Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
127


__ADS_3

Rezi menyentuh ujung pundak Neha, sontak gadis itu berbalik dan melihat Rezi yang berdiri di belakangnya.


"Sayang, boleh aku minta tolong padamu?" tanya Rezi lembut.


Neha memainkan telapak tangannya, diikuti gerakan dari bibirnya.


"Begini, teman aku ... bukan, maksudnya calon adik ipar aku. Shenina, dia menyusul Evgen ke London. Ada hal yang harus dia selesaikan di sana. Dan ... ada adik yang ia tinggalkan di sini."


Neha mengerutkan dahinya, melihat ekspresi Rezi yang sedikit kebingungan untuk menjelaskan.


"Adiknya beberapa hari ini, aku yang akan menjaganya. Aku gak mungkin bawa dia kerumah, kalau Mama tahu Shenina ke sana. Mungkin Mama gak akan setuju," jelas Rezi lembut.


Rezi menatap wajah gadis cantik itu dan tersenyum lebar.


"Jadi ... bisakah kamu bantu aku menjaganya?" tanya Rezi lembut.


Neha tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia tidak merasa keberatan jika ada seorang anak kecil yang akan merepotkannya.


Karena dari dulu dia hanya menjalani hidup sendiri. Mungkin kesempatan ini bisa membuat ia merasakan bagaimana menjadi seorang Kakak.


Rezi berlari ke perkarangan rumah Neha, mengajak Seta untuk bertemu dengan gadis pujannya.


"Neha, ini Seta. Dia adiknya Shenina," ucap Rezi menjelaskan.


Neha tersenyum dan mengelus lembut kepala bocah lelaki itu.


"Seta, dia kak Neha. Dia tunangan Kakak, untuk berapa hari ini. Kamu tinggal sama dia ya."


"Tapi, Kak?" Seta melihat ke wajah Neha.


Ia bukan takut dengan gadis cantik itu, namun ia lebih segan. Takut akan merepotkan wanita muda itu nantinya.


"Kak Neha bukan orang jahat, dia wanita yang sangat lembut dan penyayang. Kamu pasti akan baik-baik saja, jangan takut."


"Aku tinggal di rumah juga gak apa-apa kok Kak, biasa saat kak Shen kerja. Aku juga sendiri, atau gak di panti juga bisa," jawab Seta segan.


Neha meraih kedua pipi Seta dan mendongakan kepalanya. Ia menggerakan jemari tangannya bersama dengan gerakan bibirnya.


Rezi tersenyum lembut, ia meraih kedua bahu Seta dan membungkukan sedikit badannya untuk menyamai bocah kecil itu.


"Seta, Kak Neha memang tidak bisa bicara. Tetapi kak Neha bilang, dia akan menjagamu dengan baik di sini. Apakah wajah dia terlihat seperti ibu tiri?"


Seta menggelengkan kepalanya, ia tertunduk malu.


"Baiklah, kalau tidak begini saja," ucap Rezi kembali.


"Bisakah Kakak minta kamu jagain kak Neha? Awasi kak Neha, jika ada lelaki yang berusaha mendekati kak Neha, kamu bilang sama Kakak. Boleh?"


Seta menghela napasnya dan mengangguk perlahan.


Rezi tersenyum lembut dan mengacak rambut Seta.


"Baiklah, kalian mau makan apa? Biar aku belikan."


Neha menggelengkan kepalanya, ia menarik kedua tangan lelaki itu untuk memasuki rumahnya.


Mendudukan Rezi dan Seta di meja makan miliknya. Dengan sigap, ia memasak beberapa hidangan. Menatanya di atas meja makan.


Neha tersenyum, matanya terus melihat ke wajah bocah kecil yang ada di depannya itu.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Neha melirik sekilas ke arah Rezi, lalu ia kembali menatap wajah lelaki kecil itu.

__ADS_1


"Neha, jika kamu memandangi Seta lebih lama lagi, aku akan cemburu," ucap Rezi jutek.


Neha tersenyum lembut. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Seta.


(Seta, ayo dimakan. Kakak membuatkan ini untukmu. Kakak senang ada kamu di sini. Kakak tidak akan merasa kesepian lagi untuk beberapa hari nanti).


Seta mengembalikan ponsel itu ke tangan Neha. Ia mulai menyendoki nasi dan beberapa lauk yang Neha sajikan.


"Kakak gak makan?" tanya Seta saat melihat Neha dan Rezi yang masih berdiam menatapi dirinya.


Neha menggelengkan kepalanya, matanya beralih ke arah Rezi.


