
"Jangan pernah sentuh lagi, kulit adik gue!" ucap Mika membara.
Mika datang mendekat dengan langkah besarnya. Wajahnya memerah seketika. Di pandangnya wajah Mirza dengan semua emosi yang ia miliki.
Plakkk
Tamparan mendarat di pipi mulus Mirza. Sejenak semua terdiam, Megi memeluk Rezi agar tak melihat tingkah dua orang dewasa di depannya.
Sementara Mirza hanya bisa menunduk, ia tak berani memandang wajah Mika. Ia tahu, ia bersalah, semua rasa bersalah itu yang telah menghukum keangkuhannya selama ini.
Mika mencengkram kera baju koko Mirza kuat.
"Mika, tahan. Mirza hanya bicara sama Megi." tahan Sean lembut.
"Diem lu." balas Mika sengit.
"Elu, ikut sama gue!" Mika menyeret Mirza kedalam mobil miliknya.
Megi menjerit memanggil dua kakaknya itu, mengikuti langkah besar Mika. Dengan sedikit berlari Megi mengejarnya, namun langkah Mika tak terkejar. Mika lebih dulu melajukan mobilnya keluar dari area pemakaman.
"Ada apa ini?" tanya seorang perempuan yang di tunjuk Mirza tadi.
Sean memandang wanita itu dengan mengernyitkan dahi. Seperti pernah mengenal tapi dimana?
"Kak, cepat ambil mobil." perintah Megi panik. "Mbak ikut kami ya." sambung Megi kalut.
Sean membuang pikirannya tentang gadis itu, dengan berlari ia mengambil mobilnya dan mengejar mobil Mika.
Mika memasukan mobilnya kehalaman luas rumahnya, Mika turun dengan menyeret Mirza masuk kedalam rumahnya.
Mika menghempaskan badan Mirza kuat keatas sofa. Mirza langsung bersimpuh di kaki Mika saat badannya jatuh ke sofa.
"Kak, gue minta maaf, gue gak niat ganggu Megi." ucap Mirza lemah.
Mika menarik badan Mirza yang bersimpuh di kakinya, ia memeluk badan Mirza erat.
"Lu gak boleh kemana-mana lagi, Za. Lu harus tinggal disini bareng gue dan Megi." peluk Mika erat.
Mirza langsung melepaskan pelukan Mika. Ia memandang wajah Mika yang kini mulai berhiaskan beningan cair dari matanya.
"Maksudnya?"
"Kalau gue gak nyeret lu begini? apa lu akan ikut gue pulang kerumah?" tanya Mika lembut.
"Gue gak ngerti, Kak." ucap Mirza mengelak.
"Lu gak boleh pisah lagi sama kami, kami carik in elu kemana-mana, Za. Kami butuh elu disini, buat melengkapi keluarga kita."
Mirza menggelengkan kepalanya, dia menatap Megi yang saat ini berada di ambang pintu.
"Gue gak bisa kumpul sama kalian, gue terlalu banyak salah sama kalian berdua. Gue gak sanggup hidup dalam penyesalan ini."
Megi berjalan mendekati dua orang itu, dengan menahan bulirannya agar tak menetes.
"Kak, coba kakak lihat sekarang. Aku, kakak, dan kak Mika udah berbeda saat ini. Kita udah punya kehidupan masing-masing. Tapi bukan berarti hubungan diantara kita berakhir kak, hubungan yang kita miliki ini akan tetap ada sampai kapanpun."
__ADS_1
Megi meraih kedua jemari milik kakak-kakaknya.
"Kakak dan kak Mika bagaikan dua sayap aku. Tanpa kak Mika sayap aku gak lengkap, dan tanpa kakak aku tak bisa terbang kak. Tetaplah disini, tetaplah bersama kami." bujuk Megi kembali.
Megi memeluk kedua badan besar lelaki itu. Impian yang tak pernah ia pikirkan untuk bisa menjadi nyata, kini semua terasa begitu sangat indah.
Beberapa waktu lamanya mereka saling berpelukan, ada kehangatan yang kembali menyelimuti hati mereka.
Sampai akhirnya mereka meleraikannya, Mirza menunjuk gadis yang saat ini berdiri sejajar dengan Sean.
"Dia istri gue, Kak. Dia yang mendampingi perubahan gue." tunjuk Mirza dengan menahan air matanya yang ingin tumpah.
Gadis itu mendekat kearah Mirza tersenyum dengan senyum terbaiknya. Mika meraih wajah gadis itu, di tatapnya wajah gadis yang sangat lembut itu. Mika mengecup dahi wanita itu.
"Terima kasih, sudah mengembalikan adik gue." ucap Mika lembut.
"Mas Mirza berubah atas kemauannya sendiri. Bukan aku yang merubahnya." jawab wanita itu lembut.
Megi tersenyum dan mengambil kedua jemari tangan wanita itu, mengenggam jemari gadis itu lembut.
"Mungkin jika bukan dampingan, Mbak. Kak Mirza yang aku kenal berbeda dari yang saat ini." ucap Megi lembut.
