
Neha ikut berlari keluar dari barisan, menyusuli langkah Ruby. Melihat Neha ikut keluar dari barisan, Rezi pun menyusuli mereka berdua.
"Pak, saya keluar duluan ya," pamit Rezi pada Dosen yang berada di belakangnya.
"Iya, Rezi."
Rezi menyusuli langkah Neha yang lebih dulu pergi. Rezi mencari kesekeliling, mencoba menemukan Neha didalam kerumunan orang.
Neha menghentikan langkahnya, ia menghela nafas dan berjalan perlahan. Mendekati Ruby yang sedang duduk sendiri sembari menangis.
Neha duduk disebelah Ruby perlahan, Neha melihat wajah Ruby yang ditundukan jauh kebawah.
Beberapa saat Neha hanya diam, ia mengelus pundak Ruby untuk menenangkan Ruby.
"Aku gak apa-apa, Neha. Kamu lanjutin saja sama Rezi ya," ucap Ruby pahit.
Neha memainkan jari tangannya, ia bingung dengan perubahan sikap Ruby.
"Gak ada yang aku lihat. Tiba-tiba aku hanya kangen sama Ayah, jadi aku nangis," ucap Ruby berkelit.
Rezi menghela nafasnya, ia membungkukan badannya sambil menarik nafas dalam.
Ruby memalingkan pandangannya saat melihat Rezi ikut menyusulinya. Ruby tersenyum kecut dan menghapus sisa air matanya.
"Kalian disini saja, acara kan belum selesai. Aku mau balik duluan ya," pamit Ruby lembut.
Neha menahan pergelangan tangan Ruby, ia menggelengkan kepalanya.
"Maaf Neha, tapi aku butuh waktu untuk sendiri. Kamu disini saja ya," ucap Ruby lembut.
"Pak Rezi, aku titip Neha ya." Ruby langsung berjalan menjauh setelah mengucapkan itu.
Neha hanya bisa memandang badan mungil Ruby yang terus hilang ditengah keramaian.
Rezi meraih bahu Neha, seketika Neha memalingkan pandangannya kearah Rezi.
Neha menggerakan mulutnya dengan cepat, bersama dengan jemari tangannya yang bergerak dengan cepat.
Rezi tak paham apa yang diucapkan Neha, namun ia paham apa yang ingin Neha ungkapkan.
"Ruby juga butuh ruang untuk sendiri, biarkan dia sendiri dulu, Neha. Dia butuh waktu untuk menenangkan hati." Rezi tersenyum dan mengelus pucuk kepala Neha dengan lembut.
Walaupun sulit berinteraksi dengan Neha, namun jika ia bisa mengerti isi hati Neha saja, itu sudah cukup.
***
"Shen," panggil Evgen ketus.
"Hem."
"Gue haus."
__ADS_1
"Terus?"
"Ya elu beli minum kek, atau elu cari minum. Ambil air minum, atau apapun bisa kan. Masa iya gue kehausan elu diemi," cerocos Evgen panjang.
"Lu kan bisa tinggal bilang, Shenina tolong belikan gue minum dong. Gak perlu nyerocos panjang, udah panas begini juga," ucap Shenina ketus.
"Nah ... Elu sendiri. Kenapa gak langsung beli, malah ceramah panjang gak berujung dulu?" Tanya Evgen langsung.
Shenina menyungging sebelah bibirnya, kenapa juga ia harus berurusan dengan lelaki ini terus.
Shenina memanyunkan bibirnya, ia berbalik dengan cepat. Namun Evgen menahan pergelangan tangan Shenina, sebelum ia pergi.
"Apa lagi?" Tanya Shenina ketus.
Evgen melepaskan topi yang ia kenakan, dan mengecilkan ukurannya. Evgen memakaikan topi itu ke Shenina dan merapikan helaian rambut Shenina yang berantakan.
"Mataharinya terik banget, elu pakai saja ini. Tenang ini wangi kok," ucap Evgen sambil merapikan rambut panjang Shenina yang berantakan dan kusut karena keringat.
Shenina menelan salivanya dengan sedikit berat. Matanya terus menatap wajah Evgen yang berada tepat didepan matanya.
Kenapa perlakuan Evgen harus manis setelah ia kesal lebih dahulu karena keangkuhannya. Seandainya Evgen bisa lembut terus, mungkin ia bisa jatuh hati dengan lelaki tengil ini.
"Sudah! nunggu apa lagi?" Tanya Evgen ketus, "Nunggu bumi berputar dulu?" Sambungnya kasar.
"Ish...." Shenina menghentakan kakinya dan berjalan dengan cepat.
Evgen itu memang lelaki aneh yang pernah ia kenal. Terkadang sifatnya bisa sangat manis, tapi malah lebih sering buat kesal dan menyebalkan.
Shenina mengeluarkan beberapa botol minuman dan membayarnya dengan cepat. Ia menghela nafasnya saat melihat kerumunan orang.
Shenina memalingkan wajahnya, tak sengaja wajahnya melihat Rezi dengan sebotol air di tangannya.
Rezi berjalan dengan membuka segel minuman itu. Bukannya meminumnya, Rezi malah menutupnya lagi.
