Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
97


__ADS_3

"Balik yuk! Biar gue antar elu pulang," ajak Evgen lembut.


Shenina menganggukan kepalanya dan bangkit, berjalan kembali menuju rumah tuanya.


"Shen, besok jangan datang lagi ke cafe itu ya. Kalau elu mau kerja, elu bisa datang ke hotel pesisir putih. Lu bisa jadi Room Boy, Resepsionis ataupun Waiters di restoran hotel Papa gue."


Shenina menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan lembut.


"Gak usah Evgen. Gue gak mau ngerepoti orang lain. Gue masih bisa usaha sendiri kok," balas Shenina lembut.


"Gak usah nolak, lu kan bisa kerja dengan lebih enak di sana. Tenang aja, di sana elu gak bakalan dapet perlakuan seperti di cafe itu. Karena Papa gue, gak suka dengan hal-hal yang begitu."


"Gak usah Evgen, gue gak enak kalau terus ngerepoti elu."


Evgen berdecak kesal dan menghentikan langkahnya. Menarik lengan tangan Shenina, memutar badan gadis mungil itu agar bisa berhadapan dengannya.


"Ngerepoti apanya sih? Elu kerja sendiri, elu yang berusaha dan elu yang neglakuin semunya sendiri. Elu akan di gaji atas usaha elu, bukan atas nama gue. Jadi ngerepoti gue di mana?" tanya Evgen ketus.


"Tapi gue kan masih sekolah, mana mungkin mereka mau nerima gue," jawab Shenina lembut.


"Siapa yang bilang gak mau nerima? Coba saja datang dan tanya dulu. Gue akan bilang sama Papa kalau elu akan kerja di sana," bujuk Evgen lembut.


Shenina menghela napasnya dan melihat wajah Evgen dengan lekat.


"Tapi Evgen--"


"Gak mau dengar alasan, pokoknya besok pulang sekolah elu ikut gue ke hotel, ayo jalan!" Tarik Evgen lembut


Shenina tersenyum lembut, berjalan mengikuti langkah Evgen yang menyeretnya dengan lembut.


Terkadang walaupun kasar dan ketus, namun lelaki ini tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan tulus.


***


Neha memeluk lengan tangan Rezi dan menjatuhkan kepalanya ke atas bahu Rezi. Memperhatikan layar datar Rezi yang penuh dengan kode-kode rumit.


Rezi melirik ke wajah Neha, menarik ujung hidung mancung Neha karena geram.


"Lelah?" tanya Rezi lembut.


Neha menganggukan kepalanya, menghela napasnya dengan berat.


"Maaf ya, kencan kita malah aku rusak dengan buat project akhir," sambung Rezi kembali.


Neha memanyunkan bibirnya dan menganggukan kepalanya.


"Mau makan sesuatu? Aku gak tega lihat kamu nemeni aku dari siang sampai malam begini," ucap Rezi lembut.


Neha menggelengkan kepalanya, ia meraih ponsel Rezi yang berada di saku kemejanya. Menulis dengan cepat untuk diperlihatkan oleh Rezi.


(Gak masalah, aku senang kok bisa nemeni kamu saat begini, ayo makan). Neha tersenyum dengan lembut saat Rezi menatap kearahnya.


Rezi meraih sebelah pipi putih Neha dan mengelusnya lembut.


"Tunggu sebentar, aku siapin ini sedikit lagi ya. Setelah itu kita makan. Mau?" tanya Rezi kembali.


Neha mengangguk dan kembali memeluk lengan tangan Rezi. Menumpuhkan kepalanya di bahu besar milik lelaki lembut itu.


Setengah jam kemudian, Rezi masih sibuk dengan project yang ia kerjakan. Tak ia sadari, jika saat ini gadis yang sedang menyandar di bahunya sudah tertidur dengan pulas.


Rezi mennyentuh tengkuk lehernya, mencoba untuk mengusir rasa lelah. Karena pergerakannya yang sedikit lasak, kepala Neha malah terjatuh dalam pangkuannya.


