Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
107


__ADS_3

"Evgen," panggil Sean saat melihat putranya itu lewat di depannya.


"Hem."


"Dua bulan lagi, kamu akan ujian akhir, kan?"


"Iya," jawab Evgen pasrah.


"Kamu harus benar-benar menyiapkan diri, saat ini London masih berada di penghujung musim gugur. Jadi, kamu baru bisa berangkat ke London, sebulan setelah ujian."


"Iya, aku mengerti, Pa."


"Papa sudah mengurus semua yang kamu perlukan untuk masuk kesana, jadi kurangi keluyuranmu dan banyak belajar," titah Sean tegas.


"Baik, Pa," jawab Evgen lembut.


Evgen kembali melanjutkan langkahnya, namun baru dua langkah berjalan, Evgen kembali berbalik, ikut duduk bersama Sean di sofa ruang tengah.


"Pa,"


"Iya."


"Bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau aku omongin sama Papa, berdua," pinta Evgen lembut.


Sean tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia paham, maksud ucapan anaknya tersebut.


"Papa sudah mengurus apa yang memang harus Papa urus. Kamu tenang saja, tunggu saja kabar baiknya," jawab Sean langsung.


Evgen tersenyum dan mengganggukan kepalanya. Puas oleh jawaban yang diberikan oleh Papanya itu.


"Eh," ucap Megi saat membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Ada apa?" tanya Sean penasaran.


"Kak Mika bilang akhir minggu ini, mereka mau nerima tamu," ucap Megi senang.


"Maksudnya?" tanya Sean tak mengerti.


"Akhir minggu ini, Kak Mika terima tamu untuk lamaran Soraya," jelas Megi sekali lagi.


"Soraya mau lamaran?" tanya Sean tak percaya.


"Ehm."


"Sama siapa? Kok tiba-tiba?"


"Aku juga gak tahu sama siapa? Mungkin sama pacarnya yang sudah tiga tahun itu," jawab Megi lembut.


"Ari? Aku rasa enggak lah, Ma," jawab Evgen cuek.


"Kok enggak?"


"Aku pernah jumpa sama Soraya, sepertinya dia sudah punya pacar baru. Kelihatannya juga lebih muda dari Soraya," jelas Evgen kembali.


"Hem, Soraya sama berondong? Masa sih? Kok mau?"


"Kenapa enggak mau? Lagian sepertinya, lelaki yang dipacari oleh Soraya lebih baik dari Ari. Sepertinya dia lebih tulus dibandingkan lelaki yang selalu diharapkan sama Soraya."


"Kamu kok tahu? Kenal? Coba ceritain sama Mama seperti apa orangnya?"

__ADS_1


"Ya ganteng, walau gak seganteng aku," jawab Evgen angkuh.


Megi menaiki sebelah bibirnya, memang angkuh sekali gaya putranya itu. Tak ubah oleh Papanya waktu muda. Walaupun pada kenyataannya mereka berdua memang diakui ketampanannya.


Megi melingkari tangannya di bahu Sean, menjatuhkan kepalanya di atas bahu Sean.


"Gak terasa kita sudah pada tua ya Kak, keponakan kesayangan aku akan segera menikah," ucap Megi lemah.


"Iya, gadis kecil Mika, akan segera membawa menantu kerumahnya," balas Sean lembut.


"Gadis kecilku, rasanya baru kemaren dia lahir dan selalu hancurin desain aku. Sekarang sudah mau menikah saja. Aku rasanya gak rela, Kak," ucap Megi sedih.


"Hanya lamaran, belum tentu menikah, kenapa Mama melow begitu?" tanya Evgen ketus.


"Evgen, setelah kamu punya anak, kamu juga akan tahu rasanya bagaimana kalau anak kamu akan menikah," jawab Megi jutek.


"Tapi kan aku belum menikah," jawab Evgen ketus.


"Memang anak Mama cuma kamu saja? Ayolah Evgen, bersenanglah untuk Kakak sepupu kamu."


"Ya, aku senang," jawab Evgen malas.


"Mana ada orang senang dengan ekspresi menjelekan seperti itu."


"Megi, sudahlah. Evgen lagi mempersiapkan ujiannya. Berhentilah bertengkar dengannya," tengah Sean lembut.


"Kak, bagaimana lagi kalau Rezi yang mau menikah ya? Aku rasanya gak rela." Peluk Megi semakin erat.


"Kalau aku yang nikah lagi, kamu rela gak?" tanya Sean menggoda.


"Kakak apaan sih? Awas saja kalau berani, aku bawa semua anak-anak pindah ke Beijing," ancam Megi ketus.


"Huh sudah tua, sudah tua. Malu sedikit kenapa? Gombal terus, ngalahin yang muda saja," ucap Evgen ketus.