Shenina melepaskan senyumnya, ia tidak menyangka di tengah panas terik matahari hari ini. Ada lelaki yang bisa membuat hatinya sejuk.
Shenina berjalan mengejar langkah kaki Rezi yang berjalan dengan sangat cepat. Tak bisa mengejar langkah Rezi, langkah Shenina malah terhenti saat melihat Rezi memberikan botol air itu ketangan seorang gadis.
Rezi tersenyum dengan lembut saat ia berhadapan dengan wanita itu. Senyum yang tak pernah Shenina lihat sebelumnya.
Rezi duduk disebelah Neha, ia mengelus pucuk kepala Neha dengan lembut.
Shenina menghela nafasnya, melihat Rezi yang memperlakukan gadis itu dengan sangat lembut membuat hatinya terluka.
Walaupun Shenina hanya bisa melihat punggung badan wanita itu dari belakang. Namun dari bentuk tubuhnya saja sudah bisa membuat Shenina merasa kalah.
Badan Neha yang proporsional, tak ada bandingannya dengan badan Shenina yang kecil mungil.
Shenina menghela nafasnya dengan memburu kencang. Panas terik matahari tidak bisa lagi ia rasakan. Hatinya lebih dulu terbakar dengan kedekatan Rezi dengan Neha.
Rezi kembali tersenyum, ia mengacak rambut Neha dan menjatuhkan kepala Neha kedalam dada bidangnya. Seperti tak melihat tempat, Rezi malah mendaratkan ciuman diatas pucuk kepala Neha.
__ADS_1
Seketika, kantungan yang ada digenggaman Shenina terlepas. Air matanya mengalir melintasi pipi. Seperti petir menyambar hatinya, nafasnya sempat terhenti saat melihat Rezi memperlakukan wanita itu dengan sangat manja.
Shenina melepaskan senyum pahitnya, ia terlalu berharap pada angannya. Ia berharap bahwa Rezi menyimpan perasaan terhadapnya.
Ia seharusnya sadar, Rezi tidak mungkin memilih gadis kecil sepertinya. Shenina menghapus air matanya, ia mencoba kembali menguatkan langkahnya.
Membeli air yang sempat rusak karena ia jatuhkan tadi.
Evgen mengacak rambutnya, ia sudah hampir mati kehausan menunggu Shenina datang.
"Hey, Seta. Kakak elu beli minum dimana sih? di neptunus atau saturnus? lama sekali?" Tanya Evgen kesal.
"Mana aku tahu, kan aku dari tadi disini sama Kakak," jawab Seta lembut.
"Iya juga sih," ucap Evgen kembali.
Evgen memakai topi jaketnya dan menyilangkan kedua tangannya didada. Ia sudah tidak tahan, seharusnya ia tidak pergi ke acara seperti ini.
Selain panas, disini juga sumpek dan ramai sekali. Membuat Evgen malas sekali rasanya berada disini.
Jika bukan hanya untuk Shenina, ia gak sudi berlama-lama ditempat ini.
Shenina kembali menemui Evgen, ia menyerahkan sekantung plastik ketangan Evgen.
"Lama banget sih, elu mau gue mati karena dehidrasi apa?" Tanya Evgen ketus.
Evgen membuka kantungan itu dan membuka botol air mineralnya. Menenggaknya langsung sampai setengah.
"Lu gak minum?" Tanya Evgen saat melihat Shenina terus menundukan kepalanya.
Shenina menggelengkan kepalanya, ia masih menundukan kepalanya jauh kebawah. Ia tidak mau kalau Evgen menyadari air matanya.
Evgen mengernyitkan dahinya, ia membungkuk untuk melihat wajah Shenina. Tak jelas melihat raut wajah Shenina yang terus tertunduk, Evgen membuka topi yang Shenina kenakan.
"Lu kenapa? lu marah karena gue nyuruh elu beli minuman?" Tanya Evgen bingung.
Shenina menggelengkan kepalamya dan terus tertunduk. Ia mengenggam jemarinya, meremat kedua jemari tangannya untuk meredam sakit hatinya.
"Shen, lu kenapa?" Tanya Evgen kembali.
Shenina menggelengkan kepalanya kembali, ia memeluk badan Evgen dan membenamkan wajahnya didada Evgen.
Memecahkan tangisannya, yang sedari tadi ia tahan..
Sejenak Evgen terdiam, matanya melihat kesekeliling. Pasti ada sesuatu yang membuat Shenina begini.
Evgen menghela nafasnya, ia membalas pelukan Shenina. Memeluk erat badan mungil Shenina yang bergetar karena melepaskan tangisannya.
Mata Evgen terus melihat kesekeliling, mencari sebab dari tangisan Shenina.
"Apapun itu, yang membuat elu nangis, Shen. Gue gak akan pernah lepasin, gue gak akan pernah maafin." Ucap Evgen ketus.
__ADS_1
Mendengar ucapan Evgen, Shenina semakin mengencangkan tangisannya. Seperti tidak ingin jika Evgen menaruh dendam dengan Rezi.
"Baiklah, elu boleh nangis. Kalau ada gue, elu boleh nangis sepuas elu. Karena kalau ada gue, elu gak boleh nanggung semuanya sendiri. Jadi, ayo kita berbagi beban."