Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
End


__ADS_3

Sean membantu Megi yang ingin duduk diatas ranjang pasiennya. Dengan sedikit kesusahan, Megi meletakan bantal diatas pangkuannya dan menaruh Evgen diatasnya.


Mengubah posisi Evgen untuk di berikan asi. Sudah dua hari, namun asi Megi masih belum bisa untuk di pompa.


"Asi kamu sudah keluar?" tanya Sean yang duduk di samping Megi.


"Belum kak, kata Mama coba pancing dengan Evgen, mana tahu bisa cepet keluar karena dapet rangsangan."


"Kalau Evgen gak bisa kasih rangsangan, gimana kalau Papanya yang kasih rangsangan?" tanya Sean dengan memainkan kedua alis matanya.


Megi melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Terkadang Sean menggoda tanpa melihat situasi dan kondisi.


Megi memindahkan letak kepala Evgen dan mulai menyingkap bajunya.


Megi mengigit bibir bawahnya saat Evgen mulai meminum asinya. Megi memejamkan matanya saat rasa sakit itu kian berat.


Sementara Sean hanya diam memandangi wajah Megi yang sedang menahan sakit. Kasian dan juga tak tega, melihat Megi menahan semuanya sendiri.


Megi menjauhkan Evgen dan menutup bajunya. Meneteskan buliran dari matanya.


"Masih sakit ya, Meg?" tanya Sean lembut.


Megi melepaskan senyumnya, ia menghapus buliran air mata yang tak sengaja jatuh karena menahan nyeri saat memberikan asi ke putranya.


"Sakit banget kak. Aku gak tahan." Megi menjatuhkan kepalanya di bahu Sean, mengusap matanya di bahu Sean agar tak terlihat oleh Sean lagi.


Sean mengambil Evgen dari pangkuan Megi dan meletakan kembali ke dalam boxnya.


"Aku cari ibu susu untuk Evgen, kamu jangan susui dia lagi ya." ucap Sean lembut.


"Jangan kak, nanti kalau sudah terbiasa juga gak sakit lagi kok."


Sean menghela nafasnya dan mengelus kepala Megi yang ia senderkan di bahunya.


"Rasanya gak adil Meg, kamu yang hamil, kamu yang melahirkan, kamu juga yang menderita saat ngurusi dia. Lalu aku bisa apa? apa yang bisa aku lakuin untuk meringankan sakit kamu? aku ngerasa sama sekali gak berguna saat ini." ucap Sean sendu.


"Jangan ngomong gitu kak, kalau gak ada kakak yang jagain aku dan Evgen, mungkin aku juga gak akan bisa begini kan."


Sean menghela nafasnya dan meraih sebelah pipi Megi. Mengelusnya lembut dengan ibu jari.


"Meg, sudah ada Evgen dan Rezi, kita gak usah punya anak lagi ya."


"Tapi kakak masih mau anak perempuan kan?"


"Sudah ada Siera dan Siena, jadi gak usah punya anak lagi juga gak apa-apa, kok."


"Nanti deh, nunggu Evgen sudah sebesar Rezi, kita rencanain buat program hamil lagi ya. Saat ini gak usah bahas dulu."


"Tapi kalau bisa, kamu gak usah hamil lagi, Sayang. Aku gak sanggup lihat kamu seperti kemarin lagi, gak kuat."


"Seorang Sean Rayen Putra, kenapa sekarang jadi lemah sekali?" tanya Megi meledek.


"Apapun menyangkut keselamatan kamu, aku akan menjadi tidak berdaya, Megi."


"Heleh, kakak ini." cubit Megi di perut Sean.


Sean tersenyum dan menarik badan Megi untuk bisa ia peluk.


"Ah, ah. Sakit." rintih Megi saat Sean memeluk badannya dengan erat.


"Maaf, maaf. Mana yang sakit?" tanya Sean cemas.


"Dada aku masih sakit banget, jangan deket-deket dulu ya kak."


"Oke."


"Eh, mbak Rara kok belum datang ya? biasanya dia pagi-pagi sudah datang?"

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi."


"Kak, hari ini aku pulang kan?"


"Tapi asi kamu kan belum keluar, Sayang."


"Tapi aku sudah gak betah disini kakak."


"Yasudah, nanti aku minta Dokter Santi untuk kontrol kamu dari rumah."


"Kalau begitu, pulang sekarang saja, ya. Jadi mbak Rara gak perlu repot-repot kesini."


"Tapi mobil aku, belum aku ambil dari polsek, Sayang."


"Kok bisa masuk polsek? memang kakak ngapain?"


"Di tilang polisi saat aku tinggalin di lampu merah, he he he."


"Haish dasar, pesan taksi saja. Habis ini kakak urus terus."


"Oke siap, Sayang."


***


Sean menggendong Megi keluar dari dalam taksi, menaikan Megi dengan cepat kedalam kamar mereka.


"Begini nyaman?" tanya Sean saat menidurkan badan Megi diatas kasur.


"Aku bisa jalan loh kak, kenapa repot-repot gendong sih?" tanya Megi sambil menyusun bantal di belakangnya.


"Gak apa-apa, mana mungkin kamu bisa jalan setelah ngeluarin bayi?"


Megi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tak menyangka kalau Sean bisa seover ini saat menyangkut dirinya.


"Eh, Evgen mana?" tanya Megi kembali.


"Sama Rara, tadi langsung di ambil sama Rara saat turun dari taksi."


"Nanti saja, aku main sama Siera dan Siena dulu boleh kan, Meg?"


"Yasudah."


Sean mencium kening Megi dan langsung turun kelantai dasar, melihat Siera dan Siena yang berada di dalam kereta dorong di depan halaman rumah Sean.


