
Rayen membuka pintu rumah besar putra sulungnya itu. Duduk santai di atas sofa ruang tengah rumah putranya itu.
"Sean!" panggil Rayen lantang.
Sementara Rezi dan Neha hanya berani mengikuti perintah Rayen. Duduk tenang sambil menundukan kepala mereka ke bawah.
"Sean!" panggil Rayen kembali.
"Papa, Mama. Tumben ke sini?" tanya Megi yang baru keluar dari arah dapur.
"Mana suami tercintamu itu, panggil dia ke sini, dia pikir dia siapa?"
"Ada apa ini, Pa? Neha, Rezi? Kalian di sini juga?" tanya Megi saat melihat Neha dan Rezi duduk diam di sofa ruang tengahnya.
"Kamu kenal gadis ini?" tanya Rayen ketus.
"Kenal, dia ... pacar Rezi, Pa," jawab Megi lembut.
Rayen menghela napasnya dan memandang Rezi sengit.
"Mana suamimu? Panggil dia ke sini," perintah Rayen kembali.
"Kak Sean lagi nemeni Niki belajar di atas. Sebentar Megi panggil dulu ya."
"Gak perlu, aku sudah dengar kok. Kenapa sih? Baru datang malah ribut?" tanya Sean yang baru turun dari lantai atas.
"Sini kamu! Duduk di sini, Papa mau bikin perhitungan sama kamu," perintah Rayen ketus.
"Perhitungan apa lagi? Bukannya perusahaan masih baik-baik saja?" tanya Sean malas.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu hanya bisnis saja?" tanya Rayen geram.
"Jadi mau bahas apa? Kenapa banyak sekali basa-basinya?"
"Dia siapa?" tanya Rayen sekali lagi, mengarah ke arah Neha.
Sean memalingkan wajahnya, memandang gadis berbalut gaun putih itu.
"Gadis itu pacar Rezi, memang kenapa?" tanya Sean datar.
"Kenapa kamu bilang?" Rayen mengusap wajahnya dan duduk menghadap ke arah Sean.
"Sean, dia itu cucu Papa, kenapa kamu gak bilang kalau dia sudah mau menikah? Apa kamu masih anggap aku ini orang tua?" tanya Rayen geram.
"Haish, lagian Rezi belum menikah, hanya baru ingin menikah. Kenapa repot sekali?"
"Kamu bilang apa? Jadi tunggu dia menikah dulu baru kamu kasih tahu sama Papa?" tanya Rayen meradang.
"Opa, ini bukan salah Papa. Rezi gang minta Papa untuk jangan bilang dulu sama Opa. Makanya Papa gak bilang apa-apa," ucap Rezi menengahi.
"See?" tanya Sean ketus.
"Haish ... Rezi itu cucuku yang paling baik? Kenapa dia bisa menyembunyikan ini dari Opanya? Ini pasti kamu yang mengajari."
Sean mengacak rambut dan memgusap wajahnya kasar. Memandang lelaki tua itu dengan sedikit kesal.
"Rezi itu sudah dewasa, Pa. Tak perlu dijari, dia tahu mana yang salah dan mana yang tidak. Kalau dia merahasiakan ini dari Papa, berarti dia punya alasannya sendiri," jelas Sean ketus.
Rayen kembali menatap ke arah Rezi. Memastikan ucapan putra sulungnya itu.
"Kenapa kamu sembunyikan masalah ini dari Opa?" tanya Rayen kembali.
"Itu, em--" Rezi melirik ke arah Neha. Mengambil jemari tangan Neha yang mulai gemetaran.
"Rezi belum siap mengatakannya, Opa. Rezi takut Opa gak setuju dengan pilihan Rezi," jawab Rezi lembut.
Pandangan Rayen beralih ke gadis cantik yang berada di sebelah cucunya itu.