Rezi mengernyitkan dahinya, mengambil kepala Neha yang tetap tertidur walaupun sudah terjatuh.

__ADS_1


Ia melepaskan senyumnya dan menggeleng lembut. Memindahkan posisi duduknya agar Neha bisa tertidur lebih nyaman.


Selema beberapa jam, ia hanya diam dan menatapi wajah Neha yang sedang tertidur dengan pulas.


Entah memang suka tidur atau sulit bangun saat sudah tertidur. Namun Neha sangat nyaman tidur di mana saja.


Lagi, sisi lain dalam diri Neha yang baru Rezi ketahui. Membuat ia semakin jatuh cinta oleh gadis ini.


Polos dan juga lembut. Neha, seandainya senja itu ia tidak datang memberikan payung pada gadis cantik ini. Mungkin lelaki itu akan melewatkan manisnya kisah cinta ini dalam hidupnya.


Perlahan gerakan dari dalam bola Neha mulai terlihat. Ia membuka matanya perlahan dan langsung terduduk.


Terkejut setengah mati saat ia tertidur di pangkuan Rezi dalam waktu yang cukup lama.


Neha memandang kearah Rezi, dari binar matanya ia seperti ingin bertanya sesuatu. Rezi menganggukan kepalanya, menggoda gadis yang ada di sampingnya saat ini.


Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Malu oleh tingkahnya sendiri.


"Neha kamu kenapa?" tanya Rezi menggoda.


Gadis itu kembali menggeleng, menutupi wajahnya rapat-rapat.


Rezi bangkit dan membereskan tasnya, ia mencoba membuka kedua telapak tangan Neha yang menutupi wajah cantiknya.


"Ini sudah sangat malam, ayo kita makan dan setelah itu aku antar kamu pulang," ajak Rezi lembut.


Neha menghela napasnya, merapikan helaian rambutnya dan bangkit perlahan.


Sebuah tangan memakaikan jaket ke atas bahu Neha. Gadis itu langsung melirik ke wajah si pemilik tangan.


"Angin malam gak bagus buat kamu, aku takut kamu sakit, Sayang," ucap Rezi yang seakan mengerti tatapan mata gadis cantik itu.


Neha menundukan pandangannya, perlahan rona merah menghiasi pipi putihnya. Nyaman, Rezi adalah tempat ternyamannya saat ini.


***


Chen menghentikan kayuhan kakinya, memberhentikan sepeda yang sedang melaju dengan oleng.


"Lu bisa bawa sepeda gak sih?" tanya Aya jutek.


"Bisa! Tapi gue sudah lama gak bawa sepeda, jadi agak kaku sedikit Soraya," jawab Chen lemas.


"Turun lu!" perintah Soraya sambil menuruni boncengan sepeda mereka.


Chen hanya bisa menghela napasnya, mengikuti perintah Soraya, turun dari jok sepeda.


Soraya menaiki jok sepeda itu, mengambil alih setir sepeda.


"Naik lu!" perintahnya kembali.


"Aya gue ini laki-laki, masa elu yang boncengin gue sih?"


"Memang kenapa? Gak suka? Yasudah ayo pulang saja," jawab Soraya ketus.


"Oke, oke. Gue akan naik, tapi kita lanjuti kencannya ya," pinta chen mengalah.


"Hem," balas Soraya cuek.


Soraya mulai mengkayuh pedal sepedanya perlahan. Berjalan santai mengitari taman kota.


Sementara Chen hanya bisa duduk diam di boncengan. Mengikuti kemauan Soraya, yang katanya rindu suasana Beijing.


Entah apa hubungannya naik sepeda dan Beijing. Namun demi cintanya pada Soraya, Chen hanya bisa mengikuti keinginan gadis itu.

__ADS_1


...


"Eh, Neha bisa tolong bantu aku?" tanya Rezi di tengah perjalanan mereka.