"Kakak sudah makan, kamu makan saja yang banyak. Agar bisa cepat besar," ucap Rezi lembut.


Seta mulai menyuapi makanannya, sesekali ia melirik ke arah Neha yang terus memandangi dirinya.


Ada perasaan tidak enak, namun saat melihat binar matanya. Seta merasa nyaman berada di antara mereka berdua.


Setelah membiarkan Seta tertidur lelap di kamar tamu rumahnya. Neha menemui Rezi yang masih setia menunggunya di kursi teras rumah.


Ia meletakan secangkir teh dan sepiring camilan.


"Seta sudah tidur?" tanya Rezi lembut.


Neha menganggukan kepalanya, tangannya masih sibuk menyeduh teh ke dalam gelas kecil.


"Neha, kamu sudah dengar? Bulan depan Chen akan menikah," ucap Rezi lembut.


Tangan Neha bergetar, ia menumpahkan cairan panas teh itu ke atas pahanya. Terkejut saat mendengar ucapan Rezi.


"Neha kamu gak apa-apa?" Rezi menarik sebuah tisu dan mengelap paha Neha dengan cepat.


Neha menghentikan gerakan tangan Rezi. Ia berlari ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Terlihat bekas merah yang menghiasi kedua belah kulit putih pahanya.


Neha menggelengkan kepalanya, ia menghela napas dengan sedikit berat.


"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini. Neha, ini adalah keputusan Chen. Kita tidak bisa menganggunya, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," jelas Rezi lembut.


(Aku tahu, Rezi. Tapi, Ruby, aku hanya tidak tega melihat dia akan terluka).


Rezi tersenyum kecut saat membaca pesan yang masuk dalam gawainya.


Rezi menghela napasnya dengan sedikit berat, menyandarkan bahu bidangnya di sandaran kursi.


"Setiap orang punya kisahnya masing-masing, Neha. Dan setiap orang akan belajar dari pengalaman yang berbeda juga. Liku yang mereka alami saat ini, itu sudah menjadi jalannya sendiri."


Rezi meraih jemari tangan Neha, menggenggamnya dengan erat.


"Dalam cinta, sudah pasti ada yang bahagia dan ada yang kecewa. Ini tidak bisa dipungkiri lagi, Neha, karena setiap jalan cinta punya likunya sendiri untuk dilewati. Jika tidak ada hati yang ketiga untuk menanggung kecewa, maka dua hati yang saling mencintaipun masih bisa saling menyakiti dan mengecewakan satu sama lain," ucap Rezi lembut.


"Karena rasa cinta bukan hanya mengajarkan untuk saling menyanyangi dan mengasihi saja. Tapi cinta juga mengajarkan untuk saling mengerti dan melepaskan saat salah satunya ingin pergi. Karena cinta kadang tidak hanya harus saling memiliki, tapi cinta terkadang juga ada untuk saling melepasi."


Rezi tersenyum lembut dan membelai pipi chubby milik kekasihnya itu.


"Kadang cinta itu terlihat bukan hanya saat kamu bisa memilikinya. Tetapi saat kamu bisa melepaskan dia untuk bahagia bersama pilihannya. Karena cinta itu tidak pernah memaksa, Neha. Dia tidak akan memilih tempat yang salah. Walau terkadang cinta memilih orang yang salah."


Neha membalikan jemari tangannya, membalas genggaman tangan Rezi dan tersenyum lembut.


(Aku tahu, Rezi. Tapi Ruby tetaplah sahabatku. Aku tidak akan meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Aku tahu Ruby akan kecewa, tapi aku juga tahu, kalau sekarang Chen sudah mulai bahagia bersama pilihannya).


Rezi kembali tersenyum, mengelus pucuk kepala Neha dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tahu kamu gadis yang pintar, Neha. Temanilah temanmu, dan datanglah bersamaku sebagai calon istriku. Aku tahu kamu berada dalam keadaan yang sulit, tapi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami, cepat atau lambat, Aya akan menjadi sepupu kamu."


Neha menganggukan kepalanya, ia sadar saat ini ia sedang berada dalam dilema yang besar.


Entah bagaimana menjelaskannya pada Ruby, namun cepat atau lambat kenyataan ini memang harus terungkap.


***


Neha membuka pintu kaca toko bunga milik Ruby. Tidak seperti biasa, Ruby sama sekali tidak ada di dalam toko bunga tersebut.


Neha merangkai beberapa bunga, meletakannya di atas display kaca. Setelah beberapa waktu lamanya, Ruby masih tidak keluar dari kamarnya.


