Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 26


__ADS_3

"Jadi pacar aku kak."


Seketika Sean menghentikan kerja jemari tangannya yang menari di atas keyboard laptop. Ia memandang Megi yang wajahnya seperti udang goreng.


Sudah beberapa kali ia di tembak oleh gadis kecil ini, dia begitu pintar. Tapi kenapa juga terlalu bodoh?


"Gue?" Sean memandang Megi yang saat ini berada di sampingnya.


"Jadi pacar, elu? Apa kata orang? Gue seorang pedofil gitu?" ucap Sean ketus.


Membuat bibir Megi mengerucut seketika. Ia tahu Sean pasti akan langsung menolak, tapi kenapa ia terus berusaha untuk membuat Sean membuka hati untuknya.


Malu, tentu rasa itu ada. Ia juga bukan pengemis cinta, tapi tidak mudah juga melupakan perasaannya ini.


Sean hanya menghela nafas panjang, melihat ekspresi Megi yang seperti itu, ada rasa bersalah di hatinya.


"Meg, bukan gue tega. Lu itu adik dari temen gue, gue mikir seribu kali dulu sebelum pacaran sama elu. Gimana kalau nanti elu kecewa sama gue? Apa yang harus gue bilang sama kakak elu?"


"Tapi perasaan aku ke kakak gak main..."


"Gue tau." Sean memutuskan kalimat Megi.


"Gue bukan laki-laki yang baik, Meg. Gue kasar, gue jutek, gue keras. Lu bakalan kecewa sama sikap gue, Meg. Lu butuh lelaki yang bisa membimbing elu, bukan lelaki amburadul kayak gue."


"Tapi buat aku kakak gak seperti itu, kakak beda kak."


"Meg, coba pahami ucapan gue. Perbedaan kita tuh jauh Meg, sikap gue, karakter gue, itu gak akan bisa elu imbangi. Gue bukan orang yang hangat, gue gak bisa sabar menghadapi sikap elu."


Megi hanya tertunduk lesu, wajahnya kini kembali sendu. Memang Megi perempuan yang sangat manis, tapi perbedaan itu jelas di pandang Sean. Ia memang orang yang tega, buat Sean mematahkan sebelum ranting itu panjang adalah jalan keluarnya.


Sebelum Megi lebih dalam lagi tentang perasaannya, Sean mematahkan semangat Megi lebih dulu.


'Sorry Meg kalau gue tega. Tapi ini lebih baik buat elu.' Ucap Sean dalam hati.


Megi berpindah dari sofa ruangannya menuju ke kasurnya. Ia menatap keluar jendela kosong, raut wajahnya terlihat sedih. Sean hanya bisa menggaruk tengkuknya.


"Kak, aku mau pulang."


"Iya, Farrel akan urus nanti." Ucap Sean sambil kembali menatap laptopnya.


Megi hanya memalingkan wajahnya, sebenaranya air matanya ingin menyeruak keluar. Tapi ia terlalu malu, Sean akan merasa semakin senang jika melihat ia seperti ini.

__ADS_1


Sean memandang Megi dengan rasa iba, tak tega melihat gadis kecil itu kehilangan keceriaannya.


"Tapi gue akan tetap bayar ide lu. Pikiri apa yang lu mau dari gue, gue akan berusaha untuk menuruti, jika itu mungkin."


Megi yang mendengar itu tak bergeming, saat ini ia tak lagi memiliki wajah untuk menatap Sean.


***


Huft... Megi meniup poni di dahinya, bosan sekali. Sudah tiga hari keluar dari rumah sakit tapi Sean masih melarang ia untuk keluar apartemen.


Megi meletakan dagunya di atas meja kaca yang biasa Sean gunakan untuk bekerja. Jemari lentiknya menari indah di lembaran karton yang ia beli dulu.


Untuk membuang rasa sepinya, Megi kembali menghidupkan impiannya. Selama tiga hari ini, ia mencoba untuk kembali mengasa bakatnya. Bakat mendesain interior ruangan.


Megi memiliki bakat desain yang bagus, ia memiliki pemikiran yang fresh dan unik. Bukan hanya desain interior, Megi juga bisa mendesain beberapa bangunan sederhana. Tetapi ia lebih mendalami bakatnya di interior desain.