"Kenapa kamu bisa berpikir kalau Opa akan menolak gadis ini menjadi menantu rumah kita?" tanya Rayen sambil memandangi wajah Neha yang terus tertunduk lesu.
"Karena ... karena--"
"Karena dia tidak bisa bicara?" tanya Rayen memutuskan.
Rezi melirik ke arah Neha, menganggukan kepalanya perlahan.
Rayen menghela napasnya, menyentuh sudut dahinya yang terasa cenutan.
Tidak Papanya ataupun Putranya. Mereka benar-benar memikirkan bahwa Rayen adalah lelaki tua yang kolot.
__ADS_1
"Kamu yakin sama dia?" tanya Rayen serius.
"Yakin, Opa," jawan Rezi tegas.
"Kalau kamu yakin kenapa harus takut mengakuinya? Seharusnya kalau kamu yakin, jangankan terhalang restu, terhalang badai saljupun kamu harus tempuh," ucap Rayen lembut.
Sean mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.
"Kata-kata dari mana pula yang dikutip sama tua bangka ini?" ledek Sean.
"Hey ... sebentar lagi kamu juga akan menjadi tua bangka. Jangan meledek Papa terus."
"Iya, tapi walaupun tua aku masih tetap mempesona," jawab Sean memainkan kedua alis matanya.
"Cih, kenapa anak ini pede sekali?"
"Sudahlah, kalian ini kapan bisa akur?" tengah Miranda lembut.
Miranda membuka kertas yang menutupi bingkai lukisan yang baru ia bawa dari pameran.
"Megi, lihat ini. Papa belikan ini untuk hadiah kehamilan kamu," ucap Miranda lembut.
Megi mengambil lukisan itu, melihat gambar yang tertuang di dalam kanvas.
"Cantik sekali, Ma. Ini pasti mahal."
"Ini hadiah yang diberikan calon menantu kamu, lihat, dia berbakatkan?"
Megi memalingkan wajahnya, melihat ke arah gadis yang sedang duduk di sebelah Rezi.
"Kamu bisa melukis?" tanya Megi lembut.
Neha menganggukan kepalanya, bibir tipisnya melengkung dengan lebar.
"Bagus, lukisan ini sangat cantik, Ma. Aku suka," ucap Megi senang.
"Jadi, Rezi. Kamu yakin ingin menikahi dia?" tanya Rayen kembali.
"Iya, Opa. Rezi yakin sekali."
"Tidak akan menyesal suatu saat nanti?"
Rayen menghela napasnya, bangkit dan berjalan ke arah cucunya itu.
"Baiklah, kalau kamu sudah yakin. Opa hanya bisa merestui dan mengucapkan, semoga kalian bahagia," ucap Rayen tulus.
"Opa serius?" tanya Rezi tak percaya.
"Serius, apapun pilihan kamu. Opa percaya, kamu bisa memilih dengan sangat baik."
Rezi melepaskan senyumnya, memeluk badan Rayen yang semakin ringkih termakan usia.
"Terima kasih, Opa. Rezi sangat bahagia."
***
Evgen keluar dari kelasnya, membawa sebungkus cokelat di tangan. Berjalan menuju kelas Shenina.
"Shen, bagaimana ujian kamu?" tanya Angga yang lebih dulu datang mendekati Shenina.
"Alhamdulillah, semua soalnya sudah aku jawab dengan sangat baik."
"Wah ... Abang yakin kamu pasti bisa," puji Angga sambil mengelus pucuk kepala Shenina.
Evgen menghentikan langkahnya saat melihat kedekatan Angga dan Shenina. Ia memainkan bungkus cokelat yang ada di tangannya.
Walaupun sakit melihat Shenina yang begitu nyaman saat bersama pria itu, namun Evgen tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Hari ini adalah terakhir mereka berada di sekolah ini. Namun hubungan ia dan Shenina tak ada kemajuan sedikitpun.