Neha memainkan tangannya, di bantu oleh gerakan dari bibirnya.


"Bisa tolong taruh ransel aku di bagasi mobil gak? Kata makan di sana saja ya." Tunjuk Rezi ke cafe di sebelah taman.


Neha menganggukan kepalanya, meraih tas ransel yang diberikan oleh Rezi. Matanya menatap laptop yang berada di salah satu tangan Rezi.


"Oh, laptopnya gak usah," ucap Rezi saat menyadari pandangan mata Neha.


Neha kembali mengangguk, berjalan kearah parkiran mobil Rezi. Dengan cepat tangannya membuka bagasi mobil Rezi.


Puluhan balon berwarna putih keluar dari bagasi mobil Rezi. Terbang tinggi menjejaki langit malam.


Sedang, Neha hanya terpaku, melihat puluhan balon-balon itu saling berebut keluar dari bagasi sempit mobil Rezi.


Matanya menatap kagum pada indahnya langit gelap malam yang berhiaskan putih balon yang berterbangan itu.


"Suka?" bisik Rezi lembut di telinga Neha.


Neha langsung membalikan badannya, menatap lelaki yang berdiri di belakangnya itu.


"Lihat itu." Rezi menunjuk kearah dalam bagasi mobilnya.


Ada hiasan kelopak bunga mawar putih yang memenuhi lantai bagasi mobil Rezi, dengan sebuah kotak beludru berwarna biru di atas kelopak itu.


Rezi berjalan mendekati bagasi mobilnya, mengambil kotak biru itu dan menarik jemari tangan Neha.


"Neha, beberapa kali aku melamarmu. Namun aku tidak pernah memberikan apapun padamu."


Rezi mengambil ransel di tangan Neha, meletakannya di bawah. Duduk sambil menatap Neha diatas bagasi mobilnya.


"Aku, memang tidak bida menikahimu sekarang. Tidak bisa juga menyiapkan pesta pertunangan sekarang. Tapi maukah kamu memakai cincin ini dulu dan menjadi milikku?" tanya Rezi lembut.


Neha menundukan pandanganmya, bibirnya tersenyum dengan lembut. Ia mengangguk perlahan.


Mengukir lengkungan indah di wajah manis lelaki lembut itu. Rezi memakaikan cincin itu ke jari manis Neha.


Menarik pingang Neha untuk lebih dekat dengannya. Meraih sebelah pipi putih gadis itu yang terus merona semakin merah.


"Neha, sumpah. Aku sangat jatuh cinta padamu," ucap Rezi lembut.


Rezi menarik kepala Neha perlahan, menikmati embusan hangat napas Neha yang mulai memburu, menerpa kulit wajahnya.


Sementara, kayuhan kaki Soraya mulai melemah. Saat tanpa sengaja matanya melihat Rezi dan Neha berciuman di parkiran taman.


"Aya kenapa berhenti?" tanya Chen tak tahu apa-apa.


"Hei Soraya!" panggil Chen keras.


Namun Aya masih terdiam, membiarkan dadanya sesak oleh pemandangan di depannya saat ini.


Chen turun dan mendekati Aya, ia mengalihkan pandangan matanya saat melihat sorot mata Soraya menatap tajam ke arah parkiran.


Chen langsung menarik badan Soraya, membenamkan wajah Soraya kedalam dada bidangnya.


Soraya berusaha membalikan badannya, namun lebih cepat Chen memutar badannya. Menyembunyikan Soraya dalam dekapannya.


"Jangan sedih Soraya, ada gue. Gue yang akan melindungi elu dari semua ini," ucap Chen lembut.


Chen mencium pucuk kepala Soraya dengan lembut. Mengeratkan dekapannya pada tubuh ramping gadis manis itu.

__ADS_1


"Nangis saja jika ingin menangis, tumpahkan segalanya Soraya. Tumpahkan saat gue berada di dekat elu. Gue bersedia, ikut menanggungnya bersama dengan elu."


__ADS_2