Wanita itu tersenyum dan membalas genggaman tangan Megi.
"Kamu sendiri bagaimana? kamu sehat, Megi?" tanya wanita itu lembut.
Seketika wajah Megi langsung berubah, ia bingung dengan pertanyaan wanita itu.
"Mbak kenal aku?" tanya Megi bingung.
"Ada apa sih? kok rame banget, ninggalin aku?" tanya Irena yang keluar dari kamar.
"Mirza, itu istri kakak. Namanya Irena." ucap Mika sambil menyapu air matanya.
Irena berjalan dengan senyumnya yang merekah lebar.
"Ini siapa Mas?" tanya Irena saat melihat wajah Mirza yang sedikit berbeda dengan Mika.
"Dia Mirza, adik Mas." jawab Mika lembut.
"Jadi karena dia? Mas sama Sean sampai bertengkar hebat seperti itu?" ucap Irena langsung.
"Maksudnya?" tanya Mirza bingung.
"Ssttt ... Irena, mulut lu kalau gak bisa lihat situasi, gue bungkam sama dollar, mau?" ucap Sean yang datang mendekati mereka.
"Wih ... Ya jelas mau dong, Sean." jawab Irena cepat.
"Dasar mata ijo lu." balas Sean sengit.
"Ini maksudnya gimana sih, kak? elu sama Sean bertengkar karena gue?" tanya Mirza bingung.
"Memang benar ya, Kak?" tanya Megi yang juga ikut bertanya karena bingung.
"Ya benar lah, Sean bahkan pertaruhkan pernikahannya demi balikin Mirza yang ini kan?"
__ADS_1
"Ish Irena ini." Sean membekap mulut Irena dengan kuat.
Dengan keras Irena memukul tangan Sean, tak bisa membuka dengan pukulannya, Irena menggigit pergelangan tangan Sean dengan kuat.
"Auwww ... Irena." teriak Sean lantang, Sean mengkibaskan tangannya menahan sakit.
"Bweee." Irena menjulurkan lidahnya, dan langsung sembunyi di belakang punggung badan suaminya.
"Meg, lu kandangi itu yang satu, biar kakak kandangi yang ini. Pusing kakak kalau mereka berdua jumpa." ucap Mika yang mulai depresi.
Mirza dan wanita itu melepaskan tawanya melihat Sean dan Irena yang bisa akrab seperti saudara kandung.
"Walaupun gue gak tahu, maksudnya. Gue berterima kasih sama elu, Sean." ucap Mirza lembut.
"Santai saja, Mirza. Gue lakuin ini juga buat istri gue."
Wanita itu tersenyum, dan menatap Megi dengan senyum sendu.
"Dari dulu, kalian berdua ini selalu buat iri. Kalian ini seperti pasangan yang di ciptakan dari surga." ucap wanita itu dengan lembut.
"Maksud omongan Mbak apa sih?" tanya Megi bingung.
Wanita itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sementara Sean terus menatap wajah wanita itu dengan lekat. Mengingat seperti pernah bertemu sebelumnya.
"Heh, Sean." panggil Irena membuyarkan lamunan sean.
Sean mengalihkan perhatiannya kearah Irena yang berada di balik punggung badan Mika.
"Gue tahu elu itu ganteng, tapi gak perlu seperti itu juga mandangi istri kakak ipar lu. Walaupun elu lebih ganteng dari pada kakak ipar elu, gak perlu juga tebar pesona norak elu itu."
"Mika, kalau elu gak bisa kandangi ini wanita. Gue buang dia di samudera antlantik." ucap Sean geram, sambil berjalan keluar dari pintu belakang.
"Hey Sean, apa lu bilang? gue gak dengar." tantang Irena kembali.
"Haish, cukup Irena. Jangan pancing emosi Sean terus." tengah Mika lembut.
"Meg, masak dong. Gue laper." celetuk Irena ngasal.
"Apa?" tanya Megi ketus. "Kakak sudah ngajakin berantem suami aku, terus kakak mau siksa aku?" tanya Megi tak percaya.
"Kan gue masih harus jagain Putra." pinta Irena dengan tersenyum kuda.
"Kalau kak Sean tahu, dia akan buang kakak di kutub utara, mau?" ancam Megi ketus.
"Gak apa-apa kita pindan ke kutub utara kan, Mas. Bisa main sama pinguin-pinguin."
"Betul ya, lu mau main sama pinguin-pinguin. Mika, besok lu gue pindahin ke kutub utara ya." sambung Sean yang masuk lagi dari pintu belakang.
"Eh ... Lu ngapain kesini lagi?" tanya Irena tak senang.
"Gue lupa, istri gue masih tertinggal." Sean menarik Megi, keluar kembali dari pintu belakang.
"Dah ..." Megi melambaikan tangannya, mengejek Irena di belakang Mika.
"Megi." panggil Irena melas.
__ADS_1
"Megi gue laper." lirih Irena melas.