Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
50


__ADS_3

Evgen menumpuhkan dagunya diatas kepalan tangannya, memandangi wajah Shenina yang sedang melahap makanan tepat didepannya. Ia masih teringat dengan kata kencan yang diucapkan Putra kemarin.


Shenina melirik kearah Evgen, ia tidak jadi menyuapi makanannya, saat melihat Evgen yang tersenyum-senyum sendiri.


"Hey ... Lu sakit?" Tanya Shenina bingung.


"Enggak," jawab Evgen lembut.


"Jadi kenapa.elu senyam senyum sendiri gitu?" Tanya Shenina bingung.


"Gue lagi mikiri. Entar sore kita mau kencan kemana ya?"


"Kencan?" Tanya Shenina bingung.


Seketika Evgen tersadar dan duduk dengan benar. Ia menghentikan senyum tak jelasnya itu.


"Maksud gue, mau jalan kemana? gue bingung mau kemana lagi," jawab Evgen ketus.


Shenina menganggukan kepalanya dan kembali memakan isi didalam piring.


"Heh, elu sudah ada kepikiran mau kemana belum?" Tanya Evgen ketus.


"Sudah," jawab Shenina datar.


"Kemana?" Tanya Evgen penasaran.


"Kejutan."


"Hah kejutan?"


"Iya, nanti elu juga tahu kita akan kemana," ucap Shenina datar.


***


Evgen menyilangkan kedua tangannya didada. Ia menekuk wajahnya, ia kesal setengah mati saat harus berada ditengah-tengah kerumunan berisik dan bau seperti ini.


Ia menyesal, mengikuti kemauan Shenina yang membawa ia kedalam pasar tradisional begini.


"Evgen, angkat ini!" Perintah Shenina dengan menyerahkan sekantung sayuran.


"Ogah! elu saja yang bawa sendiri." Evgen menyilangkan kedua tangannya didada dan membelakangi Shenina.


Shenina hanya bisa menghela nafasnya, ia berjalan kembali menyusuri pasar tradisional yang pengap dan juga ramai itu.


Evgen memaki dengan kesal saat badan besarnya tertabrak beberapa kali oleh badan bongsor Ibu-Ibu. Terlebih lagi, saat sepatu sportnya terpijak oleh seseorang.


Evgen hampir mati kesal saat harus berdesakan seperti ini.


"Shenina! sialan elu!" Teriak Evgen kesal.


Seketika suasana pasar yang berisik menjadi senyap. Setiap orang mengalihkan pandangannya kearah Evgen.


"Wah ... Ganteng, ganteng kok kasar sekali?" Ucap seorang wanita didepan Evgen.


"Iya, kasian pacarnya kalau di kasarin. Jadi lelaki itu harus sabar!" Sambung yang lainnya.


"Menakhlukan hati perempuan gak cuma modal tampang, sifat dan karakternya juga harus seimbang loh," ucap yang lainnya.


Mendengar banyak belaan yang datang untuk Shenina, semakin membuat Evgen meradang.


Mereka tidak tahu apapun, tapi bisa berkomentar seperti itu. Shenina berjalan mendekati Evgen, saat melihat dada Evgen yang sedang naik turun menahan nafas yang memburu kencang.

__ADS_1


Shenina menarik tangan Evgen dan menyeret Evgen keluar dari pasar. Evgen menghempaskan tangan Shenina saat sudah berada diluar pasar.


"Lu ngerjain gue?" Tuding Evgen langsung.


"Gue gak ngerjain elu," jawab Shenina lembut.


"Jadi ini apa?"


"Gue pikir dari pada elu bingung harus kemana, yasudah temeni gue belanja saja."


"Lu pikir gue sudi masuk pasar begini? jorok, bersik. Lihat sepatu gue, jadi kotor begini," ucap Evgen membara.


Shenina menyilangkan kedua tangannya didada. Ia melihat Evgen yang sedang mengomel dengan kasar.


"Sudah?" Tanya Shenina ketus, saat Evgen berhenti mengomel.


"Kalau sudah, lu duduk disini saja, pesen apa yang lu mau. Gue mau beli beberapa bahan yang lain lagi, tunggu ya," ucap Shenina dengan mendudukan Evgen di kursi warteg.


"Heh, elu pikir elu siapa? seenaknya merintah gue?" Tanya Evgen ketus.


"Disini itu gue majikannya, seenak jidat elu saja nyuruh gue nunggu disini!" Sambung Evgen kesal.


"Karena elu majikan gue, gue gak mau elu masuk pasar lagi, ya Tuan yang angkuh."


Shenina mengambil kantungan plastik belanjaannya dan meletakan didekat kaki Evgen.


"Titip ya." Shenina langsung pergi setelah meletakan kantungan itu didekat Evgen.


"Hey," panggil Evgen kesal. "Sialan elu! lu pikir gue ini tempat penitipan barang?" Teriak Evgen kesal.


Ia benar-benar benci, saat ia dikacangi seperti ini.


