Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
33


__ADS_3

Evgen menghela nafasnya dan memandangi Megi yang masih memilih beberapa buah di rak tbuah.


Ia sudah tidak tahan lagi berdiri menunggu Megi selesai berbelanja. Sesekali Evgen melihat kearah jam tangannya.


Sudah hampir jam 5, namun Megi belum juga melepaskannya.


"Mama, harus berapa lama lagi sih?" Tanya Evgen kesal.


"Sabar kenapa? Mama lagi pilih buah," ucap Megi ketus.


"Harus berapa lama lagi aku sabar? ini sudah berapa jam, Mama?"


"Kamu buru-buru pingin pergi itu, untuk apa?" Tanya Megi kembali.


"Aku mau pergi sama teman, aku mau main."


"Main sajalah kerjaanmu," ucap Megi kesal.


"Isss, Mama!" Tekan Evgen kesal, "Pantas saja Papa gak pernah mau kalau diajakin Mama belanja, Lama ...."


"Haish, anak ini," ucap Megi kesal.


Megi kembali memilih beberapa buah diatas rak, sementara Evgen beberapa kali menghela nafasnya. Bosan dan juga lelah.


"Belikan Mama bunga krisan di toko depan, setelah itu kamu boleh pergi," ucap Megi lembut.


"Siap, Ma," dengan cepat Evgen memasukan belanjaan Megi kedalam bagasi mobil dan berjalan ketoko bunga yang berada di pusat pertokoan itu.


Evgen membuka pintu kaca bunga itu, melihat bunga yang di minta oleh Megi tadi.


Evgen langsung berjalan kejajaran bunga-bunga kuning yang ada didepan toko tersebut.


"Mbak, satu buket bunga krisan ya," pinta Evgen lembut.


Neha langsung berbalik dan berjalan kejajaran bunga krisan. Saat melihat wajah Neha, Evgen hanya terdiam dan tercengang.


Neha memberikan buket bunga itu setelah selesai ia lilitkan pita berwarna emas. Evgen hanya terdiam, ia masih terpaku memandangi wajah lembut Neha.


"Cantik," lirih Evgen tanpa sadar.


Neha mengernyitkan dahinya, dan tersenyum lebar saat mendengar ucapan Evgen.


"Makin cantik," lirih Evgen masih tak sadar.


Neha semakin tersenyum dengan lebar dan menggelengkan kepalanya. Ia memberikan bunga itu ketangan Evgen.


"Eh, maaf. Berapa Mbak?" Tanya Evgen malu.


Neha hanya mengancungkan jarinya, Evgen dengan cepat mengeluarkan uang dari dalam saku celananya.


Menyerahkannya dengan cepat ketangan Neha.


"Kembaliannya ambil saja, Mbak," ucap Evgen lembut.


Evgen menetuk satu jarinya di sudut bibir Neha dengan lembut.

__ADS_1


"Ini cantik saat melebar," ucap Evgen sebelum pergi.


Evgen membalikan badannya dan melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh.


Sementara Neha hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa, melihat mata Evgen membuat ia rindu pada Rezi.


Neha menghela nafasnya, mungkin Rezi tidak akan kembali mendekatinya. Mungkin juga Rezi sudah menyerah pada perasaannya.


Entahlah, apapun itu. Neha berharap bahwa semuanya bisa kembali seperti semula.


***


Evgen berlari dengan cepat menuju tempat janjian ia dengan Shenina. Tidak seperti biasanya, kali ini Evgen yang molor dari jam janjian mereka.


"Sorry, kali ini gue telat," ucap Evgen lembut.


"Hah, elu, kalau gue telat aja, lu kasih hukuman. Kalau elu yang telat, apa hukuman buat elu?" Tanya Shenina ketus.


"Heh, elu lupa ya? kalau disini gue majikannya," ucap Evgen kasar.


"Iya, iya. Ngalah gue, yang waras ngalah,"


Evgen menarik nafasnya dan menyisir rambutnya kebelakang. Ia melihat kearah sekeliling. Taman ini terlalu ramai, ia tidak suka.


"Cari tempat yuk,"


"Kemana?" Tanya Shenina bawel.


"Bawel banget tahu gak? sudah ikut saja." Evgen menarik kera belakang baju Shenina dan berjalan dengan cepat.


Shenina menadahkan tangannya, ia melihat Evgen yang sedang berjalan disebelahnya. Tidak terlalu peduli pada tetesan kecil hujan ini.


"Evgen hujan," ucap Shenina lembut.


"Hanya air kenapa harus panik?"


