
Megi menghela napas panjang, ia kembali duduk di sebelah Hana. Ia juga masih memiliki nurani, wajah Hana begitu lembut dan juga keibuan. Mungkin memang ada salah paham di antara mereka.
"Aku ini seorang anak angkat dari keluargaku saat ini. Semua ini aku lakukan atas dasar permintaan Ayah angkat aku, Meg."
Hana mulai menceritakan kisah masa lalunya, ia di besarkan oleh keluarga kolongmerat. Ia di ambil dari panti asuhan saat umur delapan tahun. Tapi keluarga itu tak benar-benar tulus merawatnya.
Hana mengalami pelecahan seksual oleh ayah angkatnya sendiri, Ia sudah mengugurkan kandungannya saat umur 15 tahun. Setelah itu Hana depresi, ia menjalani hidupnya seperti seorang yang kehilangan semangat.
Hana sering di jadikan negosiasi bisnis oleh ayah angkatnya. Wajah cantik dan tubuh langsing Hana menjadikan hidup Hana begitu kelam. Hana sempat depresi dan beberapa kali mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun ia masih terus selamat dari maut, dan setelah itu hidup Hana lebih hancur dari sebelumnya.
Pertama kali Hana bertemu Sean saat masuk SMA, Sean tersenyum hangat padanya. Saat itu Sean membantunya melompati pagar karena mereka terlambat masuk sekolah.
Itulah awal pertemuan mereka, dan Hana jatuh cinta pada Sean karena sikap hangat Sean. Perlahan Sean terus mendekat, Sean mengejar Hana tanpa lelah, namun Hana terus menolak karena diri dia yang sudah tak suci lagi.
Hana merasa kotor, Sean terlalu baik untuknya. Namun seperti tak kenal lelah, Sean terus mengejarnya. Awalnya Hana ingin merasakan kebahagiaan itu sesaat. Kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan selama hidupnya. Namun ia terus masuk terjerumus pada kebahagiaan yang Sean ciptakan.
"Sean adalah duniaku, Megi. Sean adalah satu-satunya alasan untuk aku bertahan selama ini. Aku seperti kehilangan duniaku saat Sean membenciku."
"Tapi kak Hana kenal siapa kak Sean. Jika dia tidak ingin, maka kita gak bisa menentangnya."
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, Megi. Hanya maaf dia yang aku inginkan. Sean adalah satu-satunya lelaki yang dekat denganku, dia juga satu-satunya lelaki yang menghormati aku."
Megi menatap Hana dengan rasa yang tak bisa di jelaskan. Hana bercerita dengan airmata yang terus mengalir deras, mungkinkah itu hanya sandiwara. Tidak, Hana tidak seburuk itu, dia juga hanya korban dari keadaan.
"Sean adalah satu-satunya lelaki yang paling dekat denganku, dan satu-satunya lelaki yang tak pernah menjamah badanku. Megi, Sean itu lelaki yang sangat baik, kamu beruntung bisa menjadi istrinya."
Megi terenyuh mendengar kisah Hana, dia bukan satu-satunya gadis yang berjuang dengan keras. Iya, setiap orang berperang pada medannya masing-masing. Namun Megi juga tak bisa membiarkan Hana mendekat.
Sean bisa saja kembali gamblang saat mengetahui kenyataan ini. Bukan ia tak punya hati, namun perjuangannya meluluhkan hati Sean sampai di titik ini bukan lah hal yang mudah.
"Megi, bisakah kamu mempertemukan aku dan Sean sekali saja. Setelah ini aku tidak akan menganggu kalian lagi."
"Maaf kak, seperti yang aku bilang, aku gak bisa ikut campur tentang masa lalu kalian. Kak Sean orang yang tak terkendali saat ini, jadi aku tak mampu membuat ia luluh dan mau menemui kakak."
"Tapi Megi, aku mohon. Cobalah untuk berbicara dengannya." pinta Hana lembut.
"Aku gak bisa, Kak. Kak Sean yang ada dalam cerita kakak dan kak Sean yang sekarang adalah dua orang yang sangat jauh berbeda."
"Tapi, Megi. Aku akan terus tersiksa jika seperti ini."
"Kak, semua ini adalah hal yang berat untuk kak Sean terima. Kak Sean yang paling tersakiti, jadi biarkan dia menyembuhkannya dengan cara dia sendiri."
Megi menghela nafasnya, dan mulai bangkit.
"Setiap orang punya alasannya untuk tidak memaafkan, kak Hana. Dan aku rasa, kakak yang paling tahu alasan di balik sikap kak Sean. Maafkan aku kak, aku gak bisa melakukan apapun untuk kakak." Megi berjalan perlahan meninggalkan Hana.
"Maaf, sekali lagi Maaf." ucap Megi sebelum berlalu menjauh.
***
Megi memperhatikan wajah polos Sean yang sedang melahap sarapannya. Kisah masa lalu Hana terus membayangi pikirannya. Ia bingung harus bersikap seperti apa.
Di satu sisi ia tak tega dengan Hana, tapi di sisi lain ia takut kehilangan Sean dari sisinya. Megi menghela nafasnya, lelah sendiri dengan beban pikirannya.
__ADS_1
Sean menatap Megi yang melamun di depan Pantry. Sean menyipitkan kedua matanya, menatap Megi lekat. Seperti ada yang sedang menganggu pikiran si gadis kecil itu.
