
Megi melukis beberapa desain kasar di atas kartonnya, matanya menatap serius keatas karton yang sedang ia lukis.
"Sayang." panggil Sean lembut.
"Hem."
"Ini sudah malam, gak bisa kamu tinggalin karton itu dan tidur sama aku?"
"Tapi ini sedikit lagi selesai, Kak. Sebentar." jawab Megi tanpa memalingkan perhatiannya.
"Megi tinggalkan itu, tidur sini." perintah Sean ketus.
"Sebentar, Sayang."
"Megi." panggil Sean ketus.
Megi mengalihkan pandangannya ke arah Sean, menghela nafasnya dan meninggalkan kartonnya di atas meja.
Berjalan mendekat ke sisi kasur satu lagi, meletakan kepalanya diatas pangkuan Sean.
"Apa sih Kak, sekarang suka kali bentak-bentak." ucap Megi merajuk.
"Makanya jangan nunggu aku marah dulu baru nurut." jawab Sean lembut.
"Kak."
"Hem."
"Kakak kok bisa desain? kan kakak lulusan manajemen."
"Aku dulu pernah kuliah di jurusan arsitek, Megi. Gak lama sih cuma setahun, di Rusia."
"Ah." Megi terkejut dan langsung terduduk. "Rusia?" tanya Megi antusias.
"Iya, di Rusia." jawab Sean lembut.
"Aku pikir kakak bisa bahasa Rusia karena tuntutan kerjaan, ternyata kakak pernah kuliah disana. Kenapa cuma setahun Kak?"
"Itu, karena." Sean melirik kearah Megi dan menyengir pasrah.
"Karena apa?" tanya Megi penasaran.
"Karena ..." Sean tersenyum kecut, tak tahu harus menjawab apa.
"Karena apa? ayo bilang." Megi menarik kedua pipi Sean geram.
"Gak sanggup terlalu lama pisah dari ... Hana." jawab Sean lirih.
Seketika ekspresi wajah Megi berubah, Megi menyilangkan kedua tangannya di dada dan duduk membelakangi Sean.
"Pisah sama Kak Hana setahun aja gak sanggup, sama aku lima tahun sanggup. Kakak bilang kak Hana kalah telak dari aku, bohong!" ucap Megi merajuk.
Sean tersenyum dan melingkari bahu Megi. Mencium bahu Megi dengan lembut.
"Itu semua hanya masa lalu Megi, kenapa kamu harus semarah ini sama aku?" tanya Sean lembut.
__ADS_1
Megi melepaskan pelukan tangan Sean dan tidur membelakangi Sean. Kesal sendiri kalau Sean bercerita tentang masa lalunya, pasti selalu berhubungan dengan Hana.
"Sayang, marah?" tanya Sean lembut.
Megi hanya menarik selimutnya tinggi ke atas dan memejamkan matanya. Sean menghela nafasnya, menbaringkan badannya, menatap langit-langit kamar.
Keadaannya jadi serba salah, Megi selalu ingin tahu tentang masa lalunya. Tapi setiap kali Sean membuka masa lalunya, Megi akan marah, bagaimana juga masa lalu Sean selalu berhubungan dengan Hana.
Bahkan Mika saja tahu, bagaimana dulu ia memperjuangkan cinta pertamanya itu. Jika bukan karena kesalahan terbesar itu, mungkin Sean akan memaafkan apapun perbuatan Hana kepadanya.
Karena trauma luka yang di berikan Hana pula, yang membuat Sean benci jika harus bersentuhan dengan orang lain.
Sean menghela nafasnya dan melirik Megi di sampingnya. Entah Megi sudah tertidur atau hanya pura-pura tidur. Sean memeluk badan Megi dengan erat, menempelkan kepalanya di punggung Megi.
***
Beberapa kali mata Megi mengerjap, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Sesaat bola mata Megi terbuka dengan lebar, bersamaan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Megi menghela nafasnya, mengubah posisinya untuk duduk di atas ranjang. Megi menarik kedua lutut kakinya, meletakan kepalanya diatas kedua lututnya.
