Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
133


__ADS_3

Rezi membuka pintu kamar inap gadis kecil itu, mengambil jemari mungil gadis itu dan menciumnya lembut.


Gadis itu membuka matanya, terkejut melihat Rezi ada di sana.


"Kak Rezi, kenapa?" tanyanya berusaha sadar sepenuhnya.


"Bagaimana tanganmu, Wen'er? Apa masih sakit?" tanya Rezi lembut.


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, duduk di atas ranjang.


"Kakak ada kabar untukmu."


"Kabar apa?" tanya Wen'er bingung.


"Kamu sudah menjadi Gūgū--Bibi terkecil dalam bahasa mandarin. Senang tidak?" tanya Rezi sambil mengelus pucuk kepala gadis kecil itu.


"Bayi kak Neha sudah lahir?" tanyanya senang.


Rezi menganggukan kepalanya dan tersenyum lembut.


"Ah ... aku mau lihat." Wen'er membuka selimutnya dan ingin segera berlari.


"Eh tunggu dulu!" tahan Rezi cepat.


"Kenapa?"


"Kamu gak boleh ke sana dulu. Kakak mau minta bantuan sama kamu, boleh?" tanya Rezi lembut.


"Hem, bantuan apa?" tanya Wen'er bingung.


Rezi membisikan kalimatnya ke telinga Wen'er. Gadis itu mendengarkan dengan seksama.


Bola matanya memutar, lalu ekspresinya berubah ceria seketika.


"Kak Rezi beneran?" tanya Wen'er senang.


Rezi menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Oke, aku bantuin kak Rezi. Tapi kalau sampai Kak Rezi bohong. Aku akan menghajar Kakak sampai mati," ancam Wen'er ketus.


Rezi melepaskan senyummya dan meraih kepala gadis kecil itu. Mengelusnya dengan sedikit gemas.


"Kamu, semakin mirip dengan Kakak kesayanganmu itu," ucap Rezi lembut.


***


Evgen berlari sekencang yang ia bisa, keluar dari bandara dengan tergesa. Evgen mencegat taksi yang baru saja melintas di depannya.


Meminta sang supir agar melajukan taksinya dengan cepat menembus padatnya jalanan ibukota.


"Pak, bisa gak cepat sedikit? Saya harus buru-buru ke rumah sakit," pinta Evgen cemas.


"Mas jalanan sedang macet, bagaimana bisa cepat?" tanya sang supir itu.


Evgen menggoyangkan kakinya, menunggu jalanan untuk sedikit lebih lengah. Namun ia tidak sabar, Evgen menuliskan sebuah alamat dan memberikan ke supir tersebut.


"Pak, ini ongkos untuk Bapak. Antarkan koper saya ke alamat ini. Saya akan turun di sini saja."


Supir itu melihat ke arah uang yang Evgen berikan. Sedikit enggan, ia menerima uang yang Evgen berikan.


"Mas, gak ada rupiah saja ya? Ini uang apa?" tanya supir itu bingung.


"Ini pound sterling, Bapak tukar saja ke bank, kalau bank tidak terima, balik ke alamat rumah ini untuk minta biaya sekalian ganti ruginya."


Supir itu melepaskan senyumnya dan menganggukan kepalanya.


"Terima kasih, Mas."


Evgen langsung berlari menuruni taksi tersebut. Menyusuri jalanan padat ibukota.

__ADS_1


Evgen menghela napasnya, mengambil napas yang memburu kencang saat berada di depan rumah sakit besar itu.


"Yi Wen," lirih Evgen kembali berlari memasuki rumah sakit itu.


"Mbak, tolong periksa pasien atas nama Xia Yi Wen ada di kamar berapa?" tanya Evgen pada respsionis rumah sakit.


"Ada di ruang VVIP, kamar no 127, Mas."


Evgen kembali berlari, mencari kamar yang dimaksudkan oleh perawat tadi.


Langkah Evgen terhenti di depan kamar no 127, menatap badan mungil gadis itu dari balik kaca pintu kamar.


Evgen menghela napasnya, mengatur napasnya agar lebih normal.


