
Shenina menundukan pandangannya, ia tersenyum dengan sedikit malu. Tersipu oleh pernyataan Evgen.
"Kenapa elu senyum-senyum?" tanya Evgen jutek.
"Gak apa-apa, memang gue gak boleh senyum?" tanya Shenina kembali.
"Hem, yasudah. Karena sudah berada disini, bagaimana kalau sekalian main game?"
"Tapi katanya elu mau belanja buat pensi, gimana sih?"
"Gue sudah nemu kok, sekarang waktunya main game. Ayo!" ajak Evgen kembali.
"Eh ... tunggu dulu," tahan Shenina.
"Kenapa?"
"Evgen, kita lagi masa ujian, masa mau main game sih?
"Memang kenapa?"
"Dari pada main game, ayo ikut gue!" Shenina menarik tangan Evgen menjauh dari pusat perbelanjaan.
Ia menarik tangan Evgen keluar dari mall. Evgen hanya bisa mengikuti tanpa banyak bertanya.
Shenina berhenti didepan sebuah toko buku yang lumayan besar. Dengan cepat Shenina masuk ke toko itu, Shenina mengeluarkan beberapa jenis buku dan meletakannya diatas meja.
"Hei, lu mau beli semua buku ini?"
"Enggak!"
"Terus kenapa elu keluarin?"
"Mau gue baca," jawab Shenina lembut.
"Semua?" tanya Evgen tidak percaya.
Shenina hanya tersenyum dan mengangguk. Ia membuka buku itu dan mulai membacanya.
"Gue ini bukan anak orang kaya, gue kadang belajar cuma bisa dari sini. Jadi selama gue punya waktu, gue akan habiskan disini. Hasilnya, beasiswa gue terus berjalan kan," ucap Shenina senang.
Evgen menaikan sebelah alis matanya, ia sama sekali tidak menyangka segitu kerasnya hidup yang dijalani oleh Shenina.
Sedangkan ia, yang memiliki banyak buku dirumahnya, hanya acuh dan tidak peduli pada semuanya.
Evgen bangkit dan berjalan ke kasir. Ia mengambil karton dan juga pensil, menenami Shenina sambil melatih bakat sketching-nya.
Bagaimanapun, ia berharap bahwa Shenina bisa melanjutkan kuliahnya bersama dengan dirinya di London nanti.
***
Neha berjalan dengan tersenyum lembut, ia meletakan beberapa hidangan kehadapan Rezi.
"Kenapa banyak sekali masaknya? apa kamu mau merayakan jadian kita?" tanya Rezi menggoda.
Neha hanya tersenyum dan kembali sibuk pada piring yang masih tertinggal didapur.
Menyusun hidangan yang ia masak didepan Rezi. Wangi aroma masakan Neha sudah menembus penciuman Rezi. Membuat air liur Rezi ingin menetes saja.
__ADS_1
"Neha, ini beneran banyak banget loh. Kita hanya berdua, siapa yang akan habiskan?" tanya Rezi senang.
Neha menunjuk dengan cepat kearah Rezi.
"Aku?" tanya Rezi kembali.
"Ha ha ha, aku gak sanggup makan sebanyak ini, tapi kalau kamu yang masak, pasti akan aku makan walaupun gak bisa habis," jawab Rezi senang.
Neha melepaskan senyumnya dan menarik kursi disamping Rezi. Ia menarik sebuah piring dan mengisinya dengan masakan yang baru saja selesai ia hidangkan.
Sebuah pesan masuk kedalam gawai Rezi, Rezi membuka pesan itu dan membacanya dengan sedikit tersenyum.
(Aku baru belajar masak pasta, resep dari google. Kamu suka pasta kan?)
"Asalkan kamu yang masak, bahkan hanya cabai dan garam saja aku tetap suka," jawab Rezi menggoda.
Neha kembali tersenyum, wajahnya mulai merona kemerahan karena di goda oleh Rezi.
Neha meletakan sepiring pasta di hadapan Rezi, lengkap dengan beberapa hidangannya yang lain.
Dengan semangat Rezi mengambil garpu dan memasukan pasta itu kedalam mulutnya.
Seketika Rezi langsung melihat kearah Neha, ia mengunyah pasta itu dengan sedikit malas.
Neha memainkan jemari tangannya, senyumnya merekah dengan lebar saat melihat mulut Rezi yang mengembung karena terisi makanan.
"Enak, masakan dari tangan kamu pasti enak," jawab Rezi sambil menyeringai pasrah.
Neha menarik pasta yang ada di depannya.
Neha memalingkan wajahnya, ia kembali melihat Rezi yang wajahnya mulai memadam.
"Coba rasakan yang ini, menurut aku ini sangat enak." Rezi mengambil sepotong ikan dan menyuapinya kedalam mulut Neha.
Saat Neha memakan ikan tersebut, Rezi mengambil piring pasta itu dan menuangkannya kedalam piringnya.
"Bagaimana? enak kan?" tanya Rezi tersenyum.
Neha menganggukan kepalanya, ia melirik kepiring Rezi yang sudah di penuhi oleh pasta.
Saat menayadari tatapan mata Neha, Rezi menunduk. Melihat piringnya yang penuh dengan pasta buatan Neha.
