Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
52


__ADS_3

Evgen tersenyum lembut, hatinya bersorak gembira. Mana mungkin Shenina memberikan bibit bunga kepada Rezi. Shenina si cewek kasar itu, bahkan semutpun tidak sudi berada didekatnya.


Shenina mengetuk kepala Evgen dengan gelas kosong.


"Heh, kepala elu kemasukan setan? cengar-cengir sendiri, kerasukan setan elu ya?" Tanya Shenina ketus.


"Elu setannya," balas Evgen ketus.


"Itu kotak isinya apaan?" Tanya Shenina penasaran.


"Kalau pingin tahu buka saja," ucap Evgen datar.


Shenina berjalan mendekati kotak itu, berjongkok didepan kotak dan membukanya perlahan.


Shenina mengernyitkan dahinya saat melihat isi didalam kotak tersebut. Dari mana Evgen mengambil anak ayam warna warni sebanyak ini?


"Elu nyuri anak ayam ini dimana?" Tanya Shenina ketus.


"Heh, elu pikir gue serendah itu mau nyuri barang-barang seperti ini?"


"Jadi? dari mana elu dapat?"


"Gue beli, bukan dapat!" Sanggah Evgen kesal.


"Hah? ngapain elu beli anak ayam begini? heh Evgen, elu pikir umur elu itu sebaya Seta?"


"Memang kalau umur gue sudah dewasa gak boleh beli ayam itu? belinya pakai uang gue, kenapa elu yang harus repot?" Evgen menyilangkan kedua tangannya didada, ia membuang pandangannya kesisi kosong.


"Terus anak ayam ini mau lu apain?"


"Gak tahu mau di apain," jawab Evgen lemah.


Ia hanya kasihan dengan anak kecil penjual anak ayam itu. Kalau bukan karena kasihan, ia bahkan tidak mau berurusan dengan hewan-hewan kecil seperti itu.


"Gak waras elu, ngapain elu beli kalau cuma mau lihat mereka mati?" tanya Shenina ketus.


"Siapa yang beli buat matiin mereka? Sudah untung mereka dibeli sama gue, lelaki tampan dan juga memesona seperti ini," jawab Evgen angkuh.


Sheninna menyungging sebelah bibirnya, masih bisa saja Evgen bertingkah angkuh seperti ini.


"Heh, elu pikir dia peduli mau yang beli orang tampan atau jelek. Mau yang beli anak buaya juga dia enggak peduli. Yang dia tahu, cuma makan dan poop saja," jawab Shenina kesal.


"Terus? Ya, biarkan saja mereka poop di sana. Gak ganggu elu juga," jawab Evgen enteng.


Shenina datang mendekat dan menjitak pucuk kepala Evgen. Ia benar-benar hilang kesabaran menghadapi lelaki angkuh ini.


"Terus anak ayam itu mau lu biarkan begitu saja? Tinggal dalam kotak dan saling pijak-pijakan?" tanya Shenina meradang.


"Ya, jadi mau bagaimana? Elu rawat sajalah."


"Elu pikir gue punya waktu senggang buat rawat mereka? Kalau mereka mati bagaimana?"


"Ya tinggal lu masak saja."


Pleeetak

__ADS_1


Shenina menjitak kepala Evgen dengan kuat. Ia hampir mati kesal dibuat oleh Evgen.


"Heh, elu pikir elu ada di level berapa? enak sekali main jitak-jitak kepala gue sembarangan!" Teriak Evgen keras.


"Gue jitak kepala elu biar otak elu itu bekerja. Jangan seenaknya saja beli ayam terus elu telantari begitu saja. Mereka juga hidup Evgen, mereka punya nyawa!" Tekan Shenina kesal.


"Jadi mau bagaimana?" Tanya Evgen tidak bersalah.


"Yah elu bawa pulang lah! elu buati kandang," jawab Shenina geram.


"Kandang dimana?"


"Terserah elu dimana! mau dihalaman belakang kek. Mau di kolam berenang kek, atau lu keloni dikamar juga gak masalah," jawab Shenina ketus.


"Kalau gue bawa pulang, memang elu gak cemburu?" Tanya Evgen kembali.


"Kenapa gue harus cemburu? memang siapa elu?"


"Ayam saja bisa tinggal dirumah gedung, masa elu enggak. Ha ha ha." Ledek Evgen senang.


Shenina memadam seketika, ia benar-benar murka dibuat oleh lelaki tengil didepannya ini.


"Sumpah ya Evgen, elu ngeselin banget!"


Evgen menarik tangan Shenina dan mendudukannya dipangkuannya. Memandang wajah Shenina dengan sangat lekat.


Sesaat Shenina terdiam, ia terkejut oleh perlakuan Evgen yang begitu spontan.


Shenina terdiam, raut wajah Evgen terlihat sangat jelas. Batang hidung mancungnya dan bibir Evgen yang kemerahan terlihat begitu jelas. Kulit wajahnya yang putih, mulus dan terawat, semuanya yang berada didalam wajah Evgen adalah ciptaan yang terbaik.


