
"Maaf, lu bilangi siapa kutu beras? Gue?" tanya lelaki itu tak senang.
"Iya elu, sadar gak? Gue bilangi elu!" tekan Evgen ketus.
"Evgen cukup! Gue sedang kerja, gak enak kalau buat ribut di sini," tengah Shenina.
"Kerja ya kerja, tapi jangan diem saja saat ada yang nginjak elu. Mereka bukan siapa-siapa, gak berhak buat nindas elu," ucap Evgen lembut.
"Hey, Bro. Lu gak salah bilangi gue kutu beras? Terus kalau gue kutu beras elu apa? Hama?" tanya lelaki itu kembali.
"Sorry, tapi gue bukan satu spesies sama elu. Gue, jelas punya level yang jauh dibandingkan elu," balas Evgen angkuh.
"Elu!" Kedua tangan lelaki itu mengepal dengan kuat, siap untuk meluncurkan serangan ke wajah tampan Evgen.
Namun hanya dengan tatapan tajam milik Evgen. Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk melukai wajah tampan milik Evgen.
"Elu ngerasa level elu tinggi? Terus kenapa mau sama wanita pelayan seperti dia? Apa ada masalah sama selera elu?" tanya gadis itu meremehi.
"Terus elu pikir elu sebanding gitu sama dia? Hah, bahkan seujung kuku dia saja, elu gak selevel dengan dia," bela Evgen langsung.
"Lu ngebandingi gue sama dia? Ya Tuhan, lu gak salah? Jelas gue beda sama dia."
"Lu merasa level elu tinggi? Tapi buat gue elu gak beda sama hama yang menganggu. Lu tahu yang salah pacar elu, tapi elu jadikan pacar gue samsak kekesalan elu? Heh, kalau cowok elu brengsek ya brengsek saja. Gak usah nutupi dengan limpahin masalah sama orang lain."
Bugh
Sebuah kepalan mengarah ke wajah tanpan Evgen. Namun lebih cepat tangan besarnya menangkap kepalan tangan itu.
"Elu mau nyentuh wajah tampan gue? Harus berlatih bela diri selama sepuluh tahun dulu dong." Evgen menghempaskan kepalan tangan itu kuat.
Membuat si pemilik tangan kesakitan menahannya.
"Elu, gak tahu siapa gue?" tanya wanita itu sombong.
"Lu hanya lalat hijau gak berguna, kenapa gue harus tahu?" jawab Evgen angkuh.
"Gue bisa tuntut elu atas tindakan elu ini, gue akan tuntut elu lelaki sombong."
__ADS_1
"Mau tuntut?" Evgen mendekatkan wajahnya ke gadis itu dan tersenyun lembut.
"Boleh, kirim saja tuntutannya ke hotel pesisir putih. Cari yang namanya Evgen Aulia, anak dari Sean Rayen Putra," ucap Evgen memainkan kedua alis matanya.
"Sean Rayen Putra," lirih gadis sombong itu lemah.
Termasuk seluruh pelanggan yang datang, melihat kearah putra dari pengusaha terkaya itu.
"Sudah tahu tempatnya? Baiklah gue tunggu tuntutan elu. Kita lihat, siapa yang akan ganti rugi ke siapa," ucap Evgen sambil tersenyum manja.
Evgen mengalihkan pandangannya kearah Shenina. Ia menyelintikan dua jarinya di dahi Shenina.
"Dasar bodoh! Ayo ikut gue," ajak Evgen lembut.
"Kemana?" tanya Shenina lemas.
"Tentu saja keluar dari sini, lu masih mau kerja di tempat begini?" balas Evgen.
"Tapi gue kan masih kerja, Evgen. Gue nanti di pecat kalau pergi."
Mendengar ucapan Evgen, seorang Manager cafe datang mendekati perkumpulan itu.
"Maaf, ini ada apa ya?" tanyanya lembut.
"Lu siapa?" tanya Evgen sombong.
"Saya Manager di cafe ini, ada yang bisa saya bantu?"
"Kenapa baru keluar? Kemana saja saat karyawan elu membutuhkan perlindungan cafe ini? Lihat apa yang mereka lakukan sama cewek ini? Apa begini sistem kerja kalian, saat pelanggan yang salah karyawan yang dilimpahkan masalah?" tanya Evgen tanpa jeda.