Menatap Sean yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Air mata kembali hadir menayapa pipi Megi. Megi menarik nafasnya yang terasa menyengal di dadanya, perlahan tangisan yang berusaha ia tahan mulai pecah.
Badan mungil Megi ikut bergetar karena tangisannya yang semakin dalam. Sean membuka matanya, ia langsung duduk dan meraih pipi Megi saat melihat air mata Megi deras mengalir.
"Megi, Megi. Ada apa Sayang?" tanya Sean cemas.
Megi hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menangis.
"Kamu nangis gara-gara cerita aku tadi ya? maaf Sayang, kasih tahu aku bagaimana aku harus menebusnya?" tanya Sean kalut.
Megi hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memecahkan tangisannya. Sean memeluk kepala Megi, bingung harus berbuat apa untuk menenangkan Megi.
Megi masih terus menangis tanpa mau menjawab. Badannya semakin bergetar karena tangisannya semakin dalam.
"Megi jangan buat aku kalut, katakan ada apa? perut kamu sakit?"
Megi hanya menggelengkan kepalanya, ia masih tak mau menjawab.
"Megi, jangan seperti ini. Katakan padaku, kamu kenapa?" tanya Sean bingung.
Sean menarik bahu Megi, meraih kedua pipi Megi dan menatap bening mata Megi yang terus mengeluarkan cairan.
"Hentikan! jangan siksa aku dengan air matamu." ucap Sean tegas.
"Aku mimpiin Papa, Kak." jawab Megi tergugu.
Seketika tangan Sean terjatuh dari pipi Megi, Sean menatap Megi dengan lekat. Pantas saja Megi begitu terluka.
"Papa bilang, Papa mau lihat anak aku lahir, Papa ingin gendong cucunya dari aku dan Kak Mika. Tapi kenapa Papa lebih cepat pergi?" tanya Megi menangis kembali.
Sean hanya terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa.
"Dalam mimpi aku lihat Papa mengadzankan bayi kita. Papa bilang Papa akan datang saat anak kita lahir Kak. Papa bohong, Papa bohong kan kak." Megi menarik baju Sean dan semakin menangis tergugu.
Perlahan air mata Sean ikut mengalir, melihat Megi yang menangis begitu dalam karena lukanya.
__ADS_1
"Aku rindu Papa, Kak. Aku rindu Papa mengelus kepala aku. Dalam mimpi Papa memeluk aku, mengelus perut aku dengan lembut. Papa bilang anak aku akan sama kuatnya dengan aku. Kak Papa ... Papa ..." Megi kembali menangis tergugu dan menarik nafasnya yang menyesak di dada.
"Saat aku rindu, aku ingin sekali berlari kak. Aku ingin pergi berlari mencari Papa. Karena selama ini, saat aku rindu Papa, aku gak tahu harus cari Papa kemana." kembali Megi terlarut dalam tangisannya.
"Aku gak tahu harus kemana." sambungnya pahit.
Sean menghela nafasnya, menelan salivanya yang terasa begitu pahit. Apa yang harus ia lakukan? ia pun tak tahu harus mencari kemana?
"Selama lima tahun ini aku sering banget mimpiin Papa kak. Seakan Papa tahu akan air mata aku, Papa ingin melindungi aku dengan mendatangi setiap tidur aku, Kak."
"Tapi saat aku buka mata, bayangan Papa selalu sirna, aku kembali merasa semua kehampaan dan kekosongan Kak. Aku semakin sadar bahwa hidup aku selama ini hanyalah harapan hampa. Papa adalah harapan hampa yang sudah sirna kan kak." ucap Megi kembali. Megi menangkupkan telapak tangannya di depan mulut. Mencoba untuk meredam tangisannya yang semakin pecah dan tak lagi bisa ia tahan.
