
"Lu ... Akan rasakan akibat dari tindakan elu."
Sean menarik lurus tangan Mirza ke belakang, satu tangannya menekan bahu Mirza ke depan.
"Sean ... Hentikan!" Teriak Rena sambil memukul bahu kekar Sean.
"Gue gak masalah lu patahin tangan gue, demi cinta gue ke Rena."
Kaki Sean menendang kaki Mirza, membuat Mirza berlutut.
Sakit, sebenarnya yang di buat Sean cukup membuat nyalinya lemah. Mana mungkin ia sanggup melawan Sean dengan background bela diri Systema. Bisa mati konyol ia di buat Sean, namun Mirza memiliki otak yang sangat licik.
"Lu pikir kalau lu buat gue patah, apa yang akan di pikirkan Megi? Seumur hidup, dia akan membenci elu."
"Gue gak peduli." Sean menarik kuat lengan tangan Mirza ke belakang.
Membuat matanya menyipit menahan rasa sakit. Rena mulai memangis meronta. Sean bukan orang yang bisa luluh dengan air mata.
Tamparan keras melayang di wajah mulus milik Sean.
Rena tidak terima Sean menyakiti kekasih hatinya.
Mata Sean menatap Rena tajam, ia juga takut saat Sean melihatnya seperti itu. Tapi jika Sean tak di hentikan, maka ia bisa membunuh Mirza.
"Cukup Sean ... Cukup ... Lepaskan Mirza." Teriaknya sambil menggoyangkan tangan Sean yang mengunci pergerakan Mirza.
"Gak apa-apa, Sayang. Gue rela merasakan ini demi elu." Gombal Mirza licik.
Perkataan Mirza membuat senyum Sean semakin sinis. Rena semakin mengigil memandang wajah Sean.
"Tutup mulut lu Mirza, Sean bisa membunuh lu dalam hitungan detik." Bentak Rena saat melihat Sean yang semakin kuat memarik tangan Mirza kebelakang.
"Tenang saja ia tidak akan membunuh gue. Karena ia pun sama seperti gue. Membawa kabur adik orang lain."
Mendengar ucapan Mirza semakin membuat Sean meradang. Di balikannya badan Mirza kasar, secepat kilat dua buah tinjuan mendarat di badan Mirza. Cukup membuat Mirza terbatuk dan sedikit mengeluarkan darah.
Rena melompat cepat ke arah Mirza, di peluknya badan Mirza erat.
"Jangan hancurkan hidup gue, Sean. Jangan ikut campur urusan pribadi gue." Teriak Rena lantang.
Sigap Sean menarik tubuh Rena menjauh dari Mirza. Di cengkram pipi Rena dengan satu tangannya.
"Gue suruh elu belajar di pesantren, apa-apa an elu buat ulah begini?" ucapnya menekan pada Rena.
"Hey kakak, seharusnya elu jangan marah jika gue bawa adik lu kabur. Elu aja bawa adik gue kabur. Cepat atau lambat, Megi akan kembali ke tangan gue, karena gue adalah wali dia yang sah."
Rahang Sean bergetar, amarahnya meluap keluar. Di tarik keras tubuh Mirza keluar dari club malam. Di campak tubuh Mirza sampai gelempang di jalanan.
Sean menggulung lengan baju kemejanya dan kembali menarik badan Mirza.
Rena memeluk badan Sean dari belakang, menghentikan pergerakan Sean yang luar biasa mengganas.
"Mirza, lari...!" Teriak Rena
"Lu pikir gue siapa?" ucap Sean kesal ke Rena.
Sean membuka pelukan Rena, langkahnya cepat menuju arah Mirza. Sedikit tergopoh Mirza lari menjauh, namun langkah besar Sean mampu mengejarnya.
Di tarik baju Mirza dari belakang, tangan kanannya melingkari leher Mirza.
Melihat kejadian itu, Rena kembali mengingat kejadian malam sebelum Sean membawanya ke pesantren. Sean mampu membuat temannya jatuh tak sadarkan diri dalam satu gerakan.
Jika saat itu hanya pingsan, mungkin kali ini Mirza akan mati. Melihat dendam di antara mereka sudah tumbuh teramat subur.
"Sean ... Sean gue mohon. Lu kakak gue, jangan lakuin ini."
Rena berlutut di hadapan Sean.
"Lu berlutut hanya demi pria seperti ini? Gue malu Rena, lu terlalu buta!"
"Sean, gue mencintai dia. Gue mohon jangan sakiti dia!"
"Haha... Dia?" Sean menepuk-nepuk pipi Mirza, sementara satu tangannya masih melilit batang leher Mirza.
"Sean gue percaya lu bisa bunuh dia, tapi ingat Mama kan. Apa jadinya Mama jika lihat elu di penjara." bujuk Rena mencoba mengembalikan kewarasan Sean.
__ADS_1
"Bodo!" Ucap Sean lantang.
