
"Elu adalah batasan yang selama ini gak pernah bisa di capai, Megi."
Mendengar ucapan Sean, membuat pipi Megi merona merah. Ada rasa bahagia yang tak mampu ia jelaskan saat ini. Namun memeluk Sean seperti ini, adalah seluruh kebahagaian yang tak pernah ia capai selama ini.
Sean meleraikan pelukan Megi perlahan, membalikan badannya dan meraih kedua pipi Megi lembut.
"Elu adalah batas kekuatan gue, elu adalah batas kesabaran gue, elu juga batas kebahagiaan gue." ucap Sean sendu.
"Sedikit saja ada yang berani lukai elu, dia harus berani menghadapi gue yang bukan lagi seperti manusia." sambung Sean, bibirnya ikut tersenyum saat melihat lesung di kedua sudut bibir Megi terbentuk.
Megi tak tahu harus mengucapkan apa, ia memeluk badan Sean dengan erat. Andai waktu bisa berhenti disini, maka hentikan saja, agar ia tak pernah kehilangan Sean kapanpun itu.
"Kak, tak bisakah kakak terima aku disini?" tanya Megi kembali.
"Ada mimpi yang harus elu raih, ada harapan yang harus elu sambung. Ingat, tante Fera dan om Fandy, mereka ingin elu jadi wanita sukses, Megi."
Megi menghela nafasnya, kapan ia bisa bahagia tanpa harus memikirkan akan kehilangan. Sebenarnya seperti apa jalan pikiran Sean, ia masih belum paham.
Ingin menanyakan lebih jelas, namun sepertinya sama saja. Apapun jawaban yang keluar dari mulut Sean tak akan bisa ia terima oleh pikirannya.
"Pulang yuk!" ajak Sean meleraikan pelukannya.
"Hem." jawab Megi sambil mengangguk.
"Pulang kerumah Mama ya, gue masih ada urusan di barat kota." bujuk Sean.
"Ih, aku takut sama papa Rayen kak."
"Kenapa?"
"Gak tahu, takut aja." jawab Megi manja.
"Elu aneh," ucap Sean sambil tersenyum.
"Aneh kenapa?"
"Sama gue yang lebih keras gak takut, sama Papa takut." ucap Sean kembali tertawa.
"Gak tahu, rasanya kalau di sapa. Papa aja aku sesak nafas kak."
"Ha ha ha. Lebay banget sih."
"Ih aku serius kak." Megi mencubit pinggang Sean.
"Kasian Mama gak ada teman, kalau elu pulang kesana pasti Mama senang."
"Nanti aku main aja deh kalau Papa lagi kerja, ya." bujuk Megi manja.
"Hey." Sean menghentikan langkahnya dan meraih kedua ujung bahu Megi.
"Gue khawatir meninggalkan kamu sendiri di apartemen. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Sean lembut.
"Kakak gak pulang malam ini?"
Sean hanya menggeleng pasrah, menjawab pertanyaan Megi.
"Aku udah biasa kak, aku pasti baik-baik saja."
Sean mengacak rambutnya, ia menghela nafasnya berat.
__ADS_1
"Kamu yakin gak mau kerumah Mama?" tanya Sean sekali lagi.
Megi mengerucutkan bibirnya dan kembali menggeleng lemah.
"Ikut gue ke hotel, ya."
Megi tersenyum lebar dan langsung mengangguk cepat. Sean hanya bisa tersenyum melihat perubahan ekspresi Megi.
"Dasar," ucap Sean kembali merangkul bahu Megi dan berjalan pulang.
***
"Meg, bantu gue selesain detail bangunan ini yah. Gue mau mandi dulu." perintah Sean langsung.
"Ehm." Megi bangkit dari atas kasur dan berjalan menuju meja kerja Sean.
Mengerjakan apa yang di perintahkan Sean. Dengan mencurahkan seluruh konsentrasinya, Megi mengerjakan detil bangunan yang sudah di gambar kasar sebelumnya.
Sean keluar dari kamar mandi dengan sedikit bersiul. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Sean memperhatikan bangunan yang sedang di kerjakan Megi saat ini.
Karena terlalu fokus pada gambarnya, Megi tak menyadari pergerakan Sean yang datang mendekat.
Sean memperhatikan dengan seksama, makin hari bakat Megi makin terlihat nyata. Pekerjaan tangannya mulai rapi dan bagus. Sean kembali mengumbar senyumnya.
'Bakatmu sungguh menakjubkan Megi' lirihnya dalam hati.
Sean menghela nafasnya dan kembali mengeringkan rambutnya. Ia memilih beberapa pakaiannya yang tersedia di lemari kamar hotel. Sampai Sean selesai memakai baju sekalipun, Megi masih tak menyadari pergerakan Sean.
'Andai elu tak sepintar ini, Meg. Gue gak akan pernah lepasin elu, walaupun gue harus berebut elu dengan mimpi elu.' kembali Sean berucap dalam hati, saat melihat Megi yang masih asyik dengan dunianya.
