Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 119


__ADS_3

"Apa ada yang salah dengan ucapan gue?" tanya Sean memandang Mika tajam.


"Lu tahu apa, Sean? lu tahu apa tentang kehidupan kami? gue yang berjuang sendiri, gue yang mati-matian melindungi Megi!" bentak Mika keras di depan Sean.


Sean memalingkan pandangannya, ia menghela nafasnya dan menuju ke kasir dengan cepat. Memesan beberapa makanan dan minuman, lalu dengan cepat kembali memasuki mobilnya.


"Gue lakukan ini demi Megi." ucap Sean langsung setelah memasuki mobilnya.


Mika tersenyum dan menggeleng dengan pasrah.


"Jadi menurut lu selama ini gue gak pernah lakuin apa-apa buat Megi? iya?" tanya Mika ketus.


"Gue gak bilang begitu, Mika." tegas Sean kembali.


"Jadi maksud lu apa? lu ngajak ribut sama gue?" tantang Mika kembali.


"Mika, ini bukan elu yang sebenarnya." tahan Sean cepat.


"Jadi kenapa? gue gak bisa jadi seperti ini?" Mika mencengkram kedua kera kemeja Sean.


"Lu gak perlu bereaksi berlebihan, Sob. Jika elu gak peduli lagi sama Mirza. Sikap lu buat gue yakin, lu nyembunyiin rasa khawatir lu buat Mirza." ucap Sean lembut.


Sejenak Mika terdiam, dengan kesal ia melepaskan cengkraman kera baju Sean.


Sean menghela nafasnya dan melihat Mika di sebelahnya dengan sangat lekat.


Untuk beberapa saat, ia biarkan Mika tenang dengan sendirinya.


"Jadi gue harus bagaimana?" tanya Mika memecahkan keheningan suasana.


"Lu mau minta gue buat lupai semua perbuatan dia sama Megi? gue gak bisa, Sob. Masih ada rasa sakit yang tertinggal dan membekas, lu gak tahu, seberapa keras gue perjuangin Megi."


"Gue paham perasaan elu, Mika. Kalau untuk perbuatan Mirza, gue juga belum bisa memaafkan dia sepenuhnya. Bukan cuma elu, gue aja merasa kewalahan menghadapi tingkah tengil dia." Sean menjatuhkan kepalanya keatas jok mobil dan memejamkan kedua kelopak matanya.


"Gue pertaruhkan semua yang ada demi kehidupan Megi, Sean. Beberapa kali Megi harus berurusan sama yang namanya pelecehan." Mika tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.


"Gue bahkan sempet putus asa dan merasa gagal dalam hidup ini. Lu pikir berapa kali gue pingin lari dari kenyataan ini?" tanya Mika geram.


"Sebagai kakak yang masih waras, elu sajalah. Bagaimana jika Rena di lecehkan di hadapan elu, tapi elu masih gak bisa bergerak dan berbuat apa-apa untuk adik lu?" tanya Mika pahit.


"Gue gak bisa jelasin apa yang gue rasain saat itu, Sean. Gue hampir gila, gue hampir musnah karena semua kenyataan itu begitu tiba-tiba, datang di hadapan gue. Mendorong gue untuk menelan semua kepahitan secara keseluruhan."

__ADS_1


Sean melirik kearah Mika. Melihat wajah Mika yang begitu depresi menceritakan semua keadaan masa itu.


"Mirza, dia satu-satunya harapan gue untuk bekerja sama membangun kembali keluarga kami. Tapi dia malah jadi orang yang paling sulit gue kendaliin, dia malah menjadi penghalang dan juga musuh terbesar gue." Mika mengusap wajahnya kasar.


"Gue gak dendam sama dia, tapi dia mengkhianati gue, Sean. Dia bukan hanya meninggalkan gue, tapi dia juga yang menusukan pedang yang paling dalam di badan gue."


"Mik, semua itu ada di masa lalu. Cobalah untuk lepaskan beban ini." ucap Sean lembut.


"Lu mau gue menarik perlahan pedang yang ia tusukan dengan dalam? menikmati setiap nyeri dan sakit yang kembali berdarah karena goresan yang mau di buka kembali?"


"Jujur kalau mengingat bagaimana Mirza memperlakukan Megi. Bahkan sampai saat ini gue juga masih gak bisa maafin dia, Mik."


