
"Tante." Ucap Megi saat melihat Miranda berada di depan pintu.
"Ayo masuk Tante, tapi kak Sean gak ada dirumah."
"Terima kasih, Megi. Tapi tante gak mau jumpai Sean, Tante mau ngobrol sama kamu, boleh?"
"Sama Megi, Tante?" Tanya Megi heran.
"Iya." Miranda melengos masuk kedalam.
"Kamu lagi gak sibuk kan, Megi?" Tanya Miranda saat melihat banyak karton berserakan di atas meja kaca ruangan depan.
"Enggak kok Tante, sebentar Megi beresin dulu." dengan sigap Megi membenahkan sofa dan juga meja kaca.
"Tante mau minum apa?" tanya Megi basa basi.
"Gak perlu, Tante bisa ambil sendiri nanti. Megi ayo sini duduk, biarkan saja dulu itu." Perintah Miranda.
Megi menghentikan pergerakannya dan perlahan duduk di sebelah Miranda. Ada perasaan takut dan juga canggung, bagaimana juga Miranda akan jadi ibu mertuanya nanti.
"Sean bilang, kalian mau menikah ya? Boleh Tante tau, kenapa Megi mau menikahi Sean?" Tanya Miranda lembut.
"Hemm, itu ... Itu... Karena Megi suka kak Sean, Tante." ucap Megi lirih sambil menunduk.
Ia canggung mendapatkan pertanyaan seperti ini, terlebih lagi pertanyaan itu keluar dari bibir wanita yang melahirkan Sean.
Miranda menghela nafas, di tatapnya lekat wajah polos Megi yang sedikit menampilkan ekspresi takut.
Diraihnya dagu Megi dan mendongakan wajahnya, di tatap mata bening milik Megi.
"Jangan takut, Tante merestui kalian kok. Tante cuma ingin tahu alasan kamu, kenapa bisa suka sama Sean? Semua orang tahu, Sean itu kasar dan dingin hati. Apa kamu gak takut sama dia, Meg?" Miranda menjelaskan dengan lembut.
Megi hanya menggelengkan kepalanya, ia tak takut dengan sikap kasar Sean. Tapi ia lebih takut dengan sikap Sean yang dingin.
"Kehidupan Sean itu berat, Meg. Mungkin karena itu Sean jadi kasar dan dingin hati."
"Megi gak takut sama kak Sean, Tante. Megi paham, kak Sean melakukan itu semua pasti ada alasannya, Megi tau kak Sean itu bukan lelaki yang buruk sebenarnya. Hati kak Sean lembut, tapi kak Sean mencoba berubah karena keadaan. Itu sih menurut Megi, Tante."
Miranda tersenyum mendengar ucapan Megi. Di raih pucuk kepala Megi dan mengelusnya lembut.
"Berapa umur kamu, Megi? Wajah kamu imut sekali?"
"18 tahun, Tante."
"18 tahun?" Miranda terkejut mendengar pernyataan Megi.
Ternyata Megi memang masih belia, bukan hanya wajahnya, tapi juga umurnya. Bahkan Rena jauh lebih tua di bandingkan Megi.
'Apa Sean tidak salah? Megi masih sangat belia!' Lirih Miranda dalam hati.
"Tante, Megi temeni Tante ngobrol sambil kerja boleh, ya."
"Oh... Iya boleh. Kamu lagi buat apa Meg?" Miranda meraih karton yang masih terlipat di atas meja.
Matanya membulat sempurna saat melihat desain milik Megi. Ia bukan orang yang paham dunia bisnis, tapi ia sering melihat lukisan seperti ini, karena dulu Sean sempat kuliah di jurusan arsitek.
"Kamu arsitek Megi?"
Megi tertawa mendengar pertanyaan Miranda. mana mungkin gadis seusia ia sudah menjadi arsitek.
"Bukan Tante, aku cuma bisa desain aja. Dulu sempat kuliah setahun di jurusan desain, tapi Megi putus kuliah karena Papa bangkrut." Jelas Megi tapi matanya masih berkutat di layar datarnya.
