
7 tahun kemudian.
Rezi berlari sekencang yang ia bisa, melewati koridor rumah sakit. Mencari keberadaan Megi, Rezi menghentikan langkahnya saat melihat Megi sedang duduk di kursi penunggu.
"Ma, bagaimana keadaan Neha?" tanya Rezi dengan mengambil napas yang memburu kencang.
"Kamu duduk dulu dan tenang, ambil ini." Megi menyodorkan sebotol air mineral dan duduk di samping Megi.
Membuka penutup botol itu dan meneguknya dengan cepat. Tangannya menghapus buliran keringat yang mengalir deras dari dahinya.
"Neha, apa sudah melahirkan?" tanya Rezi kembali.
"Belum, kalau kamu sudah tenang. Masuk sana!" perintah Megi lembut.
Rezi memasuki ruangan bersalin, melihat istrinya yang tengah berjuang melahirkan anak pertamanya.
"Neha, kamu baik-baik saja?" tanya Rezi sembari mendekati Neha.
Menggenggam jemari tangan Neha dan mengelus dahi wanita cantik itu.
Neha menganggukan kepalanya, wajahnya mulai memucat. Sudut matanya tak berhenti mengeluarkan cairan.
Neha kembali mendorong bayinya saat mendengar aba-aba yang diberikan oleh Dokter bersalinnya.
Berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan anak pertamanya itu.
"Kuat lagi, Neha," ucap Dokter itu lembut.
"Ahhhhh!" lirih Neha menahan sakit.
"Ayo, Sayang. Berjuanglah!" ucap Rezi menyemangati.
Seketika Rezi terdiam, ia baru tersadar bahwa baru saja Neha mengeluarkan suaranya.
"Neha, coba teriak sekali lagi," pinta Rezi terkejut.
"Uhhhhh." Neha menggigit bibir bawahnya, matanya kembali mengeluarkan cairan bening yang melintasi pipinya.
Rezi berdiri dengan tegak, matanya menatap istri cantiknya yang tengah kesakitan itu.
Ia tidak percaya, bahwa Neha bisa mengeluh saat menahan sakitnya. Apakah ini sebuah keajaiban atau hanya perasaannya saja?
"Pak Rezi, kenapa melamun? Ayo sedikit lagi ini bayinya keluar," ucap Dokter itu lembut.
Rezi tersadar, ia kembali mengenggam jemari tangan Neha. Namun matanya masih tidak bisa lepas dari wajah istrinya itu.
Ia mendengar, bahwa beberapa kali istrinya itu merintih menahan sakit. Ini bukan hanya ilusi, ini kenyataannya.
***
"Bagaimana, Dok?" tanya Rezi cemas.
Dokter itu tersenyum lembut, memberikan selembar kertas ke hadapan Rezi.
"Memang ada beberapa kasus, seorang tunawicara bisa mendapatkan lagi suaranya saat keadaan ia terdesak atau memamg dia memaksakan suaranya untuk keluar." jelas Dokter itu lembut.
"Lalu?"
"Dalam kasus ini, Neha memiliki semua kriterianya. Ia memiliki pita suara, operasi akan membantunya untuk mendapatkan suaranya kembali."
"Tapi Neha menolak untuk operasi, aku sudah pernah meminta dia untuk melakukannya. Dia tidak mau. Aku, aku benar-benar mendengar dia merintih saat melahirkan anak kami, Dokter," jelas Rezi bingung.
__ADS_1
"Jangan panik, kita lakukan pemeriksaan lagi setelah keadaan Neha membaik."
"Dok, mungkinkah Neha mendapatkan suaranya tanpa harus operasi?" tanya Rezi lembut.
"Mungkih saja, kita tidak tahu Rezi. Kadang di dunia ini ada yang namanya keajaiban Tuhan. Karena semua telah Dia rencanakan. Tidak ada yang namanya kebetulan, semua hanya berjalan pada takdir yang telah Tuhan tuliskan," jelas Dokter itu kembali.
Rezi tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Ia yakin sekali, bahwa ia memang mendengar Neha merintih.
Jika memang keajaiban itu ada, mungkin Neha adalah salah satu orang yang memiliki keberuntungan itu.