"Kenapa diam? lu kehabisan energi buat marah-marah?" Tanya Evgen lembut.


Evgen hanya tersenyum dan menarik pinggang Shenina agar lebih menempel padanya.


Mata Evgen memandang wajah Shenina dengan lekat, bibirnya tersenyum dengan lembut.


Evgen meraih helaian rambut Shenina yang berantakan. Merapikannya dengan lembut.


Sentuhan tangan Evgen membuat sekujur tubuh Shenina merinding. Halus kulit tangan Evgen yang menyentuh kulit wajahnya, membawa ia masuk kedalam pesona Evgen.


Walaupun Evgen memiliki sifat yang sombong, kasar dan angkuh. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa Evgen lelaki yang sangat tampan dan juga tinggi besar. Bentuk badan yang sangat bagus dan juga keren. Hampir setiap gadis disekolah terpesona olehnya.


Walau terkadang, kegantengannya itu tertutupi dengan sifat arogannya itu.


Evgen meraih sebelah pipi Shenina, mengelusnya dengan lembut. Perlahan Evgen menarik kepala Shenina, mendekat perlahan ke wajahnya.


Hangat buruan nafas Evgen menembus kulit pipi Shenina. Shenina memandangi wajah Evgen dengan mata bulatnya.


Semakin dekat jaraknya, semakin kencang terasa buruan nafasnya. Shenina memejamkan matanya, saat wajah Evgen benar-benar dekat dengannya.


Evgen memainkan ujung hidung mancungnya ke ujung hidung Shenina. Evgen tersenyum tipis dan melepaskan pegangan tangannya di kepala Shenina.


Evgen memindahkan badan Shenina dari atas pangkuannya. Evgen berdiri dan merenggangkan badannya.


"Gue balik ya," ucap Evgen sambil merenggangkan badannya.

__ADS_1


Shenina membuka matanya dan menundukan pandangannya. Mencoba menyembunyikan rona wajahnya yang sudah memerah padam.


Walaupun ia tidak menginginkannya, tapi kenapa ia kecewa saat hasil akhirnya begini?


Shenina menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya. Ia tidak berani untuk menatap wajah Evgen kembali.


Evgen mengambil kotak anak ayam itu dan berlalu pergi. Sama dengan Shenina, jantungnya hampir berhenti berdetak saat ia sedekat itu dengan Shenina.


Untung saja, ia bisa menahan diri sebelum semua itu terjadi.


Evgen menghela nafasnya, ia jantungan saat harus berada disituasi seperti itu lagi.


Dengan bersiul Evgen membuka pintu rumah besarnya. Banyak sekali kejadian hari ini yang membuat hatinya bersorak gembira.


Saat berjalan masuk, sudah ada Rezi yang menunggunya diujung anak tangga. Rezi menyilangkan kedua tangannya didada.


Evgen membalikan badannya dan memejamkan matanya.


"Mati gue, kak Rezi pasti akan marah. Sepertinya dia tahu potnya aku yang tendang."


"Evgen," panggil Rezi lembut.


Evgen membalikan badannya dan menyeringai kuda. Ia berjalan mendekati Rezi yang berdiri diujung anak tangga.


"Kakak, ngapain berdiri disini?" Tanya Evgen basa basi.


Rezi hanya diam, ia tak menjawab. Namun hanya menatap tajam kearah Evgen.


Melihat ekspresi Rezi, Evgen diam-diam ingin menaiki anak tangga. Namun badannya di hadang oleh Rezi.


"Kenapa buru-buru sekali? apa kamu punya salah?" Tanya Rezi lembut.


"Eh, salah apa Kak?" Tanya Evgen pura-pura bodoh.


"Pot bunga Kakak? kamu yang tendang kan?" Tanya Rezi dingin.


Evgen tergagap saat ingin menjawab. Melihat wajah Rezi yang terlihat garang, semakin membuat ia takut saja.


"Eh, mana mungkin. Dimakan kambing kali?"


"Apa kamu pikir Kakak ini anak kecil? bisa kamu bohongi dengan alasan seperti itu?" Tanya Rezi dingin.


Evgen mengelus tengkuk lehernya dan menyeringai kuda.


"Maaf Kak, aku gak sengaja," jawab Evgen lemah.


Rezi menghela nafasnya dan mendekati Evgen.


"Dek, Kakak mohon jangan dekati bibit itu lagi. Kakak bertanggung jawab untuk bibit itu Dek."


"Iya, Maaf Kak."


Evgen mengambil tangan Rezi dan memberikan kotak itu ketangan Rezi.


"Ini gantinya buat Kakak. Aku naik dulu ya Kak." Evgen langsung berlari menyusuri anak tangga, menjauh dari Rezi secepat yang ia bisa.

__ADS_1


Rezi terheran, ia bingung dengan kotak yang diberikan Evgen itu. Perlahan Rezi membuka kotak itu, ia menggelengkan kepalanya dan menepuk dahi, saat melihat isi dalamnya.


"Haduh," lirih Rezi pasrah.


__ADS_2