Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 88


__ADS_3

Megi membereskan baju-bajunya, memasuki satu persatu kedalam koper miliknya. Sean masuk dengan sedikit bersiul. Ia membuka pintu kamarnya namun tak menemukan Mika. Sean membuka kamar Megi, mengunci pintu kamar Megi setelah masuk.


"Mika kemana?" tanya Sean melihat seisi kamar.


"Lagi cari kak Mirza." jawab Megi lemas.


Sean menarik tangan Megi, menjatuhkan badan mereka ke kasur secara bersamaan. Meletakan badan Megi diatas badannya.


"Berdua lagi dong." ucap Sean menggoda.


Namun wajah Megi tak kembali ceria, matanya mulai membanjir, air mata turun dengan deras.


"Ck ... Kok malah nangis sih?"


"Kak, gak bisakah kita tetap bersama?"


"Ayolah Megi, perpisahan ini tak seberat yang elu pikirkan. Jangan di pikirkan, cukup dijalani."


Megi meletakan kepalanya di atas dada Sean. Ia kembali membanjiri air matanya.


"Jangan sedih, gue lakuin ini untuk masa depan elu."


"Tak bisakah masa depan aku bersama kakak?"


"Jangan minta sama gue, minta sama Allah. Dia yang mempertemukan kita, dia yang memisahkan kita, maka kalau ada langkah, dia juga yang akan mempertemukan kita kembali."


"Kalau gitu kakak ikut aku ke Beijing aja."


"Oh ... Come on, Hotel lagi oleng, pembangunan gedung juga lagi gak stabil. Gue gak bisa tinggalin gitu aja. Lu tahu kan Megi, kejadian kemarin masih membuat pembangunan berantakan."


"Apa aku gak lebih penting dari bisnis kakak?" Megi menarik tubuhnya, namun Sean kembali menahannya.


"Ayolah Megi, gue memikul beban yang berat. Ada ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan gue, haruskah gue abaikan mereka demi satu orang? mereka punya keluarga yang harus mereka hidupi, Megi."


Megi kembali menangis terseduh, ia mendekat kewajah Sean dan mencium Sean.


Sean juga tak tahu harus berbuat apa, keadaan dia juga sedang tidak baik. Tidak mudah juga jika harus melepaskan Megi, namun hidup bukan hanya tentang perasaannya saja.


Rayen telah membesarkan perusahaan ini dengan seluruh tenaga dan pikirannya. Sebagai anak ia tak bisa menutup mata atas keolengan perusahaan ini.


Sean bangkit dan mengubah posisinya, ia mendekap tubuh mungil Megi erat. Nafasnya terdengar berat karena ada sesuatu yang bersarang didadanya.


"Gue cinta sama elu, Megi. Tapi kali ini cinta gue bukan untuk bersama. Kuatlah disana, selama lu kuat, maka gue akan baik-baik aja."


"Kenapa kak? Kenapa keadaan kita harus serumit ini?"


"Apapun keadaan kita, gue tetap bersyukur, Megi. Karena keadaan elu yang membawa elu dalam pelukan gue."


"Kak, apakah saat ini aku satu-satunya dihati kakak?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Apa aku telah menggeser kak Hana dari dalam hati kakak?"


"Kenapa tiba-tiba nanya itu?"


Megi bangkit dari atas badan Sean, ia duduk diatas ranjang dan menyeka kedua matanya.


"Kak Hana pernah jumpai aku kak, dia cerita tentang masa lalunya ke aku."


"Terus?"


"Apa kalau kakak tahu masa lalu kak Hana, kakak akan masih cinta sama aku?"


"Kenapa harus pusingin itu sih?"


"Aku pingin tahu kak, apa setelah aku pergi kakak akan kembali sama kak Hana?"


Sean tersenyum simpul, ia kembali menarik tubuh Megi dan mendudukan Megi dalam pangkuannya. tangannya membelai rambut Megi lembut.


"Apa lu pikir gue ini kaleng-kaleng?"


"Hah?" Megi menaiki sebelah alisnya.


"Apa selama delapan tahun gue pacaran sama Hana gue gak tau masa lalu dia? gue bukan orang bodoh Megi. Gak ada yang bisa nyimpan masa lalunya dari gue."