Mungkin ini juga karma baik, atas apa yang telah Neha alami selama ini.
***
Evgen membuka pintu apartemennya, melemparkan jas yang ada di tangannya ke atas sofa. Melepaskan kancing kemejanya agar bisa menghirup udara sedikit lebih lega dari sebelumnya.
Evgen menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa. Membuka pesan suara miliknya.
"Sir, Mr. Alex is calling you. He wants to meet with you to discuss the building of the hall."
Evgen menghela napasnya dengan sedikit berat. Sudah dua hari ia tidak pulang. Namun pesan suara yang tertinggal hanya tentang pekerjaannya.
Setelah mengalami kegagalan dua tahun lalu. Evgen berusaha sekuat tenaganya untuk mengembalikan nama yang telah rusak karena persaingan dengan lawan.
Namun tanpa ia sadari, sekeras apapun ia berusaha saat ini. Waktu dua tahun itu tak akan pernah kembali.
Janjinya pada Shenina telah terlewati begitu saja. Karena insiden itu, ia kehilangan kesempatan untuk bisa kembali bersama.
Saat ini di dalam pikirannya, hanya berusaha untuk membangun nama setinggi yang ia bisa. Membalaskan dendamnya pada lawan yang telah membuat kesempatan ia hilang.
"Sir, Mr. Higuain is asking for your news. He also asked, would you meet him in Sevilla?"
Tangan Evgen terhenti saat ia mendengar pesan terakhir.
"Hai, Boy. Kamu kapan akan pulang? Tidak maukah kamu mengatakan selamat atas kelahiran putra pertama Kakak?"
Evgen tersenyum, ia mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya. Sengaja ia mematikan ponselnya saat ia sedang sibuk menyelesaikan gambar.
Evgen mencoba menghubungi nomor kakaknya itu. Setelah beberapa detik panggilan itu tersambung.
Rezi tersenyum lembut, ia memperlihatkan wajah putranya ke Evgen.
"Congratulations on the birth of the first son, Brother," ucap evgen langsung.
"Hei, ada apa ini? Setelah tujuh tahun tidak kembali, apakah kamu lupa bahasa Indonesia?" tanya Rezi menggoda.
Evgen melepaskan tawanya dan menggeleng pasrah.
"Bagaimana kabar kamu di sana?"
"Aku?" Evgen mengernyitkan dahinya dan mengangguk lembut. "Sangat lelah, aku sudah dua hari tidak tidur dan tidak pulang ke apartemen," jelas Evgen lembut.
"Jangan terlalu dipaksa, Dek. Kapan kamu akan pulang?"
"Aku mungkin akan pulang akhir tahun nanti. Aku mau mengurus beberapa data untuk pindah warga negara," jawab Evgen lembut.
"Apa? Pindah warga negara? Yanga benar saja, Evgen?" tanya Rezi terkejut.
"Ada pekerjaan di Spanyol, Kak. Aku akan bekerja untuk pemerintahan. Karena itu, aku harus pindah warga negara. Aku akan menetap di Spanyol."
"Evgen, pikirkan lagi. Papa tidak akan setuju, pindah warga negara? Sementara keluargamu semua ada di sini," bujuk Rezi lembut.
__ADS_1
"Jadi aku harus bagaimana, Kak? Aku gak mau tertahan di London saja. Aku benar-benar harus bangkit dan membalaskan dendamku padanya," jawab Evgen menggeratakan tangannya.
Ia masih ingat dendam dua tahun lalu yang mengharuskan ia tertahan di kota ini. Bagaimana ia bisa lupa, karena hal itu ia masih tertahan di kota ini sampai saat ini. Menahan segala rasa penyasalan atas hutang yang tidak bisa ia bayarkan pada gadis pujaannya itu dulu.
"Ini sudah dua tahun, Dek. Dan karena masalah itu namamu melambung tinggi sekarang. Kenapa masih harus di permasalahkan lagi? Bukannya saat ini pun kamu sudah berada di atas dia?"
"Kak! Karena masalah itu aku hampir masuk penjara! Aku hampir dideportasi dari London dan dicabut gelarku. Apa kakak pikir aku bisa menerimanya seperti ini saja? Jangan harap dia bisa lepas dari Evgen Aulia, bahkan ke pintu neraka pun aku tidak akan melepaskan dia!" ucap Evgen membara.
