Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
108


__ADS_3

"Ayo silahkan masuk," ucap Mika ramah.


"Mika, ini ... Soraya anak kamu?" tanya Hana bingung.


"Iya, Soraya anak sulung gue. Kenapa?  Gak sesuai ekspetasi elu?"


"Bukan ... bukan. Aku masih terkejut saja," Hana melirik ke arah Chen dengan ekspresi wajah sedih.


Mika, sahabat baiknya Sean, bisa saja ia membenci dirinya, sama seperti Sean yang pernah membenci dirinya.


"Ayo, silahkan masuk. Kita ngobrol di dalam saja."


Hana menganggukan kepalanya, ia berjalan dengan sedikit gemetar, memasuki rumah besar milik Mika.


"Mama kenal Papanya Soraya?" bisik Chen lembut.


"Chen, Mama akan berusaha untuk kamu. Maaf jika hasilnya tidak sesuai harapanmu," balas Hana lirih.


"Maksud Mama?" tanya Chen kembali.


Langkah Hana kembali terhenti saat melihat Sean dan Mirza sedang berbicara berdua di sofa ruang tamu.


Dengan senyum yang masih sama manisnya seperti dulu, Sean tak menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu.


"Ayo duduk!" perintah Mika langsung.


Sean dan Mirza memalingkan wajah mereka saat mendengar suara Mika.


Sean langsung mengubah posisi duduknya, melihat wanita yang datang bersama dengan Mika itu.


Setelah belasan tahun tidak berjumpa, namun Sean masih sangat mengenali wajah wanita yang mulai menua itu.


Sean menatap ke Mika, lelaki tegap itu hanya mengerdikan bahunya. Tidak tahu juga, kenapa di antara ribuan orang tua, gadis kesayangannya, harus jatuh cinta dengan anaknya Hana.


"Takdir macam apa pula ini?" lirih Sean kesal.


Sean mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, jika Megi menyadari ini. Mungkin, acara lamaran ini bisa saja tidak akan berhasil.


Sementara wanita itu hanya memandangi Sean yang berubah suntuk seketika, sebenarnya ia juga tidak tahu, kenapa harus bertemu lagi dengan mereka setelah sekian lama tidak berjumpa.


"Tamunya sudah sampai, ya? Ayo di makan dulu," ucap Megi sambil meletakan beberapa kue di atas meja ruang tamu Mika.


Ia masih tidak menyadari, wanita yang sedang menatapi dirinya itu adalah orang yang paling ia hindari selama ini.


"Di makan dulu, ya. Saya akan panggilin Soraya dulu," ucap Megi ramah, matanya masih terus terfokus oleh calon lelakinya Soraya.


"Mika, itu Megi kan?" tanya Hana saat tak lagi melihat bayangan Megi di sana.


"Iya, itu Megi. Dia, adik bungsu gue," jawab Mika lembut.


Hana tergagap, saat ingin membuka suaranya. Ia benar-benar terkejut, saat mengetahui Megi adalah adik kandung dari calon besannya itu.


Ia menatap wajah Putranya dengan sedikit bingung, kali ini harapan Chen dan Soraya akan bersama, mungkin lebih tidak mungkin lagi.

__ADS_1


"Mika, a-a-aku, aku--" Hana menundukan pandangannya, meremat kedua jemari tangannya, karena mulai takut oleh kenyataan ini.


"Sudahlah Hana, jika Megi tidak menyadarinya, maka diam saja. Ini sudah belasan tahun berlalu, kita juga sudah hidup masing-masing," ucap Sean lembut.


Hana kembali menatap Sean, menelan salivanya dengan sedikit berat. Sebuah tangan meraih sebelah bahu Hana, saat Hana memalingkan wajahnya, lelaki dengan wajah blasteran Amerika itu tersenyum lembut.


Memberikan kekuatan untuk istri yang telah ia nikahi belasan tahun ini.


"Sudahlah, kita semua berada di sini bukan untuk bahas masalalu lagi. Kita bahas masalah anak-anak kita saat ini," tengah Mika lembut.


"Jadi, diakah yang akan meminta putri kecil saya?" tanya Mika melirik ke arah Chen.


Chen tersenyum lembut dan menundukan pandangan matanya. Tegang dan juga grogi, saat mata lelaki itu menatapnya dengan sudut mata.


"Kamu masih muda sekali, berapa umurmu?" tanya Sean lembut.


"Baru dua puluh tahun, Om," jawab Chen lembut.


Sean menaikan sebelah alis matanya, ia menganggukan kepalanya dan tersenyum sinis.


"Woaw, bahkan lebih muda dari anak sulung saya, tapi sudah punya keberanian melamar." Sean mengancungkan jempolnya dan tersenyum dengan lembut.


"Anak Om? Pak Rezi?"


"Iya, Rezi anak saya. Kamu kenal?" tanya Sean kembali.