"Oh ... Setelah nikah nanti kamu mau sambung kuliah lagi, Meg?"
"Enggak Tante, mana mungkin Megi balik kuliah, nanti kak Sean gimana?"
"Kamu gak sedih Megi? Menikah di usia dini, apalagi kamu punya bakat. Gak ingin meraih mimpi dulu?"
"Menikah bukan suatu hambatan kok Tante, Megi masih bisa meraih mimpi walaupun sudah menikah. Lagian menikah muda juga bukan neraka kan Tante, malah banyak pahala."
Miranda terkejut mendengar ucapan Megi, gadis seusia ia bisa berpikir seperti itu. Biasanya gadis seusia dia masih sibuk bermain dan bersenang-senang. Bahkan Rena yang terpaut lima tahun dari Megi saja tidak pernah memikirkan itu.
"Jadi kenapa gak minta Sean kuliahin kamu saja lagi, Meg? Dulu kamu kuliah dimana?" semakin besar rasa penasaran Miranda tentang pribadi Megi.
"Di Universitas Tsing Hua, Tante."
"Tsing Hua, dimana itu?"
"Iya, Universitas di Beijing, Tante."
"Tapi Megi, umur kamu kan baru 18 tahun, seharusnya kamu baru mendaftar kuliah tahun ini kan?"
"Megi dulu masuk kuliah di umur 15 tahun menuju 16 tahun, Tante. Jadi Megi pulang ke Indonesia saat umur 17 tahun."
Miranda menatap Megi yang saat ini sedang duduk lesehan di bawahnya, sibuk berkutat pada desain 3D di layar datarnya. Pantas saja Sean memilih ia, mana mungkin Sean menikahi gadis sembarangan.
Megi tak kalah dengan Hana, hanya saja ia masih terlalu belia di bandingkan Hana yang terlihat elegan dan dewasa.
"Megi, kamu mau pernikahan yang seperti apa?"
Seketika jemari Megi terhenti dari atas keyboard laptopnya. Ia menatap Miranda yang duduk di belakangnya.
__ADS_1
"Gak tau, Tante! Menurut Tante gimana?" ucapnya lesu.
"Memang kamu gak punya pernikahan impian Megi?"
"Ada sih Tante, tapi udah sirna."
"Kenapa?"
"Udah gak ada Mommy, gak ada Papa, Mama dan juga Kak Mika disini Tante." Megi memindahkan posisi duduknya di sebelah Miranda.
Ia menarik nafas panjang dan menatap layar monitor kosong.
"Megi mau nikahnya sederhana saja Tante, gak ada siapapun yang akan datang dari pihak Megi, Tante. Megi cuma sendiri disini." Kini air mata mulai menghiasi pipi putih Megi.
Miranda menarik kepala Megi dan memeluk erat badan gadis mungil itu. Sesaat Miranda ikut terhanyut pada tangisan Megi.
Mereka hanya saling peluk dan menumpahkan air matanya masing-masing.
Mereka tak sadar saat ini ada langkah seseorang yang datang mendekat.
"Ma... Kenapa tangis-tangisan berdua?" ucap Sean yang baru masuk ke apartemennya.
"Eh... Sean. Gak papa, Nak. Kamu baru pulang, Sayang?"
"Heh ... Megi, sejak kapan kantor pindah kesini? Kata Farrel elu gak masuk kantor dua hari." Ucap Sean ketus.
Megi meleraikan pelukannya dan menghapus sisa buliran air matanya. Ia kembali duduk di lesehan dan berkutat di laptopnya.
"Sean, kok kasar banget sih, Nak?"
"Lagian di suruh kerja malah kabur-kaburan."
"Eleeeh ... Kakak juga kabur-kaburan, berhari-hari malah!" Jawab Megi kesal.
"Lu mau nyamain diri sama gue?" Sean berdacak pinggang.
"Lagian aku kan kerjanya desain kak. Gak mesti ke kantor pun aku kerja kan, lagian di kantor sumpek. Aku butuh inspirasi, kak."
