
Sebuah kepala menyembul dari balik pot gantung yang ada di kebun Neha. Tersenyum lembut dengan helaian rambut hitamnya yang tersisir rapi.
"Hai," sapa Rezi lembut.
Neha memalingkan wajahnya, tersenyum lembut untuk membalas sapaan Rezi. Ia kembali sibuk pada bunga-bunga yang sedang ia berikan air.
"Seminggu gak jumpa sama aku? Kangen, nggak?" tanya Rezi basa-basi.
Neha menggelangkan kepalanya, kembali sibuk pada tanaman yang sedang ia berikan minum.
"Haahh, sepertinya memang hanya aku yang tergila-gila padamu," ucap Rezi malas.
Neha melirik sekilas kearah Rezi, kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, ayo ikut aku. Letakan dulu siramannya," ajak Rezi lembut.
Neha meletakan penyiraman tanaman itu, mengikuti langkah kaki lelaki berwajah manis itu. Duduk di kursi santai dekat kebunnya.
Rezi mengeluarkan selembar kertas dari dalam ransel. Menyodorkan sebuah brosur ke hadapan Neha.
"Saat aku ikut project minggu lalu, salah satu teman aku memberikan ini. Neha, ayo coba kita ikut," ajak Rezi.
Neha membaca satu persatu tulisan yang tertera dalam brosur itu. Ia kembali menyodorkan lembaran itu setelah membacanya.
Rezi mengernyitkan dahinya, menatap Neha dengan sedikit bingung.
"Kamu gak mau ikut? Kenapa? Kamu kan bisa melukis, lagian ini hanya sebuah pameran biasa, bukan perlombaan. Kamu hanya perlu ikut berpartisipasi saja," bujuk Rezi lembut.
Neha menggelengkan kepalanya, ia masih tidak ingin untuk menunjukan dirinya pada dunia.
"Ayolah Neha, dari pada lukisan kamu hanya terpajang dalam buku note kamu saja. Apa salahnya untuk menunjukannya pada dunia?" tanya Rezi lembut.
Neha menghela napas, menggelengkan kembali kepalanya.
"Neha, kamu punya bakat. Aku tahu kamu punya potensi yang besar dalam bidang ini. Lagian ini hanyalah sebuah pameran, kamu hanya perlu melukis sebuah karya dan memajangnya saja, ikut ya," bujuk Rezi kembali.
__ADS_1
Neha kembali menggelengkan kepalanya. Bukannya tidak mau, namun ia tidak mampu.
Melukis juga bukan sesuatu yang bisa dibuat sembarangan saja. Ada makna dan pesan tersembunyi yang dihadirkan dalam setiap goresan tinta.
Rezi menghela napas dengan sedikit berat, memandang Neha dengan ekspresi ibanya.
"Padahal aku sudah bilang sama teman aku, kalau akan ada satu lukisan yang bisa aku perkenalkan sama dia di pameran nanti. Tapi kamu gak mau, aku mau bilang apa? Pasti dia akan bilang aku penipu nantinya," ucap Rezi dengan mengeluarlan ekspresi ibanya pada Neha.
"Sekali saja, Neha. Ya, kamu ikut ini. Kalau kamu gak mau bantu aku, nanti nama calon suami kamu ini akan dicap buruk, kamu rela?" tanya Rezi melas.
Neha tersenyum lembut dan menarik kulit pipi Rezi. Terkadang Rezi bisa bersikap kekanakan seperti ini juga.
Perlahan Neha menganggukan kepalanya, memberikan jawaban yang sesuai keinginan lelaki lembut itu.
"Gitu dong, nanti aku bawakan alatnya untukmu ya," balas Rezi senang.
Neha kembali membaca tulisan yang ada di brosur tersebut. Sementara Rezi terus menatapi wajah cantik gadis bisu itu.
Memandangi setiap lekuk wajahnya yang hampir terpahat dengan sempurna.
"Hem, Neha," panggil Rezi kembali.
Neha memalingkan wajahnya, menatap wajah Rezi yang menjadi serius seketika.
"Saat project kemarin, aku juga kenal seorang Dokter muda, lulusan terbaik dari Jerman. Aku ada menanyai beberapa hal tentang keadaan yang kamu alami saat ini." Rezi menghela napasnya, menyusun perkataannya agar tidak menyinggung hati lembut wanita itu.