"Selama ini aku berharap, mata aku bisa selalu tertutup dan tertidur kak. Aku gak ingin lagi bangun, walau hanya satu detikpun. Agar bayangan Papa tak lagi menghilang dari pandanganku, aku memilih untuk tidur, asalkan aku bisa sama-sama Papa."
Sean menggelengkan kepalanya dan meraih pipi Megi, menghapus air mata Megi yang kian deras mengalir.
"Enggak Megi, enggak boleh. Kamu sudah pernah tertidur selama tiga bulan, aku hampir gila karena itu. Jangan tidur lagi, enggak boleh." Sean menarik bahu Megi dan memeluknya dengan erat.
"Tak bisakah kamu lihat saat ini, aku dan Rezi sangat membutuhkan kamu, Megi. Kami berdua sangat menginginkanmu." ucap Sean kalut.
Sean meleraikan pelukannya dan meraih pipi Megi kembali, berusaha untuk membuka mata Megi, agar bisa memandang kearahnya.
"Lihat aku, lihat aku Megi." ucap Sean tegas.
"Tak bisakah kamu bertahan dalam kehampaan ini untuk aku? apakah aku gak cukup berarti untuk hidup kamu?" tanya Sean kalut.
"Megi. Aku memang gak bisa gantikan Papa kamu, tapi aku akan berusaha untuk melindungi kamu, aku memang gak mungkin bisa mengisi kehampaan hati kamu. Tapi aku akan berusaha untuk melengkapi hidup kamu." Sean menundukan pandangannya dan menghapus buliran air matanya.
"Aku memang tak mungkin bisa seberharga Papa kamu, tapi bisakah kamu bertahan untuk aku. Aku akan gila jika kamu tidur lagi, Megi. Aku bisa gila jika harus melihat kamu tertidur lagi." ucap Sean sendu.
Megi menghapus buliran air matanya, Megi meraih bahu Sean dan memeluknya erat.
"Maafkan aku kak, maafkan aku. Sesaat aku lupa bahwa saat ini aku sudah punya keluarga yang harus aku jaga. Rasa rindu aku ke Papa buat aku lupa, ada anak yang masih harus kita rawat bersama." ucap Megi menenangkan.
"Andai kamu lihat bagaimana putus asa nya aku saat kamu tertidur, Megi. Andai kamu lihat bagaimana aku jadi gila saat mata kamu gak mau terbuka untuk waktu yang lama." ucap Sean pahit.
"Kamu gak bisa sejahat ini Megi, kamu gak bisa tertidur untuk dua kali." bentak Sean keras.
Sean melepaskan pelukan Megi dan berjalan ke balkon kamar. Menghirup udara yang sangat sesak masuk ke dalam dadanya, Sean menyentuh sudut dahinya.
Kembali memori kejadian lima tahun yang lalu terlintas dalam pikirannya. Bagaimana sakit dan pahitnya masih begitu terasa, seakan semua baru terjadi kemarin.
Perlahan Megi berjalan mendekati Sean, memeluk Sean dari belakang.
"Aku tahu, kakak masih punya trauma sama kejadian itu. Maafin aku, Sayang."
Sean menghela nafasnya dan membalikan badannya, memeluk badan Megi erat.
"Kamu gak tahu Megi, itu adalah kejadian yang paling ingin aku lupakan dalam hidup ini. Luka itu masih terasa Megi, amis bau darah dari kepala kamu, masih sagat tercium di hidung aku, Megi. Aku ketakutan, kamu tahu. Aku sangat takut Megi." ucap Sean parau.
"Maaf, karena udah buat kakak takut."
"Jangan pernah berpikir untuk kembali tertidur Megi, bertahanlah sama aku. Aku akan membahagiakanmu, kamu harus percaya itu."
Megi mengelus bahu Sean lembut, air matanya kembali mengalir saat mendengar ucapan Sean.
__ADS_1
Sean si lelaki berhati dingin, bagaimana mungkin memiliki trauma yang begitu dalam?
Bagaimana mungkin Sean lelaki tangguh yang tak pernah mengaku kalah pada apapun, bisa selemah ini?