Tik... Tik... Megi menghitung detikan jam di atas nakas sebelah sofa. Semenjak keluar dari rumah sakit Sean belum pernah ada mengunjungi ia di apartemennya. Mungkin ia sibuk dengan bisnisnya ataupun hal lain.


Perlahan karena rasa bosan yang mendera, Megi memejamkan matanya, ia letakan kepalanya di atas meja kaca.


Tak butuh waktu lama ia sudah jauh terlelap dalam mimpinya.


Tetapi kemarahannya kembali mereda saat melihat si gadis kecil itu tertidur di atas meja kaca. Bibirnya tersenyum simpul. Ia berjalan mendekat dan di raih pucuk kepala Megi.


Di tatap lekat-lekat wajah gadis kecil yang sedang tertidur pulas. Wajah imutnya semakin terlihat manis saat ia tertidur.


Sean menggendong tubuh kecil Megi dan membaringkannya di atas kasur.


Di bersihkannya sisa keberantakan yang di buat Megi. Matanya membelalak lebar saat ia melihat karton desain Megi. Sean memperhatikannya dengan seksama.


Bibirnya kembali tersenyum saat melihat hasil pekerjaan Megi.


"Mika benar, Megi memang sangat berbakat di bidang desain. Bahkan dia mampu memikirkan ide seperti ini." Ucapnya lirih.


Telepon Sean berdering keras, di usap layar ponselnya cepat.


"Bos, Nona Muda sudah ketemu." Suara Farrel di ujung sana.


"Bagus, share lokasinya sekarang."


"Tapi, Bos ada masalah."

__ADS_1


"Apa?"


Sean menutup ponselnya, rahangnya mengatup keras. Tangannya saling mengepalkan. Kembali emosinya tersulut amarah.


"Kali ini, mati lu gue buat!" Ucapnya kasar


Sean membanting pintu mobilnya keras. Ia melajukan mobilnya dalam keadaan kalap. Amarah yang selama ini ia bendung mulai berlomba saling berebut menampakan jati dirinya.


Matanya lalai mengawasi jalan, ia membelokan setirnya cepat menghindari anak kecil yang berlari di pinggir jalan.


Laju mobilnya terhenti saat bamper depan mobilnya menabrak pembatas jalan. Untung lah safe beltnya terikat kuat. Kepalanya hanya terantuk sedikit ke setir.


Tetapi body mobilnya ringsek parah.


"Aaaargggghhhh... Sial." Sean memukul keras setirnya.


Ia menelpon Farrel dan menyuruh untuk menjemputnya.


Sekitar lima belas menit menunggu di trotoar jalan, mobil Farrel tiba di hadapannya.


Satu anak buah Farrel turun untuk mengurus mobilnya. Sementara ia dan Farrel pergi ke tempat tujuan.


Farrel memberhentikan mobilnya di depan club malam mewah.


Sean membanting pintu mobil keras, sedikit tercekat Farrel memandang punggung Sean berlalu.


Dengan sejuta amarah yang menderanya, Sean berubah jadi singa yang terbangun dari lelap panjangnya.


Matanya awas mencari gadis berambut pirang, di telisik satu persatu gadis berpakaian minim di hadapannya.


Senyumnya menyungging sinis saat mendapati yang ia cari.


Dengan langkah besarnya Sean datang mendekat, menarik kerah baju lelaki yang sedang memeluk gadis berambut pirang milik Rena.


Ia memojokkan badan lelaki itu di dinding, tangannya mencengkram kuat kerah baju lelaki itu. Sedikit membuat kaki lelaki itu tergantung, ia menekan kuat badan lelaki itu ke dinding.


"Berani lu sentuh kulit adik gue?" ucapnya dengan mata tajam yang seakan ingin membunuh.


"Bukan cuma kulit, tapi seluruh tubuhnya udah gue sentuh." Lelaki itu menjilat bibirnya seakan mengejek lelaki dengan penuh amarah di hadapannya.


"Lu ... Akan rasakan akibat dari tindakan elu." ancam Sean kasar.

__ADS_1


__ADS_2