"Sudah, bahkan apa yang elu gak tahu, gue tahu." jawab Sean angkuh.


"Jadi kenapa kakak gak maafin kak Hana?"


"Ada hal yang kadang buat kita harus menjauh, Megi. Bukan karena benci atau menyimpan dendam. Semenjak gue pisah dari Hana gue berusaha mencari tahu masa lalu dia, dan jujur gue terkejut, tapi itu juga yang buat gue hancur. Sebelum elu hadir, gue tak bisa mengendalikan apapun, Megi"


Megi menghela nafasnya, entah bagaimana yang saat ini dia rasakan.


"Kak, tunggu aku ya, aku pasti pulang!"


"Jangan, cari saja yang lebih baik dari gue. Gue sengaja gak nyentuh elu, biar elu bisa dapet yang lebih baik."


"Tapi kenapa kak?"


"Izinkan ini menjadi rahasia gue, Megi. Biarkan perasaan elu dan cinta elu hanya gue simpan dalam hati. Sampai kapanpun elu akan tetap menjadi rasa terindah yang pernah ada."


Kembali Megi menangis, kali ini benar-benar meledak. Sakit, perih dan sesak, semua berkolaborasi menjadi satu. Menyerang perasaan Megi tanpa ampun.


Setelah berdiam dengan segala luka, Sean keluar dari gedung apartemen miliknya. Menghirup udara segar yang sempat menyengal pernafasannya.


Sean membuang bokongnya ke kursi panjang di pinggir jalan. Suara berisik dari kendaraan yang lewat kini tak terdengar lagi olehnya. Baru saja akan pisah, namun kenapa saat ini hatinya begitu terasa hampa.


Sean menyisir rambut gondrongnya kebelakang, kembali ia membakar sebatang rokok. Kali ini tangannya di hentikan oleh seseorang.

__ADS_1


"Kebiasaan elu belum hilang?" ucap Mika sambil duduk di sebelah Sean.


"Udah jadi candu." jawab Sean berkelit.


"Candu?" Mika tersenyum getir.


"Candu atau pelipur lara?" tanya Mika sambil menatap wajah Sean.


"Ngomong apa sih, Mik?" tanya Sean basa basi.


Terdengar helaan nafas dari Mika. Seperti ada beban yang kembali ia pikul di bahunya.


"Gimana elu dan Hana?"


"Gimana apanya?"


"Masih belum selesai?"


"Ada hal yang memang tak harus di selesaikan, Mik. Biarkan saja bergantung, karena penyelesaiannya bukan untuk dicari, tapi hanya menunggu waktu." ucap Sean datar.


"Lu udah bisa lupain Hana, Sean?"


Sean menghela nafas panjang, ia mengerdikan bahunya.


"Ada saatnya Mik, seseorang itu hadir bukan untuk dilupakan." Sean memainkan alis matanya.


Sejenak mereka berdua saling berdiam, memandang jalanan yang masih ramai.


Mika memandang lekat Sean, masih banyak hal yang belum bisa di pecahkan oleh kepala Mika. Sean ini cukup misterius soal hatinya.


"Gue ke hotel dulu ya." Sean meraih dengkul Mika dan menepuknya.


Berjalan meninggalkan Mika, memasukan kedua tangannya kedalam kantung jaketnya.


"Sean." panggil Mika saat Sean berjalan menjauh darinya.


Sean hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Mika.


"Ada sesuatu yang ingin lu katakan sama gue?" tanya Mika sendu.


Sean melepaskan senyum pahitnya dan menggeleng. Menghela nafasnya, lalu berjalan kembali.


"Sean." panggil Mika kembali. Namun kali ini Sean hanya berjalan semakin jauh, tak mendengarkan panggilan sahabatnya itu.


"Gue tau elu cinta sama Megi, Sean." teriak Mika lantang.


Seketika Sean menghentikan langkahnya, namun ia masih tak menoleh, Sean hanya menundukan kepalanya.


"Lu khianati gue Sean. Lu nikahi adik gue, tanpa sepengetahuan gue."

__ADS_1


__ADS_2