Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 46


__ADS_3

"Gue risih lihat rambut lu di gerai saat masak." ucap Sean spontan, mengalihkan perhatiannya.


"Iya, Kak. Tolong bantu cepol rambut aku ya."


Dengan menghela nafasnya, ia mulai menggulung-gulung rambut Megi. Ia tak mengerti bagaimana cara mencepol rambut. Beberapa kali ia menggulung-gulung rambut Megi, tapi karena licin atau memang ia tak bisa, rambut Megi terus terbuka kembali.


"Ahh ... Lu ikat lah sendiri!" teriak Sean kesal.


Megi sedikit terkejut, badan kecilnya menghantam bibir pantry tempat ia memasak.


"Yaudah deh kak, kok gak selow banget sih." ucap Megi sambil mengelus dadanya.


Dengan wajah yang di tekuk, Sean melempar bokongnya kasar di kursi makan. Matanya menatap pergerakan Megi lekat, Megi mencuci tangannya, ia mendekat ke Sean perlahan.


"Kak, mau aku buatin minum?" tanyanya sambil mengelap tangannya di kemeja Sean.


"Bagus ya elu, nge lap di kemeja gue."


Megi hanya tersenyum kuda.


"Gak ada kain lap, Kak." ucap Megi lembut.


"Terus lu kira kemeja gue kain lap?"


"Okey, Peace, kak." ucap Megi sambil berlalu dan mencepol rambutnya.


Sean hanya mengeleng pasrah dan membuka baju kemejanya, ia menjembreng di bagian belakang kursi. Kembali matanya menatap pergerakan Megi.


Megi memasak sambil mencincang danging. Ia seperti terbiasa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Tangannya cepat membalik masakan dan juga memotong di sisi lain.


Mulai tercium aroma sedap masakan Megi di hidung Sean. Membuat cacing-cacing di perut Sean semakin meronta minta di beri gizi.


Tanpa menunggu lama, tiga hidangan sudah tersaji cantik di hadapan Sean. Sean menelan salivanya, sungguh masakan Megi sangat menggugah seleranya.


"Lu masak lama-lama cuma buat spageti sama telur dadar?" cerca Sean menggoda.


"Ih ... Itu bukan spageti loh kak, ini Ma Yi Shang Shu dan fu yong hai."


"Oh ... Gue pikir spageti."


"Ini artinya semut memanjat pohon, kak. Biar bibir kakak makin judes makan semut."


"Apa?." ucap Sean sambil melotot.


"Ha ha ha, bercanda kak. Itu karena daging sapinya di cincang halus makanya seperti semut."


"Ini apa?" tanya Sean sambil menunjuk piring yang berbahan dasar udang.


"Shrimp Kung pao." Megi menarik kursi duduk di depan Sean.


"Aman kan ini buat gue makan?"


"Gak, udah aku taruk racun." ucap Megi kesal.


"Oh..." jawab Sean cuek.


Tanpa menunggu waktu lama, Sean memakan hidangan yang sudah di buat Megi. Tangan Megi memang ajaib, banyak hal-hal menakjubkan tercipta dari tangannya.


Sean melirik Megi yang hanya duduk di hadapannya. Ia mengisi mulutnya penuh dengan makanan.


"Lu gak makan?"

__ADS_1


"Aku udah makan di luar tadi, kak."


"Durhaka elu ya, makan sendiri, suami di biarin kelaperan."


"Kakak kok bilangin aku durhaka terus sih? kan aku udah masak buat kakak." sahut Megi kesal.


"Iya, bercanda. Thank's ya."


"Enak gak, kak?" tanya Megi dengan bibir tersungging manis.


"Enak, apalagi kalau lu diem. Makin nikmat rasanya."


"Ih ... Kak, hotel kakak kan bintang lima. Masak gak ada masakan China disana?"


"Ada."


"Jadi, kenapa minta aku masakin masakan China?"


"Nge tes aja. Kenapa gak suka gue suruh-suruh?"


Megi hanya menggelengkan kepalanya, ia sibuk menggaruk ruas jarinya yang mulai kemerahan. Sean mengernyitkan dahinya saat melihat pipi Megi yang mulai kemerahan.


Pandangan Sean berpindah ke tangan Megi. Mulai memerah dan membengkak. Sean memperhatikan kembali pipi Megi yang mulai memerah padam, kini pipinya ikut membengkak.


"Lu makan apa tadi, Meg?"


"Makan nasi padang, Kak." ucap Megi mulai menggaruk pipinya.


Dengan cepat tangan Sean menghentikan pergerakan Megi.


"Jangan, nanti muka lu lecet."


"Kakak lanjut makan aja ya, aku ke kamar dulu." ucap Megi sambil beranjak bangkit.


"Lu alergi sesuatu?" tanya Sean sinis.


Megi hanya menganggukan kepalanya pasrah.


"Alergi apa lu?"


"Udang, Kak," ucap Megi pasrah.


"Dasar ... Bodoh." ucap Sean langsung bangkit.


"Ikut gue, kita kerumah sakit."


"Tapi kakak belum selesai makan."