"Dia bilang, kamu masih punya kemungkinan untuk bisa berbicara. Asalkan memenuhi beberapa hal yang bisa membantu pemulihan pita suaramu. Jadi aku rasa, tidak ada salahnya kita periksa, mana tahu kamu masih bisa berbicara," ucap Rezi hati-hati.
Neha tersenyum kecut dan menundukan pamdangannya. Ia mengambil pulpen dan mulai menulis jawabannya.
(Apa kamu malu dengan keadaanku?)
"Bukan ... bukan seperti itu Neha, aku sama sekali tidak malu. Hanya saja, mungkin jika kamu bisa bicara lagi, kamu tidak akan menghindari dunia seperti saat ini."
Neha kembali tersenyum dengan lembut, namun tangannya menulis dengan cepat di atas lembaran brosur yang ada di tangannya.
__ADS_1
(Aku tidak menghindari dunia, Rezi. Hanya saja, kadang orang sepertiku memang lebih nyaman saat berada dalam dunia yang tersembunyi. Bukan karena aku ingin sembunyi, tetapi terkadang di dunia ini, banyak orang yang bisa berbicara lebih memilih diam untuk menghindari sebuah masalah).
"Tapi, Neha. Aku rasa tidak ada salahnya kita berusaha, iya kan?"
(Memang tidak ada yang salah kalau kita berusaha, Rezi. Tapi aku tidak ingin merubah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah. Jika Dia ingin aku bicara, maka Dia akan menciptakan aku bersama dengan suara. Jika aku terlahir tidak sempurna, maka keadaan inilah yang terbaik untukku).
"Neha, aku bukan ingin kamu merubah apa yang sudah ditetapkan-Nya untukmu. Hanya saja, terkadang manusia juga harus merubah takdirnya sendiri, jika kita tidak mau usaha, maka Dia juga tidak akan merubah apapun, kan?"
(Rezi, terkadang apa yang ada di depan matamu tidaklah pasti. Kadang sesuatu yang terlihat pasti, bisa menjadi semu. Kadang sebuah harapan semu, bisa menjadi kenyataan yang pasti. Kita tidak pernah tahu apapun yang akan terjadi nantinya, namun aku percaya, bahwa apa yang aku miliki saat ini adalah sebuah kenikmatan untukku sendiri. Aku merasa cukup dengan semua ini, dan aku tidak ingin meminta lebih, karena apa yang sudah Dia berikan untukku, hanya cukup untuk aku syukuri. Tapi tidak untuk menuntut lebih).
Rezi terdiam sesaat, terkadang apa yang dikatakan Neha sangat tepat menampar keadannya.
Bahkan ia yang telah memiliki segalanya masih sering bertanya, mengapa hidup harus serumit ini? Tanpa ia mau mengerti, apa tujuan di balik semua rancangan ini.
"Neha, apakah kamu tidak ingin bisa berbicara seperti orang pada umumnya?" tanya Rezi kembali, ia masih belum puas oleh jawaban yang diberikan Neha.
(Bukan tidak mau, tapi aku tidak mampu. Bahkan aku sendiri tidak tahu caranya, bagaimana aku bisa mengeluarkan suara).
"Kamu akan terbiasa, saat kamu sudah memilikinya."
(Tapi aku lebih terbiasa dengan apa yang telah aku miliki saat ini. Rezi, siapa yang tidak ingin menjadi sempurna? Semua orang pasti mau, termasuk aku. Namun jika menjadi sempurna itu hanya akan menghilangkan rasa syukurku atas hidup ini, maka biarlah aku begini. Karena terkadang, orang akan bersyukur saat ia susah, tapi ia akan kufur saat ia mendapatkan suka).
Rezi tersenyum kecut dan menggaruk kulit kepalanya. Apalagi yang bisa ia katakan saat ini?
Neha benar-benar membuat ia sadar, tentang banyak hal dalam hidup ini. Salah satunya adalah, bagaimana caranya bersyukur atas apa yang telah kita jalani.
Karena terkadang dalam hidup ini, kita lebih sering mengeluh pada-Nya atas apa yang kita derita. Namun sering kali kita lupa pada Dia, saat kita dalam kenikmatan dunia.
Sering kali kita bertanya mengapa?
Namun lupa bertanya apa?
Jangan hanya bertanya mengapa hidup ini begitu susah?
Namun bertanya, apa yang telah kita lakukan untuk membuat Dia bahagia.
__ADS_1