Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Extra Part 01


__ADS_3

Neha menghentikan gerakan jemari lentiknya saat mengancing bagian atas kemeja yang digunakan Rezi.


Bibirnya tersenyum dengan indah, saat matanya memandangi wajah lembut suaminya itu.


"Ada apa? Hem?" tanya Rezi saat melihat ekspresi Neha.


Neha hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk erat dada bidang suaminya itu.


"Ada apa? Kenapa jadi manja begini?" tanya Rezi kembali.


"Tidak ada."


Rezi mendekap erat tubuh istrinya, meraih ujung dagu Neha dan menariknya, geram.


"Ayo sarapan, sebelum Arash bangun nanti kamu malah gak bisa makan."


Neha menarik pipi Rezi dan mencium bibir Rezi sekilas. Tersenyum sembari melangkah pergi.


Rezi menarik pergelangan tangan Neha, menahan tubuh istrinya yang ingin keluar dari pintu.


"Kenapa? Lagi pingin ya?" bisik Rezi di telinga Neha.


Wanita itu melirik ke arah Rezi, tersenyum dan menggelengkan kembali kepalanya.


"Neha, bukannya terapi kamu berjalan dengan baik. Kenapa kamu masih malas berbicara?"


"Bukan malas, aku hanya sedikit malu saja," jawab Neha malu-malu.


"Malu kenapa? Bagus dong kalau kamu bisa berbicara, hem?"


"Ayo sarapan, aku masih ingin istirahat. Arash terus rewel dari semalam," ajak Neha lembut.


Rezi menarik tangan Neha dan meletakannya di atas bahu. Menarik pinggang ramping wanita itu menjadi lebih dekat.


"Aku sudah tidak lapar lagi saat ini, aku ingin makan yang lain." Rezi mengecup lembut kening Neha, berjalan ke ujung hidung.


Terasa embusan napas Rezi yang mulai memburu dengan kencang. Menembus kulit putih istri cantiknya itu.


"Tunggu dulu!" tahan Neha sembari menutup bibir Rezi yang ingin mencium dirinya.


"Mama sama papa pasti sudah nungguin di bawah. Gak enak kalau sampai mereka nunggu terlalu lama," jelas Neha kembali.


Rezi menghela napasnya dan membuka dekapan jemari tangan Neha. Mencium bibir istrinya sekilas lalu berjalan ke bawah.


Menemui keluarga lainnya yang sudah berkumpul lebih dulu di meja makan.


"Arash masih tidur?" tanya Megi saat melihat Rezi turun bersama Neha.


"Iya, Ma. Baru tidur subuh tadi," jelas Rezi kembali.


"Perjuangan, Rezi. Dulu Papa juga sama repotnya saat ada kamu. Malah lebih repot lagi saat lahir Evgen."


"Iya, sekarang aku merasakan bagaimana perjuangan Papa dan Mama."


Megi hanya tersenyum dan meletakan beberapa lauk di piring putranya itu.


"Makan yang banyak, Rezi, Neha. Apalagi kamu Neha, kamu harus banyak istirahat saat anakmu tidur, lihat wajah kamu sudah terlalu tirus dan bermata panda."


"Iya, Ma. Terima kasih," jawab Neha lembut.


"Oh iya, Pa. Aku mau minta izin. Sabtu nanti, aku dan Neha ingin pindah ke rumah kami sendiri," ucap Rezi lembut.


"Loh kenapa? Rumah ini terlalu berisik buat kamu? Apa kamu gak nyaman lagi di rumah?" tanya Megi langsung.


Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan Mama," jawab Rezi lembut. "Tapi kami sudah lama menikah, saat ini Arash juga sudah mulai besar. Kami ingin mandiri dan belajar hidup berdua. Gak ingin merepotkan Mama dan Papa lagi," sambung Rezi lembut.


"Tapi Mama gak merasa repot kok, apalagi semenjak ada Arash, Mama malah senang. Kalau kalian pindah, nanti Neha akan kerepotan mengurus Arash dan kamu," bujuk Megi lembut.