Perlahan Evgen masuk dan mendekati ranjang pasien itu, melihat gadis berumur 7 tahun itu sedang tertidur pulas, dengan selang infus yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.


"Yi Wen," lirih Evgen lembut.


Evgen mengelus lembut dahi gadis kecil itu. Mencium kepalanya dengan lembut. Baru sebulan yang lalu gadis ini mengunjunginya, namun rasa rindunya seperti tak pernah terobati.


Ia bahkan masih rindu pada gadis ini walaupun gadis ini berada di dekatnya.


Dua tahun yang lalu, saat ia terpuruk dan terjatuh. Hanya karena Yi Wen lah yang mampu membuat ia bertahan.


Yi Wen yang diantarkan oleh Niki ke London, malah menjadi semangat sendiri untuk Evgen.


Saat semua orang tidak mempercayainya, hanya Yi Wen lah yang mengucapkan kata-kata bahwa ia percaya, Evgen adalah lelaki baik.


Ia sangat menyanyangi Evgen karena Evgen adalah lelaki yang tidak pernah mengingkari janjinya.


Walau hanya ungkapan sederhana dari bibir mungil gadis kecil. Namun itu yang membuat Evgen bertahan di tengah keterpurukannya.


Berusaha untuk membuktikan dan membersihkan namanya dari fitnahan yang hampir melenyapkan nyawa Evgen.


"Kakak yang paling ia sayangi, tidak akan melakukan hal yang tidak baik."


Genggaman tangan mungil Yi Wen dan juga pelukan hangat Yi Wen yang selalu mendekap ia saat terjatuh dulu. Membuat Evgen semakin sayang dengan adik bungsunya itu.


"Xia Yi Wen, kamu kenapa Sayangku?" tanya Evgen cemas.


Evgen menusuk pipi chubby gadis kecil itu. Bibirnya tersenyum lembut namun air matanya mengalir melintasi pipi.


Bagaimana mungkin ia tega melihat gadis kesayangannya ini terluka. Bahkan untuk membuka mata saja, gadis itu tidak bisa.


Terdengar suara langkah kaki datang mendekati kamar gadis kecil itu. Megi masuk dengan membawa serantang makanan.


"Evgen, Sayang. Kamu pulang?" ucap Megi, datang mendekat.


Memeluk badan tegap putranya itu, rindu sekali. Rindu dengan lelaki yang baru pulang setelah tujuh tahun menghilang.


"Ya Tuhan, anak Mama akhirnya ingat untuk pulang." Peluk Megi semakin erat.


Evgen membalas dekapan erat Ibundanya itu. Tak lama ia meleraikannya dan kembali menatap gadis kecil yang terbaring lemah di atas kasurnya.


"Ma, apa yang terjadi dengan Yi Wenku?" tanya Evgen cemas.


"Wen'er tidak sengaja terserempet motor saat bermain dengan anaknya Soraya."


"Lalu kenapa bisa separah ini? Siapa yang menabraknya? Akan ku buat badannya ***** sampai halus," ancam Evgen tegas.


"Hah?" Megi mengernyitkan dahinya.


Melihat anak bungsunya yang sedang tertidur dengan pulas.


"Selain memar di lengan tangan, Wen'er gak ada luka apa-apa lagi. Lagian memarnya juga akan menghilang dalam waktu dua hari, kenapa kamu panik sekali?" tanya Megi lembut.


"Apa?" tanya Evgen terkejut. "Bukannya Yi Wen--" Evgen melihat ke arah Yi Wen.


Bibir mungil gadis itu melebar dan mulai membuka kedua bola matanya.

__ADS_1


Gadis itu terduduk dan memeluk perut Evgen dengan manja.


"Kakak Evgen, tersayang. Aku rindu sekali," ucap Yi Wen manja.


Evgen mengambil napasnya dengan memburu kencang. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Xia Yi Wen, siapa yang mengajarkanmu berbohong?" tanya Evgen ketus.


"Aku, aku, hanya kerjasama dengan Kak Rezi. Aku bukan berbohong Kakakku," jawab Yi Wen, tersenyum lembut.