Megi terlihat bagaikan seseorang yang berbeda saat ia bersama gambar bangunannya. Ia seperti Megi yang tekun dan serius, sama sekali tak seperti Megi yang bawel dan juga konyol.
"Elu memang sangat pintar, Sayang." bisik Sean di telinga kanan Megi.
Sementara Megi hanya tersenyum dan tersipu malu. Perlahan aroma shampo dari rambut Sean menembus penciuman Megi.
Megi memalingkan pandangannya, mencium pipi kiri Sean yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku udah siapin detilnya, kakak cuma perlu cek hasil akhirnya."
"Terima kasih."
"Untuk itu, aku minta bayarannya dong." ucap Megi, sambil bangkit dari kursinya.
Sean menarik pergelangan tangan Megi, meraih kedua pipi Megi dan mencium Megi perlahan.
"Itu cukup?" tanya Sean sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.
"Ehm, ehm." Megi menggeleng pasrah.
"Jadi apa lagi?" tanya Sean membuang bokongnya ke kursi kerjanya.
Megi datang mendekat, memeluk pundak Sean dari belakang.
"Kita liburan, ke Shanghai?" pinta Megi manja.
"Gue gak bisa, Megi. Belum ada waktu luang." ucap Sean fokus ke layar datarnya.
Megi menghela nafasnya, ia mengerucutkan bibirnya. Perlahan pelukannya mengendur, Megi bangkit dan menjauh.
__ADS_1
Sean kembali menarik tangan Megi.
"Jangan ngambek, kita liburan ke tempat lain?"
"Kemana?" tanya Megi malas.
"Terserah, jangan terlalu jauh. Gue gak punya waktu luang yang banyak."
"Lupain aja deh, saat liburan juga kakak akan sibuk sama pekerjaan." Megi melepaskan pegangan tangan Sean dan naik keatas ranjangnya.
Sementara Sean hanya menatap Megi dengan tatapan sendu. Ia juga bingung, kali ini pekerjaannya tak bisa di tinggal. Ke olengan perusahaan karena ia yang sempat menarik diri dari dunia bisnis karena keadan Megi yang koma harus secepatnya di stabilkan.
Kalau tidak, perlahan, perusahaan ini akan hancur karena mulai goyah.
"Kakak jam berapa mau pergi?" tanya Megi kembali, setumpuk kekecewaan mulai tergambar di raut wajah manisnya.
"Gue bakalan gak pulang sampai seminggu atau dua minggu, Meg. Yakin elu gak apa-apa di hotel sendirian."
"Ehm." jawab Megi cuek, ia masih sibuk memainkan game dalam gawainya.
Melihat ulah Megi Sean hanya bisa menghela nafasnya. Ia kembali terfokus oleh layar datarnya, mengecek beberpa bagian detil bangunan untuk pengerjaan beberpa minggu kedepan.
Berjam-jam suasana di kamar itu hanya hening. Sean sibuk pada pekerjaannya, dan Megi sibuk pada gawainya.
Sean merenggangkan otot badannya, sesekali ia menguap karena rasa lelah menatap layar datar nya terus menerus. Sean memalingkan pandangannya kearah Megi.
Megi hanya duduk diam dengan wajah di tekuk. Sesekali ia menekan layar ponselnya dengan kasar.
"Kalau mau marah, sama gue aja. Jangan sama ponsel." ucap Sean saat melihat Megi yang kesal sendiri.
"Udah kakak pergi kerja aja sana, jangan peduliin aku disini." jawab Megi tak memalingkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Megi." panggil Sean lembut.
"Ehm." jawab Megi tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Megi." panggil Sean sekali lagi.
"Hem." kembali Megi menjawab tanpa menoleh.
"Megi gue disini!" bentak Sean keras.
"Lihat gue kalau gue ngomong sama elu, jangan lupa gue masih suami elu!" sambung Sean dengan nada sedikit tinggi.
Megi meletakan ponselnya, ia menatap Sean beberapa saat lalu menundukan pandangannya.
Sean menghela nafasnya panjang, ia bangkit dari kursinya, dan berjalan duduk di bibir ranjang.
"Megi mengertilah sedikit, bukan gue gak mau. Gue gak bisa." jawab Sean melembut.
"Gue berusaha buat penuhi semua keinginan elu, tapi cobalah mengerti, gue ini laki-laki. Gak bisa gue main-main sepanjang hari. Mau makan apa elu nanti?"
"Maaf kak," jawab Megi lemah, ia menundukan pandangannya jauh kebawah.
Kembali Sean menghela nafasnya, ia memeluk badan Megi dan mendongakan kepala Megi. Menatap bening mata Megi yang saat ini berlapiskan air bening.
"Istirahat, gue temeni elu sampai tertidur ya."
Megi hanya mengangguk pasrah, ia mulai membaringkan badannya dan menarik selimutnya. Dengan lembut Sean membelai rambut Megi.
__ADS_1
Sebenarnya tak tega kalau harus berkata kasar lagi, namun sering kali Megi menguji amarah Sean untuk kembali membara.