Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 115


__ADS_3

"Kakak, aku rindu sekali." ucap Megi sambil membenamkan wajahnya di dada Mirza.


Memeluk Mirza seerat mungkin agar ia tak kembali pergi. Memecahkan tangisan yang dari tadi berusaha ia tahan.


Perlahan Sean berjalan mendekati Megi dan Mirza yang masih larut dalam pelukan mereka berdua.


"Jangan pergi, jangan pergi lagi." ucap Megi mengeratkan pelukannya.


"Aku gak mau kakak pergi lagi, gak mau." kembali Megi berucap.


Suara seraknya semakin serak karena tangisan yang kian pecah saat berada dalam pelukan hangat kakaknya.


"Kakak kemana aja? aku dan kak Mika nyariin kakak."


Mirza hanya terdiam, mendengar semua celoteh adik perempuan semata wayangnya itu.


Saat melihat Sean yang datang mendekat, Mirza melepaskan pelukan Megi dan mendorong badan Megi ke belakang.


Mirza menghentikan dorongannya saat Megi berada tepat di depan Sean. Mirza tersenyum dan meraih kedua tangan Sean. Melingkari tangan Sean di bahu Megi.


Mirza meraih kedua pipi Megi, mencium lembut dahi Megi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Mirza pergi meninggalkan Megi dan Sean.


"Kak, Kak Mirza!" teriak Megi lantang.


"Kak Mirza jangan pergi!" penggil Megi kembali.


Megi mencoba melepaskan kedua tangan Sean yang melingkari bahunya.


"Kakak, lepasin aku. Kakak aku mohon lepasin aku." pinta Megi sambil memukul tangan Sean dengan keras.


Semakin Megi ingin mengejar Mirza, semakin erat Sean memeluk badan Megi. Sean menumpuhkan dagunya di pucuk kepala Megi, melihat Mirza yang semakin jauh berjalan pergi.


"Kakak, aku mohon lepasin aku, Kak." pinta Megi dengan memberontak keras.


"Kak Mirza jangan pergi!" teriak Megi lantang.


Megi memukul-mukul tangan Sean yang melingkari bahunya. Mencoba untuk melepaskan pelukan tangan kekar Sean.


"Kakak lepasin, aku!" teriak Megi lantang. Air matanya terus mengalir dengan sangat deras. Badannya mulai bergetar karena tangisannya yang tergugu semakin dalam.


"Kak Mirza." lirih Megi melemah. Kembali buliran air mata menetesi pipi putihnya.


"Kak Mirza!" kembali Megi berteriak lantang saat bayangan Mirza tak lagi terlihat di pandangan matanya.


"Kakak jahat." Megis memukuli tangan Sean yang melingkari bahunya.


"Kakak jahat, aku benci kakak!" teriak Megi kencang, Megi duduk dengan perlahan saat kedua kakinya terasa sangat lemas.


Sean ikut berjongkok tanpa melepaskan lingkaran tangannya di bahu Megi. Menumpuhkan kedua lutut kakinya di atas pasir.


Megi memalingkan wajahnya, melihat Sean dengan segenap amarahnya. Megi melepaskan pegangan tangan Sean dengan keras. Mendorong badan Sean sampai terjatuh di atas pasir.

__ADS_1


"Aku benci kakak. Aku benci!" teriak Megi keras.


"Aku sudah memeluk kak Mirza tadi, seandainya kakak gak nahan aku, aku bisa bawa kak Mirza pulang!" teriak Megi keras.


Megi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Memecahkan kembali tangisan yang kian membuat sesak dadanya.


Perlahan Sean bangkit dan kembali memeluk Megi yang sedang terduduk menangisi kepergian kakaknya.


Sean meraih kedua pipi Megi dan mendongakan kepalanya. Menatap binar bening mata Megi yang kembali basah oleh air mata.


"Mirza gak ingin kembali, Sayang. Mirza yang gak ingin kamu mengejarnya?" ucap Sean lembut.


"Tapi kenapa Kak? kenapa kakak gak lepasin aku tadi?"


"Kalau aku lepasin kamu, kamu pasti akan mengejar Mirza. Bagaimana jika Mirza menolak kamu dengan cara yang lebih keras? kamu dan anak kita akan terluka kan?" jelas Sean lembut.


"Tapi aku rindu sekali sama kak Mirza, kak."


"Aku tahu, tapi Mirza yang gak mau. Mirza yang tak ingin kembali."


"Tapi kenapa Kak?"


"Mirza punya alasannya sendiri, Sayang. Apapun itu, kita berdoa semoga itu yang terbaik buat dia."


Megi kembali meneteskan air matanya. Berusaha menahan segala sesak yang bersarang di dadanya. Megi menarik bahu Sean dan memeluk badan Sean erat.


"Kakak, bantu aku cari kak Mirza kak. Aku mohon." ucap Megi tergugu.


Sean hanya terdiam dan membalas pelukan Megi perlahan. Memeluk badan mungil istrinya yang terus bergetar karena menangis.


Sean menghela nafasnya berat, saat kedua kelopak matanya terpejam, satu linangan air melintasi pipinya.