Evgen menajamkan tatapan matanya, tersenyum dengan sinis.


"Kak Rezi, mati kau! Kau menggunakan Yi Wen untuk menipuku, lihat saja nanti, akan ku lumatkan seluruh tulangmu," ucap Evgen memadam.


"Kak, jangan marah. Aku juga tidak apa-apa," bujuk Yi Wen lembut.


"Aku meninggalkan London hanya karena kak Rezi bilang kamu terluka. Inikah balasanmu, Sayangku? Bekerja sama dengan Kakakmu untuk menipuku? Kenapa kamu tega sekali, Sayangku?" tanya Evgen, menekan.


Yi Wen hanya tersenyum kuda, menampilkan gigi kecilnya yang tersusun dengan sangat rapi.


Yi Wen tahu betul, bahwa Evgen tidak akan bisa marah, jika ia sudah mengeluarkan senyum terbaiknya itu.


Senyum manja dengan tampilan gigi kecilnya itu, selalu meredakan amarah Evgen yang sudah memuncak sekalipun.


"Xia Yi Wen!" teriak Evgen geram.


***


Evgen membuka pintu rumahnya dengan sedikit mendobrak keras. Berdiri dengan angkuh di ambang pintu rumah mewah Papanya itu.


Rezi mengalihkan pandangannya saat melihat lelaki tegap itu berdiri di ambang pintu.


Bibirnya tersenyum saat melihat adik kesayangannya itu kembali hadir di depan matanya.


"Evgen, kamu sudah pulang, Dek?" sapa Rezi datang mendekati Evgen yang berdiri di depan pintu.


"Apa ini kejutan? Katanya kamu tidak akan pulang?" Rezi memeluk badan besar adiknya itu.


Smentara Evgen hanya terdiam, napasnya mulai memburu dengan kencang saat melihat ulah Rezi yang seolah-olah tidak mengetahui permasalahannya.


Evgen melilitkan tangannya di batang leher Rezi. Mencepit batang leher Kakaknya itu.


"Jangan pura-pura bodoh, Kak! Kakak bilang Yi Wen tidak sadarkan diri, tapi apa? Yi Wen bahkan baik-baik saja!" teriak Evgen lantang.


Rezi terbatuk, mencoba bernapas di tengah lilitan tangan kekar adiknya itu.


"Kakak bilang, Wen'er tidak sadarkan diri. Karena ia tertidur pulas. Uhuuuk, tetapi kamu, kamu bahkan tidak mendengarkan Kakak sampai akhir," jawab Rezi dengan terbatuk.


Napasnya hampir terhenti, terhalang oleh lengan kekar adik kesayanganya itu.


"Evgen, apa kamu mau Kakak mati?" tanya Rezi yang semakin memucat, menahan napas yang tersengal di dadanya.


"Biar saja! Aku akan membunuh Kakak saat ini juga!" teriak Evgen lantang.


"Uhuuuk, jangan, Dek. Apa kamu tega melihat anak Kakak menjadi yatim nantinya?"


"Kak, aku meninggalkan London begitu mendapatkan kabar dari Kakak. Bahkan aku hanya tertidur beberapa jam di pesawat setelah tiga hari tidak memejamkan mata. Kenapa harus sereceh ini, Kakak begitu tega menipuku dengan tipuan receh seperti ini," ucap Evgen geram.


"Evgen, Kakak akan mati kalau kamu terus seperti ini, Dek," ucap Rezi melas.


"Bahkan Kakak mengajarkan Yi Wenku untuk berbohong. Sumpah, aku kesal setengah mati melihat ulah Kakak!" teriak Evgen kembali.


"Maaf, Evgen. Tidak bisakah kamu melepaskan ini? Kakak benar-benar tidak bisa bernapas, Dek," pinta Rezi melas.


Terdengar suara peraduan heels turun dari tangga.


"Evgen, apa kabar?" tanya lembut seorang wanita.


Seketika tangan Evgen yang melilit batang leher Rezi terlepas. Melihat wanita cantik turun dari anak tangga, menyapa dirinya dengan seuntaian senyum yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2