"Oh, aku suka sekali pasta masakan kamu. Jadi pastanya buat aku semua gak apa kan?" tanya Rezi lembut.
Neha menganggukan kepalanya dan tersenyum dengan lebar. Sementara Rezi meneguk air liurnya saat melihat piringnya penuh dengan pasta buatan Neha.
Perlahan Rezi menyuapi pasta itu dan kembali tersenyum. Dengan sedikit berat ia mengunyah makanannya.
'Mati aku, Neha benar-benar masak cabai dan garam saja,' lirih Rezi dalam hati.
Neha membereskan piring kotor bekas makan malam mereka dan langsung mencucinya.
Rezi duduk di balkon rumah Neha dengan mengipaskan tangannya ke wajah. Ia merasa kepanasan setelah memakan pasta cabai-garam buatan Neha.
Neha datang dengan teh di tangannya, menuangkannya untuk Rezi. Rezi langsung meneguknya, mencoba menghilangkan rasa pedas yang masih bersisa dalam mulutnya.
"Neha," panggil Rezi lembut.
__ADS_1
"Kenapa kali ini kamu gak marah saat aku bohong sama kamu?" tanya Rezi.
Neha menundukan pandangannya, wajahnya mulai merona merah saat mendapatkan pertanyaan Rezi. Antara malu dan juga tersipu, Neha menjadi salah tingkah sendiri.
Beberap kali Neha merapikan helaian rambut cokelatnya. Mencoba menyibukan diri agar tidak menjawab pertanyaan Rezi.
"Hei Neha, kenapa kamu malu-malu begitu?" tanya Rezi kembali.
Neha tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya. Rezi menaikan sebelah alis matanya, bingung dengan reaksi Neha.
Neha bukan gadis yang mudah untuk salah tingkah begini, pasti ada seuatu yang lain sampai ia bisa bertingkah seperti ini.
Rezi bangkit dari kursinya dan berjalan kedepan Neha. Ia membungkukan badannya dan menumpuhkan kedua tangannya di pegangan kursi. Mengurung badan Neha dengan kedua tangannya.
Neha menatap wajah Rezi dengan jarak yang sangat dekat, perlahan deguban jantungnya bertabuh dengan sangat cepat. Wajah putihnya semakin memerah padam.
"Neha kamu sakit?" tanya Rezi, tangannya meraih dahi Neha.
Neha menggelengkan kepalanya, ia mendukan kepalanya. Mencoba mengatur deguban jantungnya yang terasa terus berdetak dengan sangat cepat.
"Hei Neha." Rezi menaikan dagu Neha dengan jarinya.
"Aku bertanya padamu, kenapa tingkahmu jadi seperti ini?" tanya Rezi lembut.
Neha menggelengkan kepalanya, ia mencoba melepaskan tangan Rezi yang mengurung dirinya.
"Jawab dulu, baru aku lepaskan," ucap Rezi menggoda.
Neha menggelengkan kepalanya dan mencoba menggeser tangan Rezi. Rezi semakin menguatkan pegangan tangannya, ia tersenyum tipis saat melihat Neha yang sedang kebingungan.
"Ayolah Neha, hanya jawab pertanyaanku. Kenapa harus malu? atau jangan-jangan kamu suka ya kalau aku begini?" tanya Rezi menggoda.
Seketika mata Neha membulat, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Neha meraih ponsel Rezi yang berada di saku depan kemeja Rezi dan mengetiknya.
Neha langsung memperlihatkan layar ponsel itu kehadapan Rezi.
(Walaupun kamu gak jujur padaku soal bibit itu, aku tetap akan pura-pura tidak tahu. Karena sama sepertimu, aku ingin menjadi pacarmu).
Rezi tertegun membaca tulisan Neha, Rezi menurunkan ponselnya dan melihat kewajah Neha yang terus tertunduk malu.
"Hei." Rezi melepaskan dekapannya dan berjongkok di depan Neha. Mencoba melihat wajah Neha yang saat ini terus tertunduk malu.
"Terima kasih, tapi kali ini aku memilih jujur. Karena aku ingin hubungan kita tidak lagi dimulai dari kebohongan."
Rezi mengambil kedua jemari tangan Neha yang sedari tadi ia remat terus menerus.
"Neha, Sayang," panggil Rezi lembut. "Coba lihat aku," sambungnya kembali.
Neha mendongakan kepalanya perlahan, melihat wajah Rezi yang tersenyum lembut dan sangat meneduhkan.
"Jangan pernah malu untuk mengungkapkan isi hatimu padaku. Katakan saja apa yang ingin aku katakan, kamu tahu? ungkapan yang keluar dari hatimu, walau sederhana sekalipun. Itu sudah membuat aku merasa sangat bahagia," ucap Rezi lembut.
Rezi menarik dagu Neha, walaupun hanya ungkapan sederhana. Entah mengapa itu sudah sangat membuat hatinya bahagia.
Neha tersenyum dan menarik bahu Rezi. Memeluk badan Rezi dengan sangat erat. Semoga kali ini, jalan yang ia pilih bukanlah kesalahan.
Walaupun kesalahan, ia pasti tidak akan menyesalinya. Karena Rezi, adalah hal terindah yang pernah ada.
__ADS_1