Sean berjalan mendekat, meletakan piring kotor di tempat pencucian piring. Namun pergerakan ia tak membuat Megi sadar. Sean menyelentik dahi Megi dengan keras.
"Auuu." teriak Megi sambil memegang dahinya.
"Melamun aja lu? lagi mikirin apa?"
"Enggak, enggak lagi mikirin apa-apa."
"Yaudah cepet, gue tunggu di bawah." ucap Sean sambil berjalan keluar dari apartemen.
Megi hanya mengangguk dan membereskan sisa sarapan Sean.
Sean memaki kasar, setelah setengah jam Megi belum juga turun. Sean membanting pintu mobilnya keras, langkahnya cepat kembali masuk ke lobi apartemen.
Langkahnya terhenti saat melihat orang yang di tunggunya berjalan keluar. Dengan kaos longgar lengan panjang namun memperlihatkan kedua kulit bahunya. Jeans biru dengan sobekan di lutut dan juga pahanya. Rambut yang di ikat ekor kuda dan poninya yang miring.
"Mau ngerampok lu?" tanya Sean saat Megi mendekat.
"Kan mau ngimbangi gaya kakak." Megi memainkan kedua alisnya.
"Yaudah naik." Sean membuka pintu mobilnya.
"Kak, kok naik mobil sih?"
"Jadi?"
"Naik motor aja."
"Gak seru naik mobil."
Sean kembali membanting pintu mobilnya kasar, tak mengerti apa maksud Megi. Tapi dari pada berdebat panjang, ia mengalah saja.
Sean memberhentikan laju motornya di depan sebuah mall, sesuai perintah Megi. Mereka memasuki sebuah Mall dan menuju ke tempat permainan game zone.
"Gue pikir lu mau belanja, mau ngerampok gue dengan bayarin elu shopping."
"Ih ... Aku gak sematre itu kak." Megi menarik tangan Sean dan mengajak Sean bermain bersama.
Awalnya dengan sedikit malas Sean mengikuti Megi. Namun perlahan ia juga mulai mengikuti permainan Megi. Semua permainan di mall itu mereka mainkan.
Untuk pertama kalinya, Sean merasakan kembali hidup, ia kembali merasakan kebahagiaan yang membuat ia lupa akan segalanya.
Sampai langit berganti malam, Sean memutuskan untuk pulang. Namun Megi malah mengajak Sean untuk bermain di tempat lain.
Sean kembali memarkirkan motornya di pasar malam yang berada di selatan kota. Walaupun lelah, ia tetap mengikuti keinginan Megi. Karena janjinya untuk menemani Megi jalan-jalan seharian.
Mata Megi membulat sempurna saat melihat wahana bianglala raksasa di hadapannya.
"Kak naik ini yuk." Megi menarik ujung kemeja Sean.
"Ah gak mau gue, kayak bocah."
"Ih kakak takut ya?" ucap Megi menggoda.
__ADS_1
"Enggak, gue gak takut apapun, Megi." jawab Sean angkuh.
"Kalau gitu ayo main."
Sean menghela nafas panjang dan memutar bola matanya malas. Mau tak mau harus mau ngikuti keinginan Megi.
"Dasar bocah." gerutunya kesal.
Megi tersenyum sumringah saat putaran pertama bianglala. Sementara Sean hanya memandang malas keluar. Ia menyenderkan badannya malas, sesekali ia menguap karena lelah.
"Kak dari atas sini bisa lihat seluruh kota ya."
"Hem." jawab Sean cuek.
"Kak tau gak? di Shanghai pernah ada mitos kalau misalnya pasangan itu ciuman ditingkat tertinggi bianglala, cinta mereka akan abadi."
"Terus lu percaya."
"Ehm hem." Megi mengangguk.
"Dasar bocah, masih percaya sama mitos sok ngomong ciuman." ucap Sean kesal.
Sean menumpuhkan kedua siku tangannya diatas kedua lutut. Perlahan bianglala itu terhenti, dan naik satu tingkat perlahan, dengan durasi yang lumayan lama.
"Aku udah gede tau kak." Megi menatap Sean yang ada di hadapannya.
Sean hanya mengangguk tak percaya.
"Udah gede percaya mitos, gue rasa ciuman itu bagaimana aja lu gak tau."
"Tau." ucap Megi spontan.
"Ya ya." Sean menegakkan kembali badannya.
"Kakak gak percaya?" tanya Megi kesal.
"Enggak!" jawab Sean ketus.
Megi bangkit dan meraih pipi Sean, Megi menempelkan bibirnya di bibir Sean. Dengan cepat Megi melepaskannya.
"Bisa kan." ucap Megi ngeyel.
"Lu bilang itu ciuman?"
"Iya."
Sean tertawa getir, ia membuang pandangannya keluar. Sean menarik tangan Megi dan mendudukannya di pangkuannya. Bersamaan dengan keranjang bianglala yang mereka naiki berada di puncak terginggi.
"Begini yang namanya ciuman."
Sean menarik kepala Megi mendekat, memasukan satu tangannya ke belakang kepala Megi dan menariknya perlahan. Mencium bibir Megi dengan lembut.
Mensesap lembut bibir mungil istrinya tersebut, untuk beberapa lama, Sean ikut terbawa suasana.
Sampai Sean tersadar. Dengan cepat tangannya memindahkan posisi duduk Megi.
__ADS_1
"Lu menjebak, gue. Meg," ucap Sean sinis.