Rezi menghela napasnya, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Jika ini dilanjutkan, maka masalahnya akan panjang.
"Jadi, tidak bisakah kamu pulang sebentar saja? Kamu gak datang di pernikahan Kakak. Sekarang kamu juga gak mau datang di akikahan anak Kakak? Kakak sudah menantikan anak ini selama lima tahun, Dek. Sebenarnya Kakak ini masih siapa kamu?" tanya Rezi mengalah.
Evgen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku gak bisa, Kak. Aku masih harus mengawasi pembangunan gedung. Tapi Kakak jangan khawatir, aku pasti akan bawa banyak oleh-oleh saat pulang nanti."
"Kakak gak butuh oleh-oleh. Kakak butuh kamu," jawab Rezi merajuk.
Evgen melepaskan senyumnya, ia merebahkan badannya di atas sofa.
"Evgen, apakah kamu tidak merindukan gadismu itu? Apakah kamu tidak ingin pulang melihat keadaannya?" tanya Rezi kembali.
"Gadisku? Aku akan menemuinya saat pulang akhir tahun. Aku juga berniat untuk membawanya ke Sevilla untuk liburan," jawab Evgen lembut.
"Evgen, keadaan gadismu tidak baik, Dek. Gadismu itu mengalami kecelakaan."
"Apa?" Seketika Evgen terduduk, ia terkejut setengah mati mendengar ucapan Rezi.
"Jangan main-main sama aku, Kak. Aku bakalan marah besar sama Kakak, kalau Kakak jadikan Yi Wen untuk membujukku pulang. Apalagi sampai bilang Yi Wen terluka, aku tidak akan memaafkan Kakak!" ancam Evgen tegas.
"Siapa yang ingin membujukmu? Saat ini gadis yang sangat kamu cintai itu memang sedang terluka, kalau kamu mau. Kakak akan berjalan menuju kamar inap dia," ucap Rezi meyakinkan.
Rezi keluar dari ruangan Neha, berjalan melewati beberapa bangsal. Rezi memperlihatkan seorang gadis yang sedang tertidur dengan infus di tangannya.
"Yi Wen," lirih Evgen lembut.
"Apa yang terjadi dengan gadisku itu Kak? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" tanya Evgen mulai cemas.
"Gadismu itu sedang tidak sadarkan diri, ia sering memanggil namamu saat Kakak mengunjunginya. Evgen, tidak bisakah kamu pulang menemui dia, mungkin dia--" Rezi menggantungkan kalimatnya dan menutupi wajahnya.
"Aku akan membunuh Kakak, kalau Kakak berani mengucapkan kalimat itu!" ancam Evgen lembut.
"Siapa yang membuat dia seperti itu? Katakan padaku, Kak. Dia belum tahu, aku akan melumatkan tulangnya jika gadisku kenapa-kenapa." Evgen mematikan ponselnya.
Ia langsung menurunkan kopernya dan memasuka barang-barangnya. Segera memesan tiket untuk pernerbangan menuju Indonesia.
"Thalia, I have to go back to Indonesia. Please take care of everything while i'm gone."
Evgen mengendarai mobilnya menuju bandara. Tidak peduli pada apapun lagi, jika itu sudah menyangkut gadis kesayangannya itu. Evgen bisa meninggalkan segalanya. Termasuk juga mimpinya.
Gadis itu yang telah mengisi kekosongan hatinya selama ini. Ia menyayangi gadis itu melebihi apapun. Bahkan ia bisa meninggalkan dunianya begitu saja saat gadis itu terluka.
Evgen menatap ke luar jendela. Melihat sekumpulan awan yang melepaskan kepergiannya untuk kembali ke Indonesia.
"Yi Wen, bersabarlah Sayang. Aku akan datang," lirih Evgen cemas.
Evgen menjatuhkan kepalanya di atas sandaran pesawat. Mengingat wajah polos gadisnya itu semakin membuat ia rindu.
"Yi Wen, aku mohon, bersabarlah. Aku pasti akan membawamu untuk tinggal bersamaku di Sevilla. Karena dari itu, jangan tinggalkan aku, Yi Wenku."
__ADS_1