Neha mengetuk daun pintu kamar Ruby, membukanya secara perlahan.


Terlihat Ruby yang masih menagis sesegukan di bawah kasurnya. Mendekap kedua lututnya sendiri.


Neha berjalan mendekat, mencoba bertanya apa yang terjadi.


Ruby memberikan selembar undangan, dengan nama Chen dan Soraya.


"Siapa yang sangka aku dan Chen hanya akan berakhir begini?" ucap Ruby pahit.


Ruby menarik badan Neha dan memeluknya dengan erat.


"Aku tahu dalam masalah ini aku yang salah, Neha. Tapi kenapa? Kenapa aku gak bisa menerima kalau Chen akan segera menikah?" tanya Ruby menangis terseduh.


Neha hanya mengelus pundak Ruby dengan lembut. Ia tidak tahu harus berkata apa. Keadaan ini benar-benar sulit baginya.


"Kamu dan Chen akan menjadi sepupu, lalu siapa aku di antara kalian? Aku hanya akan menjadi orang asing dalam hidup kalian."


Neha melepaskan pelukan Ruby dan menggelengkan kepalanya.


Ia memainkan tangannya, mana mungkin Ruby adalah orang asing. Bagaimanapun kedepannya, Ruby dan Chen tetaplah menjadi orang yang paling dekat dengannya.


Apalagi Ruby, dia bagaikan saudara bagi Neha sendiri.


"Neha, haruskah aku memberikan selamat? Aku tidak bisa, Neha. Aku tidak bisa, Chen ... Chen adalah orang yang sangat aku cintai," ucap Ruby kembali.


(Ruby, terkadang hidup memang harus seperti ini. Dunia memiliki hukumnya sendiri. Saat ini jika Chen tidak lagi bersedia di sisimu. Mungkin ini adalah hukum dunia bagimu dan dia).


Ruby tersenyum getir dan menganggukan kepalanya.


"Kamu benar, Neha. Inilah karma buatku karena pernah menyia-nyiakannya dulu. Aku ... terlambat menyadari dan juga menyesalinya."


(Lepaskanlah apa yang seharusnya kamu lepaskan, Ruby. Jangan menahan beban lagi, walaupun kamu tidak melepaskannya, yang pergi akan tetap pergi. Karena cinta itu tidak ada dalam pemaksaan, tetapi ia hadir karena kesukarelaan. Kelak kamu akan menemukan lelaki lainnya yang bisa mencintaimu sepenuh hati. Dan dia, pasti bukan Chen lagi).


"Bagaimana aku bisa melepaskannya, Neha? Bagaiamana caranya?" tanya Ruby ketus.


(Kamu pernah melepaskannya sekali, aku yakin kamu pasti bisa melepaskannya dua kali. Jika saat itu kamu melepaskannya karena mencintai orang lain. Maka saat ini kamu lepaskanlah dia karena kamu mencintainya. Ruby, melepaskan tidak selamanya keburukan, terkadang kita memang harus melepaskan, bukan untuk kebahagiaan orang lain. Namun untuk kebahagian kita sendiri. Karena percuma jika ingin dipertahankan, namun pada akhirnya kamu hanya akan merasakan kecewa yang semakin dalam).


Ruby kembali menarik bahu Neha, membenamkan wajahnya pada bahu sempit gadis itu.


Membiarkan tangisannya semakin pecah, dan dalam.


Terkadang cinta memang harus berjalan sesakit ini. Bukan untuk menghukum hati yang rapuh, namun untuk menguatkan hati.


Karena semakin sering hati itu patah dan kecewa. Maka kelak akan semakin kuat juga hati itu bertahan dalam luka.


Terkadang ini memang terlihat kejam, namun tanpa disadari, inilah pelajaran yang terdalam. Bahwa manusia hanya akan kuat setelah ia jatuh dan terluka.


Tuhan pasti punya caranya sendiri untuk menguji. Walau terkadang caranya itu sakit, tetapi rencana-Nya pula yang paling unik.


Karena kenikmatan itu sering kali terasa nyata, setelah kita mengalami banyak derita.

__ADS_1


Mungkin kita tidak mengerti, mungkin kita juga tidak menyadari. Karena Tuhan selalu punya jalannya sendiri untuk memberi.


Cukup nikmati dan jalani setiap prosesnya walau pahit sekalipun. Karena kelak kamu pasti akan mengerti, bahwa apa yang kamu alami saat ini. Adalah hal yang paling kamu syukuri suatu saat nanti.


__ADS_2