Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
37


__ADS_3

Evgen menendang kursi didepan Shenina dengan sekuat tenaganya. Seluruh mata siswa yang ada didalam kelas itu mengalihkan pandangan matanya kearah Evgen dan Shenina.


"Heh, pagi-pagi sudah buat onar elu, selama sakit makan bom elu ya?" Tanya Shenina ketus.


"Iya, elu yang nyuguhin bom buat gue, kan?"


"Maksud elu apa?" Tanya Shenina ketus.


"Dari mana elu bisa bilang kalau Papa gue sugar daddy? Papa gue itu lelaki keren yang terhormat, mana mungkin dia jadi sugar daddy,"


"Gue gak ada bilang Papa elu sugar daddy," bela Shenina ketus.


"Bohong, kemarin elu yang jelas-jelas ngomong sama gue kalau Papa gue sugar daddy!" Teriak Evgen lantang.


"Heh Evgen, makanya kalau ngomong itu santai. Keseringan teriak, telinga elu gak berfungsi kan?"


"Sudahlah, elu gak usah banyak ngelak, jelas-jelas di rooftop kemarin elu yang ngomong."


Shenina menggeberak meja di depannya dan bangkit dengan cepat. Ia menarik telinga Evgen dengan kencang.


"Gue cuma tanya, Papa elu bukan sugar daddy kan? bukan gue yang bilang Papa elu itu sugar daddy, Evgen Aulia!" Tekan Shenina geram.


Evgen memanyunkan bibirnya, mencoba mengingat kembali percakapan mereka waktu itu.


"Sudahlah," Shenina membalikan badan Evgen dengan cepat.


Matanya melihat plesteran dibelakang kepala Evgen. Perlahan bibir Shenina tersenyum saat melihat luka Evgen yang mulai membaik.


"Gue pikir otak elu gesrek gegara ketimpa plafon," ucap Shenina lembut dengan meraih rambut lebat Evgen.


"Memang gue elu, gak ketimpa plafon saja otak elu sering gesrek," jawab Evgen dengan menyilangkan kedua tangannya didada.


Shenina menutup kembali plesteran di kepala Evgen. Jemari mungilnya membelai lembut helaian hitam rambut Evgen.


Evgen tersenyum tipis saat merasakan belaian lembut tangan Shenina Jantungnya mulai mengeluarkan irama yang tidak seperti biasanya.


Evgen menggaruk tengkuk lehernya dan berusaha untuk tetap tenang. Menikmati sentuhan halus tangan Shenina yang membuat jantungnya semakin cepat berdetak.


***


Neha memejamkan matanya, menikmati sentuhan dingin air kolam yang terisi penuh oleh hujan tadi malam.


Neha menghela nafasnya dan melihat beberapa bibit teratai itu mulai tumbuh dengan subur dan mengeluarkan daun baru.


Neha duduk dan mencelupkan kedua kakinya didalam kolam. Menikmati suasana pagi hari yang begitu sejuk setelah hujan menyapa.


Saat ini, ia hanya bisa berdiam diri. Menikmati rindu hati yang menyiksanya, mendorong dirinya untuk tetap terus memikirkan Rezi.


Neha tersenyum, melihat mentari pagi hari yang mulai muncul menghangatkan bumi.


Neha bangkit dan kembali berjalan memasuki kebun miliknya. Menyiapkan keranjang bunganya untuk ia bawa ke toko Ruby.


Rezi melepaskan senyumnya saat melihat Neha pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Perasaannya menjadi sangat lega setelah ia bertemu dengan Neha kembali. Dan yang membuat hatinya begitu tenang adalah, saat ini ia tahu, bahwa Neha masih menyimpan perasaan untukknya didalam hati.


Neha membuka pintu kaca toko itu dan meletakan beberapa bunga daisy diatas display.


"Neha, kenapa bawa daisy hari ini? kan aku minta primrose," ucap Ruby lembut.


Neha menepuk dahinya dan mengerutkan dahi. Ia lupa jika Ruby memesan beberapa warna bunga primrose.


Neha mengangkupkan tangannya didada dan menggerakan tangannya dengan cepat. Bibirnya tersenyum dengan manis.


"Huh, sudahlah. Mau dibilang apa kalau primrose nya tidak mekar," ucap Ruby mengalah.


Neha tersenyum dan mengambil setangkai tulip putih dan mengikatkan pita secantik mungkin.


Neha menepuk bahu Ruby dan meminta bunga itu. Bibirnya terus tersenyum dengan lebar.


"Ambil saja apa yang mau kamu ambil," jawab Ruby lembut.


Neha mengangguk dengan cepat dan berbalik. Saat ia membuka pintu toko, tak sengaja badannya menabrak dada bidang seseorang.


Tulip yang didalam genggamannya jatuh dan terinjak.


"Ah, maaf Neha," ucap lelaki itu lembut.


Neha hanya memandang lelaki itu dengan sedikit kesal.


"Aku ganti satu buket besar ya, kamu mau apa? tulip ataupun ladang tulipnya bisa aku berikan," bujuk lelaki itu lembut.


"Chen, tumben kesini?" Tanya Ruby saat melihat Chen berada didepan pintu tokonya.