"Maaf, ini sebenarnya ada apa? Saya gak paham, bisa coba dijelaskan?" tanya Manager cafe itu lembut.
"Minta jelasin saja sama dia, sembarangan sekali pegang-pegang karyawan perempuan di sini. Dia pikir karyawan di sini sejenis apa?" ucap Evgen ketus.
"Shenina, sebenarnya ada apa ini? Coba jelasin sama saya," pinta Manager itu lembut.
"Itu, Pak sebenarnya--" Shenina melihat kearah lelaki tersebut, ia kembali menundukan pandangan saat tak sengaja matanya dan lelaki itu saling bertemu.
__ADS_1
"Sebenarnya kenapa?" tanya Manager itu kembali.
"Sebenarnya--"
"Sudah gak usah dijelasin. Ngapain juga dijelasin? Mulai saat ini gak perlu lagi kerja di sini," ucap Evgen sambil menarik tangan Shenina pergi.
Shenina hanya mengikuti langkah Evgen tanpa banyak bertanya. Meninggalkan area cafe dengan cepat.
"Evgen." Shenina menghempaskan tangan Evgen yang mencengkram pergelangan tangannya.
"Lu apa-apaan sih? Gara-gara elu gue dipecatkan?"
"Heh Shenina, kemana hilangnya sifat barbar elu itu? Kenapa diam saja saat ditindas oleh mereka?" tanya Evgen ketus.
"Mereka itu pelanggan Evgen, kalau gue cari ribut sama mereka, itu sama saja gue cari mati sendiri," jelas Shenina lembut.
"Terus kalau elu kerja di sana, elu pikir elu gak bisa melawan gitu? Shenina jangan bodoh, elu kerja di sana melayani pembeli bukan untuk dihina pembeli. Jangan diam saja saat ada yang merendahkan elu," ucap Evgen ketus.
Shenina menghela napasnya, ia memanyunkan bibirnya dan berjalan menjauh dari Evgen.
"Ada yang merendahakan atau bukan, apa bedanya? Orang-orang seperti gue kan memang selalu direndahkan. Gue sudah terbiasa dianggap seperti itu, Evgen," jelas Shenina lemah.
"Hei, elu itu bodoh ya? Siapa mereka bisa merendahkan elu? Jangan hanya karena elu sering direndahkan sama orang lain, terus elu merasa elu itu rendahan. Shenina, kalau elu mau dihargai, cobalah untuk menghargai diri elu sendiri. Jangan diam saja saat orang menghina elu. Elu itu aneh, melawan gue berani, tapi lawan mereka gak berani!"
"Bukan gak berani, hanya gak mau ribut saja," balas Shenina lembut.
"Heh Shenina, jangan takut untuk memperjuangin harga diri elu. Jika elu melawan dan dipecat, ya cari kerja baru. Jangan mau kerja di tempat yang tidak bisa menghargai orang, elu memang hanya karyawan. Tapi elu juga punya harga dirikan?"
Shenina tersenyum lembut dan meletakan bokongnya di kursi taman.
"Elu bisa bilang begitu Evgen. elu bisa ngomong begitu karena elu gak pernah berada di posisi gue. Andai elu jadi gue, elu juga gak akan mau ribut. karena hal begini, sudah sangat sering terjadi," jelas Shenina.
"Sering atau tidak bukan alasan elu menyerah pada harga diri elu, Shen. Semakin sering elu diperlakukan begitu, maka seharusnya elu semakin sering melawan. Tunjukan pada mereka kalau elu juga punya harga diri yang harus mereka hargai."
"Sayangnya di dunia gue gak seperti itu, Evgen. Dalam dunia gue, hinaan itu bukan lagi hal yang aneh. Saking seringnya, gue sudah hapal dan terbiasa," ucap Shenina pahit.
Evgen memandang wajah Shenina yang sedang tersenyum pahit. Sebenarnya ia tak tega melihat keadaan gadis ini. Namun mau bagaimana lagi? Terkadang dunia memang harus sekejam ini.
__ADS_1