"Kakak, apa sekarang elu berusaha untuk jadi kakak yang baik? Elu itu sama aja sama gue, Sean. Kalau elu itu bukan kakak yang di besarkan Papa, sudah gue matiin elu dari pertama kali jumpa."
"Mirza..." teriak Rena keras.
Ia berusaha menyelamatkan nyawa Mirza, tapi Mirza terus menantang Sean untuk membunuhnya. Sean bukan orang yang bisa di tantang, amarahnya tak terkendali.
"Oh... Mau bunuh gue? Ayok, kita adu kekuatan." Sean menghempaskan tubuh Mirza. Melepaskannya dari lilitan lengannya.
Kaki panjang Sean menendang Mirza dengan keras, seketika tubuh Mirza jatuh keras ke aspal.
Rena mendekat ke Mirza dan menaruh kepala Mirza di pangkuannya.
"Gue mohon Mirza jangan lawan Sean. Dia bukan tandingan elu, dia itu atlet Systema. Lu tau kan, ia di ajarkan untuk membunuh lawan."
Sean menarik tubuh Rena menjauh dari Mirza. Dengan kembali memuntahkan darah Mirza mulai kehilangan tenaganya.
"Udah, segitu aja?" Ucap Sean kasar.
Dia berjalan mendekat, berjongkok di depannya dan mengelus dahi Mirza.
"Kalok elu bukan anak om Fandy, nama elu sekarang udah terukir di atas nisan."
Sean tersenyum sinis dan kembali menepuk pipi Mirza pelan. Meninggalkan Mirza sendiri dan menyeret Rena pulang.
Sean kembali menghempas badan Rena kuat di atas kasurnya. Menatap Rena dengan mata sinisnya.
"Elu, kabur dari pesantren demi lelaki seperti Mirza, itu? Buka mata lu Rena!"
"Apa urusan lu ngatur hidup gue Sean? Elu juga gak lebih baik dari dia kan? Elu juga bawa kabur adik dia kan?"
"Rena...!" Suara Sean menggelegar, membuat seisi rumah datang mendekat.
"Kalok elu gak tau apa-apa, gak usah banyak ngomong."
"Elu juga gak tau apa-apa, Sean! Elu juga gak tau siapa Mirza!" bentak Rena yang tak kalah lantang.
"Hah... gue? Gak tau si binat*ng itu?"
"Gue lebih kenal si iblis itu dari pada elu, lu tau dia itu siapa Rena?" Sean menggantung kalimatnya.
"Dia itu manusia berhati iblis! Kakak mana yang tega menjual adiknya sendiri dengan lelaki tua!" Ucap Sean sambil membelakangi Rena.
"Elu juga gak kalah buruk dari dia, Sean. Elu juga bukan kakak yang baik, Sean. Elu aja buruk, bagaimana bisa elu mengecap orang lain buruk!"
"Rena...!" Kembali suara Sean menggelegar.
Di tatapnya wajah Rena dengan mata yang memerah, api yang ia simpan selama ini mulai memancar keluar.
"Bagaimana bisa elu jejerkan gue dengan lelaki seperti dia? Kalau hidup elu udah buruk, jangan cari lelaki yang lebih buruk lagi!" Suara Sean lantang terdengar.
Membuat seisi rumah menonton tegang pertengkaran kakak beradik itu. Sementara Miranda hanya bisa menangis melihat pertengkaran dua orang yang ia sayangi melebihi hidupnya sendiri.
"Hidup lu juga gak kalah buruk, Sean! Kalau lu mau ngatur diri gue, atur dulu hidup lu!"
Praaannnkkkk... Cermin di pintu lemari pakaian Rena pecah.
Sebuah tumbukan keras menghantam kaca cermin itu.
Darah segar mulai mengalir mewarnai pecahan cermin. Buku jemari Sean terkoyak karena pecahan kaca, jemarinya berubah menjadi aliran darah segar.
Plaaaak... Tamparan menghantam pipi gadis berambut pirang itu. Miranda kini berada di hadapan Rena dengan embunan air mata yang tak pernah mengering selama bertahun-tahun.
"Kakakmu itu benar Rena, jangan bandingkan hidupmu dengan hidupnya, Mama gak pernah ajari kamu buat ngomong kasar ke kakak kamu."
"Kenapa sekarang Mama belain dia?"
"Karena kamu yang salah, maksud kakak kamu itu baik, kakak kamu itu sayang sama kamu, Rena."
"Mama gak ngerti apa yang udah dia buat..."
Plaaakkk... Kembali tamparan menghantam pipi Rena, sebelum ia sempat menyambung kalimatnya.
"Mama gak pernah ngajarin kamu buat ngomong kasar ke orang yang lebih tua, Rena! Bereskan baju kamu, Mama akan antar kamu ke kampung Eyang."
__ADS_1
"Ma... Mama..." Suara tangisan Rena mulai terdengar.