"Elu ya..."
"Sssttt... Sstttt... Sean, udah cukup Nak. Jangan kasar, Megi kan calon istri kamu, jangan gitu ah." Miranda mencoba menengahkan.
"Tapi Ma..."
"Udah cukup Sean. Mama gak mau dengar tapi-tapian, jangan kasar."
Sean menghela nafas berat, ia menyisir rambutnya kebelakang. Di lihat Megi dengan mata sinisnya, Megi membalasnya dengan menjulurkan lidahnya keluar.
"Sean." Panggil Miranda lembut.
Sean hanya bisa mengalah, ia melengos ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan kasar. Megi hanya tersenyum puas, ia punya pembela saat ini.
"Tante, Megi boleh tanya gak?"
"Mau tanya apa, Sayang?"
"Dulu tante ngidam apa sih waktu hamil kak Sean? Ganteng sih, tapi kok bringas banget?" tanya Megi kesal.
"Megi, gue denger...!" Teriak Sean dari dalam kamar dengan suara lantangnya.
Miranda hanya menggeleng dan tertawa kekeh, Sean terlihat beda saat ia bertemu dengan Megi.
Saat jam makan siang, Miranda memanaskan makanan yang di masak Megi pagi tadi, setelah meja makan siap ia memanggil Megi dan juga Sean untuk segera makan siang.
Sean dan Megi datang bersamaan, mereka saling berebut kursi untuk duduk. Walaupun kecil, Megi mempunyai keberanian yang cukup besar. Ia mendorong Sean menjauh dari kursinya.
Bahkan saat mereka makan pun, mereka saling berebut makanan. Apa saja yang di meja makan selalu jadi rebutan mereka berdua, sesekali Sean memaki kasar.
Miranda hanya mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan sikap Sean yang berubah saat bersama Megi. Sean seperti kembali seperti anak kecil saat menghadapi Megi.
"Ma... Mama kok gak masak udang, sih?" Protes Sean dengan mulut yang penuh dengan isi.
"Ini masakan Megi, Nak. Mama datang memang sudah tersaji."
"Pantes saja, GAK ENAK!" teriak Sean di telinga Megi.
"Gak enak, gak usah di makan!" Balas Megi sengit.
"Udah-udah, kok berantem terus sih, Nak?" kembali Miranda menengahkan.
"Ma, udah urus persiapan pernikahan kami?" Tanya Sean serius.
"Nanti malam kita ke butik langganan Mama ya! Kita lihat baju pengantin disana."
"He em. Yaudah Sean balik ke hotel dulu ya." Sean menyambut tangan Miranda dan menciumnya takzim.
Sean menjitak pucuk kepala Megi sebelum berlalu pergi.
"Auuu." Megi memegang ujung kepalanya yang sakit karena jitakan Sean.
Miranda hanya bisa menggeleng pasrah melihat tingkah Sean yang tak pernah ia lihat selama ini. Sifat anak-anaknya kembali keluar.
__ADS_1
"Kak Sean suka udang ya, Tante?" tanya Megi saat melihat Sean sudah keluar dari apartemen mereka.
"Iya, Sean suka sekali udang dari dulu." jawab Miranda sambil tersenyum.
"Sukanya diapain, Tante?"
"Diapain aja suka, yang penting udang." balas Miranda lembut.
Megi hanya tersenyum dan mengganguk lembut.
"Megi, Tante pamit ya. Nanti malam kita ketemu di butik ya Sayang."
"Yaudah, Tante hati-hati ya." Megi mengantar Miranda sampai kedepan pintu.
Ia mencium tangan Miranda takzim dan tersenyum manis. Miranda mengecup dahi Megi dan mengelus pipi putih Megi. Ia takjub pada gadis kecil ini, ia mampu melawan Sean yang berhati beku, mencairkannya perlahan.
Megi kembali berkutat pada desainnya, kali ini dia lebih semangat mendesain karena inspirasinya sudah kelihatan.