"Kenapa kamu yang marah? Kamu ngiri ya? Gak mampu gombalin Shenina," ledek Sean ketus.


"Hah iya, aku ingat." Evgen bangkit dan ikut melilitkan tangannya di bahu Sean.


"Papa ajarkan trik apa padaku? Kenapa Shenina malah ditikung orang lain?"


"Evgen, sopanlah sedikit dengan Papa kamu? Ini lepas!" Pukul Megi di tangan Evgen yang melingkari bahu Sean.


"Mama pelit banget sih? Gak bisa sedikitpun suami kesayangannya ini disentuh," sanggah Evgen ketus.


"Suka-sukalah, Papa milik Mama, memangnya mau apa?" Megi memeluk bahu Sean semakin erat.


Sementara Sean hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa, selalu ada saja hal yang membuat ibu dan anak ini bertengkar.


"Yasudah, Mama karungi sana! Atau Mama ikat rantai saja Papa ini. Sama anak juga gak mau ngalah, serakah. Mama serakah!" ucap Evgen kesal.


Ia bangkit dan menaiki anak tangga rumahnya. Kalau ada Megi, mana mungkin bisa, dia membuat perhitungan dengan Papanya.


Sean tersenyum simpul dan melirik kearah Megi.


"Puas?" tanya Sean tersenyum lebar.


"Puas dong, Kakak ini milik aku, selamanya hanya boleh milik aku!" ucap Megi mempertegas.


***

__ADS_1


Megi membuka pintu kamar Soraya, melihat keponakannya yang sudah tampil cantik dengan balutan dress berwarna nude.


"Aya," panggil Megi lembut.


"Tante."


"Kamu cantik banget sayang. Sini, Tante kasih sentuhan terkahir biar cantik kamu semakin terlihat." Megi menarik tangan Soraya dan mendudukan Soraya di depan kaca.


Melilitkan sebuah hiasan kepala di atas kepala Soraya.


"Tante ini," tanya Soraya saat melihat hiasan kepala yang di berikan oleh Megi.


"Hadiah untuk kamu, Sayang."


Soraya membalikan badannya dan melihat wanita dewasa yang ada di hadapannya itu.


"Tante, makasih banyak ya." Soraya melilitkan tangannya di pinggang Megi.


Memeluk erat badan mungil wanita yang sangat dekat dengannya itu.


Sementara, Irena dan Rara sedang sibuk mempersiapkan masakan untuk jamuan tamu mereka malam ini.


Walau Soraya memberikan kabar yang mendadak. Namun mereka berusaha untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.


"Rezi baru mengenalkan calonnya, tapi elu malah nikung gue mau menikahi anak gadis elu," ucap Sean tak terima.


Mika hanya tersenyum tipis, melirik kearah jam di dindingnya. Sedikit tegang, menunggu calon menantunya datang.


"Santai saja, Kak. Seperti elu saja yang mau menikah," ledek Mirza, senang.


"Entah, seperti gak pernah melamar wanita saja," sambung Sean memanasi.


"Kalian ini, bisa tenang sedikit enggak sih?" tanya Mika malas.


Sean dan Mirza saling melemparkan pandangan. Lucu melihat ekspresi Mika yang begitu tegang, kakinya tak berhenti bergoyang.


Tak lama, terdengar suara ketukan dari balik pintu.


"Nah itu, sepertinya mereka sudah tiba. Biar gue bukakan untuk elu, ya," ucap Sean senang.


"Gak usah. Lebih baik kalau gue saja yang nerima tamu." Mika menghela napasnya.


Berjalan ke arah pintu, walaupun bukan ia yang ingin melamar. Namun ia merasa tegang dan juga bingung. Tak sangka kalau anak sulungnya akan menikah secepat ini.


Mika membuka kedua daun pintu rumahnya. Empat orang berdiri, sudah menunggu di teras rumahnya.


Seketika pegangan tangan Mika terlepas, saat matanya menangkap sosok wanita yang sudah puluhan tahun ini, tidak pernah ia jumpai.


Dengan dress hitam yang membalut tubuh rampingnya. Dengan gaya modis dan juga elegan. Wajah yang masih terlihat sangat cantik, walaupun dengan usia yang tidak lagi muda.


Sama dengan Mika, wanita itu juga sangat terkejut saat ia mengenali lelaki yang akan menjadi besannya itu.


Buah tangan yang ia bawa hampir terlepas, saat melihat lelaki tegap yang berada di ambang pintu itu.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Chen saat melihat ekspresi dua orang yang baru bertemu itu, sedikit aneh.


"Mika," ucap wanita itu sedikit gemetar.


"Iya, ini gue, Mika. Setelah puluhan tahun gak berjumpa, elu masih gak berubah, masih cantik seperti sebelumnya, Hana."

__ADS_1


__ADS_2