"Dia, asisten Dosen di kelas saya, Om."


"Oh, begitu."


Mata Chen langsung tertuju pada gadis ramping itu, terlihat anggun dengan gaun selutut yang ia gunakan.


Sedang, Hana tak berhenti menatap wanita yang sedang merangkul Soraya saat ini.


Memperhatikan senyum Megi yang masih sangat manis dengan wajahnya yang terlihat masih sangat muda.


Menyadari ada mata yang terus menatap wajahnya. Megi memalingkan wajahnya, melihat ke arah Hana.


Hana menundukan pandangannya, kembali meremat kedua tangannya karena debaran jantungnya yang terus berdetak dengan kuat.


Megi menaikan sebelah alis matanya, seperti familier dengan wajah wanita itu. Namun ia tidak bisa mengenali karena wajah wanita itu mulai keriput termakan usia.


"Ayo duduk di sini, Aya," ucap Megi, menundukan Soraya di samping suaminya.


Megi kembali berjalan ke dapur, membantu beberapa masakan yang masih sedang dalam proses pembuatan.


"Tamunya sudah datang?" tanya Rara.


"Sudah, Mbak."


"Mbak Irena, Mbak masuk sana. Biar aku dan Megi yang urus masakan," ucap Rara mengingatkan.


"Tapi ini sedikit lagi, Ra."

__ADS_1


"Sudah biar aku dan Megi saja yang urus."


"Yasudah, Megi tolong antar ini ke depan ya," ucap Irena menyodorkan sepiring kue basah yang baru selesai ia sajikan.


Megi menganggukan kepalanya dan mengangkat nampan berisi kue itu. Kembali mata Megi menangkap sosok wanita itu, terus memperhatikan dirinya.


Megi hanya tersenyum lembut, berjalan mendekat.


"Bagaimana kamu akan menafkahi anak saya? Kamu saja masih kuliah?" tanya Mika lembut.


"Saya akan mencari pekerjaan, Om. Saya mampu, kuliah sambil bekerja," jawab Chen yakin.


"Serius?" tanya Mika kembali.


"Walaupun Chen anak tunggal, tapi Chen bukan anak manja," ucap Hana lembut, bibir tipisnya melengkung lebar menampilkan sederet jejeran giginya yang masih terususun rapi.


Praankk


Megi menjatuhkan nampan di tangannya, saat melihat wanita itu tersenyum dengan lebar.


Ia masih ingat senyum manis itu milik siapa, giginya yang tersusun rapi dan cantik. Wajah itu, kini Megi mengenalinya.


"Kamu ... Kak Hana, kan?" tanya Megi terkejut.


Hana kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Megi tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Ia membalikan badannya dan berjalan cepat, keluar dari rumah Mika.


Mika dan Sean saling beradu pandang, tak tahu harus berbuat apa dengan kejadian ini.


"Mika, bagaimana ini? Apa kamu akan membatalkan lamaran ini?" tanya Hana takut.


Mika mengusap wajahnya dengan kasar, menghela napasnya dengan sedikit berat. Kembali menatap Sean yang masih terdiam di tempat duduknya.


"Sebenarnya ada apa ini, Ma, Om? Dari tadi, kalian semua bertingkah aneh?" tanya Chen yang mulai bingung.


"Papa, sebenarnya Tante Megi kenapa?" tanya Soraya yang ikut bingung.


"Sean?" panggil Mika bingung.


Sean menghela napasnya dan bangkit dari duduknya.


"Kalian lanjutkan saja acara lamarannya. Gue yang akan bicara sama Megi."


"Sean tunggu!" tahan Hana cepat.


Sean melirik ke arah Hana, perlahan airmata wanita dewasa itu mulai mengalir satu persatu.


"Chen, gak ada hubungannya dengan masalah kita dulu. Chen, tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa, aku mohon. Aku mohon, Sean, Mika. Jangan libatkan anak aku dalam masalah masalalu kita bertiga," pinta Hana melas.


"Mama, sebenarnya ini kenapa?" tanya Chen kembali.


"Chen, bukan anak yang lahir dari rahim wanita seperti aku, Sean, Mika. Chen lahir dari rahim wanita baik-baik, jadi ... Chen, pasti lebih baik dari aku," sambung Hana pahit.

__ADS_1


"Mama cukup! Mana ada wanita baik-baik yang meninggalkan bayinya pada wanita asing. Mana ada seorang wanita asing yang mau merawat bayi orang lain dengan sangat tulus seperti Mama, jadi jangan sebutkan itu lagi di hadapanku," ucap Chen tak terima.


"Hana, di antara kita sudah tidak ada lagi hutang apapun. Urusan anak-anak kita, itu bukan lagi urusan kita. Tapi, soal Megi, gue hanya bisa membujuknya, tapi yang menentukan tetaplah Mika. Jadi, jelaskan saja sama dia," ucap Sean dingin.


__ADS_2