Sean yang sedari tadi menundukan pandangannya mulai mendongakkan kepalanya. Tangannya masih menempel pada cermin yang ia tumbuk tadi. Darah telah banyak mengalir, namun sakit yang ia rasakan di hati tak bisa berpindah ke ruas jemarinya.
Sean mendapati lelaki yang ia benci berada di ambang pintu. Dengan rahang yang kembali bergetar, Sean berjalan mendekat, tetesan darah dari tangan kirinya menyisakan jejak di lantai.
"Sudah cukup puas, melihat kehancuran ini? Tuan Rayen?" ucapnya saat mereka berselisihan.
Sean berlalu pergi menuruni anak tangga tingkat dua rumah Rayen. Dengan sedikit berlari ia meninggalkan rumah dengan cepat.
Membiarkan darahnya menetesi setiap lantai yang ia lewati.
Farrel menatap Sean dari kaca spion mobilnya. Sebenarnya ia khawatir, namun ia tak berani menyinggung Sean saat ini. Wajahnya merah padam, matanya berapi. Sepertinya emosinya belum tersalurkan sempurna.
"Kita mau ke Rumah Sakit, Bos?" Tanya Farrel saat melihat tangan Sean yang terus mengeluarkan darah.
"Pulang." ucap Sean tegas.
Tak banyak bertanya Farrel melajukan mobilnya dengan cepat. Seperti tak ada rasa sakit dari tanggannya, wajah Sean hanya terlihat datar.
"Besok pagi siapkan motor untuk gue, sebelum mobil gue beres."
"Baik, Bos."
Sean menutup pintu mobil dengan membanting, berjalan cepat menaiki apartemennya di lantai 32. Ia menggulingkan meja kaca di ruang tengah, sontak membuat Megi terbangun dari lelapnya.
Ia berjalan keluar dan melihat seisi rumah bertabur pecahan kaca. Jemari Sean yang terluka mengiasi titik-titik merah di keramik putih apartemen mereka.
"Ya Allah... Tangan kakak kenapa?" Megi mendekat dengan setumpuk kekhawatiran.
Tetapi dengan cepat tangan Sean menghalau badan Megi yang ingin mendekat.
"Kakak!" Teriak Megi lantang.
"Duduk!" Sambungnya, nada tinggi suara Megi membuat Sean tercekat.
Tak ada yang berani membentaknya, gadis ini terlalu berani.
"Aku bilang duduk...!" Teriak Megi lebih kencang.
Kali ini teriakannya membuat Sean menurut. Sean terkejut dengan suara Megi yang bisa berteriak lantang.
Sean menaruh bokongnya pelan di sofa ruangan tengah.
Dengan cekatan Megi mengumpulkan alat untuk membersihkan luka tangan Sean. Namun Sean kembali menghempas kuat tangannya, tak ingin di sentuh.
"Apa kakak pikir kakak itu Hell Boy? Atau kakak itu Thor?" Ucapnya keras.
Sean hanya melihat wajah Megi lekat, tak mengerti apa maksud ucapan Megi.
"Kakak pikir hebat melukai diri sendiri? Hell Boy itu lelaki dari neraka kak, Thor itu manusia setengah dewa. Terus kakak apa? Kakak jenis superhero yang lain?" Celoteh Megi membuat Sean tertawa terbahak.
Di tengah kemarahannya, Megi mampu memadamkan panas hatinya. Entah dari mana pemikirannya yang seperti itu ada.
"Aku lagi marah kak, bukan ngelawak." Ucap Megi serius, wajahnya merah. Tapi tangannya tetap cekatan membersihkan luka.
Ia membasuh luka Sean dengan alkohol, ada beberapa beling yang tertinggal di ruas jemari Sean.
"Kak, luka kakak cukup serius, kita kerumah sakit ya." kini raut wajah Megi berubah cemas.
"Kalok lu gak bisa obati, yaudah tinggali aja." ucap Sean ketus.
Megi melotot melihat Sean, Sean hanya menundukan pandangannya. Megi ternyata bisa lebih garang dari ia. Dengan teliti Megi menarik puing-puing halus yang masih tersisa di ruas-ruas jemari Sean.
"Kak, mata aku gak cukup jeli untuk mencari sisa pecahan kacanya. Aku takut nanti tangan kakak malah infeksi. Aku obati dulu, besok kita ke rumah sakit ya."
Sean tak lagi menjawab ucapan Megi, di lihatnya wajah gadis itu lekat. Mengapa di tengah semua permasalahan yang ia hadapi saat ini, Megi mampu menemani kegelisahan hatinya.
Jika saat ini Megi tak disini, mungkinkah perasaan nya akan membaik.
Megi masih mengomel, bibirnya terus mengucapkan kalimat-kalimat marah.
Tetapi sekarang Sean hanya terfokus pada wajahnya.
"Megi, Menikahlah dengan gue."
__ADS_1