"Rezi benar, Megi. Mereka sudah punya kehidupannya sendiri. Biarkan mereka mandiri, lagian kita juga masih punya Wen'er dan Niki. Kamu jangan terlalu sedih," bujuk Sean.

__ADS_1


"Tidak ada Evgen, sekarang Rezi juga mau pindah. Pada akhirnya, kita hanya akan menua berdua."


Rezi tersenyum dan bangkit dari kursinya, memeluk bahu Megi dari belakang.


"Siapa bilang Mama hanya akan menua berdua? Ada kami semua, Ma? Walaupun kami tidak lagi tinggal bersama, tetapi kami tetaplah anak-anak Mama. Kami gak akan lupa, kami pasti akan mengunjungi, Mama." Rezi mencium lembut dahi Megi dan kembali tersenyum.


Dari dulu, sampai saat ini. Rezi terus tumbuh menjadi jiwa yang tenang dan menenangkan. Lembut dan sangat halus tutur sapanya.


"Mama akan merindukan kalian," ucap Megi lembut.


"Kami juga masih berada di kota yang sama, jangan terlalu sedih, Mama."


"Papa akan kirimkan beberapa katalog rumah ke kantor kamu ya."


"Gak perlu, Pa. Kami akan pindah ke rumah lama Neha. Aku suka suasana di sana, dingin dan menyejukan."


"Tapi--"


"Papa gak perlu khawatir, selama ini aku sudah merenovasi rumah itu. Evgen sudah membantu aku mendesain ulang semuanya. Jadi, semua memang sudah siap."


Sean tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Papa tahu, seharusnya Papa gak perlu khawatirkan apapun. Karena kamu pasti telah mempersiapkan segalanya sebelum mengambil keputusan. Rezi, jika nanti Papa pergi, Papa akan tenang asalkan ada kamu yang menjadi Kakak mereka."


"Papa ngomong apa? Papa belum setua itu. Papa harus lihat Arash menikah dulu," jawab Rezi kesal.


Sean hanya tersenyum dan menggengam jemari putranya itu.


Melihat Rezi yang sedang berdiri di belakang kursinya.


Mungkin kehadiran Rezi adalah anugerah yang paling indah. Titipan Sang Maha Kuasa, dari darah yang berbeda.


Seorang anak yang sangat luar biasa dan rela membaktikan hidupnya demi orang tua angkatnya.


Mungkin saja, jika saat itu Sezi tidak mau melahirkan Rezi. Entah bagaimana keluarganya saat ini.


Di balik luka dan pahitnya perjalanan hidup orang tua Rezi. Tak peduli jika Rezi adalah anak yang lahir dalam sebuah penyesalan.


Namun setiap nyawa yang hidup adalah sebuah perjuangan.


Selama bertahun-tahun statusnya selalu menjadi perbincangan tersendiri. Sampai akhirnya dia dewasa dan mulai mengerti.


Saat ini status bukan lagi hal yang bisa membedakan. Namun perbuatan dan cara berpikir kitalah yang menentukan.


Bagaimana kita melihat suatu kesalahan bisa menjadi kebenaran. Ataupun hal benar yang berubah menjadi suatu kesalahan.


Semua tergantung dari cara pandang dan berpikir masing-masing. Namun satu yang pasti.


Bahwa apapun status kita, seorang anak tetaplah sebuah nyawa baru yang semestinya dijaga.


Walaupun dia datang dalam sebuah kesalahan. Tetapi yang salah bukanlah hasilnya, namun proses pembuatannya.


***


Neha membuka kain gorden kamar tidurnya. Membiarkan sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar.


Menembus kulit putih suaminya yang masih lelap dalam mimpi indahnya.


Rezi mengerjapkan matanya, mengahalau sinar mentari dengan telapak tangannya.


"Neha, kenapa pagi sekali?" tanya Rezi membalikan badannya, memeluk guling di sampingnya.


Neha tersenyum dan menarik guling dalam pelukan Rezi. Mencoba membangunkan suami tercintanya itu.


"Rezi, ini sudah jam delapan pagi. Mau tidur sampai kapan?" tanya Neha lembut.


"Lima menit lagi, Sayang. Aku masih ngantuk," balas Rezi kembali menutup matanya.