Membayangkan hari pernikahan dengan lelaki pujaannya membuat bibir ia tersungging manis. Ia terus mendesain sampai lupa akan janjinya untuk ke butik dengan Miranda.
Sean membuka pintu apartemennya, sedikit bersiul ia berjalan dengan santai. Kembali ia meradang saat melihat Megi yang masih kucel.
"Heh ... lu kok masih kucel aja sih?" Ucap Sean ketus.
Ia menyenderkan sisi kanan bahunya di dinding. Tangannya menyilang di kedua dadanya.
"Memang kenapa?" Tanya Megi cuek.
"Heh... Lu lupa? Lu itu sok sibuk benget sih."
Megi menepuk dahinya, mulutnya melongo. Dengan cepat ia melengos pergi ke kamarnya. Sean hanya menggeleng dan masuk ke kamarnya.
Setelah mandi dan bersiap-siap ia segera keluar kamar. Tak di lihatnya Megi di sudut rumah manapun.
"Meg... Lu dimana?" Teriak Sean lantang.
"Aku belom siap mandi, kak!" Teriak Megi tak kalah lantang.
Sean hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh wanita itu ribet sekali hidupnya, untuk mandi saja lama sekali.
"Meg...! Gue tunggu di luar ya!" Kembali Sean berteriak lantang.
"He em"
"Lama ... Gue tinggal lu!" Ucap Sean kesal.
Sean berlalu pergi meninggalkan apartemen. Ia membuka pintu apartemennya, saat ia menutup pintunya, suara lembut seorang wanita memanggilnya.
"Sean."
"Hana." Ucap sean kaget.
Sean langsung berjalan pergi, namun Hana menarik pergelangan tangan Sean. Dengan keras Sean menghempaskan tangannya.
"Udah gue bilang, gue gak suka di sentuh!" ucap Sean kasar.
"Sean kasih gue kesempatan untuk jelasin." Hana kembali mengeluarkan bening air matanya.
Sean tak pernah sekasar ini padanya dulu, kenapa ia jadi kasar sekali. Ia sadar ia bersalah, tapi ia hanya ingin menjelaskannya saja.
Sean menatap Hana dengan tajam, ia jalan mendekat. Hana memundurkan langkahnya saat ia melihat Sean yang seperti itu, ia terus mundur sampai badannya menempel di dinding.
Sean menumbuk dinding tepat di sebelah wajah Hana. Matanya memerah padam, rahangnya menggretak.
Di sapunya pipi Hana dengan satu jarinya.
"Air mata lu, gak bisa buat gue luluh, Hana. Jadi, gak perlu bersandiwara." Ucap Sean di telinga kiri Hana.
"Gue, gue cuma mau jelasin keadaannya Sean. Gue cuma mau..."
"Mau apa?" Teriak Sean di depan wajah Hana.
Hana terkejut dan memejamkan matanya karena takut. Air matanya kembali menetes saat kelopak matanya terpejam. Sean benar-benar berubah.
"Mau bilang elu bakalan jadi Ibu tiri gue, gitu?"
Sean menumpuhkan lengan tangannya di dinding, ia menatap wajah Hana dengan jarak dekat. Sementara Hana hanya memejamkan matanya karena takut.
"Kak Sean aku udah ... Si ... Ap!" Ucap Megi terbata.
Matanya langsung menangkap kejadian yang membuat hatinya perih. Sean membetulkan posisi berdirinya.
"Lu bilang mau ngomong sama gue kan? Jalan cepat!" Perintah Sean keras pada Hana.
Dengan menelan ludah yang sedikit pahit, Hana berjalan menyusuri koridor, Sean mengekori dari belakang.
"Lu pergi duluan aja, nanti gue nyusul." Perintahnya pada Megi.
Megi hanya melihat mereka beranjak pergi, saat Sean melintas di hadapannya, Megi menarik jemari Sean. Ia menggenggamnya erat.
"Kak, aku mohon jangan pergi." Pinta Megi sendu.
__ADS_1