Tak perlu Megi memohon seperti ini, ia akan lakukan apapun yang di minta oleh Megi walaupun itu sulit sekalipun.


Tapi kali ini Mirza sendiri yang tak ingin kembali. Bagaimana caranya ia bisa menyeret Mirza untuk di bawa pulang. Jelas Mirza sudah punya jalannya sendiri, dan ia tak ingin Megi ada dalam kisah masa depannya.


***


Sean keluar dari balik pintu kamar tidurnya. Kembali ia menghela nafasnya saat melihat Megi yang masih melamun selama berjam-jam di atas sofa ruang tengah.


Melipat kedua lutut kakinya dan memeluknya dengan erat. Tak mengatakan apapun, tak bersuara, tapi air matanya tak berhenti mengalir.


Sean menghela nafasnya dan mengambil gitar yang terletak di samping piano. Beberapa alat musik tersedia disini, untuk menemani kesendirian Sean sebelum ia bertemu dengan Megi.


Sean duduk di sebelah Megi, mulai menyetel senar gitarnya. Sean memalingkan pandangannya, namun Megi masih tak bereaksi.


Perlahan satu persatu jari Sean memetik senar gitar. Memainkan sebuah nada sendu, di sebelah Megi. Memainkan irama lagu Dewi dari group band Alexa, hanya acoustik tanpa vocal.


Setelah masuk nada reff Megi juga masih tak bersuara. Sean kembali memainkan di nada reff dan menyanyikan syair ciptaan nya sendiri.


"Megi ... Bukalah kedua matamu. Pandanglah aku di sampingmu." ucap Sean menyanyikan lirik lagu yang di ubahnya.

__ADS_1


Megi memalingkan pandangannya dan menghapus buliran air matanya. Melihat Sean yang tersenyum dengan lebar.


"Megi ... Berikan sedihmu untukku. Agar ku lihat senyum di wajahmu, di wajahmu. Manis untukku." sambung Sean dengan sedikit bercanda.


Megi melepaskan senyumnya, menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Sean. Megi menjatuhkan kepalanya di bahu Sean.


"Kakak aku minta maaf ya. Tadi aku sempat bentak-bentak kakak."


"Aku maafin, tapi jangan sedih lagi ya."


Megi menganggukan kepalanya, menghapus kembali buliran air matanya.


"Kak, kira-kira kak Mirza kenapa ya gak mau jumpai aku?"


Sean tersenyum dan meletakan gitar di sebelahnya. Memindahkan kepala Megi ke dalam dadanya.


"Mungkin ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Mirza pasti baik-baik saja." jawab Sean sambil menghela nafasnya.


Mata Sean memandang kosong kedepan, seperti ada sesuatu yang mencoba untuk kembali ia ingat.


"Jika mengingat bagaimana dia membawa kamu ke dalam club malam dulu. Sampai saat ini aku gak tahu bagaimana harus bersikap saat berhadapan dengan Mirza, Megi." ucap Sean lembut.


Mendengar ucapan Sean, Megi menghapus buliran air matanya dan menatap wajah Sean yang memandang kosong kedepan.


"Aku masih ingat sekali, bagaimana dia menggunakan trik untuk menjual kamu dengan harga tinggi padaku waktu itu." Sean tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu tahu, entah apa yang membuat aku tertarik untuk membelimu dengan harga segitu. Padahal saat itu ada dua gadis sexy di sampingku. Tapi kamu mencuri seluruh perhatianku di saat kali aku melihatmu."


Megi tersenyum dan melingkari kedua bahu Sean.


"Dari awal bertemu, aku sudah menjadi milik Kakak dengan harga dua puluh lima juta kan?" jawab Megi lembut.


Sean tersenyum dan mengangguk pasrah, terbayang semua bagaimana perlakuan dia pada Megi di awal dulu.  Sangat kasar dan tak memiliki kehangatan sedikitpun.


Bahkan ia tak segan untuk membentak dan memperlihatkan segala keburukan sifatnya.


Sampai Megi sah menjadi istrinya saja, ia masih sangat acuh dan tak peduli. Bahkan ia pernah memalingkan perasaannya pada Megi.


Menyakiti Megi sekeras mungkin, menghancurkan harapan Megi sesirnanya, bahkan hanya sebutir debu pun tak ia biarkan bersisa.


"Jika mengingat bagaimana wajahnya bisa tertawa, setelah Mirza berhasil menjualmu padaku. Bahkan sampai detik ini saja aku masih tak bisa memaafkan perbuatannya, Megi." ucap Sean sendu.


"Tapi Kak ..."


"Aku tahu, dia yang sudah menyelamatkanmu. Tapi itu adalah kewajiban dia, jangan salahkan Mika jika dia tidak bisa menerima. Bahkan aku saja, tak bisa menerima perlakuan dia, Megi."


"Kak." panggil Megi lembut.


"Hem." Sean memalingkan wajahnya melihat Megi di dalam dekapannya.


"Kakak kenal kak Mirza dari dia kecil kan?" tanya Megi hati-hati.

__ADS_1


Sean hanya menganggukan kepalanya.


"Apa dulu, kak Mirza juga seseorang yang seperti itu?"


__ADS_2