. Masa lalu elu sama Hana?" tanya Mika sendu.


Sean menghela nafasnya dan ikut duduk di sebelah Mika.


"Megi yang cerita? pantas pagi-pagi sudah mau buat drama." jawab Sean datar.


"Sean, kenapa lu gak cerita saat gue tanyain ini sama elu beberapa tahun yang lalu. Gue merasa bersalah, gue gak bisa ngelakuin apa-apa buat elu."


"Tapi buat gue elu banyak melakukan hal buat merubah hidup gue, Mik. Tanpa elu sadari, elu ngirim bidadari buat nyelamati kehidupan gue."


"Tapi gak gini Sob. Persahabatan kita, lu gak anggap ada?" tanya Mika kesal.

__ADS_1


"Lu gak anggap gue ada saat elu susah. Saat keluarga elu butuh gue dulu kan, jadi gue anggap kita impas." jawab Sean datar.


Mika menggelengkan kepalanya pasrah dan tersenyum sinis.


"Bertahun-tahun, bahkan belasan tahun kita sahabatan Sean. Lu bahkan nyimpan bangkai dengan sangat rapat di hadapan gue, apa akan ada kejutan yang masih belum gue ketahui tentang elu?" ucap Mika kesal.


"Makin lama, lu makin buat gue gak berguna sebagai sahabat, Bro." Mika menepuk pundak Sean.


"Semua sudah berlalu Mik, lu lihat kami baik-baik saja saat ini."


"Gue cuma gak habis pikir, bagaimana bisa lu sama Rayen kembali seperti biasa. Bahkan sepertinya lebih baik dari sebelumnya."


Sean tersenyun dan melirik kearah Mika.


"Lu ingin tahu? tanya sama adik lu. Bagaimana caranya dia buat gue menyadari satu hal dalam masalah gue."


Sean bangkit dari duduknya dan membuka pintu balkon kamarnya. Merentangkan badannya, menghirup udara sejuk pagi hari.


"Kita hanya perlu menutup mata, saat melihat luka yang terus berdarah. Tak perlu di ingat, ataupun di lihat. Jika kita bisa menutup mata untuk luka, jadi mengapa tak mencoba untuk melihat yang indah-indah saja?" ucap Sean lembut.


Mika tersenyum dan ikut bangkit, menghampiri Sean. Berdiri berdampingan di sisi balkon kamarnya.


"Gue gak tahu seberapa banyak pengalaman yang kalian lewati berdua. Tapi kalian mampu melewatinya dengan baik."


"Mik."


"Hem."


"Ada satu hal besar yang belum sempat gue cerita in sama elu."


"Apa itu?" tanya Mika penasaran.


"Gue gak tahu ini saat yang tepat atau enggak. Jujur gue takut elu benci sama gue karena menyimpan ini terlalu lama."


"Maksud lu?" tanya Mika bingung.


"Setelah ini entah apa yang akan terjadi, bagaimana pandangan elu terhadap gue dan keluarga gue. Tapi gue mohon, jangan pisahin Megi dari gue dan anak gue."


"Maksud elu apa Sean? gue gak paham." ucap Mika bingung.


"Gue pernah bilang sama elu kan, kalau Mirza pernah nyelamati hidup Megi saat dia koma."


"Iya."


"Megi kecelakaan, kepalanya terbentur dan sempat lupa ingatan."


"Kakak." panggil Megi mengalihkan perhatian.


Megi meletakan nampan berisi sarapan di atas meja balkon. Menggelengkan kepalanya saat Sean. menatap kearahnya.


"Kita gak bisa simpan ini lebih lama lagi, Megi. Mika berhak tahu, sebelum semuanya menjadi bom waktu buat kita."


"Maksud kalian apa? simpan apa?" tanya Mika semakin bingung.


"Lu mau tahu siapa pelaku di balik kecelakaan saat itu?" tanya Sean pahit.


"Siapa? siapa yang berusaha buat ngilangin nafas adik gue?" tanya Mika ketus.


"Maafin gue Mika, gue gak bisa jaga apa yang menjadi tanggung jawab gue."


"Maksud lu?" tanya Mika mengernyitkan dahinya.


"Adik gue." jawab Sean lirih. "Rena adalah pelakunya."


Seketika mata Mika membulat, menatap wajah Sean yang saat ini sedang menunduk jauh kebawah. Terkejut dengan semua pengakuan Sean yang di luar nalar pikirannya.


Sean berlutut di hadapan Mika, dengan wajah yang masih menunduk kebawah.


"Maaf, gue gagal dalam beberapa hal. Termasuk menjaga adik lu, dan adik gue." ucap Sean bersalah.


Mika menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tak tahu harus berbuat apa dengan kelakuan sahabat dekatnya ini.


"Gue gak tahu saat ini harus ngomong apa Sean. Lu bisa kasih tahu gue saat gue pulang dari laut saat itu. Tapi lu simpan selama ini, dan sekarang lu sama adik gue juga udah balik lagi, adik gue hamil anak lu." Mika menggelengkan kepalanya dan menatap kearah Megi.


Sementara Sean masih berlutut dan menundukan wajahnya.


"Lu sengaja buka ini di saat keadaan sudah sejauh ini. Gue mau minta elu tinggalin adik gue, juga gak bisa."


"Mik, gue cuma gak sanggup untuk melukai elu. Gue gak bisa hancurin kepercayaan elu, saat itu, gue terlalu rapuh untuk kehilangan kepercayaan dari elu."


"Terus sekarang apa elu pikir gue masih percaya sama elu? gue gak bisa nentuin sikap gue saat ini sama elu. Yang pasti, gue kecewa berat sama tindakan elu." ucap Mika ketus.


Megi ikut berlutut di hadapan Mika, memegang tangan Mika dan menatap wajah Mika sendu.

__ADS_1


"Ini semua bukan kesalahan kak Sean. Aku juga tahu kak Sean bersikap tegas ke Rena demi aku." jelas Megi sendu


"Kak Mika, aku mohon, demi nama Mommy dan juga Papa, jangan pisahin aku dengan kak Sean dan keluarganya."


__ADS_2