"Lu masih pikirin makanan, saat keadaan lu udah begini?"


"Tapi aku udah masak itu buat kakak. Habisin salah satu dulu kek."


"Tapi keadaan elu begini, Meg."


"Aku gak papa, Kak."


"Lu gak waras ya, Meg? Lu suruh gue makan saat elu begini?"


"Aku gak papa kak. Aku cuma butuh istirahat. Kakak makan aja, aku buatnya butuh perjuangan, Kak." ucap Megi ngeyel.


Sean menghela nafasnya, ia menuruti permintaan Megi. Kasian lihat Megi yang sudah berjuang memasakan sampai mengorbankan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dengan cepat Sean melahap masakan itu, ia memakannya cepat sampai habis. Sean menyambar cepat gelas airnya dan mendorong sisa makanan di tenggorokannya.


"Udah, ayo." Sean menarik tangan Megi cepat.


"Kak, aku gak mau kerumah sakit."


"Kenapa? gue sudah menghabiskan makanannya kan?"


"Aku malu, Kak. Pasti wajah aku sekarang kayak ikan buntal kan." ucap Megi sambil menutup wajahnya.


"Jadi maunya gimana?" tanya Sean bingung.


"Aku cuma butuh istirahat, Kak."


Sean mengeluarkan gawainya, ia menelpon seseorang dan dengan cepat menutupnya kembali.


"Yasudah, lu istirahat sana." Sean kembali menghempaskan bokongnya di kursi.


Megi berjalan memasuki kamarnya, demi Sean ia rela menjadi seperti ini. Karena Sean sangat menyukai udang, sementara Megi alergi dengan seafood itu.


Sean berjalan cepat saat pintu apartemennya di ketuk seseorang. Tanpa basa basi Sean langsung menyuruh masuk lelaki yang berada di depan pintu.


Dokter itu memeriksa keadaan Megi, ia menyerahkan resep dan tak lama berlalu pergi. Sean mengeluarkan kembali ponselnya dan menelpon Farrel untuk menebus resepnya.


"Lu bodoh atau gimana sih, Meg? udah tahu alergi udang, masih aja di pegang."


Megi hanya terdiam, ia duduk sambil menggaruk ruas jarinya. Sean duduk di bibir ranjang dan memegang kedua tangan Megi.


"Jangan di garuk terus, nanti kulit lu rusak."


Megi hanya menunduk malu, entah seperti apa wajahnya saat ini. Ia tak bisa memegang udang, tapi demi meluluhkan hati Sean, ia melakukan ini. Megi pikir reaksi memegang udang tak akan separah ini.


"Kenapa?" tanya Sean kesal.


"Kenapa lu lakuin ini, Meg? lu gak sadar ini bahaya?"


"Aku cuma pingin buat yang kakak suka." ucap Megi lesu.


"Jangan bodoh, Meg! jangan bahayain diri lu sendiri karena orang lain."


"Aku cuma pingin bisa jadi yang kakak suka, aku cuma pingin bisa jadi yang terbaik aja kak."


"Jangan bodoh karena cinta, Meg. Lu gak perlu lakuin hal bodoh hanya untuk orang lain."


"Apa kakak gak bertingkah bodoh juga karena cinta?"


Pertanyaan Megi membuat Sean tersadar, ia bukan bodoh karena cinta, tapi ia hancur karena cinta. Ia tidak melukai dirinya untuk orang lain, tapi ia menghancurkan dirinya untuk mencari jawaban, jawaban dari kebodohannya sendiri.


"Kakak juga melakukan hal bodoh kan? memang seperti itulah cinta kak, kita bisa melakukan hal bodoh hanya untuk melihat orang yang kita cintai bahagia." sambung Megi jelas.


"Aku cuma pingin mengahapus perbedaan di antara kita, kak. Kakak bilang aku dan kakak itu beda jauh, aku cuma berusaha mengimbangi kakak."


"Meg, gak semua perbedaan itu bisa lu satuin, gak semua sesuatu yang gamblang itu bisa lu imbangi. Akan selalu ada perbedaan yang gak akan pernah bisa elu satuin, Meg."


"Sekeras apapun aku akan berusaha kak, sekeras apapun aku akan bertahan." jawab Megi ngeyel.


"Meg, saat seseorang jatuh cinta, dia gak akan pernah melihat perbedaan itu, carilah orang yang benar-benar mencintai elu. Jangan berubah hanya karena elu jatuh cinta."


"Seperti aku yang tak pernah melihat perbedaan itu di antara kita, kak?"


"Meg, elu masih muda, elu pintar, elu punya bakat. Jangan sia-sia in masa muda elu, kejar cita-cita elu. Jangan sia-sia in anugerah yang udah Tuhan berikan buat elu, Meg."

__ADS_1


"Aku akan tetap raih masa depan aku kak, demi Mommy, demi Papa dan juga kak Mika. Tapi biarin aku juga ngejar cinta aku kak."


"Silahkan kalau elu mau ngejar cinta itu, tapi tolong... Laki-laki itu jangan gue."


__ADS_2