Mungkin Shenina lupa, tetapi ia ingat. Setelah enam bulan, ia tidak bisa lagi memaksakan hati Shenina untuk jatuh cinta padanya.
Evgen menghela napasnya dan berbalik perlahan.
"Evgen," panggil Shenina lembut
Gadis itu berjalan mendekati Evgen, tersenyum dengan lembut.
"Bagaimana ujian elu?"
__ADS_1
"Baik," jawab Evgen malas.
"Itu apa?" tanya Shenina melirik ke arah tangan Evgen.
"Buat elu." Evgen mengulurkan cokelat itu ke Shenina.
Shenina tersenyum lembut dan menerima cokelat itu.
"Terima kasih ya," jawab Shenina lembut.
Evgen hanya menganggukan kepalanya, ikut tersenyum saat melihat ekspresi gadis itu yang ikut senang dengan hadiahnya.
"Shen."
"Hem."
"Setelah ini, elu--"
"Shen," panggil Angga yang memutuskan kalimat Evgen.
"Kenapa, Bang?"
"Setelah ini kamu mau gak daftar di kampus tempat Abang kuliah. Tahun ini mereka membuka jalur beasiswa dan menerima kuota yang lumayan banyak," tanya Angga.
Shenina memutar bola matanya, meletakan ujung batang cokelat itu di sudut dagu.
"Aku gak kuliah dulu deh, Bang."
"Eh ... kenapa?" tanya Angga penasaran.
"Aku kan harus kerja dan biayain sekolah Seta. Tahun ini Seta akan memasuki SMP, jadi akan lebih butuh banyak biaya."
"Oh iya, Abang kemarin ada nanya sama teman Abang yang magang di SMP Negeri. Seta kan pintar, dia bisa masuk jalur beasiswa juga, jadi kamu tetap bisa kuliah."
"Eh ... benaran ada Bang? Di mana?" tanya Shenina antusias.
Evgen berjalan meninggalkan Shenina dan Angga berdua. Mungkin Shenina tidak akan mau ikut dengannya, selama ada yang menjaga Shenina di sini.
Mungkin Shenina akan baik-baik saja.
...
Evgen meletakan tasnya dengan sedikit membanting di lantai. Menjatuhkan kepalanya di atas senderan sofa.
Duaaarrrr
"Selamat!" teriak Megi, Rezi dan Niki serentak.
Evgen hanya memandang ketiga manusia itu dengan sinis.
"Mama, kalian apa-apaan?" tanya Evgen malas.
"Hari ini kamu terakhir ujian kan? Bagaimana? Kamu yakin lulus gak?" tanya Megi sambil membawa cake di tangannya.
Menyuapi mulut lelaki kecil jiplakan Papanya itu.
"Yakin lah, aku gitu. Evgen Aulia."
"Bagus dong kalau yakin, itu baru namanya Putra Papa," ucap Sean yang baru turun dari lantai atas.
Ikut bergabung dengan angota keluarganya yang lain, memberikan semangat untuk putranya itu.
"Emh, Pa."
"Hem."
"Keadaan London bagaimana?"
"London, memang bisa bagaimana? London ya tetap sama saja."
"Bisa gak Papa siapin semuanya sekarang, aku ingin berangkat dalam minggu ini juga."
Seketika semua mata langsung mengarah ke Evgen. Ada apa dengan dia? Tak biasanya begitu antusias dengan sekolah.
"Tapi kalau kamu ke sana sekarang juga sama saja. London masih dalam musim dingin saat ini," jawab Sean lembut.
"Bukankah aku masih harus mendaftar dan menyiapkan tempat tinggal lagi? Tak perlu daftarin aku lewat online, Pa. Karena ... aku yang akan mengurus semuanya sendiri di sana nanti."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Aku gak pernah seyakin ini sebelumnya, siapin saja semuanya dalam minggu ini. Aku akan berangkat ke sana, sendiri!" tegas Evgen kembali.