"Bukan masalah airnya, tapi bagaimana jika elu sakit?"


"Gue sakit gak ngerepoti elu kan? kenapa ribut?" Tanya Evgen kesal.


Shenina menggenggam jemarinya, kesal sekali ia berbicara dengan Evgen.


"Terserah elu lah," ucap Shenina mengalah.


Jedaaaar


Guntur menyambar dengan kilatan cahaya dari langit. Seketika, Shenina menemplok di badan besar Evgen karena terkejut.


Evgen memeluk badan mungil Shenina yang sedikit gemetaran. Mencoba untuk menenangkan perasaan Shenina.


Tak lama Shenina sadar, ia mendongakan kepalanya. Menatap wajah putih Evgen dari jarak yang sangat dekat.


Shenina melepaskan pelukannya dan merapikan helaian rambutnya. Malu karena perbuatannya yang memeluk Evgen tiba-tiba.


Evgen menghela nafasnya dan memandang kesisi kosong. Ia menggaruk tengkuk lehernya dengan kasar.

__ADS_1


Saat itu juga, suasanya diantara mereka menjadi canggung satu sama lain.


"Hujan begini, mau kemana?" Tanya Shenina lembut.


"Gue gak tahu, mungkin cari tempat teduh dulu ya."


"Ini gak jauh dari rumah gue, kita mampir kerumah gue ya. Sekalian lihat adik gue, gimana keadaannya."


"Baiklah," ucap Evgen mengalah.


Sebelum hujan semakin deras, Evgen dan Shenina berlari melewati gang-gang sempit menuju rumah gubuknya.


Tak jauh dari taman itu, Shenina dan Evgen sampai didepan rumah sederhana milik Shenina.


Alis mata Evgen menaik sebelah, melihat tampilan rumah Shenina yang kacau sekali.


"Ayo masuk!" Perintah Shenina, sambil membuka pintu tua rumahnya.


Mata Evgen melihat kesekeliling, bahkan langit-langit rumah Shenina saja menyentuh ujung kepalanya.


"Heh, si kecil pendek, rumah elu kenapa pendek banget? kepala gue bisa terantuk kalau gak hati-hati jalan," ucap Evgen angkuh.


"Bukan rumah gue yang kependekan, elu saja yang ketinggian." Balas Shenina kesal.


Shenina berjalan memasuki kamarnya dan mengeluarkan sebuah handuk bersih dari dalam lemarinya. Jika bukan saat ini Evgen itu majikannya, ia tidak sudi berbagi handuk dengan Evgen.


Shenina memberikan handuk itu ketangan Evgen. Ia kembali kedapur untuk membuat teh hangat.


Evgen hanya bisa memandangi rumah Shenina dengan binar mata yang terkejut.


"Parah, bener-bener parah si Amoeba itu," ucap Evgen sambil menyentuh plafon kusam rumah Shenina.


Seta masuk dengan sedikit berlari, menghindari hujan yang akan menbuat bajunya basah.


"Hey ... Jangan lari-lari!" Teriak Evgen saat melihat Seta berlari memasuki kamar.


"Kenapa adik gue gak boleh lari?" Tanya Shenina, tangannya meletakan gelas teh diatas tikar lusuh miliknya.


"Heh Shenina, rumah elu itu tidak meyakinkan, gimana kalau rumah elu ambruk karena adik elu lari-lari? kalau elu yang ketimpah reruntuhan ya gak apa-apa, nah kalau gue yang tertimpah? bakalan dapat masalah elu," ucap Evgen angkuh.


"Hey ... Tuan Muda yang sombong, angkuh dan sok sekali. Rumah gue gak serapuh yang elu bilang. Walaupun begini, rumah ini sudah melindungi gue dan keluarga gue selama belasan tahun," balas Shenina geram.


"Masa?" Tanya Evgen tidak percaya, "Gue yakin kalau elu bersin saja, rumah ini akan runtuh, coba saja bersin kalau gak percaya,"


"Elu," Shenina mengepalkan jemarinya, ia kesal setengah mati dengan hinaan dari Evgen ini.


"Hattciiih," suara bersin dari kamar Seta terdengar oleh Evgen dan Shenina yang berada di ruang depan.


Bersamaan dengan plafon sudut ruangan rumah Shenina yang jatuh karena sudah terlalu lama terkena tampiasan air hujan.


Seketika Shenina dan Evgen mengalihkan pandangannya ke reruntuhan kecil itu.


Evgen tersenyum tipis dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Benerkan yang gue bilang," ucap Evgen angkuh.

__ADS_1


__ADS_2