"Hai, Siera, kamu rindu gak sama Om?" Sean mengangkat Siera dan menggendongnya.


"Gue saja gak tanda mana Siera dan Siena? gimana Sean bisa tanda yang mana Siera?" tanya Mirza bingung.


"Gimana gak tanda? lebih banyak Sean menghabiskan waktunya sama si kembar dari pada elu, Za." ledek Mika.


"Elu saja yang buta, jelas-jelas Siera lebih putih dari Siena." jawab Sean yang masih asyik memainkan Siera di dalam gendongannya.


"Za, lu masih gak izini buat gue adopsi Siera?"


"Gila lu, Megi saja baru punya bayi, masa elu mau ngadopsi bayi gue."


"Lagian elu dua buat apa? mending buat gue satu."


"Lu sendiri sudah ada Evgen kan, gimana kalau Evgen tukar sama Siera?" tanya Mirza ketus.


"Enak saja elu, mana bisa. Megi ngelahirinnya susah payah."


"Lu pikir Rara ngelahirin mereka gak susah payah? lagian Siera juga tinggal sama gue di depan, lu bisa main kapan saja sama dia."


"Rara, mana? anak gue masih sama dia."


"Bentar lagi juga kesini, tadi lagi kasih asi."

__ADS_1


"Emh." jawab Sean cuek.


Sean kembali memainkan Siera yang berada di dalam pangkuannya. Memang iya, Sean lebih ingin punya anak perempuan, apalagi melihat Siera dan Siena. Membuat ia geram ingin memiliki anak perempuan.


Tak lama berselang, Rara kembali dengan membawa putra Sean. Memberikan Evgen ke gendongan Mirza.


Mata Mirza berbinar saat melihat anak pertama Megi yang memiliki kulit sangat putih dan rambut hitam yang sangat lebat. Bahkan alis matanya bersambung jadi satu.


"Putih banget anak lu, Sean. Mirip Megi waktu bayi."


"Iya, gen Megi lebih kuat sepertinya."


"Itu lebih bagus, dari pada gen elu yang lebih banyak. Bisa bahaya."


"Sialan elu, sini kasih ke gue, biar gue bawa ke tempat Megi." Sean meletakan Siera kembali kedalam kereta dorongnya dan merebut Evgen dari gendongan Mirza.


"Dasar pelit, kalau anak dia saja, gak boleh di gendong orang lain."


Sean membawa bayinya ke atas, kembali menemui Megi yang masih terduduk diatas kasurnya.


"Sini kak." pinta Megi lembut.


Sean tersenyum dan duduk di sebelah Megi. Mengoper bayinya dengan perlahan.


"Megi."


"Hem."


"Tugasmu melahirkan dia dan mengandung dia sudah selesai kan. Sekarang biarin aku yang menjalankan kewajibanku, untuk menjaga dan membesarkan anak kita."


Megi tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di bahu Sean.


"Membesarkan anak itu bukan hanya tanggung jawab kakak, tapi tanggung jawab aku juga. Membesarkan anak butuh kerja sama kita berdua, kan."


Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi, mencium rambut Megi sedikit lebih lama.


"Aku gak tahu harus berkata apa, Sekarang. Megi, mendapatkanmu bagaikan menemukan mutiara paling indah di lautan paling dalam."


"Jangan menggodaku terus kak, aku sudah bukan anak remaja lagi." ucap Megi sendu.


"Megi, kebodohanku adalah pernah meninggalkanmu dulu. Penyesalan terbesarku adalah pernah menolakmu berkali-kali. Seandainya semua itu tidak pernah terjadi ..."


"Maka tidak akan pernah ada hari ini." putus Megi langsung.


Megi meletakan bayinya diatas kasur, membiarkan sang bayi untuk tidur lebih nyaman diatas kasur.


"Kak." Megi meraih kedua belah pipi Sean dengan lembut.


"Gak ada yang perlu di sesali, apapun yang terjadi di masa lalu, itu bukan suatu kesalahan ataupun penyesalan. Tapi sebuah pelajaran hidup dan juga takdir bercampur tangan Tuhan. Seandainya itu semua tidak pernah terjadi, akankah hari ini tiba? enggak, Sayang. Hari ini akan berbeda jika kita tidak melewati itu semua."


Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut. Mencium dahi Megi.


"Kamu benar, Megi. Dan aku bersyukur, karena yang berada di sisiku itu adalah kamu, kamu yang pernah membuka segala hal dari sisi diriku yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Kamu yang mengajariku banyak hal, dan juga mengembalikan rasa itu padaku."


"Rasa apa?" tanya Megi lembut.


"Cinta, kasih sayang, dan juga kehangatan sebuah hubungan. Dan karena kamu telah membuat aku percaya, bahwa cinta itu ada."


Megi tersenyum lembut dan menarik sisi belakang kepala Sean. Mencium bibir Sean dengan lembut, tak lama Sean meleraikannya dan mengelus pipi Megi dengan ibu jarinya.


"Dan aku bersyukur karena wanitaku itu kamu, Megi. Kamu yang membuat seluruh dunia gelapku menjadi lebih cerah, kamu yang membuatku kembali kesisi dunia yang lebih indah. Sisi dimana ada kamu, dan juga keluarga kecil kita."


Megi menempelkan dahinya di dahi Sean. Tersenyum dengan lebar, menampilkan sederet jejeran gigi putihnya.


"Dunia kecil kita, dimana semua cerita yang tertulis hanya tentang kita."


***

__ADS_1


Season 1 sampai disini dulu ya, aku akan sambung season 2 nya langsung di page ini kok.


Terima kasih buat dukungan kalian semua....


__ADS_2