Evgen mengetukan jari tangannya diatas meja. Menunggu Shenina yang tak kunjung tiba setelah empat puluh menit berlalu.


Tak habis pikir juga, kenapa ia mau menunggu Shenina selama ini? padahal ia kesal, tetapi tidak ada niat juga untuk meninggalkan Shenina.


Evgen bangkit dari duduknya. Ia berjalan memasuki pasar itu lagi. Saat ingin melangkah, perhatiannya teralih pada anak ayam warna warni yang dijual dibibir pasar.


Evgen mendekati penjual itu dan melihat beberapa anak ayam itu. Evgen tersenyum dan menyentuh bulu halus anak ayam itu.


"Kakak mau beli?" Tanya anak kecil penjual anak ayam itu.


"Berapa satu?" Tanya Evgen lembut.


"Lima ribu saja, Kak. Lihat, mereka banyak warna kan?" anak itu membuka salah satu kandang ayam, memperlihatkan anak ayam berwarna warni itu.


"Kalau gitu, gue ambil dua puluh ekor."


"Kakak serius?" Tanya anak kecil itu senang.


Evgen menganggukan kepalanya, anak kecil itu tersenyum dan menyiapkan kotak untuk membawa anak ayam yang dibeli oleh Evgen.


Evgen menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Anak kecil itu menghitung uangnya dan kembali menatap wajah Evgen.


Ia mengambil selembar uang merah itu dan mengembalikan sisanya pada Evgen.


"Segini saja cukup untuk membayarnya Kak. Ini kembalianya," ucap anak kecil itu polos.


Evgen tersenyum dan mengambil kotak anak ayam itu. Ia mengelus pucuk kepala anak lelaki itu dan tersenyum.


"Simpan kembaliannya, jangan jualan dipasar lagi. Sekolah lah yang rajin, kelak harus jadi anak yang sukses ya," ucap Evgen lembut.

__ADS_1


Ia berbalik dan meninggalkan anak kecil itu. Kembali menuju warteg tempat ia meninggalkan belanjaan Shenina tadi.


Sudah ada Shenina yang menunggu ia ditempat tadi.


"Dari mana elu? gue teleponi gak elu angkat?" Tanya Shenina langsung.


"Bawel!"


"Belanjaan elu tinggal begitu? kalau diambil orang bagaimana?" Tanya Shenina kesal.


"Halah, tingkat sayur-sayuran. Selain kambing siapa yang mau ambil?" Tanya Evgen ketus.


"Hey, elu dari mana? kotak itu apa isinya?" Tanya Shenina penasaran.


"Bawel, sudah ayo pulang. Gue gak sudi lebih lama lagi disini!"


Evgen berjalan dengan cepat menyusuri gang sempit menuju rumah Shenina.


Evgen meletakan kotak anak ayam itu didepan rumah Shenina. Ia menghela nafasnya dan duduk lemas diatas semen tua balkon rumah Shenina.


"Gue lapar! ambilin makanan!" Perintah Evgen.


"Heh, elu pikir ini restoran? kalau mau makan ya masak dulu."


"Kalau begitu elu masak cepat!"


Shenina menyungging sebelah bibirnya, angkuh sekali gaya lelaki kaya ini.


"Lu pikir gue pembantu elu, kalau mau makan ya bantuin gue masak lah."


"Gue?" Tunjuk Evgen didepan wajahnya sendiri.


"Ogah banget!" sambungnya ketus.


"Kalau gak mau, yasudah! makan saja tuh angin." Shenina mengangkat kantungannya dan membawa masuk kedalam.


Evgen kembali menghela nafas dan mengacak rambutnya. Menunggu Shenina yang tidak kunjung keluar setelah lima belas menit, masuk kedalam rumahnya.


Evgen memaki kesal, ia membuka sepatunya dan ikut masuk kedalam rumah Shenina.


"Shen!" panggil Evgen keras.


"Gue didapur!" sahut Shenina.


Evgen berjalan menyusuli Shenina, mendekati Shenina yang sedang merajang beberapa sayuran.


"Gue haus," ucap Evgen lembut.


"Tuh ... Air disitu," tunjuk Shenina dengan dagunya.


Evgen berjalan kearah teko air dan menuangkan air kedalam gelasnya. Meneguk habis dengan cepat, Evgen mengalihkan matanya, melihat Shenina yang mengusap dahinya karena berkeringat.


Evgen berjalan mendekati Shenina, ia menyodorkan gelas air itu kehadapan Shenina.


"Bibir elu kering, minum dulu gih," ucap Evgen lembut.


"Oh."


Shenina mendekatkan bibirnya kegelas yang disodorkan Evgen. Sedikit terkejut, Evgen meminumkan air itu ke Shenina.


Ia padahal hanya niat memberi gelas, tak menyangkan jika Shenina akan minum langsung dari tangannya.

__ADS_1


Evgen tersenyum lembut, ada perasaan hangat dan juga senang menembus kedalam hatinya.


'Kalau begini, besok kita kepasar lagi ya Shen,' lirih Evgen dalam hati


__ADS_2