"Lu aja gak bisa, apalagi gue? gue yang ngerasain ini semua."


"Tapi gue cuma ngelakuin ini semata-mata demi Megi. Dia ingin kembali bersama keluarganya, Mik."


"Udah ada gue, udah ada elu dan keluarga elu yang sayangi dia. Gue rasa udah cukup buat Megi bahagia." jawab Mika keras.


"Tapi itu tetap gak sama, Megi masih belum merasa lengkap saat gak ada Mirza di sisinya. Megi aja yang di tindas sama Mirza bisa nerima kok, kenapa elu gak belajar nerima?" tanya Sean mulai meradang.


"Gampang banget elu ngomong ya, Sean? coba saja elu berada di posisi gue saat itu, masih bisakah elu ngomong seperti sekarang ini?" tanya Mika kembali meradang.


"Mika gue cuma mau..."


Ia sudah gak sanggup lagi jika harus melanjutkan pertengkaran ini. Sean tak paham bagaimana pahitnya perjuangan itu. Sean hanya melihat saat akhir perjalan Mika.


Bertukar tempat dengan Mika saat semua sudah hampir selesai.


"Terlepas dari semua kesalahan Mirza, lu juga harus tahu. Mirza yang udah nyelamati Megi dan menyambung nyawa kedua buat Megi, Sob."


"Terus apa menurut lu itu sebanding?" tanya Mika sengit.


"Setidaknya berikan dia kesempatan untuk tunjukan perubahannya."


"Terus? lu pikir setelah dia berubah apa masa lalu kami bisa baik-baik saja?" tanya Mika ketus.


"Gue paham..."


"Lu gak paham, Sean. Selamanya elu gak akan paham. Gak mudah buat gue bertahan sendiri, berjuang sampai di titik ini. Berusaha membuat Megi bahagia saat ia rapuh sekali dengan yang namanya luka." putus Mika kembali.


"Mika."

__ADS_1


"Sudah, ayo kita pulang." putus Mika langsung.


Sean hanya bisa menghela nafasnya dan menjalankan mobilnya. Memperhatikan Mika dengan ujung matanya.


"Mika lu gak mau pikiri lagi? Megi pasti akan bahagia saat dia bisa lihat Mirza."


"Dia sudah lihat kan kemarin."


"Mika, ayolah..."


"Sean." putus Mika lembut.


"Gue gak ingin bilang ini sebenarnya, tapi elu sudah melewati batasan elu. Ini urusan aku dan Megi, kamu memang bagian dari aku dan Mirza, tapi kamu gak berhak mencampuri apapun tentang keluarga ini." jawab Mika sendu.


Seketika Sean menginjak rem mobilnya. Menghentikan laju mobilnya dengan paksa.


Memandang wajah Mika dengan sedikit geram.


"Apanya yang bukan urusan gue? saat ini apa yang bisa buat Megi bahagia, adalah urusan gue." ucap Sean angkuh.


"Mika lu gak bisa terlalu egois bertahan pada keangkuhan elu. Sadar gak? yang paling menderita disini siapa? Megi, istri gue." tegas Sean keras, nafasnya sudah mulai memburu karena menahan gejolak emosinya.


"Lu bilang gue egois? elu yang egois Sean? saat elu ada keinginan sekuat tenaga elu berusaha untuk mewujudkan tanpa memikirkan sakit orang lain."


"Mika, saat ini Megi menderita melihat posisi elu dan Mirza yang begini. Gue cuma mau Megi bahagia, itu saja."


"Kalau dia masih menderita, berarti tugas lu buat bahagiain dia gagal." jawab Mika datar.


"Apa?" tanya Sean terekejut.


Sean menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya yang semakin memburu kencang.


"Sumpah lu beda banget sekarang. Lu gak lagi dewasa seperti dulu. Lu sekarang hanya bagaikan kakak tanpa hati."


Bugh


Satu tinjuan mendarat di pipi Sean. Sean tersenyum dan menghapus aliran darah yang keluar dari pecahan bibirnya.


"Gue udah lama banget gak olahraga, lu mau kita bertarung malam ini?" Sean menggeretakan kedua jemari tangannya.


"Walaupun lu ada latar belakang bela diri, gue gak takut sama sekali." jawab Mika datar.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo keluar." ajak Sean sambil membuka pintu mobilnya.


"Siapa takut." tantang Mika kembali.


__ADS_2