Neha menghela napasnya, menarik selimut Rezi sampai ke atas. Membiarkan lelaki itu kembali tertidur.


Rezi menarik lengan tangan Neha, menahan gadis itu untuk tetap berada di dekatnya.

__ADS_1


"Marah?" tanya Rezi lembut.


"Enggak."


"Jadi kenapa diselimuti lagi?"


"Kan kamu mau tidur lagi," balas Neha.


"Tapi ini sudah siang, matahari juga sudah masuk ke kamar. Ngapain kamu selimuti lagi?"


"Sudah tahu matahari sudah masuk, kenapa masih mau tidur?" tanya Neha ketus.


Rezi menyeringai dan memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Neha. Memeluk pinggang Neha sembari membenamkan wajahnya di perut istrinya itu.


"Neha, memilikimu adalah hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini."


Neha memutar bola matanya dan membelai lembut helaian hitam rambut Rezi.


"Seandainya jika aku tidak memberikan payung itu padamu? Akankah kita berada di sini saat ini?" tanya Rezi lembut.


"Mungkin."


"Kok mungkin?"


"Karena takdir Tuhan telah dirancang dari awal, Rezi. Jika kita tidak bertemu senja itu, mungkin kita akan bertemu di senja yang lainnya."


Rezi mengubah posisinya dan duduk di atas kasur. Menarik bahu Neha untuk ia peluk dengan erat.


"Neha, tak peduli sehitam apa gelap malam. Sederas apapun hujan badai, asalkan yang tetap berdiri di sana itu kamu. Maka aku akan datang ke hadapanmu. Aku akan selalu menjadi payungmu, aku akan menjadi cahayamu."


"Rezi ayolah, ini sudah siang kenapa kamu malah gombali aku? Kita bukan lagi pengantin baru, aku sudah hapal sekali rayuanmu itu," ucap Neha malas.


Neha membalikan badannya, dengan cepat Rezi melingkari bahu Neha. Menyingkap helaian rambut Neha dan mencium leher Neha dengan lembut.


"Neha, apakah kamu menyesal menikahi aku?" tanya Rezi sendu.


Neha melepaskan pelukan Rezi dan membalikan badannya.


"Mana mungkin."


"Aku rasa setelah punya Arash kamu lebih terlihat dingin padaku. Apa kamu menyesal karena melahirkan Arash?"


Neha tersenyum dan menyelentik dahi Rezi kuat.


"Jangan bodoh! Kapan aku menyesal menikahimu? Dan Arash, dia adalah penyatu kebahagian aku dan kamu."


"Benarkah?"


"Rezi, percaya atau enggak. Aku hanya mengatakan ini sekali saja."


"Apa?"


"Pertemuan kita saat itu, membuka pikiranku tentang dunia. Aku pikir di dunia ini hanya ada orang-orang yang hidup tanpa hati. Di saat Ayah pergi, aku pikir aku kehilangan segalanya, tapi kehadiranmu membuataku percaya, bahwa dunia masih memiliki jiwa-jiwa baik seperti dirimu."


"Aku memang baik."


"Semenjak itu aku tahu, bahwa tak selamanya hujan memberikan luka. Karena jika hujan memberikan luka, maka pasti ada payung yang mengahalaunya. Seperti kamu, orang yang datang saat aku sendiri dan terjatuh."


Rezi tersenyum dan menarik dagu Neha, mencium dahi wanita itu dengan lembut.


"Saat ada aku, kamu tidak akan lagi pernah sendiri. Dan jika kamu terjatuh, maka akulah yang akan berada di bawahmu. Agar kamu tidak merasakan sakit, Neha. Percayalah, selamanya, kamu adalah hati yang selalu aku jaga."


Neha tersenyum dan mengelus pipi Rezi dengan lembut.


"Sudahlah, ayo bangun. Aku siapkan sarapan buatmu."


Neha bangkit dari duduknya, kembali Rezi menarik tangan Neha. Kembali mendudukan wanita itu di sebelahnya.


"Kenapa? Belum siap gombalnya?" tanya Neha lembut.


"Aku tidak akan menggombalimu, Neha. Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa?"


"Aku mencintaimu."


__ADS_2