"Iya, aku mau ke kampus, sekalian mampir kesini untuk lihat kamu dan Neha,"


Neha memalingkan wajahnya dan menjulurkan lidahnya. Mengejek Chen yang sedang berdiri diambang pintu.


"Kamu buat Neha marah lagi ya?" Tanya Ruby lembut.


"Cuma gak sengaja injak bunga tulip kesayangan dia saja," jawab Chen dengan tersenyum lembut.


Neha meraih tas nya saat selesai merangkai buket bunga itu. Mendekap buket bunga itu dilengan tangannya.


"Eh, Neha. Kamu mau kemana?" Tanya Chen saat melihat Neha yang ingin keluar dari pintu.


Neha memainkan jarinya dan menjulingkan kedua bola matanya. Mengejek Chen dengan sedikit kesal.


"Oh gitu, jadi sekarang bukan urusan aku lagi ya?" Tanya Chen lembut.


Chen mengelus dagunya dan memandang lembut kearah Neha.


"Gak kamu kasih tahu, aku juga tahu. Pasti mau ke makam, kan?" Tanya Chen lembut.


"Ayo aku antar, sekalian aku mau kekampus, bye Ruby." Chen langsung menarik tangan Neha dan memasukannya kedalam mobil.


Sementara Ruby hanya tersenyum melihat ulah mereka berdua.

__ADS_1


Chen memberhentikan mobilnya didepan makam, dengan cepat Neha keluar dan menjauh dari mobil Chen.


Chen tersenyum dengan lebar saat melihat Neha sebisa mungkin untuk menghindar darinya.


Neha mengelus batu nisan milik Ayahnya, satu persatu air matanya mengalir saat membersihkan makam sang Ayah.


Setelah kepergian dirinya, Neha selalu terbayang saat-saat masih bersama. Semua yang ditinggalkan oleh sang Ayah sangat berarti untuk Neha.


Karena dalam hidup, Neha hanya mengenal Ayahnya saja. Tidak tahu bagaimana rupa dan juga wajah sang Ibunda, sakit dan juga perih. Saat Neha rindu akan hadir sosok seorang Ibu, namun Neha tidak tahu dimana dan seperti apa rupanya.


Neha bahkan tidak mengingat bagaimana terakhir kali Ibunya meninggalkan mereka berdua. Karena keadaan Ayahnya yang kekurangan, sang Ibu tega meningglkan ia dan juga Ayahnya hanya karena lelaki yang lebih kaya.


Neha menarik nafasnya dan menghapus buliran air mata yang sempat turun karena mengingat perjuangan sang Ayah.


Menadahkan tangannya dan memberikan hadiah terakir buat sang Ayah.


Neha kembali berjalan pulang, kembali harus menjalani hidup dalam kesendirian dan juga kesepian.


Andai saat ia pulang masih bisa melihat Rezi dikebun. Mungkin ia akan sedikit lebih bersemangat saat waktunya harus pulang.


Neha meletakan keranjang bunganya diatas meja, ia menghela nafasnya dan mengusap wajahnya. Menghilangkan sedikit kepenatan yang terus membebaninya.


Neha mengucek kedua matanya saat melihat kolam teratai milik Rezi terlihat sedikit berbeda.


Tadi pagi kolam itu masih biasa saja, tapi kenapa saat ini sudah ada jembatan kayu yang dipasang?


Neha mengernyitkan dahinya dan mendekati kolam itu.


Suara dari heels boot yang digunakannya memberikan irama, saat papan-papan itu terinjak.


Neha berjalan sampai ke ujung jembatan, sudah ada bunga teratai ungu yang mekar di tengah kolam.


Neha berjongkok dan menyentuh ujung kelopak bunga teratai itu dengan lembut.


"Aku gak tahu kenapa kamu suka sekali menyentuh kelopak bunga," ucap Rezi sambil berjalan mendekat.


Seketika Neha langsung berdiri dan melihat kebelakang. Terkejut melihat Rezi ada disini.


Rezi tersenyum dan terus berjalan mendekat. Neha memundurkan langkahnya, sampai heelsnya memijak bagian paling ujung papan itu.


Sontak Neha berdiri dengan gamblang, ia hampir jatuh kebelakang. Dengan cepat Rezi meraih pergelangan tangan Neha dan menahan agar Neha tidak jatuh ke kolam.


"Tenanglah, aku tidak akan mendekatimu lagi. Aku disini hanya ingin menyelesaikan apa yang aku tinggalkan sebelumnya," ucap Rezi lembut.


Neha hanya memandangi wajah Rezi yang saat ini masih menahan tangannya agar tidak jatuh.


"Neha, bukan hanya kolam ini. Tapi kisah kita, juga belum selesai. Aku kembali, bukan hanya untuk kolam ini, tapi juga untuk kamu,"


Rezi menarik tangan Neha dengan cepat, seketika Neha tersentak dan memeluk badan Rezi.


Sejenak Neha terdiam, mendengar irama jantung Rezi yang berdetak sangat kencang. Neha tersenyum tipis dan mendongakan wajahnya.


Menatap wajah manis Rezi dari jarak yang sangat dekat. Ada nada yang sama didalam dadanya, saat tangan Rezi memeluk badannya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2